4 BAB 4

Adel melongo saat mendengar perintah Yusuf untuk membayar apa yang dilakukan Yusuf untuk Adel, yaitu membalas kebaikan yang Yusuf berikan kepadanya . Adel tidak pernah meminta bantuan apapun kepada pria itu dan kenapa dia harus membalasnya?

"Maksud kamu apa?" tanya Adel tidak mengerti.

"Kamu harus mau menjadi pacar aku misalnya." jawab Yusuf dengan santai. Jawaban yang diberikan Yusuf membuat Adel semakin kesal dengan pria yang berada di depannya itu.

"Ngigau ya kamu? Dasar gendeng!" Adel berdiri dan meninggalkan Yusuf yang masih tersenyum memandang Adel yang berjalan keluar.

"Yuk, aku anterin sampai rumah kamu." Yusuf tiba-tiba ada di samping Adel saat dia memesan ojek online. Adel yang kaget tidak berontak saat tangannya ditarik Yusuf untuk kembali masuk kedalam mobil.

"Bukannya kamu lapar? Sayang makanannya kalau dibuang." tanya Adel yang masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini.

"Iya aku juga sayang sama kamu." Jawaban ngawur dari Yusuf membuat Adel semakin ingin menenggelamkan pria yang ada didekatnya ini. Pria tampan tapi gila.

"Ih, mulai deh. Belum minum obat ya?" Yusuf hanya tertawa mendengar gerutuan Adel. Pria itu kini sudah duduk manis dibelakang kemudi. Yusuf menghidupkan mesin mobilnya dan mulai menjalankan mobil dengan Adel yang duduk manis disampingnya.

"Rumah kamu daerah mana?" tanya Yusuf kepada Adel. Semua data Adel sebenarnya sudah Yusuf kantongi, tetapi dia tidak ingin membuat Adel curiga jadi dia pura-pura bertanya.

"Pelita regency, tapi aku mau ke toko buku dulu. Ada buku yang baru keluar dan aku ingin membelinya." jawab Adel dengan asal, Adel tidak ingin pria asing yang baru saja dikenalnya ini mengantarkan dirinya pulang sampai ke rumah.

"Buku apa? Kamu suka baca?" Adel langsung menoleh mendengar pertanyaan Yusuf, sepertinya pria yang ada di sampingnya ini tidak bisa dibodohi dengan gampang.

"Novel karangan penulis idolaku. Ya cuma untuk baca-baca saja. Mengisi waktu luang kalau pas di rumah nggak ngapa-ngapain." jawab Adel setelah lama dia terdiam, Yusuf mengangguk-anggukkan kepalanya, Adel sudah mulai sedikit santai saat berbicara dengannya, dengan cara ini Yusuf ingin lebih dekat dengan Adel.

"Aku antar deh." Yusuf menambah kecepatan mobilnya agar mereka segera sampai di toko buku yang di maksud Adel. Jarak toko buku tidak terlalu jauh dari tempat mereka makan tadi, jadi sekalian Yusuf melanjutkan pendekatannya. Adel sudah tidak tahu lagi harus memberi alasan apa lagi untuk menghindari Yusuf, sepertinya pria ini tidak perduli dengan penolakan secara halus yang dilakukan oleh Adel.

"Sudah sampai, ayo turun!" Adel melihat ke arah luar dan membuka pintu. Kakinya melangkah keluar setelah dia mengangguk saat mendengar ajakan Yusuf. Adel berjalan dengan santai yang diikuti Yusuf yang berjalan di belakangnya.

"Aku lihat di bagian sana ya!" Yusuf menunjuk sebuah tempat yang tidak begitu diperdulikan oleh Adel. Adel langsung sibuk dengan beberapa novel yang baru saja keluar tanpa perduli lagi dengan Yusuf.

Adel mencari keberadaan Yusuf yang tadi menghilang dan tidak nampak dari pandangan Adel.

"Sudah?" Adel melonjak kaget saat suara Yusuf menegurnya.

"Sudah. Kamu dari mana?"

"Cie... sudah kangen ya?" Goda Yusuf sambil memainkan alis matanya.

"Dasar! Ayo pulang!" Adel meninggalkan Yusuf yang masih senyum-senyum sendirian dari tadi.

"Boleh minta nomor teleponnya?" Adel memandang curiga kepada Yusuf.

"Buat apa?"

"Buat menelepon bidadari saat mau tidur." Adel tersipu malu, pipinya merona.

"Bukannya bidadari kakak banyak ya? Tadi yang sama-sama pergi ke kantin?" kata Adel dengan sedikit ketus.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/pacarku-abdi-negara_16761454906273905/bab-4_51001810906827403 for visiting.

"Kamu cemburu ya? Dia kan hanya fans yang datang. Tapi, cinta dan sayangku kan hanya untukmu." kata Yusuf yang merayu Adel.

"Ih...gombal!" Pipi Adel benar-benar merona saat ini. Pipinya bersemu merah muda membuat Yusuf merasa gemas.

"Kamu cantik." Puji Yusuf. Adel berjalan dengan cepat menuju mobil mengabaikan apa yang dikatakan oleh Yusuf. Yusuf tersenyum melihat reaksi Adel saat mendengar pujian yang dia lontarkan.

