3 Bab 2 Menyelamatkan Bangsawan

Kami berdua berjalan ke arah padang rumput yang luas. Rute ini bisa dibilang cukup aman karena tidak ada sudut mati dan kemungkinan untuk terkepung lumayan kecil. Namun bisa saja ada monster yang memiliki kemampuan kamuflasi, kami tetap harus berhati-hati.

*3 jam kemudian*

Setelah waktu memasuki sore hari, aku meminta Shiro untuk mencari tempat untuk menghabiskan waktu malam ini. karena kita tidak tahu berapa jauh jarak ke kota. sepertinya kami sudah berjalan cukup jauh dan sudah menemukan jalan yang seperti nya digunakan oleh manusia menggunakan gerobak dan langkah kaki kuda.

"Apakah kamu mendengar suara air Shiro?"

"nya. tuan. Lewat sini."

Aku mengikuti Shiro yang berlari dengan semangat. 5 menit kemudian kami menemukan sungai yang airnya jernih, tidak ada sampah plastik dan bau busuk tercium dari sungai ini. Melihat air tersebut aku dengan lahapnya minum air langsung dari sungai. Ini pengalaman yang berharga dan sangat menyegarkan. Tiba-tiba aku mendengar teriakan.

"Haaa, pergi kalian monster sialan "

Mendengar teriakan itu, tanpa pikir panjang aku dan Shiro pergi menuju sumber suara. Ketika sampai di tujuan kami melihat sekumpulan monster mengepung manusia yang melindungi sebuah Kereta yang dihiasi oleh ornamen yang indah dengan kuda untuk menariknya. Monster tersebut memiliki kulit berwarna hujan dan memiliki tinggi seperti anak-anak. Mungkin ia memiliki nama goblin, coba aku pakai "Investigator."

"Investigate"

#goblin#

Lv 5

#goblin#

Lv 7

..

...

..

Rata-rata goblin tersebut memiliki lv 5, sepertinya aku dan Shiro tidak bisa mengalahkan mereka secara langsung. Aku memberikan aba-aba kepada Shiro untuk mengepung mereka dari belakang. Kami memutari gerbong dan ketika punggung goblin sudah berada di depan mata aku dan Shiro mengeluarkan skill bersama-sama.

"Neko Punch"

Aku mengenai kepala goblin dan ia langsung jatuh seketika, Shiro mengenai bagian punggung goblin namun badanya menjadi bolong. 'f*ck kucingku op,' teriak suara di hatiku. Setelah mengetahui 2 kawanya jatuh, semua goblin langsung marah dan pergi ke arah kami.

"Shiro, kita bagi setengah-setengah. Hai prajurit patung yang di sana!!!. Bantu kami membasmi monster ini."

Para prajurit yang memakai armor gagah mulai sadar ketika mendengar suaraku dan mulai menyerang goblin. Pertarungan selesai dengan mudah karena goblin terkena serangan dadakan dari aku dan Shiro. Setelah 10 menit berlalu semua goblin telah mati dan aku mendengar suara di kepalaku.

#goblinx8 telah mati#

#Shiro mendapatkan exp#

#Raay mendapatkan exp#

#mendapatkan drop item, namun karena user belum memiliki inventory, untuk saat ini item tidak dapat diambil#

"sepertinya semua goblin sudah mati"

setelah mengecek apakah masih terdapat goblin lainnya, aku menghela nafas.

"kerja yang bagus, nya."

"kerja yang bagus juga Shiro"

"nyaaaaaa"

Setelah memuji Shiro aku mendekati para prajurit untuk mengecek keadaan mereka.

"Kalian tidak apa-apa?" mendengar pertanyaanku semua prajurit menoleh dan saling lirik satu sama lain. Kemudian prajurit yang berada di tengah berdiri dan menyapaku.

"Kami sebagai pengawal dari Duke Henri mengucapkan terima kasih atas bantuan anda." Mendengar ucapan terima kasih yang formal itu membuatku merinding.

