1 Prolog.

Ray menggapai mimpinya bersama dengan hilangnya mimpinya, teman-temannya, keluarganya, dan seluruh rekan-rekannya. Ray tak mempunyai apapun untuk dia bagikan penderitaannya, hingga dirinya berpikir jika dirinyalah hantu dari masa lalu itu sendiri.

Di hari-harinya yang penuh akan kesedihan itu, Ray pun hanya menghabiskan sisa waktu hidupnya dengan melihat matahari dan langit malam. Dirinya tak pernah bisa melupakan hari-hari dimana dirinya mempertaruhkan hidup dan matinya, kedamaian ini tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ray menyadarinya, pertarungannya telah usai saat ini. Dirinya masih berusaha menyembunyikan luka dibalik pandangannya yang penuh akan keputusasaan.

Ray terus melakukan hal yang sama hingga berlalu selama berbulan-bulan tanpa apapun yang bisa ia bagikan, dan apapun yang bisa dirinya capai. Segala hal yang coba dirinya rasakan telah hilang, hati yang hangat dan pikiran penuh dengan warna warni kebahagiaan, semuanya hilang ditelan oleh kutukan yang Naomi sematkan padanya.

Hingga pada suatu hari, seorang anak perempuan menghampirinya saat dirinya tengah berada di gerbang rumahnya. Anak perempuan itu bertanya dengan sikap polosnya pada Ray.

"Pak, bapak kenapa? Bisakah bapak tersenyum kembali?"

"..." Ray hanya melihatnya dengan tatapan yang mencoba memberikan tanda jika dirinya tak bisa melakukannya.

Tanpa Ray sadari, kepalanya ada di atas kepala anak itu. Matanya yang sedang melihat ke arah anak itu dalam-dalam meneteskan air matanya tanpa Ray sadari. Anak kecil itu pun mengusap air mata Ray dengan jemari-jemari kecilnya, tak ada yang bisa Ray lakukan lagi saat itu. Ray hanya bisa menggenggam tangan kecilnya dengan lembut dan mengusap rambutnya.

Anak kecil itu pun melihat ke arah Ray dan salah satu tangannya yang bebas, menggapai wajahnya dan meraih pipinya dan melebarkannya. Anak kecil itu mencoba membuat Ray tersenyum. Namun sayang sekali, kutukan itu lebih kuat daripada kehangatan yang anak itu berikan pada Ray.

Menyadari hal itu, Ray pun segera meninggalkan anak itu dan masuk ke dalam rumahnya.

Hari berikutnya, anak itu kembali lagi. Kali ini dia berhasil masuk dan mencoba berbicara lebih banyak kepada Ray. Tapi Ray hanya bisa mendengarkannya dan melihat betapa hangat dan besar mimpi yang coba anak itu sampaikan padanya. Ray tahu benar, betapa berharganya sebuah mimpi yang ingin dicapai oleh seorang anak-anak. Serta bagaimana ketika mimpi dan juga apapun yang telah dirinya korbankan untuk mimpi itu tak bernilai apapun selain kebakaran besar yang hasilnya menghancurkan benua Asia secara masif.

Benua Asia hanya menyisakan beberapa pulau-pulau dengan gunung berapi aktif di pulau paling besarnya, beberapa suku hilang beserta peradabannya. Ray tak mampu berbuat apapun untuk menyelamatkan semuanya, dia adalah sebuah kekosongan yang benar-benar kosong.

Ray terus memperhatikan anak itu ketika dia bercerita, berhari-hari seketika dirinya pulang dari sekolah dasar, dia menghampiri rumah Ray dan bercerita tentang kesehariannya.

"Paman, tahu tidak. Tadi guruku menanyakan pada seisi kelas tentang cita-cita kami semuanya."

"..."

"Mereka semuanya menyampaikan cita-cita yang begitu banyak, mulai dari dokter, guru, nahkoda, sopir, bahkan pengusaha, serta astronot. Mereka semuanya sangatlah antusias dan bersemangat sekali."

"..."

"Tapi, ketika aku ditanya pada guru tentang cita-citaku semuanya mulai berbeda."

"..."

"Aku pun maju ke depan kelas dan mengatakan pada mereka, 'cita-citaku adalah menjadi seorang pahlawan seperti para pahlawan yang telah dikenang dalam sejarah!' Seketika mereka semuanya pun tertawa, bahkan guruku pun juga mengikuti mereka."

"..."

"Mereka semuanya tidak mendengarkan kata-kataku dan akhirnya hanya mengejekku dan mengucilkanku karena cita-citaku itu."

