Webnovel

1 BISIKAN SORE

Gue amat sangat lelah sekali siang ini, tahun 2039 di salah satu kota yang dulunya merupakan kota terbaik di Indonesia. Kota kembang, Bandung.

Rasanya, badan gue ini lelah akan banyak hal yang seharusnya gue abaikan. Dendam masa lalu yang paling terasa.

Banyak sekali pengorbanan manusia sepuluh tahun ke belakang dari hari itu, 2029. Ketika dunia berperang melawan pandemi yang merugikan bahkan menawaskan banyak sekali manusia di manca negara. Merelakan cinta, kasih sayang dan harapan besar. Semua sirna oleh kebodohan dan ganasnya virus.

"Google, bagaimana kondisi saya sekarang?" Ucap gue.

"Baik, saya akan menyalakan sistem scan tuan," lalu, alat kecil seperti koin terbang dan memancarkan cahaya hijau. Cahaya itu bergerak dari ujung kepala sampai ujung kaki selama 1 menit."Kondisi anda kurang stabil, tuan. Detak jantung yang tidak normal dan emosi berlebihan, tuan," jelas layanan teknologi.

"Terimakasih, Google. Tolong nyalakan lagu Sewindu-nya Tulus."

"Baik."

tahun 2029, komunikasi banyak di pakai oleh manusia berupa sistem layanan teknologi. Bentuknya seperti jam tangan. Karena dulu gue akrab dengan google ketika menyelesaikan skripsi, layanan teknologi ini gue namakan google. Cukup mutakhir namun tidak seperti masa depan yang gue bayangkan ketika masih sekolah dulu. Gue sangat bersyukur tidak menaruh kepercayaan besar kepada hal-hal seperti itu.

Gue tinggal di apartement pinggiran kota Bandung. Kecil sekali, memang. Segelintir orang yang tinggal disini, semuanya adalah yang berhasil melalui masa pandemi beberapa tahun kebelakang.

Dari luar pintu terdengar ketukan,"Ada orang?" Teriak seseorang dari luar, memastikan.

"Ada," jawab gue, lesu.

"Anda meninggalkan chip anda. Tadi tertinggal ketika di food court," teriak orang itu dari luar menjelaskan.

"Google, tolong bukakan pintu paket untuk orang itu. Lalu sampaikan terimakasih kepadanya,"

"Baik, tuan," ucap Google.

Ketika gue melihat wajah orang yang mengetuk pintu, ternyata dia adalah salah satu pelayan di food court, gak gue sangka masih ada orang baik seperti dia.

Chip gue ini berupa flashdisk yang mampu menyimpan 1 TB memori didalamnya. Dilengkapi fitur bluetooth, gue coba untuk melihat kembali isi dari dalam flashdisk itu. Gue membukanya lewat smartphone.

Air mata gue tiba-tiba menetes.

•••

Alarm berbunyi sangat keras, "google, tolong hentikan alarmnya," ucap gue lemas.

"Baik, tuan."

Gue bangun dari kasur, melirik ke arah meja dimana flashdisk yang kemarin gue pakai disimpan. Perasaan gue pagi ini campur aduk, entahlah.

Makanan di tahun ini simpel sekali. Jika dilihat seperti beng-beng max di tahun 2018, namun sangat mengenyangkan. Nama makanannya folo, 1 bungkus bisa untuk 1 hari. Untuk persediaan air gue biasanya menaruh alat untuk memfilter air hujan agar bisa di minum.

Gue memotong sebagian kecil folo ini, dikarenakan food court sedang kehabisan stock. Jadi, gue harus berhemat sedikit.

Diluar sedang gerimis kecil, gue membuka jendela. Langit pagi itu kelabu sekali. Sepertinya ia hanya bersedih selama beberapa tahun kebelakang. Air mata gue menetes lagi, "Langit, akan sampai kapan kita seperti ini? Akan sampai kapan sunyi ini berakhir?"

Hening.

Diam bukan berarti ia tak mengerti, setidaknya gue meyampaikan apa yg harus di sampaikan kepada langit di setiap paginya. Setelah itu, gue berkemas untuk mencoba pergi ke salah satu daerah di Bandung, yakni, Buah Batu.

