1 Prolog

Saat ini tepat pukul 22.00 di kotaku, ya bisa jadi. Padahal langit masih cerah sekali, banyak awan terbang melintasinya, berwarna biru menandakan cuaca di luar begitu terik. Malam ini aku punya satu misi, yaitu memburu naga Fredrick yang katanya hanya legenda. Aku bersama lima oang anggota kelompokku akan segera berpetualang menelusuri hutan rimba, sungai-sungai, laut-laut yang dalam, gunung-gunung yang tinggi menjulang.

Namaku Rayen, usiaku... entahlah, yang terpenting aku duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Teman-teman di kelasku sering sekali mengejekku dan menertawakanku dan sering pula mereka memanggilku Si Aneh. Hmm.. entahlah kenapa mereka bisa melakukan hal semacam itu. Padahal mereka yang aneh tidak bisa melihat apa yang aku lihat dan kurasa mereka sangat rugi.

Aku menyiapkan segala alat yang diperlukan untuk menjalankan misi itu, panah beserta anak-anaknya, pedang beserta sarungnya, tombak ehh yup tombak tidak jadi karena aku tidak kuat mengangkatnya, lalu jangan lupa perbekalan makanan, obat-obatan, dan jangan lupa ini, hahaha iya ini dia, mainan mobil-mobilan favoritku, sayang sekali jika aku tidak mengajaknya berpetualang. Saat hendak pergi berangkat, tiba-tiba tangan besar menamparku dengan keras, aku kaget dan berteriak "auu!". Ternyata itu Komandan Edgard dia bertanya kepadaku " Mau pergi kemana kau anak baru!?" suaranya sangat dalam dan lantang. Badannya begitu besar, tubuhnya penuh otot dan tatapannya sangat menusuk. Aku hanya terdiam dan sedikit meringis.

" Apa kau sedang menghayal!" dia membetakku dengan suaranya yang mengerikan " ini bukan main-main anak baru!" ia terus menatapku " misi ini hanya untuk yang sudah ahli dan kuat, bukan bocah ingusan seperti dirimu!". Aku terdiam menunduk, melihat wajahnya sungguh sebuah kesengsaraan bagi diriku " sekarang taruh ranselmu dan berhenti berkhayal!". Aku baru sadar, sedari tadi aku terus menggendong ranselku yang besarnya melebihi tubuh kecilku. Akhirnya aku melepasnya, Komandan Edgard pun pergi. Ia sangat geram melihat anak buahnya yang tidak serius dan bermain-main, padahal aku serius, aku sangat ingin pergi berburu naga Fredrick. Saat ia sudah jauh aku menghela nafas "huhh" teman-temanku sedari tadi ada disampingku melihat apa semua kejadian memalukan itu. "Jangan diambil hati, komandan memang seperti itu" ucap Daniel menghiburku, aku hanya mengangguk. Lalu bagaimana nasib ranselku beserta isinya.