Sinopsis Novel Raung : Haira Seorang gadis yang berjuang demi hidupnya, demi cita-citanya, demi amanat Ayahnya, menghadapi intrik dan konspirasi yang mencekam. Dari orang-orang yang berasal lingkaran masa lalu Ayahnya, Ibunya, dan juga di lingkungan sekolah dan kuliahnya. Haira Ndadari, putri yang dilahirkan dan dibesarkan oleh lereng Gunung Raung. Menjadi seorang penari tradisional yang tiada duanya. Cantik, energik dan menari dengan epik. Namun juga mesti menghadapi drama keluarga, romantika tak ada habisnya, hingga kehilangan orang-orang terdekat yang dikasihinya. Agni Awahita, sahabat yang tak pernah berhenti mendukung Haira di segala cuaca, kengerian maupun kesedihan. Sahabat dalam arti sebenarnya. Cantik dan pemberani. Tidak mengenal takut sedikitpun, kepada siapapun, dalam kondisi apapun. Arya Jitendra. Muncul agak belakangan tapi ikut menjadi penentu cerita. Pemuda gagah dan pemberani yang berusaha keras memperjuangkan dan mengembalikan nama baik keluarganya yang tercoreng masa silam mengerikan. Novel Raung ini selain berkisah tentang para tokohnya yang sangat mengharu biru dan penuh dengan kejutan, tapi juga mengungkap banyak hal di seputar negeri Blambangan. Potensi wisata yang luar biasa, ngarai, gunung, air terjun, pantai, hingga lautan. Semua ada di tanah Blambangan. Jakarta, 20 Mei 2024
Di pangkuannya yang gelap
nampak tertidur lelap
ngarai-ngarai misterius
tempat Panthera pardus
berusaha keras
menjadi penyintas
dari irisan tajam
pisau peradaban
yang membuatnya kehilangan harapan
Subuh setelah berlalunya dinihari, Haira Ndadari membuka jendela rumahnya yang terbuat dari kayu. Hawa dingin yang menerpa wajah tak dihiraukan. Udara dingin itu menusuk semua lubang pori-pori tubuhnya. Selalu membuatnya menggigil meski semenjak kecil dia berada di sini.
Tugas rutinnya menunggu. Memberi makan ayam, menimba air sumur untuk mengisi kamar mandi, memasak nasi, satu atau dua macam lauk dan menjerang air untuk bekal makan siang Ayahnya di ladang. Sebelum berangkat sekolah, Haira akan memandikan adiknya yang masih berusia 4 tahun, menyuapinya makan, lalu membawanya ke rumah Bude Darmi untuk dititipkan. Bude Darmi adalah kakak angkat dari Ibu Haira. Bude Darmi tidak mempunyai anak dan suaminya sudah meninggal sehingga wanita paruh baya itu dengan senang hati mengasuh Lintang Purnama, adik laki-laki Haira.
Haira tidak pernah mengeluh. Sejak Ibunya wafat 2 tahun lalu, waktu itu dia masih kelas 1 SMA, tugas-tugas rumah tangga diambil alih oleh Haira. Meskipun berat, karena harus sekolah sekaligus mengurus rumah, Haira menganggap itu sebagai tugas mulia. Membantu Ayahnya yang lintang pukang berkebun sayur di ladang dan menjaga Lintang Purnama yang telah kehilangan kasih sayang seorang Ibu di usia yang masih balita.
Ayah dan Ibu Haira sesungguhnya bukan orang biasa. Sekar Arum, Ibu Haira, adalah seorang penari terkenal di zamannya. Sedangkan Joko Ludiro, Ayah Haira, adalah seorang seniman seni lukis kondang yang memilih untuk menyingkir dari hingar bingar kota besar karena ingin membesarkan anak-anaknya dalam tuntunan alam. Seniman aneh yang sebetulnya seringkali berhasil menarik minat orang kaya yang ingin membeli lukisannya dengan nilai tinggi, tapi Joko Ludiro jarang mau menjualnya jika dirasa pembelinya hanyalah orang yang sekedar ingin menaikkan gengsi. Bukan penikmat seni lukis yang sesungguhnya.
Karena memiliki orang tua yang berpendidikan dan punya cita rasa seni tinggi, nama Haira Ndadari dan Lintang Purnama sama sekali tidak mencerminkan nama anak-anak dari desa pelosok.
Mata Haira berkaca-kaca saat memandikan Lintang. Hatinya seperti disayat potongan kaca melihat muka polos adiknya. Melihat bagaimana anak lelaki kecil itu bermain dengan busa sabun yang memenuhi air hangat di ember tempat mandi. Berceloteh riang tentang hari-harinya yang menyenangkan bersama Bude Darmi.
Haira memalingkan muka. Beberapa butir air mata melompat dari sudut matanya. Teringat kenangan dengan Ibunya yang begitu pengasih terhadap mereka berdua. Ibunya yang jarang marah. Atau tepatnya tidak pernah marah.
Setiap pagi mereka punya ritual rutin. Bertiga memandangi Gunung Raung muncul dari belitan awan. Puncaknya yang gagah seolah hendak memanjat langit. Mereka akan menghitung bersama-sama saat puncak itu menyapa mata mereka pada kesempatan pertama. Meskipun belum bisa berbicara dengan lancar, Lintang Purnama sama sekali tidak mau kalah. Dan Haira Ndadari nyaris selalu kalah cepat dengan adiknya.
