1 Prolog

Namaku Kei, lengkapnya Keisha Ananda. Aku terlahir di sebuah kelurga yang bahagia, berkehidupan yang layak, setiap hari dihiasi dengan penuh kehangatan. Namun, itu hanya dilihat dari sudut pandang orang lain yang melihatnya. Berbeda dengan diriku yang menjadi tokoh utamanya, aku menderita.

Semuanya terjadi ketika terdengar kabar Mama mengandung Adikku, semua perhatian hilang begitu saja. Semua orang mengabaikanku, seakan-akan diriku tidak berharga lagi, padahal saat itu aku masih sangat kecil dan masih haus akan kasih sayang tapi aku kehilangan hal itu karena kehadiran dirinya. Semua hal yang aku sayangi perlahan mulai hilang, bahkan Mama tega mengorbankan diriku untuknya.

Belum lahir saja sudah menyusahkan, tapi yang paling menyakitkan disaat ia lahir ke dunia ini. Kabar duka terdengar ketika Mama melahirkan Adikku yang sejak lahir sudah didagnosa mengidap Kanker darah. Mendengar hal itu, Mama dan Papa yang takut kehilangan Anak laki-laki yang begitu mereka harapkan itu tanpa berpikir panjang langsung menyuruhku untuk mendonorkan sumsum tulang belakang.

Awalnya aku bersedia tapi lama kelamaan aku semakin muak. Apa aku tidak diperdulikan lagi? apa di sini aku hanya sebagai pasokan organ yang siap dioperasi jika dia butuh?

Sudah berapa puluh jarum suntik yang menusukku, baju hijau operasi yang seakan-akan sudah seperti baju sehari-hariku. Aku ingin menangis, memohon, apa tidak ada cara lain? tanpa harus aku yang terluka?

"Sakit... Ma... Pa..."

***

Tahun demi tahun aku lalui dengan air mata, setiap hari yang seharusnya dihiasi dengan senyum dan kehangatan dari sebuah keluarga malah menjadi seperti hidup di Neraka.

"Kei! ini kenapa cucian masih kotor?" pekik Mama dari arah dapur.

Aku segera bangun dan menghampiri Mama, "Iya Ma, kenapa?" jawabku pelan.

"Pake tanya lagi, tuh liat gak? Mama sibuk ngurus Adikmu. Kamu harusnya lebih peka dong beres-beres rumah kalo Mama ke Rumah sakit." Omel Mama.

Aku tertunduk pelan, "Maaf Ma, tadi aku ngerjain tugas terus sore ini aku ada kegiatan Ma, di rumah Alin." Jelasku pelan berusaha menahan air mata.

"Ah! nggak usah, mending kamu beres rumah. Mama mau pergi pokoknya nanti Mama pulang harus sudah beres, ngerti?!" setelah berucap begitu Mama segera bergegas meninggalkanku.

"Hiks...hiks...hiks..."

Hariku dihiasi dengan diriku yang selalu disalahkan, selalu saja aku yang salah. Aku bergegas mengerjakan urusan rumah agar bisa segera mengerjakan tugasku.

Beberapa saat kemudian, semua tugas rumah akhirnya kelar. Dengan tubuh yang rasanya letih sekali aku merebahkan tubuhku ke atas kasur.

Ponselku tiba-tiba berdering,

"Alin..." gumamku. "Dia pasti bingung kenapa aku gak dateng," celetukku segera mengangkat telpon dari Alin.

"Kei, kamu gak dateng?"

"Maaf Lin, aku nggak bisa mesti jaga rumah."

"Ugh, kalo gitu aku aja yang ke rumahmu!"

"Eh? beneran, tapi..."

"Boleh ya... cuma aku kok, aku tau Mamamu pasti marah kalo banyak orang."

Aku terdiam sejenak, lantas menjawab pelan, "Ya udah deh Lin, tapi jangan lama-lama ya."

"Oke! aku siap-siap dulu ya."

Sambungan telpon terputus...

Tak menunggu waktu lama Alin sahabatku tiba di rumahku, "Keisha!" soraknya riang.

"Jadi tugasku apa Lin?"

"Ah, nggak usah Kei. Kita nonton film yuk! masalah tugas tuh udah aku minta bantuan Kakakku." Sahut Alin.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/psychopath-and-me_18328021506379905/prolog_49199038096000768 for visiting.

"Tapi aku gak pernah nonton film," sanggahku pelan.

Alin terlihat setengah terkejut, "Seriusan Kei? kalo tv?"