Adel segera masuk ke dalam mobil saat telinganya menangkap suara kunci pintu terbuka dan di susul Yusuf yang masuk dan duduk di belakang kursi kemudi.

"Sudah? Mau kemana lagi?" Adel menggelengkan kepalanya.

"Pulang saja. Sudah sore." Yusuf mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya menuju jalanan.

Perjalanan mereka hanya ditemani sunyi, mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing. Adel dengan hati yang berdebar dan Yusuf yang memikirkan cara apa yang harus dia gunakan untuk memikat Adel lagi.

"Kak!"

"Del!"

Ucap mereka bersamaan.

"Kamu dulu." Yusuf mempersilahkan tapi Adel menggeleng.

"Kakak dulu." Jawab Adel sambil tersenyum.

"Ladies First."

"Oke. Kakak mulai kapan jadi Asdos?" tanya Adel penasaran. Adel tidak pernah melihat Yusuf sebelumnya jadi dia sangat yakin jika Yusuf bukan mahasiswa di tempat dia belajar.

"Hm, sebenarnya kakak bukan asdos. Kakak hanya memberikan tugas yang dititipkan kepada kakak. Lagian kan hanya menunggu kuis, jadi nggak masalah lah."

"Jadi, kakak ada hubungan apa dengan Profesor Burhan?" Yusuf tersenyum mendengar pertanyaan Adel.

"Coba kamu tebak?"

Adel seperti memikirkan sesuatu yang berat. Dia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di keningnya.

"Adik?" Yusuf tertawa mendengarkan jawaban Adel.

"Masihkah semuda itu?"

"Hah?"

"Masihkah Profesor Burhan semuda itu sehingga kamu menebak aku adiknya?"

"Nggak juga sih." Jawab Adel sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Atau aku yang terlihat tua?!"

"Ah, tidak! tidak! kakak masih terlihat muda dan..." ucapan Adel terputus saat dia tersadar akan bicara apa. Pipi Adel tiba-tiba berubah menjadi merah.

"Dan apa? Hem?" Goda Yusuf.

"Sudah ah, lupakan saja. Kakak jangan menggodaku, atau aku turun disini!" Adel sudah merasa sangat malu kepada Yusuf, hampir saja dia keceplosan jika Yusuf itu tampan.

"Beliau ayahku."

"Hah?!" teriak Adel karena kaget mendengar jawaban yang sama sekali tidak dia pikirkan.

Yusuf tersenyum melihat reaksi yang dikeluarkan Adel. "Benarkah?"

"Iya. Beliau ayahku. Saat ini beliau sedang sakit, dan kebetulan aku sedang ada di rumah akhirnya aku yang menggantikan beliau."

Adel mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Beliau sakit apa?"

"Biasa orang yang sudah berumur pasti punya kolesterol yang cukup mengganggu." Adel mengangguk setuju dengan ucapan Yusuf. Papanya juga mempunyai kolesterol tinggi yang sering kambuh membuat kakinya susah untuk diajak kompromi dalam berjalan.

"Iya, ayah juga kolesterol tinggi. Tapi para orang tua susah saat diberi tahu untuk menjaga makanannya, mereka selalu bilang, kita makan ini tidak setiap hari. Kadang suka bertengkar dengan papa saat papa susah diberi tahu." Adel tersenyum saat mengingat dia bertengkar dengan ayahnya karena makanan.

"Kamu mencintainya?"

"Siapa? Ayah? Jelas aku mencintainya, meski gara-gara ayah kakakku meninggalkanku." suasana hati Adel berubah menjadi sedih. Yusuf merasa tidak enak karena membawa pembicaraan ke arah hal yang terlalu sensitif untuk Adel.

"Sudah ah! Kita bicarakan yang lain saja. Ini belok kemana?" tanya Yusuf saat dia sadar dia sudah memasuki komplek perumahan. Adel menunjukkan arah rumahnya kepada Yusuf. dan tidak terlalu lama, mobil mereka sampai di depan rumah Adel.

"Kakak nggak mampir dulu?" ajak Adel.

"Aku langsung saja. Kapan-kapan saja aku mampir. Mana?"

Adel bingung saat Yusuf menengadahkan tangannya meminta sesuatu.

"Apa?"

"Nomor ponsel kamu." Jawab Yusuf sambil memberikan ponselnya kepada Adel. Adel mengetikkan nomor ponselnya dan menyimpannya di kontak telepon milik Yusuf.

"Sudah." kata Adel sambil menyerahkan kembali ponsel milik Yusuf kepada pemiliknya.

"Terimakasih." Ucap Yusuf sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Sudah masuk sana! Istirahat yang cukup ya! Dan jangan lupa mikirin pangeran tampan ini." Adel tertawa saat mendengar godaan Yusuf, dia menutup pintu mobil dan membiarkan mobil kembali melaju. Adel masih memperhatikan mobil Yusuf sampai mobil itu hilang di belokan.

Adel menghembuskan nafasnya lalu berbalik, membuka pintu pagar rumah besar yang kini terasa sepi bagi Adel, sehingga membuat Adel memutuskan untuk pindah di tempat kos yang membuat Adel merasa nyaman.

Next chapter