"Tidak perlu berterima kasih, kami hanya numpang lewat dan kebetulan menolong kalian. Ngomong-ngomong kereta ini akan pergi ke kota mana?"

"Rombongan kami akan kembali ke kota Oslo, kota wilayah Duke Henri. Kami baru saja pulang dari ibukota Monaco, Vienna. Tugas kami adalah mengawal Putri Caroline dari ibukota kembali ke Oslo."

Mendengar hal itu aku langsung menanyakan apakah serangan dari monster ini sering terjadi, namun mereka bilang memang monster sering menyerang namun biasanya tidak dalam jumlah banyak seperti ini dan tidak memiliki koordinasi ketika menyergap mangsa mereka.

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan hal ini terjadi, namun daripada memikirkan hal yang tidak jelas lebih baik aku pergi ke kota Oslo dulu saja. Semoga di sana aku bisa mencari pekerjaan.

"Bolehkah aku ikut dengan kalian ke Oslo? Aku baru datang ke negara ini jadi masih belum tahu arah kanan dan kiri." Para ksatria senyum dan membolehkan aku bersama Shiro untuk pergi bersama mereka ke Oslo.

"Lucas, suruh penyelamatku masuk ke kereta. Tidak mungkin aku membiarkan orang menyelamatkan nyawaku jalan sampai ke Oslo." Mendengar suara wanita dari kereta tersebut aku kaget karena suaranya merdu sekali seperti Raisa, hanya dengar bicaranya saja sudah membuat hati adem.

"Tapi putri, kita tidak boleh membiarkan orang asing naik di kereta yang sama dengan putri."

"Aku tidak masalah dengan itu, lagipula di dalam kereta aku tetap dijaga oleh Jasmine." Lucas dengan terpaksa menuntunku hingga masuk ke dalam kereta. Ketika masuk aku melihat 2 gadis duduk di sisi yang sama dan aku duduk di hadapan mereka dengan Shiro di pangkuanku.

"Salam kenal. Mohon maaf karena aku tidak bisa memperkenalkan diriku secara formal di kereta, namaku Caroline Henri. Putri pertama Duke Henri dan saat ini masih belum memiliki pasangan apalagi tunangan."

"Namaku Raay, aku hanya petualangan biasa yang ingin pergi mengelilingi dunia ini dan ini Kucingku Shiro." Walaupun aku sempat bingung dengan pernyataan bahwa sang putri ini Jomblo, aku tetap tersenyum dan memperkenalkan Shiro kepadanya.

"Nyaaa" Shiro tidak bisa berbicara selain denganku dan hanya bisa menyapa Caroline dengan mengeong. "Hewan yang lucu, boleh aku menyentuhnya ?" Aku mempersilahkan Caroline untuk menyentuh Shiro dan untungnya dia tidak keberatan. Bisa repot nanti kalau putri dari kalangan bangsawan di cakar kucing.

"nyaaa..." Setelah beberapa menit Caroline mengusap kepala Shiro, ia tersenyum dan kembali berbicara kepadaku. "Tuan Raay kenapa ingin pergi ke Oslo ? apakah tuan memiliki maksud tertentu untuk masuk ke kota wilayah ayah? " Walaupun ia tersenyum aku merasakan dia menaruh kecurigaan terhadapku, sepertinya banyak juga yang mengincar Duke Henri sehingga putrinya juga harus berhati-hati terhadap ancaman yang muncul.

"Aku menuju Oslo hanya kebetulan saja, aku datang dari tempat yang jauh dan tidak tahu apapun di negara ini. Karena yang terdekat saat ini adalah kota Oslo dan saya memiliki rekan perjalanan, saya memutuskan untuk pergi ke kota tersebut." Aku berusaha meyakinkan tuan putri dengan jawabanku agar tidak ada kecurigaan yang muncul di masa depan.

