13 Test Olimpiade Sains

°

°

°

Ingatkah kalian dengan seorang anak laki-laki yang merengek kepada Aditya ketika ada angka 0 di bukunya? Ya, Alex.

Seorang anak kecil yang mempunyai kebiasaan mengoleksi bangkai hewan untuk dijadikannya sebagai 'mainannya'. Dan kini, Alex tengah berada di sebuah ruangan test untuk mengikuti Olimpiade Sains. Namun, jangan dikira bila Alex menginginkan test ini, jika bukan karena Riana...Ibunya, ia takkan mau berada di tempat seperti ini, sedetik pun ia tak sudi.

"Mau tak mau, harus dicoba." pasrahnya dalam hati.

Ia melangkah maju mendekati panitia yang terus saja memandanginya dengan tajam. Namun Alex tak memperdulikannya ia malah tersenyum nakal melihat panitia itu.

"Belum saja dia merasakan pantatnya bocor." batin Alex bergumam.

Setelah berada di depan panitia itu, Alex tak membuka suaranya. Dengan begitu 'sopannya' ia langsung merampas lembar kertas soal dan jawaban, membuat panitia itu tercengang tak percaya.

"Daftarkan dulu nam-." sayangnya ucapan panitia itu harus terpotong, like his mom, Alex mengangkat tangannya dan memotong ucapan panitia itu.

"Nanti, setelah saya ingin, baru saya daftarkan." ucapnya enteng yang kemudian berlalu.

Beberapa panitia lainnya hanya diam, beberapa juga sedang berusaha menahan tawanya, cukup lucu melihat remaja laki-laki itu memiliki keberanian yang lebih, meskipun waktunya tidaklah tepat.

°°°

Alex keluar ruangan dengan wajah yang sudah kusut bak pakaian tak dilipat berminggu-minggu, bagaimana pun dan seberapa tak maunya ia mengikuti olimpiade itu, tetap saja ia tak bisa menjawab soal-soal itu dengan jawaban yang salah. Ia mengisinya dengan sungguh-sungguh.

"Kelihatannya lo berusaha banget." ucap salah seorang gadis yang kini tengah menyejajarkan langkah keduanya.

"Lo siapa?." tanya Alex tanpa menoleh ke arah gadis itu sedikit pun, ia juga sedikit mempercepat langkahnya.

"Gue Riana." jawab gadis itu, ia juga mencekal lengan Alex agar berhenti dan mau berkenalan dengannya.

Tentu saja Alex tak suka diperlakukan seperti itu, mencekal lengannya...siapa dia? Alex menghempaskan lengannya agar tangan gadis yang bernama Riana itu terlepas darinya.

"Gatel banget sih lo, jangan pegang-pegang gue. Bukan muhrim!." setelah berkata seperti itu, Alex langsung berbalik badan lagi dan melangkahkan kakinya dengan langkah besar.

Melihat rasa kesal di wajah Alex membuat Riana sedikit tertawa gemas, ia bahkan memegangi kedua sisi pipinya yang memanas.

"Manis banget sih!." gemasnya dalam hati.

°°°

Alex berjalan cepat dengan langkahnya yang lebar sembari mengelus-elus lengannya yang tadi dipegang Riana, ia terus saja menyumpahi gadis itu dengan berbagai aneka sumpah serapah. Aditya yang mendapati sahabat kecilnya itu tengah melakukan hal yang menurutnya aneh pun langsung mendekati dan merangkul Alex. Tersadar jika Adityalah yang merangkulnya, ia membiarkan laki-laki itu.

"Lo kenapa?." tanya Aditya yang sedikit terkekeh karena melihat wajah Alex yang memerah seperti kepiting rebus.

"Tau ga sih, gue geli banget sama cewe kegatelan! Ngajak kenalan aja sampai pegang-pegang segala, ya gue geli, gue jijik!." jawab Alex berapi-api.

"Astaga Alex, lo gimana sih? Heran gue, lo geli dipegang sama cewe tapi lo ga geli pas gue rangkul? Lo normal, kan?." Aditya berhenti sembari menahan gelak tawanya yang hampir saja pecah.

Alex juga ikut-ikutan berhenti dan sedikit menyerongkan badannya menghadap Aditya, ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Aditya dengan tatapannya yang sombong.

"Lo berharap gue normal atau belok?."

°°°

Sudah beberapa menit setelah bel pulang sekolah berbunyi, dan kini Alex sudah berada di dalam mobil bersama Ibunya. Namun tak seperti biasanya, keadaan di dalam mobil itu benar-benar hening. Sampai Alex yang biasanya berani untuk mencairkan suasana bersama Ibunya pun kini merasa tegang, apalagi setelah ia melihat tatapan dingin Ibunya, sudahlah keberaniannya itu sudah lari terbirit-birit dari dirinya.

"Tinggallah angin keheningan di dalam tubuhku." ucapnya sok dramatis di dalam hatinya.

