1 Bukan Bocah Biasa

"Dia kabur!"

Terdengar suara laki-laki memekik, sementara Alexey membutuhkan beberapa detik sebelum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Saat dia berdiri, Nadean sudah berhasil menerobos beberapa orang yang kebetulan lewat.

"Kakak nggak tahu diuntung," caci Alexey. "Tunggu sampai aku sendiri yang akan menjamahmu, Nad!"

Nadean bertekat akan terus berlari selama dia mampu, tidak peduli di mana pintu keluarnya, yang penting dia harus terus menciptakan jarak aman antara dirinya dengan teman-teman adiknya yang berengsek.

Sampai akhirnya, Nadean terlambat mengerem larinya sehingga tabrakan di depannya tidak bisa dia hindari lagi.

Nadean dan orang yang ditabraknya sama-sama terjatuh, selama sepersekian detik mereka saling menatap dalam pandangan yang hanya mereka sendiri yang mengerti. Hingga akhirnya seseorang membantu Nadean bangun dari posisinya.

"Maaf sekali!" Nadean menangkupkan tangannya dengan sangat menyesal kemudian segera berlari pergi meninggalkan mereka berdua. Dia berpikir bahwa Alexey pasti akan mengejarnya karena dia tiba-tiba kabur meninggalkan teman-temannya tadi.

Nadean menghentikan larinya dalam jarak yang menurutnya sudah cukup aman. Dia harus bersandar pada tembok di lobi hotel, karena kepalanya yang mulai berdenyut-denyut tidak nyaman.

"Nona, apa kamu baik-baik saja?" Sebuah suara laki-laki menegur Nadean.

"Aku ..." Nadean tidak sanggup meneruskan kalimatnya, saat kegelapan pekat menyergapnya dari segala penjuru.

***

Nadean menggeliat ketika merasakan seseorang mengendus leher jenjangnya yang mulus. Dia membuka matanya pelan-pelan dan membiarkan sebias cahaya memasuki area pandangannya yang terasa berat.

"Kamu sudah sadar?" Seorang cowok bersuara berat dan terdengar seksi menyentuh gendang telinga Nadean, membuatnya harus bersusah payah bangun dari posisinya semula.

Sebaliknya, laki-laki muda yang kini bersama Nadean menyaksikan momen itu dengan takjub, seolah sedang mengamati sekuntum bunga indah yang bermekaran di pagi hari dengan tetesan embun yang membuatnya berkilau.

Nadean benar-benar telah menyihir kedua matanya.

"Kamu bidadari." Cowok itu mengulurkan tangan dan menghadapkan wajah Nadean agar bisa memandangnya lebih jelas.

"Aku bukan ..." Kali ini Nadean yang dibuat takjub dengan sosok remaja yang ada di depannya ini. Pahatan sempurna jelas terpampang di wajahnya yang bersih dari rambut hitamnya yang tersibak ke belakang, menampakkan alis, mata dan hidung yang nyaris sempurna tanpa ada cela.

"Kamu siapa?" tanya Nadean seraya memandang ciptaan paling indah yang pernah dia lihat. "Aku cuma mau menghabiskan malamku dengan orang yang akan jadi calon suamiku, bukan bocah seperti kamu."

Kalimat Nadean seakan menantang sisi maskulin cowok muda tampan itu. Dia belum pernah diragukan sebelumnya oleh cewek manapun, bahkan banyak dari murid wanita di sekolahnya yang rela mengantre lama demi bisa berkencan dengannya.

Tapi Nadean, cewek nyaris teler yang masih polos ini berani mengatainya bocah dan dia siap untuk membuatnya menyesal.

"Aku bukan bocah biasa," bisik cowok itu akhirnya.

"Aku nggak yakin." Nadean terkikik. "Memangnya apa yang bisa kamu lakukan hingga kamu merasa menjadi bocah istimewa buatku?"

"Aku bisa lakukan apa saja, termasuk membuatmu mengingatku selamanya." Dengan lembut, remaja itu mengecup bibir tipis merah Nadean dan bodohnya, Nadean hanya diam saja.

Remaja bertubuh proporsional itu tertawa melihat Nadean menerima ciumannya tanpa sedikitpun beusaha menolak.

"Kamu ..." Nadean menyentuh bibirnya sendiri dengan tangan.

"Kenapa? Bukankah aku sudah bilang kalau aku bukan bocah biasa?" tanya laki-laki itu dengan antusias. Perlahan Nadean menggelengkan kepalanya.

