1 Menikah

"Tolong Ibu nak..." pinta Bu Ambar wanita paruh baya namun masih terlihat cantik.Ia menatap memohon kearah mata anak bungsu yang berdiri di hadapannya. Wajah pemuda itu tampak gelisah, ia ingin menolak permintaan ibu tersayangnya itu.

"Ibu, Algis gak mau Bu...ini menipu namanya. Dan Algis ini cowok Bu, gimana Algis bisa gantiin Kak Ajeng sih Bu?"

Algis mencoba memberi pengertian pada Bu Ambar namun wajah sang Ibu nampak makin sedih dan putus asa. Wanita itu kembali meraih pergelangan tangan putranya dan menggegam erat tangan Algis.

"Ibu mohon Gis, ibu mohon, gantikan posisi Kakak mu. kalau kamu gak nolong Bapak dan Ibu bagaimana Ibu bisa menghadapi para tamu undangan, lebih lebih keluarga Pak Suryadi."

Algis menatap kearah wajah ibunya yang nampak mulai menua namun tetap masih terlihat ayu. Ia merasa tidak tega kalo harus melihat wajah itu bersedih dan menahan malu karena perbutan kakak perempuannya, Ajeng. Gadis yang seharusnya saat ini berada di depan meja rias, gadis yang seharusnya melangsungkan pernikahan hari ini. Akan tetapi gadis itu justru tidak ada di tempat. Dia kabur. Meninggalkan pernikahannya tanpa ada seorang pun yang tau kenapa.

Mengetahui anak gadisnya pergi meninggalkan rumah beberapa jam sebelum pernikahan, membuat Bu Ambar sang ibu panik bukan main. Rumah sudah penuh tamu undangan keluarga dari mempelai pria sudah datang menunggu, apa yang akan dia katakan pada semua orang. Anak saya kabur??? Sungguh itu tidak lucu tidak terbayang betapa malu dan kacaunya jika ia mengatakan itu pada tamu undangan dan keluarga mempelai pria.

Hingga munculah ide nekat untuk menyelesaikan masalah genting yang ia hadapi.

"Baik lah Bu...tapi Algis gak akan ikut campur sama akibatnya," jawab Algis akhirnya.

Bu Ambar wanita paruh baya itu menghela nafas lega, perlahan genggaman tangannya merenggang ia mengulurkan jari tangan kearah wajah Algis membelai lembut wajah putra kesayangannya itu.

"Trimaksih ya Nak....hanya untuk hari ini saja. Setelah ini Ibu akan menjelaskan pada semuanya. Setidaknya kalau para tamu undangan sudah pulang."

Algis hanya diam.

Bu Ambar membawa Algis masuk ke kamar, di dalam kamar sudah ada tukang rias dan seorang asisten rias. Sepertinya mereka berdua sudah cukup lama menunggu pengantin wanita yang hendak dirias.

"Tut, ini anakku, buruan di rias dah gak ada waktu lagi Tut," kata Bu Ambar dengan wajah gelisah dan terburu buru. Bu Ambar membimbing Algis duduk di kursi menghadap cermin rias. Tukang rias pengantin yang bernama Tutik yang tak lain adalah sahabat Bu Ambar bingung, bengong, mulutnya sedikit membuka seperti ingin mengatakan sesuatu.

"Lha kok bengong sih Tut..buruan di rias."

Bu Ambar gemas.

sang rias pengantin masih bengong mulutnya masih seperti ingin mengatakan sesuatu.

"Algis minta di rias juga ya mbak yu.." tanya si rias pengantin dengan wajah penuh heran.

"Rias Algis Tut..gunakan seluruh kemampuanmu buat Algis jadi pengantin wanita paling cantik hari ini"

Si rias pengantin dan asistennya terkejut, mata mereka melotot tidak percaya di kepala mereka tiba-tiba timbul banyak pertanyaan kenapa ada apa.

"Aku gak bisa jelasin sekarang, pokoknya kamu kerjain aja apa yang aku minta. Waktunya dah mepet banget ini," kata Bu Ambar seakan tau apa yang dipikirkan sahabatnya itu. Wajah Bu Ambar makin frustasi dari sebelumnya.

Tanpa banyak bertanya lagi Tutik dan asistennya mulai merias wajah Algis menjadikannya pengantin wanita, yang akan menggantikan Ajeng gadis yang harusnya ia rias hari ini. Algis hanya diam selama di rias, sesekali dia bersin ketika bedak tabur dan lainya di oleskan kewajahnya.

