1 Bab 1

Fani Octaviani gadis cerewet, yang terkadang di takuti teman-temannya ketika dirinya marah. Fani yang menjabat sebagai ketua kelas, ketua Brapera dan wakil ketua Osis di sekolahnya hanya bisa kalah oleh sang mantan. Yah, jika anak-anak lain begitu takut akan sifat tegas dan ketajaman mulut Fani, berbeda sekali dengan Fani yang akan takut hanya dengan sang mantan kekasih---Ardi.

Sudah lima bulan dirinya dan Ardi putus, entah alasan apa yang membuat hubungan diantara mereka berdua berakhir. Karena yang diketahuinya ia tidak melakukan kesalahan apapun, tapi cowok itu malah memutuskan hubungannya sepihak dan perlahan mulai menjauhinya. Fani jelas tidak terima dengan keputusan sepihak Ardi, namun cowok itu tetap kukuh pada pendiriannya membuat mau tak mau Fani pasrah akan keputusan Ardi.

Fani jelas marah dan kecewa akan Ardi dan tak sering pun dirinya selalu menangis diam-diam atau di depan sahabatnya. Ardi cinta pertamanya, wajar jika dirinya masih mencintai cowok itu mengingat hubungannya yang terjalin dua tahun lamanya. Fani kemudian teringat akan dua tahun lalu saat Ardi menembaknya.

Hari itu, hari terakhir di adakan MOS dan seluruh anak yang mengikuti MOS telah menyerahkan dua buah surat. Satu surat dengan warna kuning, surat yang menyatakan rasa ketidak sukaan pada senior. Dan kedua surat berwarna merah muda yang menyatakan kekaguman atau ketertarikan beserta alasannya. Satu persatu kakak seniornya itu membacakan surat-surat juniornya.

Tibalah surat Fani yang di bacakan oleh salah satu senior yang kurang disukainya. Senior yang bernama Chaca itu menyeringai lalu mulai membacakan isi surat Fani yang berwarna kuning.

Teruntuk Kakak senior err aku tidak tahu namanya siapa, yang aku tahu. Kakak senior itu sering mengikat rambutnya dengan ekor kuda dengan tali rambut berwarna pelangi. Hai Kak, aku Fani. Junior yang selalu kau suruh ini dan itu, aku tidak tahu kenapa kau selalu menyuruhku. Namun yang aku tahu dengan pasti, kau pasti ingin balas dendam pada seniormu terdahulu kan, makanya kau membalasnya lewat diriku. Aku tidak marah sungguh, hanya saja caramu terdengar sangat kekanakan.

Senior yang membacakan surat Fani tersebut langsung menatap Fani tajam, karena secara tidak langsung Fani telah menyindirnya. Fani sendiri hanya diam saja tidak terlihat takut sekalipun, lalu kemudian surat kembali di bacakan dan lagi-lagi surat Fani. Bedanya kini surat tersebut berwarna merah muda, yang artinya surat kagum atau rasa ketertarikan. Dan surat itu di bacakan oleh kakak kelas yang menjabat sebagai ketua osis. Cowok dengan senyum manis itu seketika menatap Fani dengan senyum tampannya, kemudian membacakannya.

Well, gue Fani anak kelas 10A. Cewek yang tiga hari ini selalu ngintilin elo. Siapa sih nama lo? Lo tuh kayak suka, tapi gengsi tauk gak. Gue ngintilin elo, elo judes belagak gak suka, begitu gue biasa-biasa aja giliran elo yang merhatiin gue. Well jadi... Siapa nama lo?

Riki telah selesai membacakan surat darinya dengan senyum menyebalkan menurut Fani, tapi mungkin bagi anak-anak yang lain begitu tampan. Fani pura-pura tidak melihatnya ia lebih memilih mengajak ngobrol sahabat dari kecilnya--Rara, daripada harus mendengar koor anak-anak yang menyorakinya meskipun dirinya berani bertaruh jika mereka semua tidak begitu mengenalnya.

