11 Chapter 10

Sebuah pertemuan sesaat yang mengubah banyak hal dalam hidupmu ....

Bisakah ini disebut takdir?

Atau … hanya sebuah kebetulan?

Tolong katakan padaku kalau semua bukanlah mimpi.

***

Loey menghentikan mobilnya di belakang asrama E-X yang jarang dipantau sasaeng atau media. Ia membuka kaca mobil, melirik ke kanan-kiri untuk memastikan tidak ada kamera yang mengintai mereka. Setelah merasa aman, Loey keluar, lalu membukakan pintu Hana seraya memakaikan jaketnya menutupi perempuan itu.

Asrama E-X ternyata sangat luas, seperti yang ditayangkan di acara variety show waktu lalu. Namun, meski terlihat mewah dari luar, interiornya sangat sederhana. Hana tak henti-hentinya mengagumi tatanan ruang yang minimalis dan elegan. Terkesan hangat, sekaligus manis. Beberapa poster dipajang di dinding, merchandise kecil, dan foto-foto sewaktu menghadiri penghargaan.

"Ah maaf, ada bagian yang berantakan." Loey bergegas memberesi pakaian kotor yang dilempar asal oleh Shi-Jin dan Jae-Hyun. "Benar-benar. Harusnya aku menghukum mereka nanti."

Hana menahan tawa ketika telinga Loey memerah. Meski tidak melihat wajah, Hana hafal kebiasaan Loey saat malu-malu.

"Bukankah Loey juga begitu?"

"Mana mungkin! Aku yang sering merapikannya."

Hana terkekeh. "Baiklah, aku akan percaya."

Mereka bergegas memasuki sebuah ruangan. Samar-samar terdengar suara candaan beberapa pemuda yang berbaur dengan bunyi mesin penghangat ruangan. Hana melepas sepatu, lalu masuk mengikuti Loey.

"Apa benar tidak apa? Bagaimana jika ada yang melihatku di sini?" Hana melangkah ragu-ragu. Matanya tanpa henti mengedar, berandai-andai ada CCTV di sudut ruangan.

Loey menggeleng. Ia menarik lengan Hana, menuntunnya ke ruang makan dan bergabung dengan member lainnya di sana."Tidak apa-apa, masuklah. CCTV-nya sedang dimatikan."

Saat memasuki ruang makan, member E-X tengah duduk mengitari meja kayu persegi panjang. Mereka tampak asik bergurau satu sama lain, entah melempar candaan atau menjahili Jun. Tanpa sadar, Hana ikut terkekeh membuat pandangan mereka tertuju padanya.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/return-to-polaris_18788594305013105/chapter-10_50435315441128699 for visiting.

"Yo! Lihat siapa yang aku bawa!"

"Hana? Bagaimana bisa Hana ada di sini?" tanya Jae-Hyun.

"Jangan bilang kalau kau mencari alamatnya dan menunggunya sampai pagi," tebak Jun.

"Tidak, tidak! Aku hanya kebetulan lewat di depan apartemen Hana dan melihatnya keluar, jadi aku mengajaknya ke sini," bantah Loey membuat Shi-Jin tersenyum nakal.

"Benarkah begitu? Tapi tadi malam hyung tidak ada di asrama. Apa hyung menunggu di depan apartemennya sampai pagi? Ahhh, sejak kapan hyung jadi penguntit?" goda Shi-Jin. Maknae itu melempar senyuman nakal sambil menyipitkan mata.

"Jangan bicara sembarangan! Memang benar kebetulan kok. Hana, ayo duduk, jangan canggung." Loey mencoba mengalihkan pembicaraan karena ia tidak bisa berbohong, khususnya pada Jae-Hyun yang bisa membaca wajahnya.

Hana menurut. Ia duduk di kursi samping Loey dan K sambil meletakkan tasnya di atas meja. Ia mengeluarkan kotak makanan dari goodie bag, lalu menyusunnya di atas meja. "Aku membuatkannya untuk kalian."

"Whoaa! Itu terlihat sangat lezat!" K terlihat antusias ketika Hana membuka kotak makanan satu per satu, memperlihatkan potongan rendang dengan aroma kuat dan lezat.

"Boleh aku makan ini?" K menatap lekat rendang di hadapannya.

"Oh ayolah, ini kesempatan selagi Manajer Kim tidak ada. Lagipula kita belum sarapan, sedangkan siang nanti kita ada pemotretan. Setidaknya aku tidak makan rebusan gila itu pagi ini. " Jae-Hyun tak sabaran, membuat Hana tertawa.

