17 Soup Otak Sapi

°

°

°

Alena pulang ke rumahnya, sesuai ucapannya pada Cecil pagi tadi, ia memang pulang sedikit lebih terlambat. Kepulangannya pun disambut oleh Frans, tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya, adik kecinya itu hanya menyambut dengan senyuman, tanpa sepatah kata pun.

"Untunglah dia menurut." syukur Alena di dalam hatinya sembari membalas singkat senyuman Frans.

Setelah itu, Alena langsung saja melanjutkan langkahnya. Ia menuju ke dapur, mengambil teko air dan menuangkan isinya ke dalam sebuah gelas kaca yang ada di dekatnya, kemudian ia meneguknya sampai habis. Ia pun berdeham beberapa kali setelahnya.

"Bi, Bi Ina masak apa?." tanya Alena ketika matanya menangkap siluet bayangan Bi Ina memasuki dapur.

"Masak soup otak sapi, Non." jawab Bi Ina ramah.

Kaget mendengar hal itu, sangat tak biasa untuknya. Soup otak sapi?. Siapa yang memintanya?. Hatinya pun terus bertanya-tanya, tak hanya itu, ia terlihat kepo dengan apa yang dilakukan Bi Ina. Alena pun akhirnya memutuskan untuk mendekati Bi Ina, ia juga sedikit memajukan kepalanya ke arah bahu Bi Ina, mengintip bagaimana cara Bi Ina memasak soup otak sapi tersebut.

"Tuan besar yang minta, Non." Bi Ina berujar tiba-tiba, kemudian membalikkan badannya.

"Ohhhh. Appa suka ini?." tanya Alena tanpa menghiraukan Bi Ina yang kini tersenyum bahagia ke arahnya.

"Iya, biasanya Tuan Besar minta dibawakan ke ruang kerjanya, Non."

"Cara memasaknya bagaimana? Aku ingin tahu, Bi."

"Setelah ini matang ya, Non?." ucap Bi Ina sopan yang kemudian dibalas anggukan setuju oleh Alena.

"Kalau gitu, aku ganti baju dulu, Bi." Alena pun langsung berbalik badan, tak menunggu apa jawaban Bi Ina.

Ia berjalan cepat ke kamarnya dengan 'senyuman penuhnya' yang terus saja menempel di wajahnya setelah keluar dari dapur tadi, entah apa yang kini ada dipikiran gadis cantik itu.

Ia pun bergegas, menyimpan sepatu dan tasnya dengan rapi, ia juga meraih ikat rambut kemudian menguncir setengah rambutnya dan terakhir ia mengganti bajunya yang sedkit kebesaran dengan tubuhnya.

"Jika baju ini panjangnya hampir selututku, baiknya aku pakai hot pants sajakan?." Tanyanya pada dirinya sendiri.

°°°

Setelah menunggu di kamarnya selama kurang lebih dua puluh menit, Alena pun memutuskan untuk turun ke lantai bawah, menemui Bi Ina di dapur.

Dan setelah sampai di dapur, sesuai dugaannya, soup otak sapi untuk Appa-nya sudah selesai. Langsung saja Alena mendekat ke arah Bi Ina yang berdiri di dekat kompor.

"Bi." panggil Alena pelan.

"Ah iya, Non. Baru saja Bibi mau ke kamar Non Alena." ucap Bi Ina sembari tersenyum.

"Tak apa, baik. Ajarkan aku sekarang," ucap Alena dengan sungguh-sungguh.

"Karena untuk selanjutnya, aku ingin akulah yang menyajikan soup otak sapi itu...untuk Appa."

Langsung saja ke intinya, Bi Ina tak membuang waktu lagi, ia langsung mengajarkan Alena cara membuat soup itu. Dan, nasib baik untuk Alena yang memiliki kepintaran seperti Haru, dengan cepat ia bisa mempelajari cara memasak soup itu, sehingga Bi Ina tak perlu lagi repot-repot mengulang mengajari Alena.

"Appa sudah makan, Bi?." tanya Alena.

Sepasang tangannya memegang erat tepian sisi nampan dan menaruhnya di atas meja kemudian meletakkan sebuah mangkok kaca yang berisikan soup otak sapi buatannya.

"Sudah, Non."

"Bi...kemarilah." Alena mengibaskan tangannya ke udara, memberikan kode bahwa Bi Ina harus mendekat ke arahnya.

"Iya Non." dengan langkah kakinya yang kecil, Bi Ina pun mendekat.

"Lihat itu." Alena menunjuk otak sapi yang ada di dalam mangkok itu dengan 'senyuman penuhnya'.

"Iy-iya, Non. Kenapa?." tanya Bi Ina yang tak mengerti.