Surat-surat pun kembali di bacakan dan fokus Fani telah hilang sejak beberapa menit lalu untuk mendengarkan. Fani lebih memilih mendengarkan sahabatnya tentang senior yang di sukainya, ketimbang beberapa senior yang sedang membacakan surat teman-temannya.

Tak berapa lama kemudian, aula yang di pakai untuk kumpul tiba-tiba saja sunyi. Rara yang menyadari akan hal itu seketika mendongak lalu menatap ke sekitarnya. Menelan ludahnya dengan gugup begitu dirinya melihat semua mata memandang ke arahnya, termasuk beberapa senior di depan tengan memandang ke arahnya err mungkin lebih tepatnya, memandang pada sahabatnya. Apa dirinya ketahuan karena sedari tadi dirinya dan Fani sibuk mengoceh tanpa memedulikan keadaan sekitar. Sial jika seperti itu tamat lah riwayatnya di tangan para senior sok berkuasa itu.

Fani yang menyadari jika sahabatnya tidak kembali memandangnya mendengus jengkel.

"Kenapa sih, Ra?" serunya agak kesal sambil mendongak lalu menatap ke sekeliling ruangan. Dirinya yang ke geeran, atau memang benar jika mereka semua tengah memandanginya.

Fani lalu menatap ke depan ke arah seniornya berada, dan saat itu juga degup jantungnya tiba-tiba berdegup dengan cepat tatkala melihat senyum misterius dari cowok yang selama ini selalu memenuihi pikirannya.

Apa yang dilakukan cowok itu di depan? Bukan kah mereka satu angkatan, lalu kenapa cowok itu berada di sana? Apa jangan-jangan ia salah mengira jika cowok itu seniornya bukan satu angkatan yang sama sepertinya? Tapi... Dia tetap saja tidak percaya.

"Well gue di sini cuman mau balas surat pengakuan dari cewek kelas 10-A, gue Ardi. Ingat A R D I, gue cowok yang selalu diikutin mulu sama lo dan lo harus tanggung jawab. Karena elo udah nyuri hati gue sejak pertama kita ketemu, dan gue nggak nerima kata penolakan." seru Ardi kala itu dengan mantap tak lupa dengan seringai tampannya yang membuat jantung Fani semakin menggila. Tak mendengarkan godaan anak-anak kepada mereka berdua, yang dirinya ingat hanya kebahagian hatinya karena ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.

Kembali pada kenyataan, Fani mendengus ketika melihat spidol yang di pakainya saat ini mulai mengering. Dia tak habis pikir kenapa anak-anak selalu menyuruhnya menggantikan Rara sebagai sekertaris di kelasnya. Waktu dirinya protes tidak terima karena di jadikan sebagai ketua kelas anak-anak tidak setuju. Karena sifat dirinya yang tegas dan cerewet lah membuat teman-teman dan wali kelas memilihnya, padahal dia sendiri mengajukan menjadi sekertaris tapi sialnya di tolak oleh mereka semua. Tapi sekarang, begitu Rara tidak masuk kelas alih-alih menyuruh orang lain untuk menulis di kelas. Mereka semua malah memilih dirinya untuk menggantikan Rara, benar-benar teman tidak tahu diri.

Fani perlahan mulai berjalan ke arah Niko, teman sekelasnya yang duduk tak jauh dari pintu kelas.

"Nik, ambilin spidol baru dong." titah Fani sambil menyodorkan spidol yang mengering kepada Niko.

Niko menatap Fani dengan senyuman.

"Males ah, Fan. Elo sendiri aja lah." tolak Niko.

"Ayolah gue males ke ruang gurunya,"

"Kok males? Semangat dong harusnya, kan elo bisa ketemu sama guru PKL yang kemaren ngajakin lo balik bareng."

Begitu Niko selesai mengucapkan kata-kata seperti itu, tiba-tiba saja dari belakang bangku Niko terdengar seruan.

"Ciiieee..."

Dan kemudian teman-teman sekelas pun menyorakinya.

