20 Test Susulan Alena

°

°

°

Bel tanda berakhirnya jam istirahat pun mulai berbunyi nyaring, menyebabkan ratusan siswa/I di tempat Alena mengenyam pendidikan itu berlarian memasuki kelasnya. Namun, lain halnya dengan Alena, dikarenakan jadwal test susulannya adalah hari ini, jadi ia sekarang tengah berada di ruang test Olimpiade Sains. Bisa dikatakan jika kemarin Haru menjadi pahlawan untuk Alena, bagaimana tidak, jika saja bukan karena kecakapan Haru dalam berbicara mungkin hari ini Alena masih berusaha meminta izin kepala sekolah untuk mengikuti test secara susulan. Apalagi pagi kemarin, Alena berangkat ke sekolah tanpa membawa tanda tangan Haru.

"Len, gue ke kelas ya?. Nanti gue ke sini lagi."

Kalimat Rayna yang terdengar sederhana itu terus saja memenuhi pikiran Alena, membuat Alena geram sendiri. Bagaimana jika semua yang telah ia pelajari dan baca malam tadi hilang seketika?

"Gue kenapa sih? Rayna mulu perasaaan."

"Nak, Alena?." suara di ambang pintu mengalihkan perhatian Alena.

Ia pun mendongakkan kepalanya dan melihat seorang guru di ambang pintu, guru itu masuk membawa tumpukkan kertas yang tidak lain tidak bukan pastinya berisikan soal serta jawaban dari peserta test sebelumnya.

"Sudah menunggu lama?." sambungnya yang dibalas gelengan pelan dari Alena.

"Saya baru saja di sini, Pak." jawab Alena sopan.

"Baiklah…ini soal dan lembar jawaban, emmm waktu yang saya berikan hanya satu jam ya?." ucap guru itu sembari menyodorkan beberapa lembar kertas ke Alena.

"Baik Pak, terima kasih."

Langsung saja Alena menarik kertas itu dan mengeluarkan pena dari sakunya kemudian mulai mengerjakan soal-soal itu.

°°°

Waktu terus berjalan, dan kini waktu pengerjaan soal itu tinggal lima menit lagi. Sialnya Alena malah terjebak di soal terakhir, ia terus mencoba memutar otaknya untuk mendapatkan jawaban dari soal itu namun…ah entahlah bagaimana otaknya bisa buntu seperti ini secara tiba-tiba. Ia pun mengetuk-ngetuk meja dengan ujung penanya sambil berpikir, tapi…

"Syuttt." ujar guru itu memperingatkan sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir.

"Maaf, Pak." sahut Alena yang dibalas anggukan.

"Gila…gila, ini gimana?!." geramnya di dalam hati.

Alena mengucek kedua matanya kemudian menarik napasnya dalam, bola matanya bergerak teratur untuk mengulang membaca soal yang terakhir.

"Apakah nama latin dari bunga matahari?." ucapnya pelan.

"Otak gue kenapa etdah?!."

"Hel…Helinthus? Helianthus?."

"Helianthus apaan ya? Helianthus annuus?."

"Nah iya!."

"Helianthus annuus!!."

Selesailah Alena mengerjakan soal-soal itu, sesegera mungkin ia langsung mengumpulkan lembar jawaban beserta soal kepada guru itu.

"Baik Alena. Besok Bapak akan memberitahu kamu ya berapa hasilnya."

"Terima kasih Pak."

Alena dan guru itu sama-sama tersenyum untuk satu sama lain, kemudian Alena pamit kepada Guru itu.

Ia pun keluar dari ruang test dan menggerakkan kakinya mengarah ke kantin. Ia duduk di salah satu meja yang berada di sudut kantin sambil mencari sebuah kontak yang bernama Riana-eomma kandungnya.

"Telpon ga ya?." ucapnya ragu-ragu setelah menemukan kontak Riana.

"Telpon aja deh." Alena pun akhirnya memberanikan dirinya untuk menelpon Riana.

Ia ingin memberitahu wanita itu karena sudah berhasil mengikuti test susulan.

"Hallo, Alena?." Panggil Riana dari seberang telpon.

"Eomma, aku berhasil mengikuti test susulan."

"Selamat, selamat Alena. Bagaimana? Bisa mengerjakannya?."

"Aku yakin bisa, Eomma. Bagaimana dengan Alex?."

"Ah anak itu, aku yakin dia asal mengisi jawabannya. Tapi entahlah, lihat saja nanti."

