1 PAMIT

17.53 PM

"Lexiz." Aku berbalik , dan bertemu tatap dengan Bu Lina. "Iya, Bu." Ia tersenyum ke arahku, "jangan meninggalkan barang-barang yang penting ok?" Aku mengangguk, kenapa ada rasa tak tega meninggalkan wanita 50 tahunan ini. Ia hendak akan pergi, "bu~" panggilku dengan pelan, ia berhenti dan kembali berbalik. "Apa ibu mengikhlaskan Lexiz pergi ?"

"Demi kebaikan mu nak. Ibu ikhlas sekali." Balasnya dengan panggilan 'Nak'. Seumur hidupku, ini pertama kali aku mendengarnya memanggilku seperti itu. "Kamu tidak harus di zona nyaman seperti ibu. Kamu harus berjalan keluar, menemukan zona nyamanmu sendiri diluar sana." Ujarnya mencoba menyemangati ku.

"Baik, Bu." Aku mengangguk mengerti, "ibu doakan aku ya, dan-"

"Ibu akan mendoakan yang terbaik untuk anak ibu." Katanya sebelum meninggalkan ambang pintu kamarku.

Dalam hatiku, aku akan selalu mengingat semua perbuatan yang telah Bu Lina berikan padaku. Ia sungguh ibu bertanggungjawab dan kerja keras.

18.00 PM

Aku berencana akan makan malam, dan membantu Pak Hatta sebagai satpam kos-kosan berkeliling. Melewati kamar Bu Lina dan Pak Benji, aku mendengar mereka sedang berbicara. Dan topiknya membuatku tersentuh, "apa anak kita akan pergi ?" Tanya Pak Benji dengan suara lirihnya.

"Iya, kamu mau mengucapkan selamat tinggal padanya?" Tanya Bu Lina, aku hanya diam membantu di depan pintu kamar mereka. "Tidak, tidak akan, ia pergi untuk berusaha di luar sana. Bukan seperti aku, yang mungkin akan dibawa pergi oleh tuhan suatu hari nanti." Balasnya dengan suara seraknya, "jangan menangis, kamu ayah tiri yang baik untuknya."

"Bagaimana kau bisa mengatakannya ? Aku hanya mengantar, menjemput, memberi makan dan membeli pakaian seperlunya untuknya. Sejak dulu aku bukan ayah yang baik untuknya. Dan sekarang, lihatlah sekarang ia akan pergi. Pergi berjuang." Keluhnya sambil menangis, aku bisa mendengar isakannya.

"Kamu baik Ben, kamu baik."

Aku meninggalkan depan pintu kamar Bu Lina dan Pak Benji. Tanpa sadar, aku sudah berada di pos satpam. "Kamu kenapa , nak?"

Aku menggeleng kepala, "mataku sakit pak." Balasku dusta, "kamu mau pergi besok pagi 'kan? Tidur saja nak, bapak sudah biasa jaga sendiri." Aku menggeleng, "bapak seperti baru kenal aku saja."

"Anak perempuan tidak boleh keluar malam-malam. Bahaya nak." Ujar Pak Hatta lagi, tapi lagi-lagi aku tak mendengarnya. Kami malah sedikit ribut di pos satpam.

"Kamu itu benar-benar sulit dinasehati, ya? Yasudah ayo, kita putar-putar kamar pria dulu. Kamu di samping bapak, hati-hati anak remaja zaman sekarang beringas." Pak Hatta menyuruhku memegang bahunya agar ia tahu. Aku masih disampingnya atau sudah di bungkus sama remaja kos-kosan sini.

Kami berkeliling dari lorong ke lorong, taman dan belakang kosan. Tapi pak Hatta berhenti, "kenapa pak?"

"Kamu disini sebentar, bapak cari pohon dulu." Kebiasaan pak Hatta ialah mencari tempat untuk pipis. "Ya, cepat!" Ia buru-buru berlari ke belakang kosan yang masih ada beberapa pohon.

