1 PROLOG

Pangeran Nickolas Edmund Williamsburg of Denmark, mengunjungi salah satu kebun binatang bersama dengan beberapa anggota kerajaan berserta para menteri pagi tadi, dan akan langsung melanjutkan penerbangan menuju Indonesia, lebih tepatnya Istana Kebun Raya Bogor untuk membahas kerja sama antar dua Negara serta menjalin erat hubungan keduanya, dikabarkan pangeran Nickolas juga akan mengunjungi beberapa tanaman yang terdapat di Kebun Raya Bogor. Sekian berita yan- flip

"Pangeran Nickolas akan ke Indonesia? Aaa... Aku harus datang! Pokoknya aku harus menyambutnya di barisan paling depan!" Ujar Natasha dengan girang sambil melompat-lompat kecil, namun hanya sesaat sebelum bunyi tv di matikan terdengar.

"Ma! Kenapa di matikan? Tasha, 'kan sedang menonton beritanya!" Gadis cantik itu menggerutu karena Ratna -ibunya- mematikan tv yang sedang Natasha tonton secara tiba-tiba, membuat Natasha tidak terima dengan perbuatan ibunya.

"Tasha sayang, mama tau kamu tergila-gila, kan dengan pangeran itu? Tasha boleh, kok menyukai dia. Tapi Tasha jangan mengkhayal terlalu tinggi. Mama juga tau, kamu sering mengkhayalkan dia, 'kan?" Ujar Ratna dengan terkekeh sambil mengelus-elus rambut panjang milik Natasha, mencurahkan segala kasih sayang untuk anak semata wayangnya.

Sedangkan Natasha hanya mendengus kesal mendengar ucapan Ratna sambil menyembunyikan wajahnya yang ia yakini sekarang menjadi merah padam.

"Ish, ma. Jangan menjatuhkan ekspetasi Tasha dong. Tasha tau, kok, Tasha tidak pantas untuk bersanding di sampingnya, tapi apa salahnya jika Tasha sering menghayalkan dia? Toh, Pangeran Nickolas juga tak akan tau jika aku sering mengkhayalkan dia. Siapa tau khayalan Tasha suatu saat nanti menjadi kenyataan, kan?" Balas Natasha dengan memanyunkan bibirnya, terlihat sangat manis dan manja disaat yang bersamaan, membuat Ratna mencubit pipi anaknya yang sedikit berisi.

"Iya, mama tau. Ya sudah, Tasha ayo bantu mama masak untuk makan malam"

"Iya, ma. Papa nanti malam pulang jam berapa ma?" Tanya Natasha saat telah sampai di dapur sambil menguncir tinggi rambut panjangnya.

"Em... Kata papa dia akan pulang jam delapan, memangnya ada apa?"

"Tidak, tumben papa pulangnya agak malam"

"Entah, mungkin atasan papa menyuruh papa lembur. Kita masak soto ayam saja, ya?" Tanya Ratna pada Natasha yang hanya di balas dengan anggukan dan langsung mengeluarkan bahan-bahan yang akan mereka masak.

Setelah selama satu jam berkukat dengan dapur, akhirnya masakan yang mereka buat telah jadi dan langsung mereka tata dengan rapi di meja makan sambil menunggu Rezky -ayah Natasha- pulang untuk makan malam bersama.

Di tempat lain...

Hening, hanya dentingan sendok dan garpu yang berbunyi menghiasi kesunyian yang terjadi di ruang makan yang sangat luas.

Tak ada pembicaraan sama sekali, mereka begitu hikmat menyantap makanan yang memenuhi meja panjang di hadapannya hingga selesai.

"Ekhm" intruksi suara dari pria tua yang duduk tepat di kepala paling ujung meja makan yang panjang sambil mengelap mulutnya menggunakan serbet yang tersedia, membuat semua orang yang berada di ruangan itu menoleh kearah pria tua itu dan ikut mengelap mulutnya mereka, tanda bahwa mereka telah menyelesaikan makan malamnya.

"Nickolas" panggil pria tua itu kepada Nickolas, membuatnya langsung menempatkan perhatiannya kearah pria tua itu.

"Ya, kek?" Balas Nickolas dengan nada santai dan merasa tak tertarik dengan apa yang akan di ucapkan oleh pria tua yang tak lain adalah kakeknya, Raja Edmund Williamsburg VII.