Aku menggeleng pelan, "Mama Papa nggak pernah ngajakin aku nonton tv. Palingan juga hanya mereka bertiga yang nonton, aku nggak pernah."

"Apa?" Alin kemudian terlihat diam-diam melirik ponselku yang hanya ponsel butut yang bukanlah smartphone.

Aku mengangguk mantap menjawab keraguan Alin. "Nggak pernah kepo gitu, Kei?" tanya Alin keheranan.

Aku menggeleng pelan, "Nggak kok."

"Ya udah kita nonton di tabletku aja, aku punya film horor keren nih Kei!"

"Meskipun tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Alin, aku menurut dan menonton sebuah film yang berada di tabletnya."

Film yang ditunjukkan oleh Alin adalah film seorang Anak perempuan yang sakit hati kepada keluarganya karena selalu menuntutnya untuk menjadi yang terbaik saat sekolah, karena depresi dia malah membantai semua kelurganya dengan kejam. Melihat semua adegan menyeramkan itu membuat jantungku berdebar-debar, sedangkan Alin hanya tertawa geli melihat adegan berdarah. Melihat ekspresi dari Alin aku menarik kesimpulan, 'Apakah hal seperti ini menyenangkan? apa benar?'

Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepalaku, dengan keputusan bulat aku akhirnya ingin mencobanya. "Lin, aku ke toilet bentar ya." Ujarku.

"Oh ya cepat balik ya! filmnya lagi seru-serunya nih,"

Aku mengangguk pelan segera berlari ke dapur, sesampainya di dapur aku menuju tempat biasa Mama menyimpan pisau dapur. Dengan jantung berdebar-debar aku mengambil pisau itu dan menyembunyikannya dari balik punggungku lantas segera berjalan kembali ke kamarku dimana Alin berada di sana.

"Udah balik Kei?" sapa Alin tersenyum.

Aku mengangguk sambil tersenyum kegirangan, tanpa pikir panjang aku segera melayangkan pisau yang ku genggam ke arah wajah Alin hingga melukai pipinya. Darah segar keluar bersamaan dengan teriakan Alin, "Akh! Kei, kamu kenapa?" ucap Alin berlari ke arah pojok kamar sambil menyentuh pipinya yang terluka dengan perasaan ketakutan.

Aku melihat darah yang tertinggal di pisau, wajahku panas, jantungku berdebar-debar, rasanya... sangat menyenangkan. Aku kemudian menyeringai ke arah Alin, "Sangat seru, Lin!" ucapku kegirangan.

Alin membelalakkan kedua matanya ketakutan dengan tindakanku yang melukainya, "Kei, sadar!" pekik Alin ketakutan. Namun, aku sudah merasakan sensasi sangat senang. Rasanya bebanku lepas melihat hal yang ku lakukan kepada Alin, aku berjalan mendekati Alin.

Alin tidak bisa lari ke mana-mana dikarenakan kamarku yang memang kecil, ruang antaraku dengannya sangatlah terjangkau. Kini aku sudah berada di hadapannya, Alin merasa napasnya begitu tercekat melihat diriku yang berubah drastis seperti ini.

Aku tersenyum simpul kemudian menghujamkan pisauku kepada Alin, Alin berusaha melawan namun nihil ia malah membuat tangannya terluka parah karena berusaha menangkis pisauku dan membuatnya banyak mengeluarkan darah.

Aku tak mau berhenti, hingga Alin meringis kesakitan karena banyak luka di tangannya. Di saatnya lengah, aku segera menebas lehernya dengan pisauku.

Alin tumbang seketika, mulutnya memuntahkan darah. Seluruh tubuhnya mulai berubah pucat karena kehabisan darah, tanpa pikir panjang aku tertawa senang kemudian menghujami seluruh tubuh Alin dengan pisauku. Hingga akhirnya aku mendapati Alin sudah tidak bernyawa, "Ugh, sudah mati. Nggak seru lagi," gerutuku cemberut.

Aku kemudian membawa tubuh Alin ke kamar mandi rumah kami, di sana aku mencincang tubuh Alin hingga menjadi potongan yang lebih kecil, kemudian segera aku memasukkannya ke dalam kantung plastik hitam.

"Padahal Alin tadi teriak, tapi kayaknya gak bakal kedengeran deh. Kan aku gak punya tetangga." Batinku menatap datar ke arah kantung plastik.

Setelah selesai membersihkan semua kekacauan, aku segera berjalan ke dalam hutan di sanalah aku membuang potongan daging Alin agar bisa disantap oleh hewan di hutan sana.

Hari ini, aku mendapat sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan. "Makasih Alin."

Next chapter