1 Prolog

"Perhatian kepada semua murid, sebentar lagi kalian akan menjalani ujian akhir semester, bapak harap kalian belajar dengan sungguh-sungguh agar kalian bisa masuk ke universitas yang kalian inginkan. Nilai ini akan sangat berpengaruh dalam nilai kelulusan nanti. Sekian saja informasi terakhir saya, kalian boleh pulang sekarang."

"Makasih Pak BaekHyun." Ucap murid satu kelas.

"Yerin, tolong ke kantor guru sebentar, saya mau bicara sebentar dengan kamu." Ucap pak BaekHyun kepada ku.

"Yer, kamu kenapa lagi? Ada masalah lagi?" Tanya Sowon.

"Entah lah, tapi sepertinya makin hari dia semakin tidak suka dengan ku." Jawab ku.

"Itu tidak mungkin, dia kan wali kelas kita, sudah cepat sana,"

Aku dengan malas mengambil tas ku dan menggendong tas itu di pundak ku.

Tokkk.. Tokkk.. Tokkk..

"Permisi pak,"

Aku mengetuk pintu ruang guru sebelum masuk, perasaan ku tidak begitu enak tentang ini.

"Ya masuk Yerin." Suruh nya. Aku langsung masuk begitu mendapat izin dari nya.

"Ada apa lagi bapak memanggil saya?" Tanya ku dengan sopan dan sabar. Aku butuh banyak kesabaran jika sedang berhadapan dengan pak BaekHyun.

"Kamu satu-satu nya anak di kelas saya yang mendapat nilai di bawah kkm," Pak BaekHyun memberikan ku selembar kertas ulangan terakhir ku. Aku terkejut melihat nilai ku sendiri. Bagaimana aku mendapat 30 lagi? Padalah aku sudah pakai kalkulator kok.

"Apa lagi sekarang alasan mu?" Tanya pak BaekHyun. Aku diam melihat hasil ulangan ku yang amat buruk ini. Lagi-lagi aku mendapat nilai rendah.

"Bapak kan tahu saya ga bisa pelajaran matematika pak, otak saya ga pernah nyampe pak." Ucap ku.

"Itu bukan alasan, kamu saja yang malas hitung, pokoknya kamu tidak boleh pulang sampai nilai kamu lolos dari kkm, sekarang duduk."

"Pak, ini kan sudah jam pulang sekolah, gimana kalau saya ulang nya besok pagi aja?" Tanya ku. Aku melihat ke arah jam dinding di kantor guru.

"Tidak, sekarang atau saya tidak kasih remedial sama sekali." Ucap Pak BaekHyun sambil meletakan selembar kertas di hadapan ku, tubuhku seketika melemas.

Aku menghela nafas ku dengan perlahan. Aku menaruh tas ku di lantai dan duduk di seberang Pak BaekHyun. Dengan hati yang kesal, Aku mengambil pen dari tas ku untuk mengisi soal-soal remedial ini.

"Saya beri waktu 30 menit untuk mengerjakan 2 soal itu." Ucap Pak BaekHyun sambil melihat ke arah ponsel nya.

"Ini cuma 2 nomor pak, saya salah 1 udah ga lolos lagi pak." Rengek ku. BaekHyun terlihat tidak peduli.

"Cepatlah, saya juga mau pulang." Ucap Pak BaekHyun dingin dan terkesan tidak begitu peduli. Kenapa dia harus menjadi wali kelas ku. Kan bisa pak ChanYeol gitu yang jadi wali kelas ku, kenapa harus si pak bebek ini.

Aku melihat kertas itu dan menulis nama nya di pojok kanan seperti biasa. Aku hanya terus membaca soal itu dan tidak menulis jawabannya sama sekali. Aku sadar kalau dari tadi Pak BaekHyun terus memantau ku yang tidak kunjung menulis apa pun di kertas ini..

"Yerin, cepat tulis jawabannya, guru-guru lain sudah pulang, saya juga mau pulang," Ucap Pak BaekHyun. Aku melihat satu per satu guru sudah keluar dari ruang guru dan hendak pulang, sedangkan Pak BaekHyun masih bersama ku yang belum mengerjakan satu soal pun.

"Kan sudah saya bilang pak, mending saya remedial besok saja," Ucap ku. Pak BaekHyun menggeleng.

"Jika kamu tidak menjawab soal itu, saya akan berikan kamu nilai 30 seperti yang ada di kertas ulangan mu." Pak BaekHyun memperingatkan ku.