"Ciiieee..."

Wajah Fani seketika memerah menahan malu dan kesal.

"Berisik lo semua."

Namun bukannya berhenti mereka semua kembali menggodanya. Fani benar-benar heran dengan sikap teman-temannya yang menyebalkan, kenapa mereka semua ikuta-ikutan menggodanya. Padahal Niko hanya berbicara kepadanya saja, tapi teman-teman sekelasnya itu begitu kompak jika berkaitan dengannya. Seharusnya dirinya minta pindah kelas saja daripada harus sekelas dengan teman-teman yang selalu menggodanya.

"Buruan Nik, bentar lagi pelajaran Sejarahnya habis nih. Dan gue belum selesai nulisnya."

"Nggak bisa yah, Fani sayangg... Habis ini kan pelajarannya Pak Anwar, dan gue lagi kerjain tugasnya. Bisa di suruh keluar gue kalau belum ngerjain tugasnya."

"Ah sialan! Gue juga belum kerjain. Kalau gitu, elo buruan selesain tugasnya yah, abis itu gue mau liat. Oke Honey?" sahut Fani dengan mengedipkan sebelah matanya.

"Sial Faniii... Kalau aja elo bukan mantannya si Ardi, udah gue sikat lo."

"Sikat aja, lagian kan cuman mantan..." seru Bian yang duduk di belakang Niko.

"Ogah, bisa abis gue sama si Ardi."

"Iya juga sih, dia jago Taekwondo. Lagian gue heran sih, udah mantan tapi tetep aja protektif. Cowok-cowok yang mau deketin si Fani aja bisa abis kali sama tatapan matanya doang. Punya mantan kok nyeremin lo, Fan." sahut Bian lagi yang mendapat kekehan dari Niko.

Wajah Fani memerah menahan amarah.

"Nyebelin lo berdua, ngomongin orang di depan orangnya langsung." serunya kesal kemudian berbalik kemudian pergi meninggalkan kelas si ikuti tatapan mata teman-teman sekelasnya yang memandang kepergiannya.

Bian dan Niko cuek, cuek saja tidak terlalu memusingkan Fani. Karena mereka sudah hafal dengan sikap Fani seperti apa, Fani memang gampang terpancing emosi dan cepat marah tapi cewek itu juga selalu cepat untuk kembali baik. Maka dari itu lah mereka semua senang untuk menggoda Fani.

Fokus Bian dan Niko kini tengah memandang keluar jendela. Mereka melihat Fani yang tidak sengaja menabrak saingannya---Shela. Sudah bukan rahasia umum kali ini permusuhan diantara mereka berdua, Shela dari kelas 10 hingga kini mereka menjadi kelas 12 selalu mencari gara-gara dengan Fani. Cewek itu terlihat tidak begitu menyukai Fani, karena mereka semua tahu jika Fani berpacaran dengan Ardi yang di gadang-gadang menjadi cowok incaran Shela. Namun sayang dirinya harus kalah sebelum berperang karena ternyata Ardi sendiri yang menembak Fani saat MOS dulu. Bukan hanya di situ saja pemicu mereka menjadi musuh, Fani yang menjadi ketua Brapera dan wakil ketua Osis lah yang membuat Shela semakin tidak menyukai Fani.

Namun sepertinya kali ini Fani harus mengalah, karena menurut kabar yang beredar beberapa bulan ini. Jika Shela dikabarkan dekat dengan Ardi mantan kekasih Fani membuat Shela besar kepala dibuatnya.

"It's so time." seru Bian menyeringai melihat tontonan yang tak jauh di depan matanya.

Teman-teman sekelasnya yang melihat Bian dan Niko sedari tadi melihat keluar jendela membuat mereka semua penasaran. Akhirnya mereka semua pun beranjak dari kursi masing-masing lalu mengikuti apa yang Bian dan Niko lakukan, yaitu menonton Fani.

"Elo sengaja kan nabrak gue!" seru Shela sambil berdiri menatap tajam Fani.

