6 Hari Yang Panjang Dengan Sejuta Pertanyaan

Bian segera berlalu meninggalkan Jackran yang masih diam, "aku minta kamu keluar dari sana," suara Jackran menghentikan langkah Bian.

"Alasannya," ucap Bian dan kembali berjalan menuju Jackran yang masih diam di tempat.

"Aku bakal cariin kamu, di tempat yang lain," Bian tak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Jackran, harusnya Jackran senang karena mereka bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Setidaknya mereka bisa berangkat dan pulang bersama, bukankah itu lebih menyenangkan, mengingat mereka tak pernah melakukannya.

"tempatnya juga nggak kalah bagus dari perusahaan ini," lanjutnya dan segera meninggalkan Bian yang masih bingung. Bian menatapi punggung yang semakin lama semakin menghilang. Hal ini yang juga dirasakan Bian, sosok itu semakin menjauh dan menjadi asing.

…

Setelah pulang dari tempat pesta itu, Bian dan Fio memutuskan untuk makan malam atau hanya sekedar nongkrong di sebuah kafe. Kafe ini merupakan kafe favorit Bian dan Fio, kafe ini letaknya tak terlalu jauh dari gedung pesta ulang tahun Dian diadakan. Sebenarnya kafe ini terlalu jauh dari kampus ataupun kosan mereka, tapi mereka sangat menyukai daerah sini, sehingga mereka sering menghabiskan waktu luang disini, setidaknya empat kali dalam seminggu.

Tempat ini juga sangat cocok untuk menyendiri atau hanya sekedar tempat lelah. Banyak orang yang menghabiskan waktu disini, tempat ini sangat ramai dan tak pernah sepi. Sedangkan untuk daerah disini sangat cocok untuk para pejalan kaki, mereka yang menyukai jalan kaki disarankan ke daerah ini karena tempat ini memang disediakan untuk para pejalan kaki dengan berbagai macam kegiatan yang bisa dilakukan yang pastinya bermanfaat dan positif. Nilai plusnya lagi tempat ini menyediakan berbagai macam makanan yang terkenal enak, jadi sangat jarang melihat restoran atau kafe di sini sepi.

Bian dan Fio memilih tempat duduk favorit mereka setiap ke sini, yaitu di dekat pinggir jalan yang dibatasi dengan kaca, jadi dari sini kita bisa melihat aktivitas orang yang berlalu-lalang. Dibagian ini kita juga bisa langsung melihat keluar, sedangkan untuk pembatas antara tempat duduk yang satu dengan yang lain dibatasi dengan bunga-bunga yang cantik yang diperindah dengan lampu-lampu dan alunan musik yang menenangkan.

Bian dan Fio menyantap makanan mereka dengan tenang, keduanya memilih untuk diam dan tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Saat tengah menyantap makanan tiba-tiba ponsel Bian berdering. Itu merupakan pengingat yang dia buat untuk merayakan 7 tahun anniversary nya dengan Jackran yang sempat tertunda. Bian dan Jackran berencana untuk merayakan anniversary mereka di kafe yang saat ini ia kunjungi. Dia dan Jackran memang sudah pernah kesini setiap kali merayakan anniversary mereka mulai dari beberapa tahun yang lalu tepatnya 4 tahun anniversary mereka.

Bian segera menghubungi nomor Jackran, namun nomor yang ia hubungi tak juga menunjukkan tanda-tanda akan menjawabnya, Bian mencoba sekali lagi, namun matanya menuju kepada sosok diseberang sana yang akan menyebrang jalan, sosok itu tampak menggenggam tangan perempuan disebelahnya.

"Fio, bilang kalau gue nggak salah liat kan," ucap Bian memastikan pada Fio.

"Liat apa," Fio yang tengah bergulat dengan makanannya menghentikan aktivitasnya sejenak dan melihat kearah pandang Bian.

"itu cowok yang mau nyeberang itu Jackran kan," ucap Bian, Fio melihat sekali lagi orang yang dimaksud Bian "itu bukannya Tiara,".

"jadi dia nggak ngangkat telfon gue, gara-gara lagi masih sama tu cewe," ucap Bian sedikit emosi, dan masih mencoba menghubungi nomor Jackran, ya yang dilihat Bian dan Fio itu Jackran dan tentunya dengan Tiara.

"kan mereka tadi bareng pergi ke pesta, ya mungkin mereka berhenti buat makan, dan lagian dia nggak megang hp, mungkin nggak dengar," crocos Fio menenangkan Bian dengan segala pikiran buruknya.

