1 Prolog

Sejak awal kehidupan, dunia sudah di bagi menjadi 6 benua besar. Masing-masing dari benua tersebut di pisahkan oleh ruang dan waktu.

Benua Teratai Merah adalah salah satunya, di dalamnya terdapat ratusan juta manusia, hewan dan tumbuh yang hidup berdampingan satu sama lain.

Namun ada perbedaan mencolok diantara ketiganya, salah satunya adalah Manusia, mereka yang memiliki kekuatan biasa di sebut sebagai Kultivator, sedangkan yang tidak memiliki kekuatan di sebut sebagai manusia biasa.

Tidak berbeda jauh dengan para manusia yang membedakan satu sama lain, hewan dan tumbuhan pun di bagi menjadi 2 bagian.

Untuk hewan yang memiliki kekuatan di sebut Siluman atau Hewan Sihir sedangkan tumbuhan di sebut Tanaman Sihir dan Tanaman Herbal.

Kultivator adalah sebutan bagi manusia yang terlahir dengan memiliki organ tambahan yang di sebut sebagai Akar Jiwa.

Tidak semua manusia yang terlahir memiliki Akar Jiwa, setidaknya hanya ada sekitar 70 sampai 80 persen saja manusia yang memilikinya.

Seseorang yang memiliki akar jiwa akan dapat menyerap energi alam yang di sebut dengan Qi, tentu bukan perkara mudah karena sebelum itu mereka harus membuka akar jiwa terlebih dahulu.

Ada dua cara untuk membuka akar jiwa, yaitu dengan menggunakan manual praktik atau bisa juga dengan pil khusus.

Setelah berhasil membuka akar jiwa dan menyerap Qi, maka otomatis manusia tersebut sudah menjadi seorang cultivator.

Tingkat kultivasi sendiri di bagi menjadi 6 bagian.

Yang pertama Kultivator Dasar yang di bagi menjadi 10 tingkatan 1-10.

Kemudian Kultivator Raja, Kultivator Bumi, Kultivator Langit , dan Kultivator Suci. Masing-masing tingkatan di bagi lagi menjadi 4 bagian kecil , yaitu awal, tengah, akhir dan puncak.

Sedangkan yang terakhir di sebut Kultivator Surga, berbeda dengan yang lainnya. Saat seorang Kultivator berhasil mencapai tingkat Surga mereka akan membuka 12 kunci di dalam tubuh.

Di percaya saat seorang kultivator berhasil membuka ke 12 kunci tersebut, mereka tidak akan terkalahkan dan akan menduduki puncak kekuatan dunia kultivator.

****

"Bisakah kita kembali seperti dulu lagi, ku mohon."

Seorang pria paru baya yang terlihat berusia 40 tahun awal, menatap sendu pria sepuh lainnya yang kini berdiri di hadapannya.

Sorot mata yang lirih seolah mengisyaratkan jika dirinya tidak ingin melakukan hal tersebut.

"Wang-gege, aku tidak mengetahui apa yang sedang merasuki mu hari ini, namun jika kau benar-benar ingin mengakhiri semua ini, seharusnya kau memintanya 500 tahun lalu"

"Maafkan Wang-gege, Song'er!! Maafkan sikap egois ku ini..."

"Tidak ada yang perlu di maafkan atau memaafkan, semua sudah terlambat."

Pria sepuh yang di ketahui bernama Song itu kini melepaskan aura kematian yang sangat dahsyat, hingga membuat langit dan bumi di sekitarnya bergetar hebat.

Aura yang di keluarkan oleh Song mampu memukul mundur Wang beberapa meter.

Wang menatap tak percaya kearah pria sepuh yang tidak lain adalah adik kandungnya sendiri.

"Song'er ak-!"

Belum sempat Wang menyelesaikan ucapannya, Song sudah terlebih dulu melesat dan mengayunkan pedang miliknya.

Wang yang tidak ingin melukai adiknya lagi, mencoba untuk tidak menyerang balik, dirinya hanya menangkis dan menghindar setiap serangan yang mengarah kepadanya.

"Lawan aku Wang-gege." teriak Song.

"Tidak, jika dengan kematian ku bisa menebus semua penderitaan mu, aku akan dengan senang hati menerimanya."

Wang berniat menjatuhkan pedang miliknya, berharap Song adiknya menyadari jika ia masih menyayangi dirinya.

Namun belum sempat itu terjadi, Song sudah menghilang dari pandangannya dan muncul tepat di atas kepalanya dengan pedang yang mengarah kepadanya.

Tanpa punya pilihan lain, Wang kembali mengangkat pedangnya untuk bersiap menerima serangan dari Song.

"Tusukan Iblis Pembunuh-! Tebasan Pemusnah Semesta."

"Seni Naga Penghancur Laut-! Gerhana Pembelah Dunia."

Seketika sebuah ledakan besar terjadi saat kedua pedang milik Wang dan Song bertemu, hingga membuat sebuah lubang berdiameter 100 meter lebih.

Tubuh Wang dan Song sama-sama terpental jauh.

