8 Ancaman

°

°

°

Gun mendekati istrinya yang tengah mengobrol dan bersantai menikmati pesta itu dengan segerombolan wanita-wanita sosialita lainnya.

"Ma, ikut Papa dulu." ucapan Gun membuat tawa Yoshi terhenti dan mengangguk.

"Nanti lagi ya, Jeng."

"Ayo." Gun langsung menarik lengan istri menjauh dari ruangan pesta itu, ia mengajak istrinya masuk ke kamar dan menguncinya.

Yoshi pun heran, kenapa suaminya bertingkah aneh seperti ini. Ia pun memilih untuk duduk di atas sofa sambil menunggu suaminya menjelaskan maksud dari tingkah anehnya itu.

"Kita dalam bahaya." ucap Gun dengan raut wajah yang berhasil membuat jantung Yoshi berdegup sangat kencang.

"Kenapa?." Yoshi pun berdiri, ia berjalan mendekati suaminya dan menggoyang-goyangkan lengan suaminya itu.

"Jelaskan, kenapa?." desak Yoshi.

"Ke-kenal Riana? Ternyata...dia ibu kandungnya Alena. Baru saja di-dia menemuiku di ruang kerja, aku rasa akan ada hal yang tidak baik menimpa keluarga kita!."

Gun menatap istrinya pekat, ia melepaskan pegangan istrinya yang ada di lengannya. Ia pun mendekati sebuah lemari kayu yang ada di kamar itu dan membukanya, ia mengeluarkan seberkas surat properti atas nama Arsen. Melihat itu pun membuat Yoshi semakin panik dan bingung ia pun kembali mendekat ke suaminya.

"Ada apa dengan berk-."

"Mungkin Nyonya Riana ingin ketentraman untuk putrinya, ini mungkin bisa mengatasi masalah kali ini." Gun pun mendorong istrinya pelan dan keluar dari kamar itu.

°°°

"Ahh apa yang sebenarnya kamu inginkan? Berkas-berkas properti anakmu ini takkan mampu membuat putriku bahagia. Dan, aku tak membutuhkan berkas-berkasmu ini, simpan kembali." Riana mendorong berkas-berkas properti itu ke arah Gun sedikit kasar, namun Gun terus berusaha untuk bersikap biasa saja, laki-laki itu terus tersenyum ramah.

"Cukup jadikan Alena sebagai tuan putri, itu saja. Saya pulang dulu." sambung Riana yang kemudian ia langsung berdiri dan keluar dari ruangan itu.

Akhirnya, Gun dapat menghembuskan nafas leganya dengan panjang. Ia langsung memegang dada kirinya, merasakan detakan jantungnya yang kian menggila saat bersama Riana tadi, entahlah...bagi Gun tiba-tiba saja suhu ruangan itu berubah menjadi dingin dan mencekam.

"Haaahhh, hampir saja aku mati ketakutan, kenapa harus seseram itu untuk membicarakan perjodohan putrinya?." tanya Gun tak mengerti pada dirinya sendiri, ia memijat pelipisnya sambil berpikir mengenai alasan sebenarnya yang Riana inginkan. Ah ayolah, siapa yang tak bingung jika pada saat membicarakan perjodohan lawan bicara malah memasang ekspresi aneh seakan hendak mengintimidasi.

"Pa?."

Gun menoleh ke arah pintu, ia melihat sebuah kepala yang mengintip tanpa izin ke ruangannya itu.

"Arsennnn." tegur Gun pada anak semata wayangnya itu.

"Ah, hehe." Arsen membuka pintu ruang kerja Papanya itu lebih lebar dan ia melangkah masuk.

Arsen pun duduk di samping Papanya itu, ia memperhatikan garis wajah Papanya yang nampak seperti orang kebingungan.

"Kenapa?." Arsen lebih mendekatkan dirinya lagi ke Papanya.

"Sudah-sudah, kamu keluar aja. Temani Alena." ucap Gun tanpa menoleh ke arah putranya itu serta mendorongnya pelan.

"Ngga ah, Arsen malas!."

Arsen membantah ucapan Papanya barusan, ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh, ya kira-kira sedikit jauh sehingga tangan Papanya tidak dapat menjangkau punggungnya lagi. Gun ingin menyerah untuk mengatur keinginan putranya itu namun ia masih mengkhawatirkan wanita yang baru saja ia temui, Riana.

"Kamu ga boleh gitu, ajak Alena berteman, ajak dia untuk lebih akrab sama kamu, aj-."

"Arsen ga suka Alena! Dia banyak temen cowok! Arsen ga suka!."