Selama ditinggal beberapa menit, aku merasa seseorang mengintip ku dari dalam jendela kamar nomor 101. Lampu depan tidak menyala, lampu di dalam kamarnya juga tidak menyala. Apa penghuninya belum pulang? Tapi kenapa aku merasa ada tatapan di dalam bilik itu?

Penasaran, aku mulai mendekati bilik kosan itu. Sedikit merapat ke jendela berdebu itu, dan aku melihat bola mata seseorang di dalam sana. Berencana akan kabur, seseorang telah berdiri tegap di belakangku. Seorang pemuda dengan setelan berwarna navi. Lututku bergetar seketika, saat mati kami bertemu. "Kamu ngapain mengintip, anak Bu kos?" Suaranya begitu mengerikan bagiku, seperti suara iblis yang bertanya padaku. "Ti----tidak ada, bo--boleh aku pergi?" Dengan sengaja aku ingin menabraknya agar lepas dari tatapan mematikan nya. Tapi ia telah meremas bahuku, "diam dan dengarkan aku, pukul 2 pagi nanti. Kita satu mobil, loh."

Aku hampir pingsan mendengar hal itu. Buru-buru aku berlari menjauhi bilik kosan itu. Dengan nafas tersengal-sengal, aku bersembunyi di balik pos satpam. Kenapa pemuda itu sangat mengerikan? Dan ditambah, aku akan satu mobil ke kota bersama dia. Dan sepanjang hari. Bolehkah aku membatalkan keberangkatan ku?

"Nak Lesi, lesi." Panggil pak Hatta, "aduh! jangan-jangan anak itu di bungkus." Gumamnya dapat ku dengar, merasa tenang aku keluar dari belakang pos satpam. "Sudah pipisnya pak?"

"Astaga nak! Kamu ternyata disini, kenapa tinggalin bapak? Bapak kan juga takut." Ia memukul ringan bahuku, aku dapat melihat raut wajah itu. Ia begitu ketakutan, dan khawatir. "Maaf pa---" Kalimatku terpotong saat menangkap bayangan pemuda mengerikan tadi. "Bapak aku mau berbicara sama Bu Lina dulu ya. Da da.."

Kalau sudah bertemu Bu Lina, lebih baik aku membatalkan saja keberangkatan ku. Aku takut dengan pemuda itu, auranya mengerikan. Aku melihat Bu Lina sedang menghubungi seseorang lewat smartphone nya. Tak ingin menganggu dulu, aku membiarkan ia dan seseorang di sambungan telepon berbicara dulu.

"Halo, kak Wen. Ini aku, Lina Soriya. Mantan istri bang Bagas."

"..."

"Kak, kak Wen.. Kakak tenang dulu, aku baik-baik saja bersama Lexiz. Bagaimana kabar kakak di sana?"

"..."

"Aku baik, tapi Benji tidak. Ia terkena stroke kak."

"..."

"Iya, seminggu sekali aku menyuruh dokter untuk cek kondisi bang Benji."

"..."

"Lexiz baik, bahkan ia berencana akan ke kota."

"..."

"Mungkin bekerja dulu, a--aku kurang tahu soal itu kak. Ia yang bisa menjalaninya."

"..."

"Aku hanyalah ibu pengganti kak, aku mana bisa memintanya begini dan begitu."

"..."

"Tidak kak, itu seharusnya kau. Kau adalah ibunya kak."

Seketika otakku bekerja, menangkap dengan cepat dengan raut wajahku yang kebingungan. Dalam otakku sudah banyak pertanyaan, apakah ia ibuku? Apa ia masih hidup? Kenapa ia tak menemui ku?

"..."

"Sampai kapan kau akan bersembunyi seperti ini kak? Bang Dedi sudah tiada, kakak tidak perlu getar soal ini. Sampai kapan kak?"

"..."

"Lexiz bukan gadis pendendam seperti itu kak."

Bolehkah aku bersuara ?

"Ibu.."