Raja yang telah di gantikan oleh ayahnya, Raja Adreson Edmund Williamsburg VIII.

"Bagaimana dengan kuliahmu?"

'Kenapa kakek selalu bertanya tentang hal seperti itu? Padahal dia juga sudah tau apa jawabanku? Membuatku semakin muak saja!'

"Baik" balas Nickolas dengan sangat singkat.

Mungkin bagi mereka, Nickolas adalah sosok jelmaan dewa Yunani. Ya, memang Nicholas sangatlah tampan, namun ada sebuah fakta yang hanya di ketahui oleh keluarga kerajaan saja.

Yaitu, sikap Nickolas yang dingin dan sedikit susah diatur, tapi jika di hadapan publik akan menjadi seorang pangeran pada umumnya, ramah, sopan, baik hati dan murah senyum.

Yang harus kalian tau, bahwa itu hanyalah sandiwara yang sedang Nicholas lakukan, karena ia pewaris tahta.

"Nickolas, kakek ingin bicara serius denganmu" tatapan mata Raja Edmund VII, kakek Nickolas terlihat sangat gerah dengan sikap yang selalu Nickolas tampilkan.

"Kalau begitu bicaralah" semua yang masih berada di ruang makan terdiam dan terlihat tak ingin ikut campur dengan urusan mereka, bahkan Adreson -ayah Nickolas- dan Viona -ibu Nickolas- hanya bisa menghela nafas merasakan perang dingin antara ayahnya dengan anaknya yang bisa di bilang, tidak pernah bisa akur.

"Hah, Nickolas. Kau tau berapa umurmu, sekarang?" Tanya Edmund tidak langsung pada intinya dan Nicholas menanggapi ucapan kakeknya dengan malas.

"25"

"Umurmu sudah cukup, kau mengerti yang kakek maksud, kan?" Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Nickolas hanya mengangkat sebelah alisnya dan menggidikan bahunya, hal itu membuat kakek Nickolas menghela nafas lagi.

"Kakek rasa kau sudah siap untuk menikah. Jadi kakek akan menjodohkanmu dengan rekan bisnis kakek. Yaitu anak dari Raja Arthur Gillbavry IX, Princess Scarletta Avely Gillbavry" ujar Edmund dengan tenang tanpa memperdulikan tatapan tajam yang Nickolas berikan.

"Shit" ujar Nickolas tak kalah tenang dan langsung bangkit dari kursinya, lalu bergegas pergi meninggalkan ruang makan yang mendadak hening, namun tak berlangsung lama.

"NICKOLAS! JAGA PERKATAANMU! KAU ITU PUTRA MAHKOTA, CALON RAJA SELANJUTNYA! JIKA SEANDAINYA KAU MEMILIKI KAKAK ATAU ADIK, AKU TAK AKAN MEMILIHMU MENJADI PUTRA MAHKOTA KERAJAAN!" Teriak Edmund menggelegar dan langsung di tenangan oleh keluarganya yang masih ada di sana.

Mereka tak habis pikir dengan kata-kata Nickolas tadi, sangat tidak mencerminkan bahwa ia putra mahkota. Dengan ketidak perduliannya Nickolas tetap berjalan menuju lantai atas tepat kamar mewahnya berada.

"Kenapa kakek selalu menuntut ini dan itu? Tidakkah dia berpikir, apakah aku baik-baik saja atau tidak? Kenapa dia selalu melakukan keinginan tanpa pikir panjang? Dan kenapa ayah dan ibu juga diam saja seperti patung, seharusnya mereka membelaku! Sial."

Kesal. Itu yang sedang Nickolas rasakan saat ini, dan ia melampiaskan kekesalannya dengan membanting pintu kamarnya dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang cukup kencang.

"Sial, kalau tau seperti ini aku lebih memilih kabur dari sini sejak dulu" gumam Nickolas dengan membantingkan tubuhnya keatas kasur empuknya dan mengambil head phone dan ponselnya yang berada di nakas samping kasur King sizenya, memasangkan di kedua telinganya dan menyetel lagu favoritenya dengan volume yang cukup keras hingga ia memasuki alam mimpinya.

★★★