4 Menikah dengan Vico

"Clareta, senyum!" desis Harris ketika melihat wajah sembab putrinya. "Jangan mempermalukan ayah di depan keluarga Vico."

Clareta menghirup udara banyak-banyak sebelum akhirnya memasang senyum palsu di wajahnya yang cantik.

Mervia menyambut kedatangan keluarga calon pengantin laki-laki dengan sebaik mungkin meskipun dia serasa ingin ikut menangis saat melihat lara hati yang tengah dialami Clareta.

Acara lamaran pada malam itu berlangsung dengan sangat khidmat dan tenang, kedua belah pihak sepakat untuk menjodohkan putra putri mereka dengan hati gempira, setidaknya bagi Harris dan keluarga besar Vico.

Namun, tidak untuk Clareta dan Mervia yang keduanya sama-sama memasang senyum palsu sedangkan dalam hati mereka menangis tersedu.

Selesai acara lamaran, Clareta menjadi orang yang pertama kali meninggalkan ruang pertemuan.

"Anak itu ..." geram Harris yang harus menahan malu di depan anggota keluarga Vico.

"Maaf, anak kami sedang tidak enak badan." Mervia menengahi sambil pamit mohon diri untuk menyusul Clareta yang sudah lebih dulu pergi.

"Clareta?" panggil Mervia sambil mengetuk pintu kamar putri tunggalnya. "Kamu baik-baik saja, Sayang?"

Tanpa dijawab pun, Mervia tentu saja sudah tahu apa yang sedang dirasakan anaknya sekarang.

Tanpa bersuara sepatah katapun, Mervia memasuki kamar Clareta.

Seperti dugaannya, putrinya tercinta sedang berbaring telungkup di atas tempat tidurnya sambil menangis sesenggukan.

"Sayang ..." Mervia mengulurkan tangan dan membangunkan tubuh Clareta.

"Ibu!" tangis Clareta semakin kencang saat dia berbalik dan melihat Mervia sudah berada di dekatnya. "Aku benci sama ayah! Aku benci!"

Mervia membelai punggung Clareta dengan menahan kesedihan yang tak terperi.

"Kamu dan ibu tidak pernah punya pilihan di depan ayah kamu," katanya miris. Tidak ada gunanya kamu melawan kehendaknya, Clareta. Tapi jauh di atas semua itu, ayah kamu sangat menyayangi kamu karena kamu anak satu-satunya."

Clareta masih menangis sesenggukan.

"Justru seharusnya aku dimengerti sama ayah, Bu!" katanya di antara sedu sedan yang dia keluarkan. "Aku sudah dewasa, seharusnya aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri termasuk memilih pasangan ..."

Mervia hanya bisa mengusap-usap kepala Clareta tanpa mengatakan apa pun karena dia sendiri juga tidak mampu untuk melawan kehendak suaminya.

Dan malam itu Harris tetap bisa tertawa bahagia di atas tangisan putri semata wayangnya yang saat ini tengah meratapi nasib cintanya yang tidak pernah direstui.

Saat hari pernikahan tiba, Clareta seakan sudah tidak lagi memiliki semangat hidup untuk bertahan. Namun, dia juga sudah telanjur putus asa karena Daniel tidak kunjung bisa dihubungi sampai sekarang.

"Rey, apa kamu nggak bisa bantu aku buat melarikan diri?" tanya Clareta dengan wajah nyaris sama seperti zombie. "Aku nggak mau menikah sama Vico ..."

Reyfa tersenyum tidak enak sambil memandang Clareta yang terus menerus memohon kepadanya.

"Maaf Nona, tapi saya tidak mungkin membantu Anda melarikan diri." Dia berkata sedih. "Tuan Harris bisa memecat saya ..."

Clareta merasa tak berdaya menghadapi situasi semacam ini, dia terus memaksa otaknya untuk berpikir mencari jalan keluar atas peliknya permasalahan ini.

"Bagaimana kalau kamu yang ... menggantikan aku untuk menjadi pengantin wanitanya?" tanya Clareta menawarkan alternatif yang lain. "Kamu mau kan, Rey?"

"Nona, ini bukan ide yang bagus." Reyfa menggeleng. "Membantu Anda melarikan diri saja sudah pasti saya akan dihukum berat sama Tuan Harris, apalagi kalau saya sampai menggantikan Anda untuk menjadi pengantin wanita ... saya bisa dituntut."

Clareta menghela napas panjang.