"Ya ampun, kapan terakhir kali kalian makan daging? Jangan bilang selama ini hanya menyantap sayuran?" Hana terkekeh pelan.

"Kurasa bulan Januari kemarin? Entahlah. Aku tidak ingin mengingatnya." Kini Jun yang tampak tak sabaran.

"Manajer Kim, maaf ... tapi pagi ini izinkan kami makan daging. Aku janji setelah ini aku akan rajin olahraga," ujar Jae-Hyun sambil merapatkan kedua telapak tangannya.

"Nah, ayo makan!" Loey berseru seraya memulai sarapannya diikuti member yang lain.

Hana hanya tersenyum melihat idoalnya mulai menyantap makanan.

Memerhatikan K yang lahap dan Shi-Jin yang terkadang mencuri-curi jatah Loey.

"Ini sangat enak," puji K disela-sela makannya.

"Benarkah? Nanti aku buatkan makanan Indonesia lainnya," ujar Hana sembari memerhatikan para member yang lahap menyantap masakannya dengan senyuman di wajahnya.

Hatinya lega. Semua masih terasa tidak nyata. Ketika idola yang selama ini ia kagumi kini berada di hadapannya. Mereka nyata, dan ia bahagia. Bisa memperhatikan mereka makan dengan lahap, memastikan mereka tidak kelaparan, atau sedih. Walau Hana yakin, jika Manajer Kim tahu makanan yang diberikannya pada E-X, kepalanya benar-benar melayang. Bukan hanya itu. Mungkin saja, posisinya akan terancam.

Ini semua sudah lebih dari cukup baginya. Hana hanya berharap semua ini berlangsung lebih lama dan lambat.

***

"Kita diundang untuk hadir di acara penutupan olimpiade musim dingin, jadi jaga kesehatan kalian, jangan sampai sakit atau cidera," jelas Manajer Kim seraya menunjukkan kertas jadwal mereka.

"Baik!" Semua member menjawab bersamaan. Mereka melihat kertas jadwal secara bergantian, lalu mulai memasuki mobil van.

Manajer Kim tersenyum simpul, lalu pandangannya kini beralih pada Hana yang tampak membicarakan masalah kostum dengan beberapa stylist lainnya. Ia menghampiri Hana, lalu menepuk bahunya. Spontan perempuan lugu itu menoleh.

"Anda memanggil saya?" Ragu-ragu, Hana menunjuk dirinya.

Manajer Kim mengangguk. "Ya, aku ingin bicara sebentar denganmu. Kemarilah." Lelaki itu melangkah diikuti Hana menuju tempat yang agak jauh dari mobil van itu terparkir.

"Direktur ingin kau merancang pakaian untuk penampilan mereka di penutupan olimpiade. Apa kau bisa menyanggupinya?"

Hana tersontak. Apa ia tidak salah dengar? Merancang pakaian show untuk E-X? Demi apapun ingin rasanya Hana menciut, lalu menghilang, kembali ke apartemennya dan meloncat-loncat bahagia di sana. Kapan lagi ia memiliki kesempatan ini? Merancang busana untuk dipakai bintang besar idolanya untuk menghadiri acara nasional. Itu kesempatan yang luar biasa!

Saking luar biasanya, Hana merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Bahkan Hana berani bertaruh seratus persen bahwa desainer yang lebih berkelas dari Nona Jung pun mengharapkan hal ini. Terlebih, direkturlah yang meminta Hana, khusus untuk E-X. Namun, ada satu yang mengganjal pikirannya.

Waktu.

Saat ini bulan November akan segera berakhir, sedangkan olimpiade itu akan dilaksanakan di awal bulan Februari. Di sisi lain, dia harus menyelesaikan desain pakaian untuk pameran bulan depan.

Dua bulan? Akankah waktu itu cukup? Bagaimana jika hasilnya tidak memuaskan? Andai desainnya gagal, citra E-X akan jatuh dan namanya juga tercoreng. Lama Hana terdiam, memikirkan baik-baik konsekuensi akan pilihannya.

"Jadi, apa jawabanmu?" Manajer Kim mendesak.

Mungkin Hana memang gila, tapi dia harus mencobanya. Demi E-X.

Hana menarik napas panjang, lalu mengangguk dengan mantap. Kesempatan ini mungkin tidak akan datang lagi. Karena itulah, Hana akan berusaha sekuat kemampuannya. "Ya, Saya bersedia."

Next chapter