Setelah itu mereka akan tertawa bahagia bersama. Ritual selanjutnya adalah menyaksikan Sang Ibu memasak nasi dan menggoreng ikan asin serta mengoseng sayur untuk makan siang Sang Ayah di ladang. Haira adalah orang pertama yang makan masakan Sang Ibu sebelum mengayuh sepedanya ke sekolah.
Sementara Haira baru sampai setengah perjalanan, Sang Ibu sambil menggendong Lintang Purnama pergi ke ladang yang berjarak tak kurang dari 1 km untuk membawakan makan siang bagi Sang Ayah. Di sambut hangat oleh Joko Ludiro yang bergegas memeluk keduanya sambil mulai menggelar kanvas lukisan. Saat istirahat berladang selalu dimanfaatkan oleh lelaki berambut ikal panjang itu untuk melukis. Hanya 4 obyek yang menjadi bahan lukisan Joko Ludiro. Sekar Arum, Haira Ndadari, Lintang Purnama, dan Gunung Raung.
Setumpuk hasil lukisannya tergeletak di gudang kecil belakang rumah. Suatu saat nanti dia berencana untuk membawa lukisan-lukisan Gunung Raung yang jumlahnya puluhan itu ke galeri pameran di Banyuwangi atau Denpasar. Lukisan-lukisan itu memperlihatkan segala sisi wajah Gunung Raung. Garang, santun, misterius, anggun, dan berbahaya.
Tapi niat Joko Ludiro batal seketika saat Sekar Arum pergi mendahuluinya menghadap Sang Khalik. Sakit yang sudah lama diderita tak sanggup lagi ditahan oleh tubuhnya. Gangguan Hati stadium lanjut membawanya ke perjalanan abadi. Saat itu, Joko Ludiro tidak menangis. Haira juga tidak meneteskan airmata setitikpun. Lintang Purnama juga tidak. Tapi Gunung Raung iya. Gunung yang diliputi segala misteri itu mengirimkan hujan rintik-rintik sebagai pertanda belasungkawa atas kepergian seorang wanita yang selalu mengagumi dirinya. Di penghujung hujan, Gunung Raung menggambar lekuk pelangi di pinggangnya. Sebuah isyarat bahwa kedukaan itu juga sebuah keindahan bagi seorang wanita yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk merawat seni tari tradisional Blambangan.
Haira terbangun dari lamunan panjangnya. Lintang menarik-narik tangannya sambil berusaha keluar dari ember. Air itu sudah dingin dan tidak hangat lagi. Cukup lama dia berendam. Cuaca dingin lereng Raung tidak bisa dilawan hanya dengan satu ember air hangat. Gadis remaja itu membersihkan adiknya menggunakan handuk yang sudah berwarna pudar. Sambil memasak air untuk mandi Lintang tadi, Haira menggoreng telor ayam peliharaan mereka. Lintang makan dengan lahap. Haira menyuapinya dengan sabar dan penuh kasih.
Selesai makan, Haira menuntun Lintang menuju rumah Bude Darmi yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah mereka. Bude Darmi menyambut Lintang dengan senyum yang tak pernah lekang dari bibirnya. Lintang adalah bintang yang sebenarnya dalam hidupnya di usia yang telah senja. Jika tidak ada Lintang yang menemani kesehariannya, mungkin hidupnya akan sangat hambar dan kesepian.
Bude Darmi sebetulnya tidak punya ikatan darah dengan Sekar Arum. Namun saking akrabnya karena bertahun-tahun hidup bertetangga, Sekar Arum selalu menganggap Bude Darmi adalah kakaknya. Sebaliknya, Bude Darmi dengan senang hati menerima dan menyayangi keluarga kecil itu dengan tulus.
Haira buru-buru pulang setelah memeluk dan mencium pipi Lintang Purnama. Dia harus mengantarkan bekal makan siang Ayahnya. Di dalam rantang ada nasi, sambal dan telur mata sapi. Tidak ketinggalan beberapa potong kecil ikan asin. Haira berhitung. Dia akan terlambat tiba di sekolah sekitar 20 menit. Biasanya hanya sekitar 10 menit. Ayahnya tadi tidak sarapan sehingga Haira menyempatkan diri untuk membuatkan sambal kesukaannya. Seperti yang telah diajarkan oleh Sang Ibu saat masih hidup.
Akhir-akhir ini selera makan Joko Ludiro berkurang drastis. Kesehatannya juga makin menurun. Haira selalu memperhatikan Ayahnya batuk-batuk saat malam. Batuk yang berat dan dalam. Haira tidak tahu Ayahnya sakit apa karena Sang Ayah tak pernah mau dibawa ke Puskesmas untuk berobat.
"Ayah tidak apa-apa, Nduk. Jangan khawatir. Ini karena Ayah sering merokok jagung. Tembakau yang biasa ayah beli juga sulit didapat lagi. Mungkin itu penyebabnya."
Begitu jawaban Joko Ludiro menghibur anak gadisnya. Jawaban yang berulang setiap kali Haira menatap Ayahnya dengan pandangan cemas dan mengajaknya berobat ke Puskesmas di kota Kecamatan.
*