9 Apalagi sekarang?

°

°

°

( Di sekolah )

"Baiklah, Ibu kasih waktu 10 menit untuk kalian mengisi 15 soal tersebut. Dimulai dari sekarang!." seru guru yang tengah mengajar di kelas Alena.

Seluruh Murid 5 A itu mendadak jadi heboh sendiri, bagaimana tidak sebagian besar dari mereka lupa membawa catatan pelajaran tersebut. Namun berbeda dengan murid lainnya, Alena tetap diam di bangkunya. Gadis itu tak beranjak sedikitpun dari tempatnya bahkan menoleh pun tidak. Ia meraih penanya dan langsung mengisi 15 soal itu dengan cepat dan tepat, tak melampaui 5 menit akhirnya 15 soal itu sudah terjawab semua. Senyuman bahagia terkembang di wajah putih nan pucat itu. Ia meletakkan penanya kembali dan membawa lembar jawabannya ke meja guru, ia menyodorkan lembar jawaban itu tanpa berkata sepatah katapun.

"Kerja bagus Alena." ucap guru itu yang kemudian dibalas anggukan oleh Alena.

Tak lagi mengejutkan bagi guru-guru di sekolah itu terutama yang mengajar di kelas 5 A jika Alena selalu menjadi yang pertama dalam mengumpulkan tugas. Guru itu mengambil lembar jawaban yang tadi Alena kumpulkan dan langsung memeriksanya. Matanya terbelalak sempurna ketika selesai memeriksa lembar jawaban itu dan ternyata tak ada satu pun soal yang salah.

"Bagaimana bisa?."

°°°

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, dengan langkah kecilnya Alena berlari mendekati sebuah mobil mewah milik Papanya. Ia langsung masuk begitu saja dan menghiraukan peringatan yang baru saja Papanya ucapkan.

"Orang tua kalau bicara ya dijawab!." bentak Papanya yang berhasil membuat gadis kecil itu mendongak ke arahnya.

"Untuk apa?." tanyanya dengan raut polos.

"Tuli?!." lagi dan lagi Haru membentak gadis kecilnya itu, namun Alena terlihat biasa saja. Sudah terlalu sering baginya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Papanya.

"Mau dihargai? Ya menghargai. Kaca spion itu udah cukup untuk Papa pakai berkaca." jawab Alena dengan entengnya yang kemudian mengeluarkan buku komik dari dalam tasnya.

Belum sempat Alena membuka buku komik itu sebuah tangan mulus merampas bukunya, dan tangan itu berasal dari arah belakang Alena. Gadis kecil itu menghela nafasnya jengah, tak cukupkah Ibu tirinya itu mengambil alih Papanya? Haruskah buku komik itu juga ia ambil secara paksa seperti barusan?

"Darimana uang kamu berasal, Alena? Harga buku ini…seharga uang jajanmu selama 4 hari." tanya Cecil penuh curiga.

"Uangku ya berasal dari orang tuaku, kenapa? Lagipula itu milikku, kenapa Eomma mengambilnya ah maksudku merampasnya? Apa semua yang aku punya harus Eomma rampas?." Alena memutar kepalanya dan mengarahkan tubuhnya menghadap ke belakang.

Alena menunjukkan 'senyuman penuhnya' ke arah Cecil LAGI. Membuat wanita muda itu bergidik ngeri dan merasakan hawa dingin disekitar ceruk lehernya, bahkan beberapa bulu halus di tangan dan kakinya sudah berdiri. Perlahan-lahan Alena menurunkan pandangannya mengarah ke buku komiknya lagi seolah-olah tengah memberikan kode kepada wanita itu agar mengembalikannya. Tak mau membuat masalahnya semakin jauh, ia mengembalikan buku komik itu kepada Alena yang langsung diterima dengan ramah oleh gadis itu.

"Ada yang salah dengannya." ucap Cecil yakin dalam hatinya.

°°°

(Di sisi lain)

Alex dan Aditya sedang duduk bersama di halaman belakang rumah Aditya, laki-laki yang kini telah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama kelas 1 itu hanya duduk dan memandang teman bermainnya yang lebih muda 2 tahun darinya.

"Lo ga ikut main?." tanya Alex saat mendapati Aditya yang hanya memandanginya saja tanpa niat untuk ikut bermain.

"Gue ada pikiran dan gue ga mood main robot-robotan itu bareng lo. Gue masuk duluan." Aditya pun langsung berdiri dan beranjak dari tempatnya, ia tak mengajak Alex untuk ikut dengannya seperti biasa yaa meskipun ia tau laki-laki kecil itu akan mengekori langkahnya.

"Dia kenapa sih?." tanya Alex dalam hatinya yang tak mengerti perubahan mood Aditya.

Klek…

Saat pintu kamar Aditya terbuka dengan sempurna, mata Alex langsung membesar dengan rasa yang tidak percaya memenuhi relung hatinya. Dan tanpa sadar, Alex malah memasuki kamar itu…ia menghiraukan suara Aditya yang baru saja melarangnya masuk.

Lebih nekat lagi, kini Alex malah mendekati sebuah bingkai poto yang dimana ia melihat sosok yang sedikit familiar di kepalanya.