"Kalau begitu aku akan tunggu Alex. Pasti seru jika kami menjadi lawan."

"Hahahaha, benar."

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/psychopathic-love_18157285106643605/test-susulan-alena_52756366787408723 for visiting.

"Eomma akan datang, kan?."

"Tentu saja."

"Meski Alex tidak berhasil memasuki team sekolahnya?."

Hening. Riana terdiam, seakan tengah berpikir untuk jawabannya. Sedangkan Alena? Dia hanya sedang mencoba memaklumi apapun yang nantinya akan menjadi jawaban Riana. Entah itu 'iya' ataupun 'tidak'.

"Tenanglah, aku akan datang untukmu, Alena." jawab Riana yang membuat Alena senyum kegirangan.

"Terima kasih, Eomma. Apa kabarmu?."

"Baik, kamu?."

"Tentu saja baik."

"Sudah sangat jarang kamu mampir ke rumahku, Alena."

"Ah itu…akhir-akhir ini aku sedikit sibuk, Eomma. Nanti aku akan ke rumahmu sesering mungkin."

"Jangan berbohong pada Eomma mu ini, Eomma juga pernah menjadi seorang remaja sepertimu."

"Mak-maksudnya Eomma?."

"Apa ada yang mengganggumu? Mengganggu pikiranmu?."

Alena menjawabnya dengan gelengan, kemudian ia menepuk keningnya pelan ketika menyadari bahwa sia-sia ia menggeleng, toh Riana bukan berada di hadapannya.

Diamnya Alena di seberang telpon membuat Riana tersenyum sembari mengelus sebuah poto yang dimana poto itu adalah poto Alena yang sedang berpegangan tangan dengan seorang laki-laki, dan kelihatannya keduanya sedang berlari.

"Kamu mempunyai seseorang?." tanya Riana sembari sedikit memberatkan suaranya di kata terakhir.

"Emmm kurasa tidak."

Nampaknya, Alena belum cukup sadar dan belum cukup mengerti dengan apa yang Riana maksud. Ia pun menggaruk tengkuknya sembari menatap langit-langit kantin.

"Eomma, aku tidak mengerti. Seseorang apa?." tanyanya lagi.

"Maksudku…apakah sekarang kamu sudah mempunyai pacar?."

"Tidak. Tidak ada yang seperti itu." jawab Alena mantap.

"Baiklah."

"Kenapa Eomma bertanya hal seperti itu?."

Helaan nafas Riana terdengar di seberang telpon, membuat Alena semakin bingung.

"Temui Eomma sebentar, oke?."

"Ok..oke Eomma."

"Baiklah, semangat belajarnya Alena."

"Iya Eomma."

Tut…

Sambungan telpon itu akhirnya terputus. Siapa yang memutuskan? Sudah pasti Riana.

Di ruang kantornya, Riana berdiri dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celananya. Kepalanya sedikit menunduk menatap keramaian jalan raya. Senyuman miring akhirnya hadir di wajah Riana, namun tidak bertahan lama karena…'senyuman penuh' itu hadir.

"Alena, kamu tidak boleh mempunyai kelemahan."

°°°

Saat bel pulang sekolah berdering nyaring, Alex langsung meloncat turun dari atas ranjang yang ada di ruang bernuansa putih itu sembari meneriaki kata 'yes'. Wajahnya memancarkan aura kegirangan. Namun, ia tak langsung keluar dari ruangan itu, ia masih bersembunyi.

"Gue perlu tunggu sebentar." ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.

Dan tak berselang lama, ratusan siswa/I mulai berhamburan mengarah ke gerbang utama, menciptakan kepadatan di sana. Dan saat itu sudah berlangsung beberapa saat, barulah Alex mulai melenggang bebas kembali ke kelasnya dengan lagak yang sombong.

Sesampainya ia di kelas, ia langsung menyambar tasnya kemudian berlari menuju ke gerbang utama.

Setelah berhasil keluar dari sekolah itu, ia sedikit berjinjit untuk mencari keberadaan Ibunya dan…ia pun melambaikan tangannya dengan senyuman yang ceria di wajahnya.

"Kalian berdua benar-benar bertolak belakang." ucap Riana di dalam hatinya.

°°°

( Di dalam mobil )

"Bu, belikan aku mainan baru ya?."

"Mainan yang persis seperti punya Aditya."

"Kata Aditya itu baru saja dipro…dipro..produsen?." tanyanya bingung.

"Produksi, Alex." Ujar Riana membenarkan.

"Ah iya itu, ayolah Bu, belikan ya?."