Algis dan Ajeng wajah mereka mirip. meskipun mereka bukan saudara kembar, namun mereka mempunyai wajah yang tak jauh berbeda. Bedanya hanyalah Ajeng prempuan dan Algis laki laki.

Meskipun laki laki-laki Algis punya tubuh yang ramping dia tidak begitu tinggi tapi juga tidak pendek. Wajahnya tampan tapi cenderung cantik. Kulitnya putih dan halus meski dia tidak pernah melakukan perawatan. Banyak orang yang salah paham, tak sedikit orang yang mengira Algis adalah prempuan. Nyata nya dia laki-laki tapi laki-laki yang manis.

Tak berapa lama akhirnya tukang rias pengantin , si Tutik menyelesaikan pekerjaannya. Kini berdiri Algis di hadapan Bu Ambar ibunya.

Algis tampak cantik jelita dengan balutan kebaya moderen. Wajahnya yang cenderung cantik tidak menyusahkan perias pengantin untuk membuat Algis lebih cantik dengan riasan pengantin.

Bu Ambar terpana melihat Algis, meskipun ia adalah ibu yang mengandung dan melahirkan Algis tapi dia tidak menyangka kalau Algis akan begitu menawan. Kebaya yang ia beli untuk anak gadisnya tampak pas dan indah di tubuh Algis. Seakan baju itu dibeli dengan ukuran badan Algis.

Mata Bu Ambar berkaca kaca, air mata seakan ingin keluar. Namun ia tahan. Dia merasa haru, terpana, sedih, juga merasa bersalah. Merasa bersalah karena dia akan menipu banyak orang menjadikan anak laki-lakinya menjadi pengantin wanita.

"Ya udah ayok turun Gis, semua orang nunggu di bawah."

Bu Ambar menggandeng tangan Algis. beberapa kali Algis memegangi kepalanya dia merasa kepalanya sakit berat karna sanggul. Juga pusing dengan bau segala macam entah apa yang disemprotkan ke wajah dan rambutnya selama di rias.

"Drama macam apa ini ya bu?" gumam sang asiten perias pengantin selepas kepergian Bu Ambar dan Algis dari kamar.

"Entah lah... yang penting pulang kita di bayar."

Sang asisten mengangguk. Sambil mengemasi peralatan make up.

Di lantai bawah sudah banyak tamu undangan yang tidak sabar menunggu acara di mulai. Mata mereka tiba tiba serempak menuju kearah tangga. Dari lantai atas , Bu Ambar turun perlahan sambil menggandeng tangan Algis.

Semua mata terpana melihat betapa cantik dan menawan si pengantin wanita, tentu saja mereka anggap itu adalah Ajeng pengantin wanita yang sebenarnya.

"Ya tuhan Ajeng cantik banget kamu," kata salah satu tamu yang tidak bisa menahan kekaguman nya.

Tak jauh dari para tamu sudah ada mempelai pria yang bersiap diri di depan penghulu.

Pria itu menoleh kearah Algis, tak ada ekspresi. Hanya melihat tanpa minat.

Tak ada tatapan kagum seperti orang lain. Biasa saja. Santai.

Bu Ambar dan Algis berjalan kearah mempelai pria dan penghulu.

Algis kembali gelisah, wajahnya pucat keringat dingin mulai keluar dari keningnya. Bu Ambar berkali kali berbisik menenangkan Algis. Namun tidak mengurangi kegugupan Algis, hati Algis berkecamuk tak karuan. Dia takut gugup, dia sedih, terluka.

Bagaimana mungkin tiba tiba-tiba saja dia akan menikah celakanya menikah dengan seorang pria. Ini tidak benar! Teriak Algis dalam hati ingin ia menghentikan lelucon ini namun tak bisa ia lakukan tatapan wajah ibu penuh mohon membuatnya tak berdaya selain diam mengikuti apa yang terjadi.

"Bu..Algis kemana??? Kok Bapak gak liat dari tad," bisik pak Prayitno pada Bu Ambar istrinya.

"Algis di kamar Pak..dia pusing dan mau istirahat bentar," dusta Bu Ambar.

"Mungkin kecapekan ya Bu dia banyak bantu Bapak beberapa hari ini. Sayang banget dia lewatin ijab qobul kakaknya."

