1 PROLOG

JIKA Tuhan memberikan kesempatan kedua kali untuknya, Park Jiyeon pasti tidak akan bangun pagi buta hanya untuk belajar di sekolah barunya. Jiyeon benci sekali bangun pagi, apalagi untuk pergi ke sekolah. Ini hal baru baginya.

Ditemani sang adik, Park Jihoon, gadis itu berkali-kali mengeluh dalam hati. Sedari tadi, mereka menjadi pusat perhatian. Jiyeon benci itu. Mungkin itu semua karena perlakuan Jihoon yang menggenggam tangannya selama mereka melewati koridor sekolah.

"Kita akan ke mana?" bisik Jiyeon. Sungguh, gadis itu ingin sekali menampar pipi gadis-gadis berwajah tebal yang sedari tadi menatapnya tajam. Tapi, nampaknya Jihoon sama sekali tak terusik dengan tatapan mereka.

"Ke ruang kepala sekolah," jawabnya santai, "aku belum tahu pasti kau akan belajar di kelas apa."

"Bisakah kau melepas tanganmu itu?" tanyanya sekali lagi. Jika ia pemilik sekolah ini, ia pastikan tidak akan ada gadis-gadis menjijikan tersebut. 

Ini semua terlihat asing di matanya. Baru kali ini Jiyeon merasakan bagaimana rasanya menjadi pusat perhatian. Pasalnya, selama ini ia hanya mengurung dirinya di rumah selama kurang lebih tujuh tahun.

"Jihoon, ini terasa asing bagiku. Bisakah kita tidak mencari perhatian mereka?" 

Jihoon menoleh bersama kerutan yang menghiasi dahinya, "Memangnya kenapa? Kau 'kan kakakku, apa aku tidak boleh menggenggam tanganmu, eoh?"

"Tapi ini bukan waktu yang tepat, Hoon," bekali-kali Jiyeon mencoba melepaskan tangannya dari Jihoon, tapi tetap saja nihil.

"Sst, diamlah," Jihoon menempelkan jari telunjuknya di bibir Jiyeon agar gadis itu berhenti berbicara. Tapi, bukannya diam, Jiyeon justru mencubit pinggan adiknya.

"Aku sudah bilang, jangan menarik perhatian mereka!"

Jihoon memutar bola matanya malas. Bukan Park Jiyeon namanya jika tidak cerewet.

***

"Sialan!"

Lelaki bersurai cokelat gelap itu menendang kaleng cola ke dinding gudang belakang. Di sini, dinding menjadi saksi bisu kebencian Jeon Jungkook terhadap lelaki bernama Mark Lee.

Wajahnya memerah bahkan menjalar sampai tangannya. Jungkook benar-benar berada di puncaknya emosi, ingin menghabisi Mark Lee saat ini. Ingin membunuhnya, bahkan kalau bisa melenyapkannya dari dunia ini.

Untuk yang ke-7 kalinya ia merelakan tangannya untuk menghantam dinding itu dan membuat tangannya mengeluarkan banyak darah. Jungkook benar-benar membenci Mark Lee, ia muak melihat wajah sok polos lelaki itu.

"Astaga, bodoh!"

Jungkook menoleh karena mendengar suara berat sahabatnya, Kim Taehyung. Lelaki berwajah imut itu membuang ludahnya ke sembarang arah, ia sudah cukup melampiaskan amarahnya.

"Gila, Jeon Jungkook memang gila," Taehyung berlari ke arahnya dan memerhatikan tangannya yang mengeluarkan darah, "kau bisa memukul aku jika kau kesal, bodoh."

"Tidak akan, tubuhmu kurus seperti itu, aku takut jika tulangmu akan rontok."

"Bocah sialan," Taehyung memukul kepala sahabatnya itu pelan, "ayo, aku antar kau ke ruang kesehatan, hitung-hitung melihat gadis baru yang sangat cantik."

"Apa ada yang mau masuk ke sekolah neraka ini, eoh?" Jungkook membuang tatapannya ke tanah, memerhatikan darahnya yang mengalir, mengotori lantai.

"Tentu saja. Bagaimana, ingin melihatnya atau tidak?" Taehyung menaik-turunkan alisnya.

Jungkook berpikir beberapa saat, kemudian ia mengangguk, "Boleh, kenalkan padaku jika perlu, ya."