"Nak... jangan sep-."

"Alena juga ga suka sama Arsen." ucap Alena tiba-tiba, entah sejak kapan gadis kecil itu berdiri diam di ambang pintu.

Seutas senyuman getir terpancar di wajah Gun, tubuhnya sedikit gemetar ketika menyadari bahwa Alena memiliki banyak kemiripan dengan Riana, terutama nada bicaranya barusan.

"Nah Papa sendiri dengar, kan? Lagian Arsen masih kecil, mana mau dijodohin." sambung Arsen cepat.

"Alena juga ga mau dijodohin sama cowok manja." balas Alena.

Gun hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia tak mengerti dengan situasinya saat ini. Di sisi lain Alena malah tersenyum nakal menanggapi kebingungan yang tengah Gun alami. Seakan-akan tahu apa yang sedang mengganggu pikiran Gun, Alena pun mulai mendekati Gun dan berkata...

"Eomma ga sejahat itu, hanya untukku saja dia bisa menjadi sedikit...yaa sedikit menggila."

°°°

Setelah pesta yang menurut Alena cukup aneh itu selesai, gadis kecil itu langsung masuk ke mobilnya tanpa berpamitan dengan Gun dan Yoshi terlebih dahulu. Ia langsung meminta sopirnya untuk pulang.

Selama di perjalanan, Alena terus-terusan menatap ke arah luar dengan puluhan pertanyaan yang sebenarnya ingin ia tanyakan, namun entah bagaimana ia malah bingung untuk bertanya, dan juga ia bingung untuk bertanya pada siapa.

"Kak Aditya masih marah ngga ya sama gue?." tanyanya bingung, benar-benar bingung.

Sekitar 30 menit kemudian akhirnya Alena sampai di rumah megahnya lagi, ia langsung berlari ke kamarnya dan mengunci pintunya. Ia melempar tas sandangnya ke sembarang tempat dan meloncat ke atas kasurnya.

Ia meraih gulingnya serta memeluknya erat. Matanya menatap lurus ke atas, memandangi tiap sudut plafon kamarnya itu.

"Apa hidup gue bakalan terus berputar di arena ini? Gue bingung. Gue ga tau lagi har-,"

Drtttt...drtttt...

Hp Alena bergetar menandakan sebuah panggilan masuk ke hpnya itu. Dengan berat hati, Alena melepaskan gulingnya dan duduk sembari mencari keberadaan tas sandangnya tadi.

"Ah siapa sih?." gerutu Alena dalam hati.

Alena pun turun dari kasurnya, perlahan-lahan Alena mencari tas sandangnya dan...

"Yeayy, yuhuy ketemu!." ucap Alena kegirangan.

Setelah mendapatkan tasnya itu, Alena langsung mengambil hpnya dan melihat siapa yang baru saja menelponnya.

"Hmm unknown? Siapa? Kok ada kontak unknown di hp gue? Siapa?." tanyanya bingung.

Drttt...drtt...

Lagi dan lagi, untung saja hp itu masih berada di tangan Alena. Dengan cepat Alena langsung menerima panggilan itu.

"Ya?." sapa Alena langsung, namun hanya keheningan yang Alena mampu dengar.

Gemersik dedaunan pun dapat terdengar di telinga Alena. Kedua alis Alena bertaut, mencoba untuk menerka siapakah orang yang sedang mengerjainya saat ini. Namun naas, tak ada satu nama pun yang muncul di kepala Alena.

"Jika tidak ada yang penting, saya putuskan sambungan telp-."

"Jangan buru-buru." jawab seseorang di sebrang telpon itu.

"Hah? Eomma? Ada apa?."

Ya, jelas sekali Alena mendengar suara Riana. Namun untuk apa wanita itu menelpon putri kecilnya, semalam ini? Pentingkah?

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/psychopathic-love_18157285106643605/ancaman_49781417139294578 for visiting.

"Tunggu dan lihat." ucap Riana dan yaa detik selanjutnya sambungan telpon itu langsung terputus.

"Hahhh, ada-ada saja." Alena menghela nafasnya dengan panjang kemudian kembali ke atas kasurnya.

Ia meletakkan hpnya di samping bantalnya, Alena pun menarik selimutnya hingga batas leher kemudian ia memeluk gulingnya lagi.

"Good night." ucap Alena sambil tersenyum dan menutup matanya.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Assalamualaikum.

Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam.

Happy reading

Instagram : @meisy_sari

@halustoryid

Maafkan bila terdapat typo🙏🏻

Tinggalkan saran kalian❤

Next chapter