23 Aku bukan dia

Hari telah berganti menjadi pagi. Saat ini Davina dan Revan sedang sarapan bersama seperti biasanya sebelum memulai aktivitas mereka. Entah mengapa, Davina merasa sangat canggung karena kejadian semalam. Padahal itu sudah kewajibannya sebagai seorang istri, hanya saja mungkin karena mereka belum lama menjalin hubungan lah yang menjadikan keduanya canggung kembali.

"Apa hari ini kau ada acara?" tanya Revan mulai mengawali pembicaraan.

Davina menggelengkan kepalanya pelan, "tidak ada. Aku akan di rumah seperti biasanya," jawabnya dengan jujur.

Memang setelah menikah, Davina sudah jarang keluar rumah untuk melakukan aktivitas. Wanita muda itu lebih suka menonton Drama Korea, membaca novel dan melakukan pekerjaan di dalam ruangan saja.

"Nanti kakak ku dan istrinya akan kemari. Bisa kan kau manyambutnya sendiri?"

Davina sedikit terkejut mendengar itu. Sebenarnya Davina juga sudah tau kalau Revan itu memiliki seorang kakak laki-laki yang juga sudah menikah. Tetapi, sepertinya waktu Revan menikah kakak dan iparnya itu hanya hadir sesaat dan tidak menunggu hingga acara selesai.

Davina tidak yakin bisa berinteraksi dengan baik saat bertemu dengan Kakak Revan dan istrinya nanti, mengingat Davina juga sebenarnya orang yang cukup introvert.

Melihat Davina yang diam tidak merespon, Revan pun menjadi sedikit kebingungan.

"Kenapa diam? Apa ada masalah?" tanya Revan yang membuyarkan lamunan Davina.

"Ah, tidak. Hanya saja waktu itu aku belum banyak berinteraksi dengan kakakmu. Aku takut jika nanti aku membuat kesalahan," jawab Davina dengan ragu.

"Tidak apa. Kakak ku orangnya sangat sabar, begitu juga dengan ipar ku. Mereka sama-sama baik, jangan takut. Jika kau tidak berbuat yang aneh-aneh, maka tidak akan ada masalah," tutur Revan sambil tersenyum tipis.

Mendengar itu, Davina menghela nafas lega. Setidaknya ia bisa tenang karena sudah mendengar kalau kakak iparnya itu orang baik. Jadi, Davina tidak akan takut jika nantinya berhadapan dengan kedua kakak iparnya.

Setelah sarapan, Revan segera beranjak pergi untuk berangkat ke kantor. Ia tidak mau terlambat untuk meeting dengan client nya.

"Sudah mau berangkat?" ucap Davina yang juga beranjak dari duduknya.

Revan tersenyum dan mengangguk kecil. "Iya, hari ini aku ada meeting penting. Aku harus berangkat lebih awal," sahut Revan.

"Baiklah, hati-hati di jalan dan jaga dirimu baik-baik ya," tutur Davina.

Mendengar penuturan dari sang istri, Revan tersenyum tipis dan mengangguk. Ia pun berjalan mendekati istrinya dan mengecup kening sang istri itu sekilas, lalu segera berpamitan dan pergi dari rumah.

Setelah Revan keluar dari rumah, wajahnya langsung berubah menjadi datar tanpa senyuman sedikitpun. Memang seperti itu, meski Revan berusaha untuk bersikap manis pada Davina, tetapi sebenarnya Revan tidak ada niatan sedikitpun dari hatinya untuk memberikan perhatiannya pada Davina.

Sementara Davina yang merasa di perlakukan spesial oleh suaminya itu pun hanya bisa mengulum senyum bahagia. Perlahan hatinya benar-benar luluh pada Revan yang selalu bersikap manis kepadanya. Mungkin saat ini Davina sudah bisa melupakan Dilan sepenuhnya.

****

Waktu terus berjalan, hingga jam menunjukkan pukul 2 siang. Terdengar suara bel rumah berbunyi, dan sepertinya itu adalah kakak Revan bersama istrinya yang tadi Revan katakan ingin berkunjung.

Davina melangkahkan kakinya perlahan untuk membuka pintu rumahnya, hingga bisa ia lihat sepasang suami istri itu muncul di pandangannya.

"Davina?" sapa seorang wanita bernama Raisa yang kini sedang berdiri di hadapan Davina itu.

Davina pun dengan hangat menyambut kakak ipar suaminya itu. Bagaimanapun juga, mereka tetaplah keluarga.

"Ayo, masuk dulu!" ajak Davina sambil tersenyum ramah.

Raisa dan suaminya -Devan- pun melangkahkan kaki untuk masuk. Raisa ternyata sangat ramah sehingga Davina sama sekali tidak canggung jika berbincang-bincang dengannya.

