1 1. Dijodohkan Dengan Pengangguran

"Shayna bagaimana? Kamu menerima perjodohan ini 'kan?" Pertanyaan dari Kakek Dome nyatanya hanyalah sebuah pertanyaan yang tidak berguna.

Pertanyaan yang siapapun sudah tau jawabannya.

Seraya menumpukan kaki sebelah kanan ke sebelah kiri, Shayna menjawabnya. "Memangnya Shayna bisa menolak, Kek? Sejak awal 'kan Shayna milik Sagara." Jawabnya.

Bisa Shayna lihat, Kakek Dome tersenyum puas.

Lansia berusia tujuh puluh tahun itu bukanlah kakek kandungannya. Melainkan kakek dari calon suaminya, Sagara Najendra. Meski bukan kakek kandung, nyatanya Shayna memiliki banyak hutang budi pada Kakek Dome.

Sejak usia nya lima belas tahun, sejak kedua orang tuanya pergi begitu saja dan menelantarkan dia, Shayna dirawat oleh Kakek Dome. Dan sejak hari dimana dia masuk ke dalam rumah ini, Kakek Dome memberitahunya bahwa Shayna suatu saat akan menjadi milik Sagara.

Ya, sajak itulah jalan Shayna menjadi jalan buntu. Jalan miliknya hanya satu. Dan di ujung jalan itu, hanya ada Sagara. Hanya ada pria yang usianya lebih tua dua tahun dari dia. Pria yang digariskan akan menjadi suami Shayna.

"Kalau Sagara bagaimana?" Kakek Dome bertanya pada Sagara.

Ya, Sagara ada di sampingnya. Sedang bermain game online tanpa mempedulikan obrolan penting kali ini.

Jika kalian berpikir Sagara adalah seorang CEO kaya raya, dokter spesialis di usia muda, atau seorang duda panas. Kalian salah besar. Sagara adalah seorang pengangguran.

Dia tidak memiliki pekerjaan. Ah, tidak. Dia pengacara. Pengangguran banyak acara.

Di usianya yang sudah menginjak dua puluh delapan tahun, dia seperti anak baru lulus sekolah menengah atas. Kegiatannya hanya berbaring manja guling-guling di atas ranjang, bermain game, suka ke club untuk mabuk-mabukan, dan juta bermain dengan banyak wanita.

Sagara adalah definisi beban yang sesungguhnya. Usia saja yang tua, mentalnya seperti anak-anak dan malas-malasannya seperti orang yang sudah bau tanah.

"Sagara?!" Tak mendapat respon dari Sagara yang terlalu sibuk bermain game, Kakek Dome berteriak.

Sagara yang pada dasarnya bandel mendengus kesal karena merasa terganggu. "Apaan sih Kek?! Sagara lagi sibuk main nih. Kalau kalah emangnya kakek mau tanggung jawab?!" Dengusnya.

Kakek Dome yang merasa tersinggung dengan sikap kurang ajar cucu nya langsung saja melemparkan tongkat dia hingga mengenai kepala Sagara. Dijamin setelah ini kening Sagara akan benjol.

"Sakit Kek!" Sagara meringis kesakitan. Dia memijat keningnya, meletakkan ponselnya secara kasar.

"Segitu saja sakit! Cowok atau bukan sih kamu?! Jadi cowok tuh yang laki gitu loh! Bukannya malah lembek." Sang kakek mencibir.

Sagara kembali mendengus, berdecak kesal. "Badan Sagara yang segini gedenya kurang laki apa hah?!" Dengusnya, mengetatkan otot tangannya.

Di samping Sagara, Shayna menaikkan sudut bibirnya. Dalam batin, dia merasa jijik. 'Dih? Badan iya kekar, kelakuan lo kayak anak smp.' Batinnya menggerutu.

"Badan aja kayak laki, tingkah kamu udah kayak anak SD. Hobi nya main game doang." Hardik Kakek Dome.

Sagara tidak marah. Lagipula ini bukan kali pertama Kakek Dome menghardik atau mencaci maki dia. Hampir setiap hari Kakek Dome melakukan itu. Mengatakan bahwa Sagara beban dan semacamnya.

"Buat apa juga kerja kalau udah kaya. Lagian perusahaan Kakek juga jatuhnya di tangan Ayna bukan di tangan Saga." Kesalnya.

Tidak, Sagara bukan bodoh. Dia pintar. Hanya saja dia pemalas dan tidak memiliki tujuan hidup. Alhasil, sang kakek tidak bisa mempercayai cucu kandungnya sendiri dan berakhir meletakkan nasib perusahaan di tangan Shayna Majendra, cucu palsunya.