"Who's she? Your girl?." tebak Alex sembarang dengan alis yang terangkat sebelah.

Buru-buru Aditya menjauhkan Alex dari bingkai poto yang sangat ia jaga tersebut, ia menggendong tubuh Alex dan membawa laki-laki kecil itu ke dapur. Ia mendudukkan Alex di atas meja makan, kemudian ia membawa beberapa lauk yang sudah dimasak oleh pembantunya. Melihat banyaknya makanan yang disajikan Aditya membuat perut kecil Alex meraung-raung kelaparan.

"Kenapa ga bilang dari tadi kalau lo lapar?." tanya Aditya dengan raut wajah ditekuk, ia sedikit merasa kesal karena Alex tak memberitahunya jika ia lapar.

"Tadi gue mau makan di luar, ngajak lo…tapi makanan gratis ini juga bagus, tidak masalah." jawab Alex dengan wajah yang sumringah, ia langsung mengambil 2 paha ayam dan melahapnya secara bergantian.

"Ternyata lo reseh kalau lagi lapar." gumam Aditya.

Setelah keduanya menghabiskan semua lauk, mereka langsung menuju halaman belakang. Di halaman belakang Aditya hanya ada sebuah kolam renang yang tak terlalu luas dan tak terlalu dalam, sangat pas untuk keduanya berenang.

Saat berdiri di pinggir kolam, Alex langsung melepaskan bajunya dan meloncat masuk ke dalam air.

"Ayo buruan, seru!! Airnya cair, Dit. Ga bohong, suer!!." pekiknya heboh, ia mengibas-ngibaskan tangannya memberi kode untuk Aditya agar segera menyusulnya masuk ke kolam.

Namun bukannya mengacuhkan teman kecilnya itu, Aditya malah duduk di kursi yang tak jauh dari kolam renang tersebut. Ia berteriak memanggil pembantunya dan meminta dibuatkan 2 minuman dingin, tentunya untuk dirinya sendiri dan juga Alex. Di sisi lain, laki-laki kecil itu memilih untuk mengabaikan Aditya juga. Ia mengaku telah kalah untuk mengembalikan mood Aditya, untuk hari ini saja.

"Dia kenapa sih? Tidak seperti biasanya, apakah di sekolah dia mendapatkan nilai yang kecil lagi? Tapi biasanya juga seperti itu dan dia biasa saja, apa kali ini dia diremehkan oleh seseorang? Tapi mana mungkin, dia kan jago berkelah- OH MY GOD! Apakah cewe yang ada di bingkai itu yang membuat Aditya seperti ini? Wah, sulit dipercaya!." gumamnya sambil mencuri-curi pandang ke Aditya.

°°°

Hari-hari berlalu terlalu cepat untuk Alena. Bertahun-tahun ia menerima perlakuan kasar dari Papanya sendiri dan mendapatkan perlakuan khusus dari Eomma kandungnya. Dan kini ia tumbuh sebagai remaja yang berpikir melalui 2 sudut pandang, sudut pandang yang benar-benar bertolak belakang.

"Happy birthday yang ke 13 tahun untukmu, Kak Alena." ucap Frans yang saat ini sudah berumur 6 tahun.

Alena hanya memandang adiknya itu dengan tatapan datar namun dingin bagi Frans. Laki-laki itu merasa hawa dingin kian menjalar dari ujung kakinya hingga kepalanya. Melihat respon tak nyaman dari anaknya buru-buru Cecil memanggil Frans, ia sengaja menjauhkan Alena dari anaknya.

"Kenapa Kak Alena selalu dingin kepadaku, Ma?." Tanya Frans dengan raut sedihnya, jujur saja ia sangat ingin dekat dengan Kakak perempuannya itu, namun Alena menginginkan hal yang sebaliknya. Gadis remaja itu memasang tembok tebal antara dirinya dengan semua orang, terkecuali…beberapa orang yang dianggap penting.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/psychopathic-love_18157285106643605/apalagi-sekarang_50923932949204003 for visiting.

°°°

Drrrttt…drrrttt…

Getar hp Alena yang menandakan adanya panggilan masuk membuatnya berlari memasuki kamarnya dan menguncinya. Ia menutup pintu menuju balkonya dan menutup 2 jendela lainnya. Ia segera menyalakan lampu dan menerima panggilan itu.

"Ya? Eomma?." ucapnya ramah.

"Kamu dimana, Alena?."

"Di kamar." Jawab Alena singkat.

"Ke rumah sekarang!."

Tuttt…

Setelah Riana memutuskan sambungan telepon itu Alena bergegas mengganti pakaiannya. Ia memakai kaos hitam berlengan panjang dengan celana trainingnya yang berwarna abu-abu. Ia segera meraih tas kecilnya yang kemudian ia sandang. Secepat mungkin ia berlari menuruni anak tangga dan berteriak memanggil sopirnya.

"Apalagi sekarang?." gumamnya dalam hati.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Assalamualaikum.

Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam.

Happy reading

Instagram : @meisy_sari

@halustoryid

Maafkan bila terdapat typo🙏🏻

Tinggalkan saran kalian❤

Next chapter