19 Alex dan Riana

°

°

°

Keesokan harinya Alena bangun dari tidur pulasnya, ia bahkan menguap beberapa kali sebelum beranjak dari tempat tidurnya. Ia juga menyempatkan diri itu mengecheck hpnya, barangkali Riana menelponnya saat tidur.

Setelah mendapatkan kesadarannya 100%, barulah Alena beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandinya. Setelah itu ia bergegas memakai seragamnya, membereskan buku-buku yang berserakan di meja belajarnya dan menyiapkan buku-bukunya sesuai jadwal pelajarannya hari ini untuk dimasukkan ke dalam tasnya.

Drrttt…drrtttt…

Getaran hp di atas ranjang mengalihkan pokusnya, segera mungkin ia mendekati hpnya dan melihat apa yang menjadi penyebab hpnya bergetar.

Saat sudah mengetahui penyebabnya, entah mengapa Alena malah tersenyum bahagia. Dan tanpa sadar ia malah menggigit mulut dalamnya untuk menahan dirinya agar tak berteriak kegirangan.

Rayna : Pulang sekolah kita jalan sebentar, bisa?

Satu kalimat yang begitu pendek, namun mampu memunculkan reaksi yang cukup besar di dalam diri Alena. Apalagi sekarang dirinya malah mengingat kejadian tadi malam, dimana Rayna memilih untuk menemaninya bergadang karena yaa Alena harus belajar untuk hari ini, untuk test susulan itu.

Seketika otak Alena menjadi eror. Ia bingung harus menjawab apa. Jari-jarinya terus saja melakukan hal yang sama, mengetik…kemudian menghapus…mengetik kemudian dihapusnya lagi, hingga…

Plakk…

Alena menampar dirinya sendiri, sepertinya ia baru saja sadar karena sudah bereaksi berlebihan. Ia pun melempar hpnya ke atas ranjang tanpa membalas pesan itu, ia mencoba mengatur nafasnya dan menormalkan degup jantungnya yang sempat berdegup kencang hanya karena satu kalimat pendek itu.

"What's wrong with me?." tanyanya dalam hati kemudian kembali ke aktivitas sebelumnya.

Di sisi lain…

Aditya sedang berpikir keras, ini adalah hari terakhirnya di Indonesia , dan sekarang dirinya tengah bergelut dengan logika dan juga hatinya. Tangannya terasa gatal ingin mengikuti jalan hatinya berpikir untuk mengirimkan pesan pada seorang gadis yang terus menerus mengganggu pikirannya, namun di sisi lain logikanya menentang hal itu karena ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi melakukan interaksi apapun pada gadis itu, apalagi mengingat perasaannya yang telah digantung begitu saja bak pakaian basah yang dijemur.

"Gue harus gimana?."

°°°

Perasaan bercampur aduk Aditya terus saja mengikuti dirinya, bahkan sampai sekarang…membuat Alex yang berada di sampingnya kebingungan.

"Heh, kesambet?." jeplak Alex asal, ia menyenggol lengan Aditya cukup kuat dan menaik-turunkan kedua alisny ketika Aditya menoleh dan menatapnya.

"Kesambet?." tanya Alex ulang.

"Sembarangan." jawab Aditya singkat kemudian membuang pandangannya kasar.

"Lo kenapa sih? Sakit?." Alex menempelkan punggung tangannya di kening Aditya kemudian menggeleng lemah.

"Lo ga panas." ucapnya yang membuat Aditya mengangguk samar.

"Lo mual? Mau muntah? At-."

"Lo kira gue hamil?!." potong Aditya, kini ia menajamkan matanya menatap Alex yang malah dibalas dengan cengiran tak berdosa milik Alex.

"Kapan dewasanya sih lo?." sambung Aditya yang membuat Alex menepuk punggungnya.

"Gue masih kecil, nanti aja sih dewasanya. Kecepatan dewasa entar gue jadi cepat keriput…kek…kek…." Alex mengulum bibirnya, menahan gelak tawa yang ingin sekali ia ledakkan.

"Kek siapa?."

"Ga kek siapa-siapa." jawab Alex berbohong.

"Kenapa lo senyum-senyum gitu? Senyum-senyum simpul tanpa kesimpulan." terlihat sekali bahwasanya Aditya mulai curiga kepada Alex, ia mulai berpikir Alex tengah mengatai dirinya di dalam hati.

"Ih paan sih, ini tuh cara tetap awet muda, resep Dokter Alex." ucap Alex bangga yang semakin membuat Aditya curiga.

"Lo mau ngatain gue tua kan? Itu maksud lo tadi kan?."

"BWAHAHAHAHAHA TAU AJA SIH LO NYET!." Alex sudah tak bisa lagi menahan ketawanya, terlebih lagi Aditya sudah cemberut di hadapannya, pikirannya bahkan tengah mencocokan kemiripan antara Aditya dengan potret monyet yang pagi tadi ia lihat. Habis sudah nafas Alex.

"HEH!." Aditya beranjak dari tempatnya, bersiap untuk menyumpal mulut lebar itu dengan sampah plastik miliknya namun…

"ADITYA TUAAAAA HAHAHAHA." teriak Alex sambil tertawa dan berlari menjauh dari Aditya.

"Sialan."

°°°

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/psychopathic-love_18157285106643605/alex-dan-riana_52756149069473347 for visiting.

Alex terus berlari, membelah keramaian kantin hingga saat ia melewati puluhan siswa yang tengah berkerumun di depan perpustakaan tanpa sengaja ia terjatuh karena menabrak seseorang, dan mengakibatkan tumpukan buku yang dibawa orang itu jatuh…menimpanya.

