1 1. Situation

"kau sudah menyiapkan semuanya" Tanya seorang wanita cantik bernama Rein pada seorang wanita muda yang tidak lain adalah keponakannya sendiri

"hey, Alice aku bertanya padamu" sudah setengah jam ia mengatakan pada gadis yang kini tengah memainkan ponsel diatas kasur untuk segera bersiap pergi, namun gadis itu hanya mengangguk tanpa melaksanakan perintahnya sedikitpun

dasar gadis nakal, jika saja ia bukan anak dari kakak perempuannya mana mau rein mengurusi hal hal semacam ini, sungguh merepotkan

"Alice kau akan bersiap atau aku harus memberimu peringatan lebih dulu, huh!"

gadis bernama alice itu mendengus, ia menoleh menatap rein yang sudah berdiri dengan wajah kesal diambang pintu kamar

"iya iya aku akan bersiap, beri aku waktu 10menit ok"

tidak butuh waktu lama bagi alice untuk mengemas seluruh barang miliknya, berkat kemampuan yang ia miliki, ia bisa dengan mudah mengerjakan semua itu bahkan kurang dari 10 menit wanita yang biasa dipanggil lisa itu sudah bisa mengemasi seluruh barang bawaan miliknya

jangan heran mengapa alice mampu melakukan semuanya dengan cepat, tentu saja mengingat jika ia adalah seorang vampire

memiliki kecepatan super, pengamatan, pendengaran yang baik, ingatan yang tajam, insting yang kuat semua itu sudah mendarah daging dalam diri slice, hanya satu yang belum ia kuasai..

mengontrol kekuatan vampirnya..

setiap vampire memiliki kekuatan mereka masing masing, begitupun dengan alice, kekuatan yang mengalir dalam darahnya adalah kekuatan api dan air

ia mampu mengendalikan dan menciptakan sebuah api atau air melalui pikirannya, disamping itu ia juga mampu mendeteksi setiap kebohongan hanya dengan menatap mata lawan bicaranya

tapi semua itu tidaklah mudah, alice harus menyembunyikan identitasnya demi keamanan dirinya sendiri, ia belum mampu mengendalikan setiap kekuatan yang ia miliki, akan sangat berbahaya jika ia terdeteksi sebagai seorang vampire diantara kerumunan manusia

apalagi rein mengatakan jika kaum vampire sedang dalam perhatian khusus akibat penyerangan yang terjadi akhir-akhir ini, itu juga yang membuat aluce harus pergi meninggalkan negaranya tercinta

sudah beberapa bulan lalu negara asalnya itu gempar karna penyerangan yang dilakukan oleh vampire pemberontak, akibatnya vampire tidak bersalah seperti merekalah yang harus mengalah untuk pindah sebelum vampire vampire gila itu mengkambing hitamkan mereka sebagai pelaku penyerangan

sialan memang, tapi itulah yang terjadi. saling menuduh dan membunuh bukan hal yang aneh lagi bagi kaum vampire, perdamaian dalam kaum vampire hanyalah bualan semata, sialnya itu terjadi setelah raja mereka meninggal beberapa tahun lalu, alice bahkan menyesal sudah dilahirkan sebagai seorang vampire

Jika saja ia bisa memilih maka alice akan memohon untuk terlahir sebagai malaikat saja

menjadi malaikat adalah hal termenyenangkan dalam pikiran alice, mereka bisa membunuh seluruh mahluk importan dengan begitu mudah, bahkan seorang demon sekalipun bisa dengan mudah mereka kalahkan

andai saja ia bisa menjadi malaikat, ia tidak akan lagi menyembunyikan identitasnya, ia tidak harus berlatih secara sembunyi sembunyi bersama rein diruang bawah tanah 'terkadang dunia memang tidak adil' pikirnya

"kenapa kau melamun? cepat masuk" ujar rein membuyarkan seluruh pikiran alice

"kenapa kita harus menggunakan mobil?" Tanya alice bingung, sejujurnya ia lebih suka berlari dibanding harus berdiam diri didalam mobil menunggu kemacetan kota menjadi lancar

"tentu saja untuk menghindari kecurigaan para manusia memangnya apa lagi, lagi pula aku tidak akan mengijinkanmu menggunakan kekuatan vampirmu itu walau hanya sedikit, mengerti! sudah jangan banyak bertanya cepat masuk, kita hampir terlambat"

alice terdiam, wanita itu terus saja melarangnya melakukan hal hal menyengkan dan sialnya ia sama sekali tidak bisa membantah mengingat ia sudah melakukan perjanjian darah untuk tidak menggunakan kekuatannya didepan umum

"aku menyesal melakukan perjanjian darah denganmu" geram alice mengikuti rein masuk kedalam mobil

"tidak ada gunanya menyesali itu sekarang, well kau sudah membawa semuanya bukan?"

