1 PROLOG

Sore itu, seorang perempuan sedang duduk dengan wajah termenung. Dia kepikiran terus sepanjang hari. Bagaimana tidak kepikiran? Ibunya ingin ia segera menikah, karena usia ibunya yang makin menua.

Ibunya pernah bilang...

"Kau harus segera menikah, anakku... Ibu sudah tua, sudah tak bisa menjagamu untuk selamanya. Lagipula, usiamu itu sudah matang untuk menikah." Ucap Ibu dengan nada yang tak lagi berdaya. Sementara anaknya? Tentu lebih tak berdaya lagi. Ya, anak itu sangat tak mudah bergaul, apalagi dengan lawan jenis.

bukan hal aneh jika sampai saat ini Senja, anak dari ibu itu, belum menikah hingga kini, lantaran memang dia yang suka menjauhi laki laki.

"Tapi, bu, jika aku menikah, lantas dengan siapa? Dengan siapa juga ibu tinggal? Aku tak pernah dekat dengan laki laki mana pun, mana bisa aku menerima nya aku belum siap, bu! Huhu hiks hiks..." Rengek nya layaknya bayi yang harus berpisah dengan botol susu kesayangan nya.

"Hey, kau itu sudah besar, kau bukan anak kecil lagi. Ibu juga tak bisa lebih lama lagi menjagamu. Pokoknya kau harus menikah. Dan ibu sudah siapkan kejutan untukmu nanti." Ibu memeluk anaknya dengan perasaan ceria agar menular ke anaknya. Namun tetap saja Senja diselimuti rasa sedih.

"Aku mau ke kamar dulu, bu." pamitnya lalu pergi dan melepas pelukan ibunya dengan sedikit kasar namun tidak marah sedikitpun. Justru dia sedih akan ini semua, dan lebih memilih diam. Oops, sayangnya ibu mengira anaknya, Senja, sedang marah padanya.

Senja masih terngiang dengan kata kata ibunya itu. Baginya, mendadak sekali? Kenapa bisa se mendadak ini?

Namun sudahlah, tak ada gunanya memikirkannya, kan? Toh, tak ada lagi yang perlu ditakutkan selama ibunya masih hidup, dan tak mendesaknya untuk segera menikah.

Senja, si gadis yang hari harinya selalu ceria, kini keceriaan nya mendadak suram. Bagaimana tidak? Ini kenyataan pahit yang membuat separuh hidupnya akan buram. Saat ini dia tinggal di Islandia dimana dijuluki sebagai surganya dunia ini. Dulu, Senja pertama kali ingat dia tinggal di Indonesia. Tapi kata ibunya, dia lahir di Irlandia. Sementara ibunya juga dari sana, dan ayahnya tinggal di Islandia dan kini dia sudah meninggal dunia. Untuk mengenang sosok ayahnya, mereka hingga sekarang dan untuk selamanya akan tinggal di kota XX ini. Kota kelahiran ayahnya hingga akhir hayatnya.

Sebelumnya, waktu TK, Senja bersekolah di Indonesia, namun saat SD dia pindah karena banyak murid yang berbicara kasar sekaligus saling mem bully sesama dengan kata kasar. Dia akhirnya pindah ke Tokyo dimana nomor 2 setelah London, Inggris. Namun, tak ia sangka di Jepang jauh lebih buruk dari di Indonesia. Ayahnya lalu lagi lagi memindahkannya ke negeri kelahiran nya. Ayahnya merupakan pemilik Artahta Group, dimana setelah kematiannya ternyata bayang dililit hutang hingga membuat mereka menetap di Islandia, apalagi memang perusahaan nya yang sudah disita semua aset nya. Sejak itulah, Senja bekerja demi menghidupi keluarga nya yang hanya berupa ibunya. Dia bekerja dengan temannya Nita yang merupakan orang kaya dari Indonesia namun menyamar di Islandia. Usia mereka berdua juga sama, yakni Dua puluh tiga tahun.

Senja yang sudah merasa bosan menatap langit langit, lalu mengambil ponselnya dan menelpon Nita. Iya benar saja dia bosan berpikir menatap langit selama tiga jam.

"Halo, Nita, aku mau mencurahkan isi hati hari ini. Boleh, kan?" Tanya Senja dengan nada yang mulai sesak. Belum apa apa sudah sesak.

"Aku tahu kok, kau akan menikah kan? " Senja membulatkan matanya meski lewat hp sekalipun. Bagaimana sahabatnya itu tahu?

Apa ada yang memberitahunya. Senja tak jadi sedih, air matanya menyangkut diantara bulu mata nya.

"Ka— Kau tahu dari mana, Nita?" Tanya Senja dengan segala ketidak percayaan nya.

Mustahil bukan jika ibunya baru saja bilang padanya kalau dia akan menikah, dan beritanya sudah menyebar. Lagipula siapa dia? Cepat sekali dia Viral? Memangnya dia siapa kalau bukan mantan orang kaya?