"mau ngikutin nggak," sambung Fio, "nggak lah, males," Bian memutar bola matanya. Bian dan Fio kembali diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Fio tau kalau Bian dalam keadaan mood yang buruk sejak dari pesta tadi, ketika Bian sedang dalam mood yang tidak baik maka ia akan menjadi diam seketika, karena itu jugalah dari tadi Fio membiarkan Bian sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Biasanya ketika Bian dan Fio bersama maka tidak ada waktu untuk mereka berdiam diri, mereka akan membicarakan banyak hal dari hal-hal yang penting maupun hal-hal yang tidak penting.

"mau langsung pulang atau gimana," Fio menanyakan setelah Bian tidak menyentuh makanannya dan sibuk dengan ponselnya. "nggak, kita jalan-jalan dulu aja," ucap Bian.

Bian memasukkan ponselnya kedalam tasnya setelah mengetik sebuah pesan kepada Jackran. Ia mengingatkan kepada Jackran tentang tempat yang akan mereka kunjungi untuk merayakan anniv mereka yang ke tujuh.

Mereka berjalan menuju sebuah taman yang dipenuhi oleh orang-orang yang menghabiskan waktu dengan hanya berbincang-bincang atau hanya menikmati hembusan angin malam yang mendinginkan sekaligus menyenangkan. Karena tak ada lagi tempat untuk duduk yang tersedia Bian dan Fio memilih duduk direrumputan, disini karena keterbatasan tempat untuk duduk, orang-orang akan memilih duduk direrumputan beralaskan sendal mereka atau tidak beralas sama sekali.

"kamu udah bicarain masalah Tiara," ucap Fio memulai pembicaraannya. "gue udah nanyain tapi dia sama sekali nggak gubris ataupun jawab pertanyan gue," balas Bian. "mungkin ada alasan yang nggak bisa dia certain ke kamu," saat ini tidak ada saran yang bisa Fio berikan kepada Bian karena Fio sendiri tidak mengetahui dengan jelas permasalahan mereka.

"menurut gue mending kamu kasih waktu buat dia siap untuk menceritakannya, karena dalam hubungan itu butuh kepercayaan Bi, saat ini yang bisa kamu lakukan hanya percaya sama Jackran," ucap Fio. Bian tersenyum mendengar ucapan bijak yang keluar dari mulut Fio, meski Fio bukanlah tipe yang bisa serius tapi disaat-saat tertentu Fio akan mengeluarkan sikap dan ucapan bijaknya yang keluar alami tanpa dibuat-buat, dan mampu menenangkan Bian.

"iya, kalo yang ahlinya udah ngomong, kayaknya gue harus dengerin," ledek Bian. "iya, lo harus dengerin gue biar hidup lo tenang," balas Fio. "iya tau yang udah tua, yang udah berabad-abad hidup dibumi, yang udah berpengalaman, " ledek Bian lagi.

"tau ah, males gue ladenin lo," ucap Fio yang ngambek kalau di sebut tua. Mereka menghabiskan malam dengan berbincang-bincang panjang hal-hal yang tidak penting, Bian mencoba melupakan masalahnya untuk sesaat, Bian tidak terlalu suka jika harus membicarakan tentang permasalahan yang dia hadapi, menurutnya jika membicarakan masalah itu berlarut hanya akan semakin membuat terpuruk dan semakin emosi, jadi lebih baik untuk menghindari dan berbicara secukupnya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi tempat ini semakin ramai, orang-orang semakin menikmati keramaian tempat ini, orang-orang seakan tak membiarkan tempat ini untuk beristirahat, terutama mereka yang telah lelah seharian bekerja, memilih tempat ini untuk melupakan sejenak permasalahan mereka dengan menikmati angin malam yang semakin menusuk tulang. Sedangkan untuk anak-anak remaja yang masih sekolah tidak dibiarkan berkeliaran lagi jika jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Bian dan Fio masih asyik dengan obrolan mereka dan tak mempedulikan angin malam yang semakin menusuk, seolah mengisyaratkan mereka untuk segera beranjak dari tempat itu dan bergegas untuk istirahat.

Tepat jam 1 malam keduanya memutuskan untuk beranjak setelah pantat mereka sakit karena duduk dirumput terlalu lama. Mereka mulai mengendarai mobilnya membelah jalanan yang mulai sepi, yang menunjukkan bahwa orang-orang mulai beristirahat untuk mempersiapkan diri untuk hari esok yang mungkin saja akan lebih melelahkan atau justru sebaliknya.

Next chapter