1 PARA PRIYAYI

Nama saya Lantip. Ah, tidak. Nama saya yang asli sangatlah dusun–ndeso–Wage. Menurut embok (ibu) saya, nama itu diberikan karena saya dilahirkan pada hari Sabtu Wage. Nama Lantip itu saya dapatkan kemudian waktu saya mulai tinggal di rumah keluarga Sastrodarsono, di Jalan Setenan, kota Wanagalih. Sebelumnya, saya tinggal bersama embok saya di Desa Wanalawas yang hanya beberapa kilometer saja dari kota Wanagalih. Menurut cerita, Desa Wanalawas itu adalah desa cikal bakal kota Wanagalih, terutama saat Mataram melihat daerah ini sebagai wilayah yang strategis. Madiun diperintahkan oleh Mataram untuk mengembangkan kawasan itu menjadi kawasan yang ramai. Maka bedol desa atau pemindahan desa pun diperintahkan oleh Mataram untuk mengisi kawasan tersebut, di mana desa Wanalawas adalah salah satu desa yang dijebol untuk menjadi bagian Wanagalih.

Dari salah satu desa yang lumayan besar, Desa Wanalawas pun menciut menjadi desa yang kecil. Salah satu dari keluarga-keluarga yang tinggal di Wanalawas adalah nenek moyang embok saya. Menurut embok saya, mereka adalah orang-orang desa yang bertani padi, palawija, dan sedikit tembakau. Sawahnya tidak seberapa besar; hanya satu atau dua bau saja. Itu pun sawah tadah hujan, karena letak sawah itu jauh dari sungai yang dapat mengairi sawah itu.

Selain bersawah, keluarga moyang saya adalah juga keluarga pembuat tempe. Ayah saya… wah, saya tidak ingat pernah mengenalnya. Embok selalu mengatakan ayah saya pergi jauh untuk mencari duit. Hanya bertahun-tahun kemudian pada waktu saya sudah menjadi bagian dari rumah tangga Sastrodarsono, saya sedikit mendapat bayangan siapa ayah saya sewaktu saya sering kena bentak embah guru kakung (kakek). Meskipun orangnya baik dan adil, embah guru kakungjuga keras dan bila marah suka membentak sembari misuh (mengumpat)

jangan lupa follow ig author;@aldoarst

terimakasih.