Bu Lina berbalik menatapku terkejut, airmata ku sudah membanjiri pipiku. "Le--"

"Ssst!" Buru-buru aku memberi gestur meletakkan jari telunjuk di depan bibirku. Aku bergerak mendekati Bu Lina, mengambil smartphone itu dengan pelan dan mendengar suara wanita lembut lewat sambungan telepon ini.

"Halo, Wen? Wen aku mohon.... hiks..hiks... mengertilah posisiku...hiks..."

Kenapa ia menangis?

"Wen....hiks..hiks...Aku tidak masalah, jika Lexiz dan mengetahui siapa ibu kandungnya...hiks...asalkan ia bisa bebas bahagia di luar sana."

Aku marah, "A--apa maksud mu?"

"..."

"A--aku bahagia?"

"Lexiz?? Nak.."

"Jangan menyebutku anakmu!!"

Wajah Bu Lina terkejut mendengar nada tinggiku. "Lexiz!" Panggilnya dengan nada marah.

"Bagaimana bisa kau menyebutku bahagia seperti itu??!" Tanyaku dengan penuh kemarahan, apa yang ia tahu disini?

"Apa kau tahu, bagaimana rasanya menjadi anak tanpa seorang ibu dan ayah?"

"Lexiz... kamu tenang nak.." Ujarnya di sambungan sana.

"Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu padaku? Aku juga ingin melihatmu! Aku juga ingin mengenalmu, mengetahuimu, memelukmu dan menghargaimu. Tapi! Kenapa kau tak pernah muncul!!" Yang bisa ku dengar hanyalah, suara tangisannya pecah di sambungan sana. "Apakah aku anak haram?" Jedaku, "kau malu ?"

"LEXIZ! JAGA BICARAMU!" Bentak Bu Lina padaku, aku tak mendengarnya. Aku tetap bertanya kebenaran padanya. Apa yang ia sembunyikan?

"Kenapa tak kau bunuh saja aku waktu itu?"

"LEXIZ STOP!!" Bu Lina menampar ku dengan kuat hingga smartphone nya jatuh ke lantai.

Bibirku berdarah, aku menjatuhkan airmata lebih deras lagi. "KENAPA KAMU KASAR PADA IBUMU !!?"

"KARENA DIA MEMBUANG KU PADA ORANGTUA SEPERTI KALIAN!!" Bentak ku lebih keras darinya. "Apa yang kalian pernah lakukan padaku?"

"Memukulku, mengunciku, mencekikku, menamparku, mempermalukanku dan sekarang, aku memiliki jiwa kotor kalian!"

Lagi, Bu Lina menampar ku dengan keras. "Anak tidak tahu diri! Kamu tidak tahu apa-apa tentang hal benar dan salah! Kamu memang bocah ingusan yang ceroboh! Lebih baik, kamu percepat pergi dari rumah ini!"

Tanpa banyak bicara, aku pergi ke kamar dan mengambil koper yang sudah siap untuk nanti kepergian ku. Melewatinya dengan nafasku yang menggebu-gebu, aku tak ingin melihatnya lagi. Ia juga tidak memperdulikan ku, untuk apa aku bertahan. Apapun yang terjadi, aku tak akan perduli pada keluarga ini.

"Pit! Pit!" Suara klakson mobil ada di sampingku, itu pria menyeramkan tadi.

"Masuk!" Pintanya tegas, dan aku berlari meninggalkan koper ku yang ada disamping mobilnya. Sampai jalan yang licin, aku masih berlari dengan kakiku yang telah terkillir. Aku tak bisa lagi berlari, kakiku benar-benar sakit. Aku memutuskan untuk memijat sebentar kakiku. Dalam hati, aku sudah berlari cukup jauh dan kencang. Pasti ia tak akan mengejarku.

Tapi itu salah,

ia sudah ada dibelakang ku. Memperhatikan ku yang sedang memijat pergelangan kaki dengan pelan. "Mau bantuan ?"

______------[T.B.C]-----_______

Next chapter