"Revan belum pulang? Mama menitipkan ini untuknya," Raisa menyodorkan sebuah rantang berisi masakan kesukaan Revan, yang mana langsung di terima oleh Davina.

"Revan biasanya pulang hampir larut. Apa kakak nanti mau menginap?" tanya Davina.

Seketika Raisa langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, aku akan pulang nanti. Aku ke sini hanya mampir untuk bertemu denganmu karena waktu itu aku tidak bisa menemanimu di tempat acara hingga selesai," jawabnya.

"Emm, kenapa tidak menginap saja?" tanya Davina lagi sambil menatap Raisa penuh harap.

Namun, Raisa justru melirik suaminya yang sedari tadi hanya fokus pada ponselnya. Wanita cantik yang memiliki lesung pipit itu pun tersenyum dengan canggung kemudian.

"Tidak bisa. Aku harus bekerja nanti malam, dan Raisa harus di rumah!" ucap Devan menyela dengan tegas.

Davina pun mengangguk kecil sebagai respon. Sementara Raisa justru terdiam dan menundukkan kepalanya. Tentu saja hal ini membuat Davina sedikit heran dengan tingkah sepasang suami itu. Pikiran Davina mulai menerka-nerka hal yang tidak-tidak, namun dengan segera ia tepis. Revan dengan jelas mengatakan kalau kakak dan iparnya itu baik hati, jadi sepertinya tidak akan ada masalah di antara keduanya bukan?

Ya, mungkin...

Raisa dan Davina cukup lama mengobrol banyak hal. Keduanya sama-sama cocok karena memiliki ketertarikan yang sama, sedangkan sedari tadi Devan masih terus terfokus pada ponselnya dan sesekali mendapatkan telepon dari seseorang. Mungkin Devan ini orang yang lebih sibuk daripada Revan.

Hingga tak terasa, hampir 2 jam berlalu dan hari semakin sore. Raisa dan Devan segera berpamitan dengan Davina, meski sebenarnya Davina berharap kalau Raisa menginap saja untuk menemani dirinya. Tetapi, Devan tidak mengizinkan istrinya itu untuk jauh darinya.

Tidak masalah, mungkin lain kali Raisa bisa menginap di rumah Davina meski hanya sekitar satu malam saja.

"Kakak pulang dulu, ya. Sampai salam kakak sama Revan nanti," ucap Raisa sambil memeluk Davina.

"Iya, kakak jangan lupa untuk berkunjung lagi jika ada waktu senggang, ya?" sahut Davina dengan senyuman yang mengembang di kedua sudut bibirnya.

Raisa mengangguk kecil, "tentu saja. Mungkin kakak nantinya akan sering ke sini lagi,"

"Iya, jika kakak ada waktu luang, kakak akan ke sini lagi," imbuh Devan sambil melirik Raisa.

Mendengar sahutan seperti itu, Davina sedikit lega. Mungkin takdirnya membaik karena benar-benar mendapatkan keluarga sebaik keluarga Revan. Memiliki ibu mertua yang pengertian, dan juga kakak ipar yang ramah. Sungguh lengkap bagi Davina yang dulunya hanya mendapatkan kekerasan dari keluarga bibinya sendiri.

Setelah beberapa saat berpamitan, Devan dan Raisa segera pergi meninggalkan rumah Davina. Namun yang mengganjal di benak Davina adalah kenapa sejak tadi Devan selalu memasang raut wajah datar saat berbicara dengan istrinya sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi di antara keduanya.

"Apa memang raut wajah Kak Devan seperti itu? Dia terlihat lebih dingin daripada Revan," gumam Davina lalu segera masuk kembali ke dalam rumah.

****

Sementara itu, di dalam mobil Devan. Perjalanan keduanya sepulang dari rumah Davina. Sepasang suami-istri itu tampak saling diam, Raisa yang menundukkan kepalanya dan Devan yang sedang serius mengemudikan mobilnya.

"Bagaimana menurutmu tentang Davina?" tanya Devan tiba-tiba.

Raisa mengerutkan keningnya tak paham, "maksudmu?" sahutnya.

"Dia cantik dan sepertinya istri yang sempurna bagi Revan," jelas Devan.

"Y-ya, dia memang sangat cantik. A-aku tau itu," sahut Raisa terbata sambil memilin dress yang ia kenakan.

"Sudah ku duga kau akan mengatakan hal itu. Syukurlah jika kau sadar diri. Lebih baik kau belajar banyak dengan dia, dan perbaiki dirimu," ketus Devan.

Raisa semakin menundukkan kepalanya pasrah. Ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan dari ucapan Devan yang tidak mengenakkan hatinya itu.

Hingga tanpa sebab sadari, Raisa perlahan meneteskan air matanya.

'kenapa aku harus menjadi orang lain?' batin Raisa.

... TBC