Alex terus merengek pada Riana, namun yaa Riana tak menghiraukan anak laki-lakinya itu dan terus pokus menyetir. Hal ini terus berlanjut di antara keduanya hingga mereka sampai di rumah.

"Buuuu." rengek Alex yang mengikuti langkah Ibunya masuk ke kamar.

"Iya, sana ganti bajumu. Tapi, Ibu tidak bisa menemanimu, pergi bersama sekretaris Ibu saja ya?."

"Baiklah!."

°°°

Sesuai permintaan Riana, Alena benar-benar menemuinya dan merelakan ajakan Rayna untuk jalan. Ya, bagaimanapun Riana tetap prioritas untuknya, persetan dengan degup jantungnya yang menjadi tidak normal karena Rayna, Riana masih jauh di atas itu bagi Alena.

Kini keduanya tengah berada di dalam kamar Riana, suasana sedikit mencekam mulai menggerogoti tubuh Alena, membuat bulu-bulu halus di tangan dan kakinya berdiri.

"Eomma?." panggil Alena lembut yang mencoba mencairkan suasana.

"Sebentar." ucap Riana, ia menatap putrinya itu sebentar kemudian berdiri dan keluar dari kamarnya.

"Kemana Eomma?."

Sekitar lima menit kemudian, Riana pun kembali. Tapi kali ini, ia membawa dua cangkir yang salah satunya ia berikan pada Alena dan satunya lagi sudah pasti untuknya.

"Minum, agar tenggorokkanmu tidak kering." ucap Riana sembari menyeruput teh hangatnya.

Seperti biasanya, tak menaruh curiga apapun kepada Eomma kandungnya itu, Alena langsung menuruti kemauan Riana. Ia langsung meminum bahkan langsung menghabiskan isi cangkir itu. Setelah itu ia menaruh cangkir itu di atas meja kecil yang berada tak jauh darinya.

"Baiklah, kamu boleh pulang."

Alena kaget bukan main saat mendengar itu. Ia menoleh ke arah Eomma-nya dan menatap wanita itu dengan tatapan bingung.

"Bukannya tadi, Eomma memintaku untuk menemuimu? Kukira ada hal…yang penting." ucapan Alena membuat satu alis Riana terangkat.

"Iya benar."

"Apa itu?."

"Hal pentingnya…melihatmu minum." jawab Riana.

Bukannya puas dengan jawaban yang Riana berikan, Alena langsung mendekati Eomma-nya itu dan kembali bertanya.

"Kenapa begitu?."

"Aku ingin memastikan kamu tidak akan mempunyai kekurangan Alena. Ingatlah, sudah cukup Haru memanfaatkanku, kamu tidak boleh mengalami hal yang serupa."

"Maksudnya?." Alena sungguh tidak mengerti dengan apa yang Riana katakan.

"Aku hanya sedang memperlancar jalannmu. Kamu sudah mulai menyukai seseorang, Alena. Maka dari itu aku terpaksa…"

"Terpaksa apa, Eomma?."

"Terpaksa, mencampurkan obat mandul di dalam minumanmu."

"Maksudnya?."

"Ini semua untukmu. Aku takut rasa sukamu pada orang itu malah membuatmu keluar dari jalur, dan sebagai antisipasinya aku memutuskan hal ini...sudahlah. Pulanglah segera, ada hal baru yang akan menyambutmu nanti."

Riana berdiri dan mencoba beranjak dari tempatnya namun, Alena mencekal lengannya.

"Kenapa Eomma harus melakukan itu kepadaku? Bagaimana jika kesehatanku terganggu?."

"Tidak. Kamu hanya tidak akan bisa mengandung. Itu saja."

Terdengar remeh saat Riana mengucapkan itu, tapi tidak untuk Alena, sekarang ia merasa dirinya sedang dikerjai oleh kenyataan. Mengapa orang-orang di sekitarnya begitu mudah memperlakukannya dan menggerakkannya sesuai keinginan mereka masing-masing?

"Pulanglah, dan istirahatlah." ucap Riana, satu tangannya melepaskan cekalan Alena dengan pelan kemudian ia mengusap puncak kepala Alena sebanyak dua kali dan ia berjalan keluar dari kamarnya, meninggalkan Alena yang kini terduduk di lantai karena rasa kagetnya.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Assalamualaikum.

Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam.

Happy reading

Instagram : @meisy_sari

@halustoryid

Maafkan bila terdapat typo🙏🏻

Tinggalkan saran kalian❤

Next chapter