"ya"

sore ini mereka akan pergi kebandara untuk pindah ke Seoul, rein bilang disana adalah tempat teraman dari para vampire pemberontak, rein juga bilang jika kota itu mayoritas kerumunan menusia dan beberapa malaikat penjaga

para vampire gila itu tidak akan berani datang ke seoul, dari kabar yang beredar kota itu merupakan salah satu sarang dari angel hunter, para malaikat yang ditugaskan untuk memburu mahluk importan yang berani melanggar aturan

datang kesana sama saja dengan bunuh diri, lalu bagaimana dengan mereka? mereka bahkan sengaja datang ketempat itu, astaga!!

jika saja ia dan rein tidak memiliki kalung flexious ia tidak akan berani datang kesana, dengan kalung itu mereka bisa berpura pura menjadi seorang manusia, tidak akan ada yang mengetahui jatidirinya ketika ia menggunakan kalung merah itu

kalung peninggalan para leluhur yang sengaja dibuat khusus untuk mereka, kalung itu berbeda-beda disetiap bentuknya, bahkan kaum vampire sendiripun tidak akan tahu jika salah satu dari mereka memakainya

kalung itu akan menekan setiap aura vampire yang pemakainya miliki dan merubahnya menjadi aura manusia pada saat yang bersamaan, tapi walau aura mereka ditekan setiap vampire yang mengenakan kalung itu masih bisa mengeluarkan kekuatan mereka. ya, walau hanya setengah dari kekuatan aslinya tapi ia cukup bersyukur dengan adanya kalung ini

"apa sudah waktunya?" tanya alice begitu melihat rein tiba tiba bangkit dari kursi tempat mereka duduk

"hhm, kita harus masuk sekarang"

"ok" balas alice mengangguk sebwlum kemudian menyusul rein masuk kedalam ruang keberangkatan. Mereka duduk berdampingan didalam pesawat, pikiran alice kembali berkelana pada kejadian 16tahun lalu

Kejadian dimana dirinya masih berusia 4 tahun dan saat dimana ia harus rela melihat kedua orangtuanya dituduh sebagai vampire pemberontak, bukti bukti yang adapun terus menyudutkan mereka hingga akhirnya mereka harus dibunuh tepat dihadapan Alice dengan kejam

alice berteriak, ia tidak sanggup melihat kematian kedua orangtuanya tapi ia juga tidak bisa berkutik, kekuatannya belum muncul, ia hanya bisa menangis melihat kedua orangtuanya meregang nyawa

Miris dan menyedihkan, mungkin itu adalah kata kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan alice kala itu, hingga kemudian alice berjanji pada dirinya sendiri, apapun yang terjadi ia akan mengungkap dalang dari pembunuhan kedua orangtuanya, dan baru baru ini alice mendapat petunjuk jika salah satu eksekutor kedua orangtuanya juga berada di seoul

"jangan memikirkan hal hal yang akan merugikanmu alice"

alice mendelik tidak setuju, ia memandang rein kesal "kau membaca pikiranku lagi!" tanyanya skiptis

rein mengangkat bahunya acuh "tidak juga" balasnya

"jangan pernah masuk kedalam pikiranku lagi tanpa izin!" keluh alice memperingati, rein hanya memutar matanya malas

"kau seharusnya membentengi pikiranmu jika tidak ingin aku baca"

"sialan" maki Alice

Ia menyandarkan tubuhnya pada senderan kursi, ia juga segera membentengi pikirannya agar tidak bisa ditembus oleh kekuatan spesial milik rein

"berapa lama lagi kita akan sampai"

"Sekitar satu setengah jam mungkin, ada apa kau terlihat cemas?"

"tidak, kita akan ke seoul, aku hanya takut membuat kesalahan disana"

"ayolah alice kenapa kau jadi melow begini, satu kesalahan tidak akan masalah selama itu bukan kesalahan fatal dan lagi para angel hunter itu bukan malaikat maut, untuk apa cemas hanya karna hal itu"

"ya.. mungkin tidak seharusnya aku cemas"

"tentu saja"

"hei aku dengar para angel hunter itu sangat tampan, apa kau tau?"

"tidak" balas alice malas

"alice~ jika boleh berharap sejujurnya aku sangat ingin bertemu dengan mereka, aku sangat penasaran setampan apa mereka, astaga aku membayangkan wajah mereka yang berkilau saat diterpa sinar matahari"

"ishh" alice memalingkan tubuhnya menghindari rein "kurasa kau terlalu banyak membaca dongeng palsu" dengusnya kemudian mencoba memejamkan mata

Sungguh alice benar benar lelah, kedua matanya terasa sangat berat, ditambah ia belum mengisi nutrisi tubuhnya selama 2hari terakhir

"hell, kau belum minum darah selama 2hari?" ucap rein yang tidak sengaja menangkap isi pikiran alice, membuat gadis itu tiba tiba kembali mendelik tajam

"sudah ku katakan berhenti masuk kedalam pikiranku"

"ya dan sudah aku katakan untuk membentengi pikiranmu sendiri jika tidak ingin aku masuk"

rein menggeser posisi duduknya menatap wajah alice "katakan apa kau benar benar belum mengisi nutrisi tubuhmu selama 2hari? lalu apa yang kau makan selama ini, jangan bilang jika kau hanya makan makanan manusia?"

"aku memang memakannya" balas alice santai

Dengan geram wanita berambut ungu itu meraih tasnya dan mengeluarkan sebotol minuman berwarna merah yang alice yakin jika isinya adalah darah segar

"apa kau gila, kenapa mengeluarkan itu disini"

"kau harus meminumnya, aku tidak ingin kau terkapar saat kita turun dari pesawat nanti"

"tidak, aku bisa menahannya sampai kita masuk kedalam rumah baru"

"jangan membantah alice, cepat minum" rein menaruh botol itu tepat dipangkuan alice

"apa lagi, cepat minum" dengan sangat terpaksa alice meminum isi dari botol pemberian rein, ia mendengus begitu selesai mengabiskan seluruh isinya

"ini" ujarnya memberikan kembali botol itu pada rein

"mulai hari ini jangan pernah melupakan hal itu lagi"

"hhm" dehamnya tanpa berkata apapun.

Ya, terkadang bibi cantiknya ini bisa menjadi sangat keibuan disaat saat yang tepat

-TBC-

Next chapter