1 sandiwara dalam pernikahan

Aku adalah seorang pria desa yang sangat sederhana dan mengalami kesusahan hidup dalam kesehariannya.

Aku hanya hidup berdua bersama adik perempuanku yang menderita penyakit sirosis, dimana dia harus menerima donor hati agar bisa kembali sehat seperti semula, dan biaya pengobatannya sangatlah besar , dengan keadaanku seperti sekarang, menabung seumur hidup pun, aku tidak akan bisa membayar biaya operasi tersebut.

hingga suatu hari temanku datang dan memberi tawaran menarik padaku.

temanku adalah seorang biro jodoh atau agen perkawinan.

dia berkata kalau ada seorang wanita kaya yang sedang mencari suami.

dan aku adalah kriteria yang sangat cocok untuk sayarat-syarat yang telah di tetapkan oleh wanita tersebut.

aku adalah seorang yang memiliki kasta terendah dalam masyarakat, miskin, tidak berpendidikan tinggi, tidak suka bicara, jujur, dan hanya laki-laki rendahan.

dan syarat itu memang cocok untuk ku, kecuali ada beberapa syarat yang masih membuat aku ragu untuk menerimanya.

wanita itu ingin kalau suaminya itu haruslah bisu dan juga tuli, selain syarat diatas yang sudah ada padaku.

sejenak aku berpikir, tapi temanku tersebut kemudian berkata, kalau mahar perkawinan ini sangatlah besar.

aku pun semakin tertarik, bukan karena aku bersedia dianggap Bisu dan tuli, tapi ini semata-mata untuk membiayai pengobatan adikku setiap tahunnya, yang menelan biaya yang sangat mahal.

temanku bilang, berpura-pura sementara itu tidak masalah. dia yakin kalau wanita ini hanya ingin memiliki keturunan, dan tidak ingin berurusan dengan pria yang banyak bicara, agar semua sandiwara ini bisa selamanya tertutupi.

dia mengatakan jadilah pria tuli yang mengenal huruf, setidaknya aku masih bisa berkomunikasi melalui tulisan. dalam waktu lima bulan atau setahun, dia rasa ini adalah harga yang patut untuk dicoba, setelah wanita tersebut memiliki keturunan, ketahuanpun tidak akan jadi masalah .

akhirnya aku menyetujuinya.

dengan harapan bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya demia pengobatan adikku.

----

hari pertemuan dengan wanita tersebut telah tiba.

kita bertemu di salah satu cafe di pinggiran kota. dia melihatku dengan pandangan dingin dan seperti merendahkanku.

kemudian mengambil selembar kertas untuk menuliskan beberapa kalimat dan pergi begitu saja, seperti tidak menginginkanku.

Namanya Claudia , dia adalah seorang pramugari dan 2 tahun lebih tua dari aku.

tidak kusangka setelah beberapa hari, aku mendapat pemberitahuan kalau dia bersedia menikah denganku.

hati ini berdebar dan kepala ini serasa melayang diudara.

apa yang menarik dariku ?

aku seperti bermimpi.

lalu Claudia membawaku bertemu dengan orangtuanya.

aku hanya menemui ibunya, dia terlihat sangat muda dan menarik siapa saja laki-laki yang melihatnya, kulitnya putih mulus dan terawat.

Claudia dan ibunya sebenarnya bisa disebut sebagai kakak beradik, dan orang akan percaya itu.

ibunya memandangiku dari ujung kaki sampai kepalaku, seakan memberi pandangan mengejek dan menghinaku.

Claudia berkata, kalau dia bertemu aku beberapa bulan yang lalu, dan telah menyelamatkan hidupnya.

dia menyukai karena kebisuan dan ketulian ku ini, sehingga dia bisa lebih memiliki waktu untuk dirinya sendiri.

ibunya diam beberapa saat dan seolah tidak setuju dengan pilihan anaknya.

dia mengatakan aku sedikit tampan dan kekar, mengira aku benar-benar bisu dan tuli, lalu berkata sembarangan. seolah-olah aku adalah sebuah barang pajangan saja disana.

malam itu kami makan malam bersama, aku hanya diam dan seolah tidak mengerti apa-apa yang mereka bicarakan.

seminggu kemudian kami menikah.

tidak ada acara yang berlebihan, karena hanya ada beberapa tamu undangan untuk menghadiri pernikahan kami.

malam setelah pernikahan itu, kami memasuki kamar pengantin.