Namun dengan cepat keduanya kembali berdiri hampir secara bersamaan, kemudian mereka melesat dan bertukar serangan.

Setiap pedang milik Wang dan Song bertemu akan menimbulkan energi pedang yang sangat dahsyat.

Daun-daun kering serta bebatuan kecil berterbangan akibat dari pertukaran serangan tersebut.

Dalam beberapa tarikan nafas, Wang dan Song sudah bertukar serangan lebih dari 100 jurus, namun tidak ada satupun dari mereka yang terlihat sudah kelelahan atau mencapai batas.

"Wang-gege, berikan kitab dan pusaka itu kepadaku, dan biarkan aku membunuhmu dengan cepat tanpa rasa sakit."

"Sudah ku katakan benda terkutuk itu tidak bersamaku lagi."

"Jangan bercanda, tidak mungkin kau membuang kedua pusaka dewa itu."

"Sadarlah, aku ini Kakakmu! Kakak kandungmu, apa kau tidak pernah menganggap ku lagi hah? Kau berubah sejak kau menemukan kitab dan pedang terkutuk itu."

"Heh, jangan membuat lelucon! Kakak seperti apa yang tega menuduh adiknya sendiri membunuh ibunya, padahal kenyataanya dia yang membunuhnya."

Wang yang mendengar hal itu seketika menghentikan laju pedangnya, menatap Song dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Maafkan aku"

"Maaf mu sudah tidak berarti lagi-! Tebasan Pedang Terkutuk"

Song mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga, tanpa memperdulikan Wang yang masih terdiam membisu.

Dan detik berikutnya, sebuah ledakan besar kembali terjadi. Hingga membuat tubuh Wang terpental jauh ratusan meter kebelakang.

Wang kemudian memuntahkan darah segar, selama beberapa saat ia terdiam, menatap nanar adiknya dari kejauhan.

"Jika kau ingin membunuhku, aku akan mengabulkannya. Anggap saja ini adalah penebusan atas dosa-dosa yang pernah aku lakukan kepadamu." Gumamnya pelan.

Wang kembali berdiri dengan di bantu pedangnya, kemudian melesat kearah Song dan membawanya pergi dari tempat tersebut.

Hanya dalam beberapa tarikan nafas, kini keduanya sudah sampai di sebuah gurun tak bertuan yang jauh dari keramaian. Hanya terdapat beberapa Siluman dan Hewan Sihir yang menghuni tempat tersebut.

"Song'er, untuk terakhir kalinya aku meminta maaf atas semua kesalahan yang telah ku perbuat..."

Wang memejamkan kedua matanya sampai sebuah tetes air keluar dari sudut matanya.

Sekilas Wang mengingat tengang kenangan indah bersama adiknya Song, dimana keduanya selalu bersama dan tidak pernah terpisahkan.

Kehidupan keduanya terbilang sangat mampu karena terlahir dari keluarga bangsawan dengan gelar Viscount.

Semua kebutuhan Wang dan Song selalu terpenuhi, entah itu sumber daya atau yang lainnya.

Kedua orang tuanyapun sangat menyayangi Wang dan Song, tanpa membedakan satu sama lain.

Akan tetapi suatu ketika saat Wang tidak sengaja mendengar percakapan Ayahnya yang berbicara mengenai Song yang akan menjadi penerusnya tiba-tiba saja, semua rasa sayang kepada adiknya seketika menghilang.

Di tambah lagi Ayahnya mengatakan jika Song lebih pantas dan cocok menjadi penerusnya dari pada Wang yang jelas-jelas putra sulungnya.

Dan sejak saat itu, Wang mulai menjauhi adiknya, sesekali ia juga mencari kesempatan untuk menjatuhkan harga diri Song di depan Ayah dan keluarga besarnya.

Sampai akhirnya semua itu terus berlanjut selama bertahun-tahun.

Wang dan Song terus berlatih dengan giat untuk menunjukan siapa yang terbaik diantara keduanya.

Namun suatu ketika, Ibunya Wang menyadari rencana busuknya yang ingin melenyapkan sang adik demi merebut kedudukan ketua keluarga.

Wang yang saat itu kalut tidak sengaja membunuh Ibunya. Song yang melihat kejadian itu sontak terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang di lakukan oleh Kakak kandung yang selama ini menjadi panutan hidupnya.

Karena tidak ingin kebusukannya sampai ke telinga Ayahnya, Wang dengan cepat mendorong Song kearah mayat ibunya dan meletakan pedang yang sudah bersimbah darah di samping Song.

Kemudian ia berteriak memanggil semua anggota klan dan Ayahnya, berdalih dengan mengatakan jika Song lah yang membunuh Ibunya sendiri.

Jelas hal tersebut membuat Song menatap tak percaya kearah sang Kakak, terlihat raut wajah marah,kecewa dan sedih di tatapan kosong kedua mata Song ketika semua orang mempercayai perkataan Wang.

"Maafkan Wang-gege, Song'er." Ucapnya pasrah saat pedang milik Song melayang kearahnya.

Next chapter