Alex pun menghembuskan nafas beratnya dan beralih menatap jendela dengan kedua tangannya yang ia remas kuat. Melihat itu melalui kaca, Riana pun mulai mencoba membuka suaranya. Ia sedikit menurunkan kecepatan laju mobilnya.

"Bagaimana test olimpiade tadi?." tanyanya yang langsung membuat Alex kaget sekaligus tersenyum.

"Soal-soalnya mudah, aku yakin bisa masuk ke team olimpiadenya, Bu." jawab Alex.

"Sebaiknya jangan mengecewakan, ya?."

"Oke, Bu."

"Apakah di sekolah tadi ada yang mengganggumu?."

"Ti- ADA!," Alex berteriak kencang yang hampir saja membuat Riana hendak memukul kepala anak laki-lakinya itu karena kaget.

"Namanya Riana! Menyebalkan!."

"Riana?." ulang Riana sembari sedikit memberatkan suaranya.

Tersadar akan kalimatnya yang menggantung, Alex pun langsung melengkapi kalimatnya yang membuat Riana -Ibunya- bernafas lega.

"Bukan Ibu, dan ga mungkin aku terganggu dengan Ibuku sendiri."

"Jadi, kenapa kamu bisa terganggu dengan gadis itu?." tanya Riana yang tampaknya mulai sedikit kepo dengan anak laki-lakinya itu.

"Bagaimana bisa dia mencekal lenganku padahal kami baru saja bertemu dan baru sedikit mengobrol? Tidak sopan, aku tidak menyukai hal seperti itu, Ibu tau kan?."

Riana hanya membalas Alex dengan anggukan kepalanya. Riana juga tersenyum saat mengetahui itu alasan Alex, yang artinya Alex masih berpegang teguh dengan pendiriannya untuk tidak dekat dengan wanita manapun. Bagaimana bisa? Tentu saja hal itu bisa, jika Riana-lah yang menjadi dalangnya.

Hal ini bermula dari kejadian satu tahun lalu yang dimana Alex mengendap-endap masuk ke dalam kamar Ibunya sekedar untuk meminjam hp Ibunya tersebut. Alih-alih langsung ke intinya, Alex malah membuka semua aplikasi yang dimiliki Ibunya hingga…ia menemukan sebuah poto di galeri ibunya. Namun, poto tersebut tidaklah menunjukkan satu gambar yang penuh, seakan terbagi 2. Hanya ada bagian dari pinggang ke bawah. Kedua mata Alex tentunya terbuka lebar, apalagi ketika melihat sepasang kaki yang mengenakan sepatu kulit dan satu pasangnya lagi mengenakan high heels, yang berarti ini adalah poto dari laki-laki dan wanita. Ya, Alex menyadari itu. Dan di saat yang bersamaan, Riana memergoki anak laki-lakinya itu. Namun ia tak memarahinya, ia malah terlihat senang…karena dengan begitu ia bisa memberikan sedikit bumbu untuk kehidupan anak laki-lakinya.

"Ingatlah, banyak sekali perempuan yang tak dapat kamu percaya. Kedatangan mereka hanya untuk menghancurkanmu. Maka dari itu, sebaiknya kamu tidak mendekati wanita manapun hingga nanti waktunya tiba."

Sungguh kalimat yang amat sangat melekat di kepala Alex apalagi ketika Ibunya menceritakan kisah kelamnya saat mengandung, memergoki suaminya sendiri tengah berhaha-hihi dengan wanita yang umurnya cukup jauh darinya, menambah kesan kesal di dalam diri Alex mengenai perempuan. Sejak saat itulah Alex memilih untuk terus bermain bersama Aditya hingga dirinya banyak mendapatkan penilaian aneh, seperti 'Alex menyukai sesama'.

"Bagaimana dengan mereka yang mengatakan bahwa kamu menyukai laki-laki?." Riana membelokkan stirnya kemudian ia memarkirkan mobilnya dan keluar.

"Ya begitulah, lagipula aku tidak memperdulikan mereka. Selagi mereka tak menyerang fisikku, ya akan kudiamkan saja. Toh mereka seperti sampah yang tidak dapat didaur ulang, tidak berguna." Jawab Alex yang turut mengekori langkah Ibunya.

Keduanya pun masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya masing-masing. Riana langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Ia menyalakan lampu kemudian membaringkan dirinya di atas ranjang dan menghela nafasnya panjang.

"Semoga saja Alex tidak akan pernah bertemu dengan Haru, atau semuanya akan kacau."

°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Assalamualaikum.

Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam.

Happy reading

Instagram : @meisy_sari

@halustoryid

Maafkan bila terdapat typo🙏🏻

Tinggalkan saran kalian❤

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/psychopathic-love_18157285106643605/test-olimpiade-sains_52228983172940776 for visiting.

Next chapter