"Tanggal pernikahan tinggal hitungan hari, sebaiknya Anda harus banyak-banyak istirahat agar tubuh Anda fit." Reyfa menyarankan sambil membawa nampan berisi piring yang isinya masih separo. Setelah itu dia berlalu pergi dan tak lupa mengunci rapat pintu kamar Clareta atas instruksi Harris.

Mervia sebenarnya sudah mengingatkan suaminya untuk tidak mengurung Clareta seperti itu karena anak mereka bukanlah tahanan, tapi tentu saja Harris tidak mengindahkannya sedikitpun.

"Kamu tidak mau kan kalau Clareta sampai mencoreng kehormatan kita dengan melarikan diri saat hari pernikahannya tiba?" ujar Harris tajam sembari memandang Mervia.

"Keterlaluan kamu, Harris. Anak kita bukanlah tahanan," hujat Mervia sakit hati.

"Terserah," sahut Harris pendek.

Beberapa jam sebelum pernikahan dilangsungkan, tim juru rias harus bekerja ekstra keras saat mendandani Clareta karena wajahnya yang sembab dan matanya bengkak luar biasa.

"Sayang, jangan seperti ini ..." bujuk Mervia sembari mengulurkan segelas susu dan selembar roti kepada Clareta. "Setidaknya kamu harus fit, jangan sampai kamu jatuh sakit saat Vico mengucapkan janji sucinya."

Clareta diam saja, justru itulah yang dia inginkan. Jika dia jatuh pingsan, maka kemungkinan besar pernikahannya akan ditunda sementara sampai dia sehat kembali.

Saat itulah Clareta bisa melacak keberadaan Daniel, kalau perlu memaksanya untuk segera menikahinya lebih dulu sebelum Vico.

Namun, sayangnya harapan Clareta tidak dapat terealisasikan. Selemas-lemasnya dia, tubuhnya ternyata masih kuat untuk menjalani prosesi pernikahan yang seharusnya sakral dan membahagiakannya.

Namun, situasi berbanding terbalik dengan harapan. Air mata Clareta menitik di pipinya yang merona merah jambu tanpa bisa dia tahan lagi, tepat ketika Vico mengucapkan ikrar janji suci pernikahannya dengan lantang di hadapan para tamu kehormatan.

"Akhirnya selesai juga," ucap Harris lega ketika pesta pernikahan anaknya yang begitu megah telah terlaksana dengan lancar dan tanpa halangan suatu apa pun.

"Aku mau menemui Clareta untuk memberinya semangat," sahut Mervia dingin.

Namun, Harris segera menarik tangannya saat dia melangkah pergi.

"Jangan ganggu Clareta dulu," katanya sambil menggelengkan kepala. "Kita sudah pernah menikah kan, apa menurut kamu Clareta dan Vico bersedia menerima tamu?"

Mervia tidak menjawab, tetapi lagi-lagi dia tidak bisa membantah ucapan Harris sedikitpun.

Sementara itu Clareta dan Vico kini tengah menghuni kamar pengantin yang sudah disiapkan dengan sangat istimewa di kediaman Harris.

"Kamu bahagia akhirnya kita resmi?" tanya Vico sambil tersenyum lebar.

Clareta tidak mengangguk dan juga tidak menggeleng. Meskipun riasan wajahnya begitu nyaris sempurna, tapi gesturnya terlihat seperti robot yang tak bernyawa.

"Kamu harus ganti baju," kata Vico sambil mendekat ke arah Clareta. Tanpa rasa canggung sedikitpun dia mengulurkan tangannya untuk menarik ritsleting di gaun yang menutupi punggung Clareta.

Sebenarnya saat itu Clareta belum siap untuk mempertontonkan kemolekan fisiknya kepada Vico meskipun statusnya dia sudah menjadi istrinya yang sah di mata hukum.

"Kita tidur saja, ya?" ucap Clareta dengan suara pelan. "Aku harus ganti baju dan membersihkan wajahku dulu."

"Oke," sahut Vico sambil menarik kembali tangannya dan memberikan Clareta kesempatan untuk membersihkan diri.

Sementara istrinya berada di kamar mandi, Vico melepas jas pengantinnya dan menaruhnya di atas sofa. Setelah itu dia berbaring di tempat tidurnya sembari menunggu kedatangan Clareta dengan penuh gairah.

Tidak berapa lama kemudian, Clareta muncul dengan piyama standar yang jauh dari kata istimewa. Demikian juga dengan wajah aslinya yang telah luntur dari riasan kosmetik yang awalnya sempurna.

Kini, yang terlihat di hadapan Vico adalah wanita berwajah zombie.

Bersambung –

Next chapter