"... Nak, siapa namamu?" Ray pun mencoba bertanya tentang namanya.

"Namaku, Alisa. Kenapa Paman, adakah yang coba ingin kau katakan padaku?"

"Tentu saja. Aku hanya merasa sedikit kurang percaya diri dengan diriku ini, melihatmu terus seperti itu, tentu saja aku ingin menghiburmu sedikit tentang cita-cita. Dahulu kala, aku mencoba menjadi seorang pahlawan. Menyelamatkan banyak nyawa dan membunuh mereka yang mengancam kehidupan mereka yang lain, aku melakukannya dengan senang hati, bahkan rela mengorbankan orang-orang terdekatku, mulai dari keluargaku, teman-temanku, dan rekan-rekanku. Semuanya harus mati karena itu, dan akhirnya aku dikutuk dan menjadi seorang lelaki tua pesakitan yang penuh dengan penyesalan sepanjang hidupnya."

"Paman, apakah paman sungguh-sungguh tentang impian itu?"

"Tentu saja, paman menghabiskan masa muda paman dengan bertarung mempertaruhkan kehidupan orang banyak. Sampai di pertarungan terakhir, paman dikalahkan karena ketidaktahuan paman sendiri. Sampai saat ini, paman masih menyimpan penyesalan yang begitu besar karena orang-orang yang coba paman lindungi berakhir dalam sebuah kebakaran besar."

"Jadi sejarah tentang kebakaran bes..." Alisa berusaha mengatakan sesuatu.

Tapi jari telunjuk yang Ray sodorkan untuk membuatnya diam pun berhasil, kemudian Ray berkata pada Alisa.

"Tenanglah Alisa, jika dirimu ingin menjadi seorang pahlawan dan menyelamatkan mereka yang menjadi dokter, presiden, bankir, peneliti, dan guru. Kau benar-benar memiliki hati yang begitu besar dan hangat. Kau berhak dihargai, maka dari itu. Ketika dirimu mengatakan cita-citamu padaku, aku pun ingin membuatmu siap dengan cita-citamu itu."

"Hm, tentu... Aku ingin mencapainya secepatnya paman, karena aku ingin membuktikannya pada teman-temanku jika aku bisa menyelamatkan orang lain." Alisa pun turun dari tempat duduknya, Ray hanya bisa terdiam melihatnya perlahan meninggalkan dirinya sendirian.

"Paman aku pamit pulang terlebih dahulu, aku tidak ingin membuat orang tuaku khawatir padaku. Selamat tinggal paman."

"..." Ray hanya membalas dengan lambaian tangannya yang kaku.

Ray pun pergi menuju ke teras rumahnya, melihat ke arah langit yang kemerahan karena senja. Kemudian bergumam sendirian, 'andai saja dirimu datang lebih cepat lima tahun lalu, mungkin aku tidak berakhir menjadi seperti ini. Penyesalanku tidaklah sebesar ini, karena mungkin kau akan menanggungnya karena dirimu merasa jika itu adalah tanggung jawabmu. Tapi kenyataan tak semanis itu, kau datang baru saja seperti menyimpan sebuah harapan baru bagiku. Mungkin aku harus cepat-cepat membuatmu siap dengan kemampuan yang dapat menunjangmu menjadi seorang pahlawan yang kau impikan.'

Ketika dirinya selesai bergumam, Ray melihat sosok yang tak asing di gerbang rumahnya. Ray mungkin menganggapnya sebagai seorang manusia, tapi nyatanya dia hanyalah boneka yang dibuat oleh sahabatnya Ray. Vienna, seorang boneka yang mirip dengan manusia. Bahkan dirinya mampu melakukan aktivitas layaknya manusia pada umumnya, saat ini Ray mengetahui jika bisa saja boneka ini lepas kendali setiap saat. Apalagi, mereka punya keinginan mereka sendiri, tentu saja Ray hanya bisa waspada dan pasrah dengan keadaan. Kemampuan dan keahlian yang dia miliki diambil oleh kutukan itu, dirinya hanya menguasai teorinya dan beberapa gerakan bela diri yang mungkin sekarang hanya membuatnya terkilir.

Vienna terus mendekat, dirinya semakin dekat dengan Ray hingga jarak mereka menyisakan satu meter. Vienna kemudian mengajak Ray berbicara.

"Tuan Ray? Aku adalah Vienna, tentunya kita sudah lama tidak bertemu. Bahkan ini sudah 10 tahun berlalu semenjak kejadian itu, kau sudah banyak berubah Tuan Ray."