"Benarkah? kamu tidak punya tujuan tertentu pergi ke kota Oslo? " Interogasi Caroline dengan raut wajahnya yang cantik dengan rambut pirang yang indah dan panjang itu membuatku gugup. Namun saya memang tidak ada niatan tersembunyi untuk pergi ke kota Oslo dan sepertinya Caroline mulai sedikit percaya dengan jawabanku, semoga tidak ada kesalahpahaman yang terjadi kepada kita.

"Apa yang akan tuan Raay lakukan ketika sampai di kota Oslo? " Jasmine merupakan maid pribadi dari Caroline melanjutkan pembicaraan. Jasmine memiliki rambut pirang berbeda dengan tuanya. Namun Jasmine memilki paras yang tidak kalah cantik dengan Caroline. Jika Jasmine tidak menggunakan seragam maid sepertinya akan banyak orang yang mengira ia bangsawan juga.

Aku menjelaskan bahwa aku ingin mencari pekerjaan ketika sampai di Oslo. Setelah stabil secara finansial aku berencana akan pergi mengelilingi negara lain, kalau bisa sebagai petualang. Mendengar informasi dari mereka berdua sepertinya di dunia ini petualangan merupakan pekerjaan umum yang dilakukan oleh orang yang memiliki ketarampilan bertarung dan sering gonta-ganti tempat tinggal.

Petualang memiliki banyak jenis pekerjaan yang disebut "Quest", quest sendiri dibagi ke bebepa ranking dan petualang dengan ranking kecil tidak bisa mengambil quest untuk ranking tinggi namun untuk kebalikannya boleh. Karena aku memiliki sistem dari dewi sepertinya petualang ini cocok untuk aku lakukan, dan aku akan semakin bertambah kuat seiring dengan monster yang kubunuh. Sistem "level" dan "status" sepertinya hal yang umum di kota ini, namun konsep "Exp" tidak terdengar di telinga mereka.

Hal ini mungkin disebabkan oleh alat perekam level yang tidak mendeteksi berapa pengalaman yang dibutuhkan untuk seseorang naik ke level selanjutnya. Beberapa ada yang menggap perkembangan level ditentukan oleh bakat dan tidak bisa diubah dari lahir, dan ada yang menyangkal teori tersebut namun belum ada bukti nyata kenapa beberapa orang memiliki waktu naik level yang berbeda.

Aku tidak mengungkapkan teori exp karena khawatir akan muncul kecurigaan dimana aku mengetahui informasi ini. Lebih baik aku diam saja dan tidak secara gegabah menerapkan ilmu dari bumi modern untuk tinggal di dunia ini.

Perjalanan ke Oslo kami tempuh dalam waktu 12 jam. Sepertinya dunia ini memiliki waktu yang sama dengan bumi. Perhitungan dan ilmu dasar lainnya juga sama dengan bumi mulai dari abjad hingga angka. Mungkin saja tulisan dan bahasa dunia ini mendapatkan penerjemahan otomatis. Sehingga setiap terminologi dalam dunia ini mendapatkan terjemahan sama dengan yang ada di bumi.

Caroline sedang dalam perjalanan pulang dari pesta akhir tahun yang selalu dirayakan saat awal tahun. Untuk menghindari kerumunan, biasanya para bangsawan baru pulang setelah H-5 perayaan. Saat dalam perjalanan pulang mereka diserang oleh goblin, pada moment itulah aku dan Shiro datang menyelamatkan mereka.

"Lihat, gerbangnya sudah terlihat"

"wow"

Aku dan Shiro melihat sebuah kota yang dikelilingi oleh benteng. Sepertinya desain ini untuk melindungi kota jika terjadi serangan monster. Untuk melewati gerbang, setiap orang mendapatkan pemeriksaan dan harus mengantri. Namun karena Caroline adalah bangsawan, Ia mendapatkan perlakuan khusus. Setelah selesai mengurus dokumen, aku dan Shiro akhirnya sampai ke kota Oslo.

Petualangan baru kami dimulai.