Marga Shayna adalah Majendra. Sedangkan marga Sagara adalah Najendra. Kedua marga itu sama-sama kuatnya. Dan juga keluarga besar mereka cukup dekat satu sama lain.

"Perusahaan Kakek jatuh di tangan Shayna karena dia lebih kompeten daripada kamu. Kalau aja kamu gak malas-malasan dan nilai kamu lebih tinggi daro Shayna, mungkin Kakek bisa percaya sama kamu. Lah sekarang? Kamu nafas aja kayaknya gak niat. Gimana mau mengelola perusahaan?!" Sang kakek kembali menghardik Sagara.

Sagara sejak dahulu selalu iri pada Shayna. Dalam semua hal, selalu Shayna yang menjadi kebanggaan kakeknya.

"Halah, dari awal emang Kakek sukanya sama cucu palsu Kakek. Sama Sagara, Kakek anti banget." Cibirnya pada sang kakek.

Kakek Dome menghela nafas panjang, mencoba menjelaskan. "Dia gak ada orang tua, Sagara! sedangkan kamu? Orang tua masih ada semua, di sayang juga, tapi nakalnya gak ketulungan. Shayna aja yang orang tuanya entah kemana bisa cumlaude di Oxford jalur beasiswa, terkenal, dapet tawaran kerja dimana-mana sejak masih kuliah, banyak orang yang mau kerja sama juga. Sedangkan kamu? Kuliah emang di Stanford, tapi bayar terus dan nyaris kena DO. Lulus dengan nilai terendah juga. Habis itunya pengangguran. Gimana Kakek bisa percaya sama kamu?!"

Selalu seperti ini. Dibanding-bandingkan. Sagara sampai hafal dengan setiap tutur kata yang kakeknya ucapkan setiap kali membandingkan dia dengan si cucu palsu, Shayna.

"Ck! Udahlah, sekarang mau kakek apa?!" Sentak Sagara.

Kakek Dome memijat keningnya, pusing. "Kakek mau kamu menikah dengan Shayna."

"Oh gitu… ya udah tinggal nikah." Sagara menjawab dengan santainya.

Shayna melirik Sagara, tidak menyangka pria satu itu akan mengiyakan tanpa adanya drama.

"Lo gak nolak dan semacamnya?" Tanya Shayna.

Sagara melirik Shayna, memandangi manik amber milik gadisnya. "Kalau nolak gue gak dapet warisan. Jadi mendingan gue terima aja. Lagian yang gue nikahin juga lo. Gue udah tau bibit bebet lo, dan yang terpenting lo perawan." Kata Sagara.

Mata Shayna memicing tidak suka. Jadi, alasan Sagara menerima perjodohan ini tidak lain dan tidak bukan hanya karena warisan dan masalah keperawanan? Sempit sekali otak Sagara.

"Karena kalian sama-sama setuju, jadi kalian mau nikah kapan?!" Tanya Kakek Dome.

Sagara dan Shayna saling pandang satu sama lain, menjawabnya bersamaan.

"Besok!"

Menurut mereka, lebih cepat lebih baik. Telinga mereka hampir berdengung karena mendengar ocehan tentang perjodohan ini hampir setiap harinya. Jadi, daripada ocehan ini terus berlanjut sampai tidak bisa membuat mereka tidur, agaknya lebih baik untuk mereka segera menikah.

"Besok?" Kakek Dome terkesiap.

Shayna mengangguk, menjawabnya. "Besok saja. Langsung KUA. Resepsi minggu depan. Bagaimana?"

Menyetujui calon istrinya, Sagara menambahkan. "Sagara sangat setuju. Lagian gue juga udah mumet dengerin Kakek ngoceh tentang perjodohan tiap harinya. Sirahku ngilu." Sagara menggunakan bahasa Jawa pada akhir kalimat.

"Kirain semangat karena jatuh cinta, ternyata semangat karena sirahe wis ngilu." Kakek Dome adalah orang Jawa asli. Sagara dan Shayna meski bukan orang Jawa, setidaknya mereka tinggal di Jawa.

"Jatuh cinta? Yang bener aja. Gak mungkinlah Sagara cinta sama Shayna."

Mata Shayna bergulir malas, membalas. "Harusnya gue yang ngomong gitu. Gak mungkinlah gue jatuh cinta sama cowok pengangguran kayak lo."

Next chapter