"Lihat otak sapi itu...mirip dengan bentuk otak manusia ya? Bagaimana jika otak itu diganti dengan otak manusia sungguhan? Apakah ada yang menyadari hal itu, Bi?."

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/psychopathic-love_18157285106643605/soup-otak-sapi_52755105929285019 for visiting.

Pertanyaan Alena terdengar cukup mengerikan bagi Bi Ina, seketika saja tenggorokannya mengering dan jantungnya berdegup kencang, ah entahlah bagaimana tiba-tiba suasana di dapur itu berubah menjadi sedikit mencekam.

"Non Alena ih, bercandanya." ujar Bi Ina yang juga tertawa kaku.

"Aku tidak bercanda, Bi Ina."

°°°

"Enak saja aku dibilang sedang bercanda? Padahal aku sedang benar-benar berandai. Appa memakan otak manusia yang ia kira adalah otak sapi, dan saat ia tahu...bagaimana reaksinya? Jijik? Atau....ah nantilah." Alena pun menutup pintu kamarnya dan menguncinya.

Ia berjalan mendekati ranjangnya dan merebahkan dirinya, ia menarik gulingnya dan memandangi tembok kamarnya yang kosong.

Terkadang Alena memikirkan betapa kosongnya, polosnya tembok kamarnya itu. Tak ada satu pun hiasan yang menempel di sana, tidak seperti rumah teman-temannya yang lain. Penuh akan poto-poto polaroid ataupun tempelan dinding lainnya.

"Kapan gue bisa kek mereka?."

Dan kembali lagilah Alena pada pengandaiannya mengenai kehidupannya. Ia membenarkan kesalahan Haru karena telah selingkuh saat Riana mengandung dirinya, tapi Alena lebih menyalahkan keputusan Haru setelah tragedi itu terjadi, ingat saat Riana pergi dari rumahnya sendiri? Ya, andai saja Haru mempunyai hati layaknya manusia, andai saja Haru menyadari kesalahannya itu dan pergi mencari Riana untuk meminta maaf, mungkin kehidupan mereka akan sangat jauh berbeda dari sekarang.

Mungkin saja di waktu seperti ini mereka bisa berkumpul bersama di ruang keluarga, menonton tv dan tertawa bersama. Menikmati cemilan bersama. Andai saja itu terjadi, mungkin Alena takkan menjadi sosok manusia seperti sekarang. Manusia yang mencoba mengeraskan hatinya layaknya batu, dan manusia yang mencoba untuk menghilangkan semua perasaan sedih di dalam dirinya, ya Alena sedang berusaha untuk mencoba hal itu, barangkali bisa ampuh untuk mengurangi jumlah cairan bening yang bisa saja lolos dari matanya kapan pun itu.

Tapi percuma, itu hanyalah pengandaian Alena saja.

"Gila banget ga sih kehidupan gue? ." Alena menertawai dirinya sendiri, dan tanpa sadar dua tetes cairan bening itu lolos dari matanya.

Ia mengerjapkan matanya berulang kali sembari menghapus jejak tetesan air mata itu namun sialnya, tetesan itu tak mau berhenti lolos dari matanya.

"Sialan, gue udah coba buat ngilangin rasa sedih, eh nih air mata ga bisa diajak kompromi!."

Merasa tak lagi nyaman dengan caranya merebahkan diri, Alena pun mengubah posisinya menjadi duduk. Ia memandang sekitar, dan tertawa kecil, setelah itu ia menepuk keningnya dan beranjak dari ranjangnya mendekati meja belajarnya. Ia meraih hpnya dan duduk di kursi yang ada di dekatnya, jari-jari panjangnya sibuk mengotak-atik hpnya demi mencari sebuah kontak yang baru-baru ini ia simpan.

"Nah, ketemu kontaknya di Rayna!." ujar Alena kegirangan.

Ia pun langsung menekan tombol telpon, ya untuk pertama kalinya seorang Alena Sasyana menelpon seseorang yang bukanlah keluarganya.

Tak perlu menunggu lama akhirnya telpon itu tersambung dan langsung terdengar suara Rayna menyapa.

"Halo, Len?."

"Haiiii." sahut Alena dengan suara yang sedikit gemetar.

"Lo kenapa?." seakan tahu perubahan nada suara Alena, Rayna langsung menghujaninya dengan kata 'kenapa' dan hal itu malah membuat Alena terkekeh geli.

Akhirnya, keduanya pun menghabiskan malam dengan berbincang melalui sambungan telpon itu.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Assalamualaikum.

Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam.

Happy reading

Instagram : @meisy_sari

@halustoryid

Maafkan bila terdapat typo🙏🏻

Tinggalkan saran kalian❤

Next chapter