"Ini cuma 2 soal pak," Aku kembali merengek kepada pak BaekHyun, bagaimana kau bisa lolos jika hanya 2 nomor.

"Yerin ayolah, saya mohon, saya sudah banyak membantu kamu, jangan buat saya marah, nilai kamu 30, saya kasih 2 soal, jika kamu benar 1, kamu akan dapat nilai 50, saya akan tambahkan ke nilai di kertas kamu itu sehingga kamu lolos, mengerti? Jadi ayo lah kerjakan saja, Itu soal paling gampang yang pernah saya buat. Itu bahkan ada di buku. Angka nya sama persis Yerin." Ucap Pak BaekHyun dengan suara dan nada bicara yang frustrasi. Aku tidak berkedip saat menatap nya.

"KER-JA-KAN." Pak BaekHyun menekankan setiap suku kata itu. Aku dengan susah payah menelan saliva ku sendiri.

"Pak, saya tidak bisa." Gumam ku.

"Apa maksud mu, kamu bisa mengerjakan 3 dari 10 soal, itu lebih gampang dari yang kamu kerjakan." ucap Pak BaekHyun.

Aku tidak tahu apa aku harus jujur atau tidak, tapi jika begini terus, dia bahkan bisa melaporkan ku pada orang tua ku.

"Maaf pak, s-saya menyontek saat ulangan itu." Ucap ku. Aku tidak berani menatap pak BaekHyun. Aku yakin sekarang wajah nya sedang menyeramkan. Aku meremas rok ku sendiri.

Pak BaekHyun langsung menarik kertas ku. "Keluar saja, nilai mu 0." Ucap nya. Dia menyobek kertas itu dan mengambil tas nya lalu keluar dari ruang guru meninggalkan ku sendiri. Beberapa guru yang ada di sana masih melihat ke arah ku.

Aku tidak bisa menahan tangisan ku lagi. Bahkan Pak BaekHyun tidak mengatakan apa pun lagi sekalian mengusir ku dan memberiku nilai 0 begitu saja.

Pak ChanYeol tiba-tiba mendekati ku, dia sudah siap untuk pulang.

"Yerin, apa kamu baik-baik saja?"

Aku menggeleng kan kepala ku.

"Pulanglah, besok kamu bisa minta maaf kepada pak Baekhyun, maklumi saja jika dia marah sekarang, kamu tahu kan dia paling tidak suka dengan yang namanya menyontek,"

Aku mengangguk. "Apa pak Baekhyun akan memanggil orang tua ku?" Tanya ku pelan.

Aku tidak pernah membuat pak Baekhyun semarah itu. Apalagi sampai menyobek kertas di depan murid. Ini pertama kali nya.

"Mungkin tidak, dia tidak pernah membawa orang tua untuk urusan nilai jika hanya 1 pelajaran," jawab pak ChanYeol.

Pak ChanYeol memberikan tas ku yang ada di lantai, "Apa kamu butuh tumpangan pulang? Saya bisa mengantar mu" tawar nya.

Aku menggeleng, walaupun apartemen ku dekat dengan rumah pak ChanYeol, tetap saja aku tidak mau merepotkan nya lagi. Dia sudah banyak membantu ku.

"Tidak perlu pak, saya akan naik bus." Tolak ku. Dia mengangguk.

"Jangan terlalu di pikiran, fokuslah pada pelajaran yang lain, ujian sudah dekat." Ucap pak ChanYeol.

"Ya pak, saya mengerti." Jawab ku

"Kalau begitu, Hati-hati di jalan, sampai ketemu besok pagi." Ucapnya. Pak ChanYeol memang guru paling baik dan perhatian di sekolah.

"Ya pak, terima kasih, bapak juga hati-hati di jalan." Balasku, dia mengangguk. Aku berjalan lebih dulu, aku tahu pak ChanYeol lah yang harus mengunci pintu karena dia satu-satunya guru yang masih ada di sini.

Aku berjalan keluar sekolah menuju halte bus dan menunggu bus yang akan sampai di sini. Semua murid sudah pulang, aku membuang cukup banyak waktu hanya diam di depan pak BaekHyun dan membuatnya marah.

Sebenci apa pun aku kepada nya, aku tetap tidak bisa mengubah kenyataan kalau dia lah yang memegang masa depan ku, rapot ku. Jika dia memberikan ku nilai rendah, itu akan mempengaruhi persentase peluang aku masuk universitas favorit ku.

Hari ini aku tidak berniat kembali ke rumah, aku akan kembali ke apartemen ku saja. Di sana aku bisa menenangkan diri untuk semalam lagi.

Next chapter