"Hm, aku kira kau akan membunuhku atau membuatku tidak sadarkan diri, ternyata kau hanya ingin memastikan diriku ya. Baiklah, sekarang kau tinggal di daerah mana?"

"Aku tinggal di ibukota, banyak hal yang membuatku sedikit sibuk selama beberapa tahun terakhir. Dan juga, aku harus mengurus beberapa surat dan kartu kependudukan agar aku bisa bekerja. Ternyata cukup merepotkan, tapi sekarang aku sudah bisa sedikit bersantai setelah bekerja habis-habisan selama lima tahun. Lantas aku mencoba melakukan beberapa proyek kecil untuk mencarimu, dan kemudian secara kebetulan bertemu denganmu disini."

"Oh, jadi seperti itu rupanya. Lantas untuk apa mencariku?"

"Tidak, bukan apa-apa. Berdasarkan dari konsep yang aku rasakan, keberadaan Naomi masih samar-samar, meskipun muncul, dia tidaklah memiliki tubuh fisik saat ini. Maka dari itu, dia harus memilih tubuh yang cocok untuk berkomunikasi dengan manusia. Itu kabar dariku, dan sebagai informasi untukmu. Aku dengar-dengar tiga orang dari keluarga bankir tengah melakukan proyek rahasia mereka untuk mencoba mencari makam Naomi, mereka mencoba membangkitkannya kembali dengan darah yang Robby miliki. Entahlah, mungkin itu adalah DNA-nya. Aku juga bingung, 'darimana mereka mendapatkannya?'"

"Hm, lantas apa yang bisa kau lakukan saat ini?"

"Aku, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan kemampuanku pun tidak bisa aku miliki, karena dirimu menghancurkan konduktor yang membuat manusia memiliki kemampuan khusus itu, sekarang tak ada lagi yang namanya kemampuan khusus. Jika ada yang mengaku mendapatkannya, maka dia membuat kemampuan itu dengan sebuah alat."

"Hm, sebuah alat? Bagaimana mereka melakukannya?"

"Aku dengar beberapa orang yang disebut dengan 'Alto' memiliki koneksi dengan para peneliti dan arkeolog. Para arkeolog ini kabarnya mereka mendapatkan informasi dari tulisan hieroglip yang menjelaskan tentang sebuah alat yang bisa membuat seorang manusia mendapatkan kemampuan khusus seperti masa lalu. Mereka pun mengembangkannya dengan biaya yang dikeluarkan oleh orang-orang di dalam Alto itu sendiri. Lantas, tiga orang pendiri Alto itu sendiri yang kini mencoba membangkitkan Naomi."

"Hm... ternyata aku benar-benar salah langkah. Pilihanku untuk menghancurkan konduktor itu tidak menghasilkan apa-apa, benar-benar hanya menyisakan kehancuran dan kehancuran yang lebih dalam. Aku tidak bisa lagi mengangkat senjata, aku tidak bisa lagi menggapai mimpiku, aku tak bisa lagi menggapai tangan orang-orang yang berjuang dan mati di perjalanan impianku, aku bahkan tak bisa merangkul kembali pundak para sahabatku... Benar sekali, Naomi benar-benar menghancurkan diriku sedalam-dalamnya. Lalu saat semuanya aku yakin tidak akan terulang kembali, dengan bodohnya sekelompok orang menginginkan Naomi hidup dan mendapatkan tubuhnya. Apakah kenyataan ini hanya akan berputar-putar selamanya? Bagaimana cara melenyapkan Naomi sebenarnya? Aku benar-benar tak tahu lagi, benar-benar tak tahu. Ini benar-benar di luar kemampuanku. Vienna, beritahu aku apa yang sebenarnya bisa aku lakukan?"

"Tidak-tidak! Kau tidak harus menanggung semuanya lagi seperti dulu, aku bisa merasakannya. Penderitaan yang kau derita selama sepuluh tahun terakhir ini, kau menanggungnya sendirian, kau melakukan semuanya demi mereka yang coba kau lindungi, tapi sayangnya Naomi mempunyai kekuatan yang lebih besar darimu. Maka dari itu, dia tidak benar-benar lenyap. Aku yang melihatmu seperti ini pun tak sanggup membiarkanmu melakukan semuanya lagi. Kau harus benar-benar berhenti Ray!"

"Tidak! Aku ingin kau menyiapkan beberapa senjata yang akan aku ingin pesan padamu, aku benar-benar ingin melakukannya. Ini untuk yang terakhir kalinya aku akan melakukan hal ini untuk memperlambat kebangkitannya, karena aku telah menemukan seorang anak yang mungkin akan menggantikanku di masa depan. Dan aku percaya itu.

Next chapter