"Aku? Tentu saja, aku tak bisa memberi tahu! Kau akan tahu sendiri, kok!" Ucap Nita seperti dengan nada yang ketakutan. Benar saja dugaan Senja, Nita mematikan telponnya. Ada apa sebenarnya? membingungkan! Batin Senja.

Senja sampai sekarang masih saja memikirkan apa yang dimaksud sahabatnya. Sudah hampir setengah jam dia berpikir, sampai dia tak sadar kalau dia sudah duduk termenung disini Berjam jam.

"Astaga, sudah berapa lama aku melamun begini? Haduh, bodoh sekali aku. Bagaimana aku bisa jadi istri yang baik? Eh tunggu, kenapa aku berkata seperti itu?" Senja bingung sendiri dengan pernyataan yang baru saja ia lontarkan. Tidak nyambung, mungkin karena dia bengong selama tiga jam. Yakni jam satu hingga jam 4 sore waktu setempat.

"Ah, kenapa pikiranku bisa se kacau ini, sih? Tadi pagi aku bekerja dan masih konsentrasi, lalu sekarang aku bengong seperti orang gila. Sebenarnya aku ini kenapa?" Tanya Senja dengan mengacak rambutnya. Dia tak tahu kenapa, tapi pikirannya tak pernah se kacau ini sebelumnya. Apa karena apa yang ibunya bilang tadi dan membuatnya kepikiran hingga sekarang?

Huh... Senja menghembuskan nafas berat nan kasar. Dia merasa tidak senang sekali hari ini. Bagaimana tidak? Hari ini bukan hari biasa melainkan hari yang memukul hatinya sampai ke dasar jurang.

Senja ingin menangis, mencurahkan semua isi kepalanya saat ini, dimana pikirannya yang sangat kacau ini! Tapi dengan siapa? Satu satunya teman curhat dan teman terbaiknya ya satu, Nita, yang bahkan kini bukan lagi teman curhat untuk masalah ini.

'Hiks, Nita, kamu bahkan tidak mengerti aku hari ini. Lalu aku harus mencurahkan hati ini dengan siapa? Aku tidak bisa jika begini terus, Nita! Eh, bodohnya aku. Kenapa aku bertanya pada Nita yang bahkan tak tahu kesedihan ku hari ini? Huh... aku terlalu bodoh dan terlalu pasrah akan hal ini! Lantas, sekarang dengan siapa hati ini akan ber curhat? Sepertinya ini hanya aku dan kau, Tuhan'. Gumam Senja yang menghembuskan kebahagiannya menggantikannya dengan rasa sedih. Entah, hari ini dia tak bisa melepas kesedihan yang ada walaupun ingin sekali ia tak memikirkan perasaan ini. Mungkin, perasaan ini akan terus datang selama dia belum menikah. Dia seketika merinding dengan kehidupannya dihari esok. Bagaimana jadinya ini?

Terlalu pasrah, Senja sampai lelah badannya padahal dia tak melakukan apa apa. Cuma pagi hari tadi dia pergi bekerja, itupun hingga jam sembilan saja. Setelah dia pulang, sekitar satu jam perjalanan, tepatnya jam sepuluh, ibunya menyambutnya lalu membuat Senja kaku hingga detik ini, yakni mengatakan pernikahan.

Setelah itu Senja hanya dikamar, namun kenapa dia bisa sampai se lelah ini?

Apakah karena dari tadi air matanya mengalir hingga matanya sembab, lalu dia kepikiran hingga membuatnya lelah?

'Aduh, aku kebanyakan menangis dan kepikiran. Aku jadi lelah. Ah, sudahlah, lebih baik aku mandi. Kenapa juga aku harus peduli. Aku tahu sehabis mandi langsung menghilangkan rasa stres ku.' Ucap Senja dengan yakin yakin, lalu masuk ke kamar mandi dengan baju gantinya.

Seusai mandi, dia masih merasa stres, hari ini keramas malah membuat keadaan nya memburuk. Dia lalu mendengus kesal. Apa yang bisa membuatnya tenang dalam kejadian barusan ini? Dia malah semakin kepikiran hingga menghantuinya, mengakibatkan nya semakin pusing kepalanya.

Tok tok tok...

Tiba tiba ada orang mengetuk pintu. "Siapa sih, yang datang?" Tanya Senja pada dirinya sendiri. Dia lalu membuka pintu kamar nya lalu terkejut, membulatkan matanya. Ini, Ini, ini tidak salah lihat kan? Tanya Senja dalam dirinya.

Siapa tamu itu?

~~~~~~~~~~~~~

Bersambung....

Catatan Author: Halo, bagaimana ceritanya? Jika menarik, plis terus dukung cerita ini. Jika ada kesamaan, mohon maaf ya, saya baru menggunakan Webnovel. Sekali pernah tapi aku tinggalkan, sekarang saya aktif lagi di platform yang satu ini. Selamat menikmati tulisan yang saya sediakan. Insyaallah, besok author up lagi.

Next chapter