Jalanan sangat kacau. Banyak puing-puing pesawat dan kendaraan lainnya berserakan di sepanjang jalan Cihampelas. Karena memang ada yang merapikan, jalan jadi tidak terlalu tertutup. Gue mengayuh sepeda dengan konstan tidak terburu-buru. Sudah tua, wajar.

Jas hujan warna hitam yang gue pakai terasa dingin sekali. Gerimis di kota ini yang membuatnya dingin. Dibarengi kabut pagi yang cukup tebal, gue menahan rasa dingin itu.

Semakin jauh gue mengayuh, semakin sunyi pula jalanan. Perasaan apa ini? Serangan dadakan, dari hati dan pikiran. Serangan masa lalu, serangan kenangan yang tidak bisa gue lupakan.

Gue menangis kencang di bawah fly over Dago.

Tidak cuma gue, sih, yang terlarut dalam kesedihan pada tahun ini. Gue paham banyak sekali orang yang merasakan. Termasuk orang dari food court yang mengembalikan chip kemarin malam. Gue berharap masa lalu bisa diubah, sungguh, gue sangat berharap.

Sampai di buah batu dengan rasa cemas. Gue melihat ada orang di tempat tujuan gue! Walaupun tak terlihat jelas karena kabut, gue yakin sekali itu manusia.

"Google, aktifkan pisau listrik," ucap gue, berbisik.

"Baik, tuan."

pegangan sepeda lantas gue cabut. Itu adalah sebuah pisau dengan pegangan silinder. Lalu listrik di permukaan pisau menyala.

Gue dekati orang itu perlahan. Gue ragu itu pria atau wanita. Setidaknya tidak ada yang boleh mendekati tempat itu! Itu adalah makam seseorang yang gue sayangi!

"Lo berantakan sekali, Dit," kata orang itu.

"Darimana lo tau nama gue anjing! Ngapain lo disitu, pergi !" Gue teriak, kesal.

"Jangan kesal begitu, Dit."

"Anjing! Kalo lo ga per-," sebelum gue bisa meraihnya, sinar cahaya muncul dari kepala orang itu, terang sekali. Hingga gue pingsan untuk beberapa jam.

Gue mencoba membuka mata, seperti vertigo, gue masih belum bisa melihat jelas. Langit mengeluarkan tangisannya, hujat amat besar. Gue sadar jika gue tidak terikat sama sekali. Namun pisau gue sudah tidak ada di tangan! Gue akhirnya memaksakan berdiri, lemas sekali. Ketika gue melihat sekitar, gue jelas ada di toko emas tua yang sudah lama tutup.

"Jangan paksakan diri lo, Dit," orang itu memperingatkan gue.

"Apa yang lo mau! Jangan sampai gue meledakan tempat ini !"

"Siri, tolong nyalakan semua pencahayaan di ruangan ini," suruh orang itu, kemudian ruangan menyala berkat bantuan layanan teknologi miliknya.

Gue belum bisa melihat jelas, sangat pusing rasanya. Hujan sangat terdengar deras sekali diluar, gue mencoba fokus namun akhirnya gagal. Gue jatuh pingsan untuk kedua kalinya.

Gue akhirnya sadar. Sedikit terengah-engah karena panik. Gue mencoba memerintahkan google, "Google, aktifkan sepeda, bawa saya keluar," suara gue kecilkan agar tidak terdengar. Google tidak merespon. Gue coba sekali lagi namun tetap tidak merespon. Akhirnya gue teriak dan sama saja, Google tidak merespon.

"Percuma, sistem lo udah gue matikan semua. Tenang, Dit, gue tidak berbahaya," jelas orang itu.

"Lo siapa, Anjing!"

Dia tersedu-sedu, seperti sedang menangis. Dia menatap kearah kuburan istri gue yang ada beberapa meter di depan toko itu.

Dia menghampiri gue, parasnya sama sekali tidak terlhat jelas, dia memakai topi dan sorban. Pakaiannya pun amat sangat tertutup

Sambil berjalan dia membuka topi dan sorban di kepalanya. Semakin mendekat dan semakin jelas wajahnya.

Gue menahan tangis.

Dia menangis.

Tidak mungkin, ini gak mungkin terjadi. "Nyle?" Tanya gue menahan tangis.

"Iya, Dit, aku Nyle, istrimu!"

•••

Next chapter