"AWWWW." pekik Alex.

"Sor-Sorry." ucap orang itu.

Orang itu langsung memunguti buku-buku itu, sedangkan Alex? Ia sedang menghujani orang itu dengan umpatan sambil mengelus-elus pantatnya.

"Lo gila, hah?! Sengaja nabrak gue terus jatuhin semua buku itu ke gue?! Lo kira ga sakit?!." Alex meninggikan suaranya, ia juga berdiri dan menatap tajam orang itu.

"Tapi, tapi, bukan gue yang nabrak lo. Gue juga udah minta maaf." jawab orang itu.

"Gue ga perduli, sekarang lo harus tanggung jawab, bawa gue ke UKS dan izinin gue ke guru di kelas!," ucap Alex sembari mendekati orang itu dan, mulutnya bergerak mencoba mengeja nama orang itu di name tag.

"Ri…Riana?! Oh lo cewe yang asal pegang lengan gue, kan? Sengaja lo ya? Wah…main-main lo sama gue." sambung Alex yang semakin berapi-api.

"Gue, ga sengaja." jawab Riana singkat.

"Ga perduli gue, buruan papah gue bawa ke UKS." Alex mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke Riana.

Terdengar helaan nafas yang berat dari gadis itu, kemudian ia menatap Alex sembari menaikkan tangannya yang sudah terisi penuh dengan tumpukkan buku.

"Kalau gitu, sekarang lo lari. Selesaiin urusan buku itu terus balik lagi ke sini, bawa gue ke UKS." ucapnya yang terdengar seperti perintah.

"Gila aja, Lex."

"Lo yang gila. Udah buruan gue ga terima penolakan."

Riana mengerjapkan matanya berulang kali karena tak percaya dengan manusia di hadapannya sekarang. Anggap saja Riana salah, Riana yang menabrak Alex, namun bukan berarti Alex bisa memperlakukannya seperti ini, seegois ini….

Tapi untunglah Riana bukan sosok yang mempunyai temperamental yang tinggi, ia hanya mengangguk kemudian menuruti ucapan Alex yang menyuruhnya untuk berlari. Dan tak sampai menghabiskan waktu 10 menit, akhirnya Riana sampai di ruang guru dengan nafas yang tersenggal-senggal. Ia langsung meletakkan buku-buku itu dan kembali berlari untuk menemui Alex, untuk menyelesaikan masalahnya dengan laki-laki itu kemudian kembali ke kelasnya.

°°°

"Ck, lama banget!." eluh Alex saat matanya sudah melihat Riana di ujung lorong kelas 2.

Mendapati mata Alex menatapnya dengan tajam membuat Riana memperlambat langkahnya dengan sengaja, anggap saja Riana hendak menormalkan nafasnya lagi. Terlihat dari kejauhan, Alex sedang merutuki dirinya, namun Riana mencoba tak mempermasalahkannya, ia malah mulai merasa sedikit gemas dengan laki-laki itu.

"Anak siapa sih?." tanyanya gemas di dalam hati.

Sesampainya Riana di hadapan Alex, laki-laki itu langsung menyambut Riana dengan wajah yang cemberut, penuh aura ketidaksukaan. Ia pun segera berdiri, satu tangannya ia angkat ke atas dan mengarahkannya ke Riana. Gadis itu langsung mengerti dan langsung menarik tangan itu pelan kemudian menaruhnya di antara kedua bahunya untuk dipapah.

"Buruan ke UKS." ucap Alex yang dibalas anggukan oleh Riana.

Selama perjalanan keduanya menuju ke UKS, Riana selalu menyempatkan diri untuk menoleh sebentar ke Alex, sekedar curi-curi pandang kemudian tersenyum manis. Entahlah, baginya sekarang ini mulai menyenangkan.

"Apa lo senyum-senyum ga jelas hah?." bisik Alex.

"Gue ga senyum." elak Riana.

"Wajar sih lo senyum, secara lo lagi deketan sama orang ganteng. Iya, kan? Gue ganteng, kan?."

"Iyaa." jawab Riana sembari menoleh ke arah Alex dan tersenyum, kali ini cukup lama sampai Alex kaget melihat senyuman Riana.

Ia pun menghentikan langkahnya, gerak tubuhnya juga seakan tiba-tiba menjadi kaku. Ia menarik tangannya yang berada di antara kedua bahu Riana, kemudian sedikit mengambil jarak. Tentu saja, Riana kaget dan bingung.

"Kenapa?." tanya Riana.

"Gu-gue, gue bisa sendiri ke UKS. Tolong izinin gue ke guru di kelas gue, ya?." jawab Alex, setelah itu ia langsung berjalan dengan terburu-buru meninggalkan Riana namun…

"Lo kenapa grogi gitu, Lex?." tanya Riana yang membuat langkah Alex berhenti.

"Gue? Gue ga grogi, manusia kek gue mana bis- bisa grogi sih?."

"Kok lo jad-."

"UDAH GUE MAU KE UKS, BYE!."

Alex langsung saja berlari cepat. Riana yang masih kebingungan pun lantas hanya berdiri dan menatap punggung Alex yang semakin lama semakin menjauh.

"Lah dia kenapa?."

°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Assalamualaikum.

Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam.

Happy reading

Instagram : @meisy_sari

@halustoryid

Maafkan bila terdapat typo🙏🏻

Tinggalkan saran kalian❤

Next chapter