Bu Ambar hanya mengaguk.

Matanya kembali menatap kearah Algis.

acara segera di mulai, Algis dan mempelai pria di sampingnya duduk menghadap penghulu. Di sisi kiri Algis, ada Bapak dan Ibunya. Begitu pula dengan mempelai pria di sisi kanannya ada kedua orang tuanya.

"Baik lah...mari kita mulai saja."

"Tu-tunggu!!!!!!!"

Pak penghulu tidak melanjutkan kata katanya. Suasana menjadi hening. Semua mata memandang kearah munculnya suara itu.

"Ada apa Nak..." Bu Ambar menoleh kearah Algis. Jantungnya dag dik duk der.

"Pak penghulu, bisa gak ijab qobulnya dilewati saja?"

Semua terkejut dengan permintaan Algis para tamu kasak kusuk mulai berbisik. Tak mengerti. Semua yang ada di ruangan itu tak ada yang mengerti..Bagaimana mungkin menikah tanpa ada ijab qobul.

Lalu sahnya dari mana??.

"Ajeng, jangan bercanda tho nak,.kamu ini kalo mu sah jadi istri orang harus ijab qobul dulu. Duh anak bapak ini bercanda ya hehe.."

pak Prayitno tertawa geli.

"Ajeng mohon pak... tolong kita lewati saja. Bisa kan kita langsung tanda tangan sah gitu," Algis masih meminta.

"Mana bisa begitu. Sudah cepat di mulai Pak penghulu," sahut calon ibu mertua.

Algis menggigit bibir bawah.

Dia mulai panik tubuhnya gemetar, telapak tangannya dingin berkeringat. Bagaimana ini tolong siapapun selamatkan Algis. Sungguh Algis tidak mau jika harus melewati proses ijab qobul.

Biar bagaimanapun dia laki laki-laki. Mana mungkin seorang pria menikah dengan pria mengucap janji dalam pernikahan yang sakral. Dia tidak mau menyalahi ketentuan dalam keyakinan yang ia anut.

"Kita lewati saja."

suara berat itu mendadak membuat Algis menoleh kesamping kearah Panji sang mempelai pria. Begitupun semua orang.

"Kalau mau acara ini berjalan dengan lancar, lewati saja. Langsung tanda tangan di atas kertas lalu sah."

Kata-katanya seperti perintah, tak ada yang berani menolak sekalipun itu kedua orang tuanya. Seperti yang Algis mau pernikahan berjalan tanpa ada sesi ijab qobul. Panji dan Algis hanya menandatangani beberapa lembar kertas. Bapak penghulu para tamu undangan sebenarnya tidak mengerti dengan yang terjadi namun buat kedua orang tua panji itu bukan masalah buat mereka panji mau dinikahkan saja sudah untung.

Meskipun pernikahan berlangsung tidak seperti yang seharusnya. Bagi mereka intinya Panji punya istri hari ini titik.

Akhirnya semua acara selesai Panji dan Algis sah menjadi sepasang suami istri anggap saja begitu.

Semua tamu undangan dipersilahkan menikmati hidangan makanan yang di sediakan. Mereka nampak menikmati hidangan, namun tak sedikit yang masih menggunjing perihal pernikahan yang mereka anggap aneh.

Esok hari pasti akan jadi viral di sosila media. Tapi apa peduli Panji dan keluarganya, orang kaya bebas.

Panji dan Algis berdiri berdampingan menerima ucapan selamat dari para tamu kerabat dan relasi bisnis panji dan keluarga.

Kedua wajah mereka tidak tampak menunjukan wajah bahagia, Algis wajahnya tak henti menunjukan rasa gelisah tidak tenang. Sedangakan Panji dia berwajah datar sesekali terseyum samar ketika para tamu menghampiri dan mengucapkan selamat atas pernikahannya.

"Selamat ya bro..." ucap Radit sahabat Panji.

Panji dan Radit mengepal kan tangan dan melakukan tos tinju. Kebiasaan yang sudah mereka lakukan sejak mereka berteman baik.

"Thanks."

"Hai kakak ipar," kini pandangan Radit beralih ke Algis. Ia hendak memeluk Algis namun batal karena panji sudah lebih dulu mendorong tubuhnya menjauh sebelum sampai memeluk Algis.