Claudia langsung menyuruhku untuk mandi.

setelah keluar dari kamar mandi, aku melihat Claudia sudah menggunakan piyama hitam berenda putih.

tubuhnya yang putih, dan lekukan tubuhnya yang indah, ditambah tonjolan besar dadanya membuat aku seperti berhenti bernafas.

aku merasa canggung, merasakan ketidak pantasan pada diriku untuk menerima situasi seperti ini.

Claudia adalah perempuan cantik dan berkarisma, dia memiliki wajah tirus dengan hidung dan dagunya yang lancip. seakan keindahan itu bertambah sempurna dengan bibirnya yang tipis kemerahan.

Claudia langsung menuju tempat tidur dan melapaskan piyamanya.

kemuadian mematikan lampu.

menarik selimut dan menutupi tubuh kami berdua.

dia kemudian mengetik hape, dan menunjukan beberapa kalimat yang ditulisnya : ibuku sedang memasang CCTV di kamar ini, bekerja samalah.

aku bingung dengan maksud semua ini.

lalu Claudia menuliskan beberapa kalimat yang panjang dan menunjukannya padaku.

ternyata claudia melakukan pernikahan ini hanya untuk mengelabui ibunya saja.

claudia tidak pernah berniat melakukan pernikahan seumur hidupnya.

claudia pernah sekali menggunkana pacar samaran dan diketahui ibunya, sehingga ibunya tidak mempercayai claudia lagi.

inilah sebabnya dia mencari pria yang alim seeta disabilitas agar tidak merusak hidupnya.

ibunya sekarang ingin memastikan kalau claudia bersungguh-sungguh dan dia sangat ingin menimang cucu, sehingga akan memastikan kalau kami berdua akan memberikannya sesuai harapannya tersebut.

mengetahu ini, aku merasa tidak berdaya dan kehilangan kekuatan di tubuhku, aku merasa kehilangan harga diriku, yang tidak hanyalah sebuah mainan.

wanita secantik claudia mana mungkin tertarik denganku dan mau menikah dengan orang seperti aku ini.

semua ini semata-mata hanyalah trik untuk mengelabui ibunya saja.

claudia lalu menajamkan matanya padaku dan

memberitahuku untuk bekerja sama.

setelah setengah jam berpura-pura , claudia akhirnya keluar dari selimut dan duduk di tepi ranjang dan menyalakan sebatang rokok.

aku hanya bisa menutup kepalaku dalam selimut.

cobaan terkdang telalu sakit untuk dilalui, bahkan untuk bisa melaluinya harus berapa banyak air mata di teteskan ?

aku merasa telah direndahkan, apakah hidupku akan terus seperti ini ?

airmata ini sepertinya mau mengalir, tapi aku menahannya. aku bukanlah pria sejati, bahkan menyentuh istri ku sendiri pun aku tidak mampu.

malam itu aku lalui dengan keheningan.

beberapa hari ini kami berada dirumah selama masa cuti claudia.

dia kembali bekerja setelahnya, dan bepergian sebagai pramugari selama beberapa minggu kedepan.

aku hanya berada dirumah dan jarang sekali keluar kamar. takut kalau ibunya claudia masih mengawasiku.

semuanya sangat membosankan, apakah aku harus terus begini sepanjang hidupku ?

disinilah penghinaan ku dimulai.

malam itu saat aku berbaring dikamar, aku mendengar keributan di ruang bawah.

teenyata disana ada claura dan ibunya yang sedang bertengkar, sepertinya claudia telah kembali.

"Calaudia sebenarnya kamu ini sudah hamil atau belum ?"

claudia merasa tidak senang : " belum, ibu kira segampang itu untuk hamil ?

aku merasa Andi tidak bisa, sakarang aku sedang sibuk, saat cuti tahunan nanti, aku akan membawanya periksa".

mendengar perkataan claudia, aku merasa seperti orang tolol. kamulah yang tidak menginjinkan aku menyentuhmu, lalu kenapa aku yang harus disalhakan ?

aku sangat malu dan terbebani dengan perkataannya, ingin rasanya aku turun dan mengatakan semuanya kepada ibunya.

kalau claudia lah yang telah bersandiwara untuk menipumu selama ini.

tapi kuurngkan niatku, aku sadar kalau saat ini aku membutuhkan kehidupan ini untuk menghasilkan uang yang banyak, demi adikku.

Next chapter