Fani yang melihat Shela marah-marah kepadanya hanya diam tidak merespon.

"Lebay lo, nggak sengaja juga."

"Alah bilang aja elo marah karena gue deket-deket sama Ardi. Dasar cewek gagal move on."

Oke sepertinya Shela salah bermain-main dengan Fani. Kata yang begitu sakral untuk di ucapkan kini di ucapkan oleh musuhnya. Maka wajar saja jika Fani memandang Shela dengan tatapan tajamnya. Dan harus Shela akui dengan berat hati, jika tatapan Fani begitu menyeramkan.

"Sial." dengan marah Fani mendorong Shela dengan bertenaga, membuat Shela yang tidak siap akan dorongan Fani terjatuh membuat pantatnya sukses menciun tanah dengan keras.

Fani berdiri menjulang sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menundukkan wajahnya menatap Shela yang terduduk di tanah sengan suara ringisan sakitnya. Mata hitam Fani menyorot Shela dengan dingin, dia melupakan tugasnya untuk pergi ke ruang guru mengambil spidol baru. Dan yang paling penting dia melupakan jika dirinya tengah berada di lapangan yang letaknya berada di tengah-tengah. Bisa saja para guru melihat tindakannya, karena teman-teman sekolahnya sudah pasti melihatnya mengingat dirinya tengah berada di lapangan. Dia merutuki sekolahnya yang berbentuk lingkaran, lapangan upacara berada di tengah-tengah ruang kelas, ruang guru dan ruang TU. Maka wajar saja jika teman-teman sekolahnya menyaksikan aksi nekadnya itu mengingat tata letak kelas yang menghadap ke arah lapangan.

"Aduh, sakit. Kamu jahat banget sih, Fan dorong aku. Salah aku apa?" serunya dengan nada sedih membuat Fani mendengus tidak suka.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya sebuah suara serak yang tiba-tiba sudah berdiri diantara mereka.

Fani seketika memalingkan wajahnya ke samping, netra gelapnya bertatapan langsung dengan onxy hitam milik Ardi. Tak ingin bertatapan lama dengan sang mantan kekasih, Fani kembali memalingkan wajahnya ke arah lain.

Ardi menolong Shela yang masih terduduk di bawah membawanya untuk berdiri. Melupakan fakta jika Fani masih berada di sampingnya tengah mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Tak ingin membuat hatinya semakin sakit, Fani mulai melangkah meninggalkan Shela dan Ardi. Namun sayang, sepertinya Fani tidak bisa pergi begitu saja ketika sebuah suara menginterupsinya.

"Mau ke mana kamu, Fan? Minta maaf dulu sama Shela." ujar Ardi dingin.

Fani yang tengah membelakangi keduanya semakin mengepalkan kedua tangannya.

"Males, ngapain gue minta maaf sama dia!" desisnya.

"Faniii!" bentak Ardi dengan suara yang lumayan keras.

"Gue nggak mau!" bentaknya marah, dia benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Fani pun kemudian pergi dengan berlari meninggalkan Ardi yang menatap punggung sang mantan dengan tatapan yang sulit diartikan, berbeda dengan Shela yang tersenyum penuh kemenangan.

"Hah, Fani yang malang." seru Niko yang diikuti desahan napas beratnya. Mereka jelas menyaksikan kejadian beberapa saat lalu, mereka memang tidak tahu apa yang tengah di bicarakan kedua pasangan yang selalu membuat heboh itu. Namun, mereka menyadari jika ucapan yang di lontarkan Ardi membuat Fani tidak menyukainya. Terlebih mereka mendengar bentakan Ardi yang memanggil nama Fani dengan suara yang lumayan besar membuat mereka bisa mendengarnya.

Bukan hanya teman-teman sekelas Fani yang menyaksikan drama di lapangan, tapi teman-teman Fani di kelas lain pun melihatnya dan mereka semua ikut nelangsa melihat Fani seperti itu.

_

Next chapter