"Gak usah ambil kesempatan Lu," Panji menatap tajam kearah Radit. Yang ditatap justru tertawa geli.

"Wow....kalem man, posesif banget."

Panji memutar bola mata malas.

"Selamat kakak ipar, Aku Radit sahabat Panji. Kalo gak bahagia sama Panji, tenang ada Aku yang siap bikin kamu bahagia," kata Radit sambil mengedipkan mata penuh goda.

Panji memberi pandangan membunuh kearah Radit. Lagi-lagi Radit hanya tertawa geli.

"Baiklah..baiklah, Aku pamit, takut Panji ngabisin Aku kalo gak berhenti godain kamu."

Radit pergi menjauh sambil melambaikan tangan dengan senyum menawan yang masih menghias di bibir. Algis masih melihat kearah Radit, meskipun pria itu sudah pergi menjauh. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang tatapannya bisa menembus kepalanya jika berpeluru.

"Hmmm...tertarik??"

Gumam Panji sebelum meneguk minuman di tangan nya.

"Hah..apa??"

Panji tidak menanggapi, dia berjalan entah kemana meninggalkan Algis yang masih dalam kebingungan. Algis merasa seperti diajak bicara tapi tidak terlalu mendengar apa yang di katakan Panji.

Acara selesai, hari pun mulai malam, para tamu yang hadir sedikit demi sedikit mulai sepi hanya tinggal beberapa orang pekerja membenahi sisa-sisa acara. Setelah semua beres rumah kembali seperti semula. Tampak sepi menyisakan Bu Ambar dengan segala kegelisahanya. Wanita paruh baya itu tampak gelisah ia berjalan mondar mandir di dalam kamar. Pak Prayitno suami Bu Ambar awalnya tidak memperhatikaan sikap aneh istrinya dia sibuk membersihkan diri setelahnya siap-siap untuk istirahat, pria itu merasa lelah.

Namun ia urungkan niatnya itu ketika melihat tingkah istrinya yang begitu aneh.

"Bu, kamu itu kenapa? Ada apa kok dari tadi Bapak lihat mondar mandir kayak setrikaan?"

Bu Ambar tak menjawab pertanyaan suaminya, dia masih sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.

"Bu..kok gak jawab?" Bu Ambar menoleh kearah suaminya. Perlahan Bu Ambar mendekati suaminya lalu duduk di tepi ranjang menghadap suaminya.

Wajahnya tampak gelisah seperti ingin menceritakan sesuatu namun ragu.

"Ibu itu kenapa?"

"Anu Pak...Ibu mau cerita tapi Bapak jangan marahin Ibu ya. Sungguh...apa yang ibu lakukan ini terpaksa."

Setelah itu Bu Ambar mulai menceritakan apa yang terjadi. Mulai dari kepergian Ajeng dan ide gila menyuruh Algis anak laki lakinya untuk menggantikan kakaknya. Mendengar semua itu Pak Prayitno tentu saja terkejut dia hampir kena serengan jantung. Untung saja Bu Ambar buru-buru menenangkannya berusaha memberi pengertian pada suaminya.

"Bagaimana bisa Ibu berbuat seperti itu?kenapa tidak cerita sama Bapak tadi. Ibu tau tidak, apa yang ibu lakukan itu salah besar Bu, kita bisa dianggap menipu Nak Panji dan keluarganya."

"Ibu tau pak, tapi Ibu tadi siang tidak bisa berpikir jernih yang Ibu pikirkan bagaimana acara bisa tetap berlangsung dulu. Ibu gak bisa bayangkan kalau para tamu dan keluarga besan tahu anak kita Ajeng kabur tidak mau menikah," jelas Bu Ambar panjang lebar.

"Sekarang bantu Ibu buat bicara pada Nak Panji, menjelaskan semua ini pak. Sebelum nak Panji jantungan di kamar atas."

"Hah..jantungan??? " Pak Prayitno terlihat berpikir sejenak mencerna kata kata istrinya.

"Iya, ih Bapak..emang Bapak dulu waktu menikah sama Ibu bisa menunggu sampai esok hari buat melakukan itu?" Wajah Pak prayitno nampak terkejut ketika ia mengerti apa maksud istrinya.

"Ayokk Bu, kita ke kamar atas, akan jadi apa anak kita Bu.."

kedua orang itu bergegas keluar kamar.

bersambung....

Next chapter