"Aku nggak pernah berciuman sama sembarang orang," ucap Nadean jujur.

"Benarkah? Jadi aku orang pertama bagimu?" Si tampan berucap bangga. "Aku masih punya keistimewaan yang lainnya."

Nadean mengerjabkan mata seraya berdiri.

"Maaf saja, aku nggak yakin kamu bisa memberiku lebih banyak pelajaran untuk kukenang," katanya sambil menyibakkan rambut panjangnya yang tergerai seperti tirai.

Kepercayaan diri Nadean membuat cowok itu tersenyum penuh arti. Otaknya terus memikirkan cara jitu untuk bisa mengembalikan perkataan Nadean kepadanya tadi.

"Kamu sendiri kelihatannya nggak cukup istimewa untuk membuatku terpesona," komentarnya.

"Aku nggak butuh apa pun untuk bisa membuatmu bertekuk lutut padaku," balas Nadean dengan manis. "Oh ya ... kamu tahu pintu keluarnya?"

Nadean memegangi kepalanya yang mulai berdenyut lagi.

"Kamu harus memberiku bayaran setimpal sebelum pergi dari sini." Laki-laki itu menarik Nadean hingga merapat padanya. "Sekalian kita lihat, siapa yang lebih istimewa di antara kita?"

Secercah tawa lolos dari bibir tipis Nadean.

"Bocah seperti kamu ..." tunjuk Nadean. "Aku tahu kamu lumayan tampan, tapi ... aku tetap ragu ...."

Nadean menusukkan jarinya ke dada remaja itu dengan senyum menggoda.

"Kamu mampu menunjukkan keistimewaan itu kepadaku," sambung Nadean.

Cowok itu melepas tangannya dan melucuti pakaiannya sendiri. Di depan mata Nadean, dia membuka kancing kemejanya satu per satu dengan serabutan. Seperti guru yang sedang mengajari muridnya, Nadean mengulurkan tangan dan menunjukkan cara melepas kancing dengan benar.

Untuk sejenak Nadean terpukau saat melihat pemandangan yang terpampang nyata tanpa sedikitpun benang yang menghalanginya. Cowok itu memiliki lekukan bahu yang lebar, dada rata yang membusung dan otot kencang yang terpahat sungguhan dengan nyaris sempurna di bagian perutnya.

Sepasang lengan itu dengan sangat hati-hati menawan tubuh mungil Nadean yang memanas karena rasa panik, takut, dan gairah yang berbaur menjadi satu. Rambut lurus Nadean lebih dulu rebah menutupi sebagian permukaan seprai yang terbuat dari kain katun berkualitas tinggi.

Nadean merasa sekujur tubuhnya tersiram air panas ketika kulitnya lebur jadi satu, dia rapatkan kakinya untuk menutup jalan masuk bagi pengelana yang datang tanpa diundang. Namun, belaian lembut membuat sensasi menggelenyar itu membuka jalannya lagi.

Tanpa sadar Nadean mengangguk sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

Dan di luar kemauannya, Nadean tanpa malu-malu menyambut setiap serangan yang datang bertubi-tubi menggempurnya. Hingga cowok yang menguasainya itu menjadi semakin ingin memperlihatkan kehebatannya pada Nadean, tidak peduli seberapa egois caranya itu, malam ini dia harus membuat cewek itu menelan mentah-mentah ucapannya sendiri.

Waktu seolah melambat, mereka berdua sudah saling serang dan ingin sama-sama saling membuktikan, lebih tepatnya mereka ingin dinyatakan sebagai pemenang sejati malam itu.

Keesokan paginya Nadean terbangun dengan sekujur tubuhnya yang terasa lelah dan penat. Dia menyibakkan selimutnya dan terpaku saat mendapati pakaiannya koyak di banyak tempat.

Ketika Nadean menoleh, seorang remaja laki-laki sedang tertidur pulas dengan posisi wajahnya miring di atas bantal. Dadanya naik turun seiring napasnya yang teratur tanpa suara, seperti seorang bayi yang baru saja lahir ke dunia.

Nadean beringsut turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati dan sebisa mungkin tidak menimbulkan bunyi apa pun yang bisa membangunkan cowok itu. Dia menilik kondisi kamar yang kacau dan melihat beberapa potong pakaian yang berserakan. Nadean memungut kemeja dan celana itu untuk menutupi pakaiannya yang sudah compang-camping.

Bersambung –

Next chapter