10 MURID BARU!

Mobil putih kesayangan Kenzi sudah sampai di pelataran sekolah Ochi. Mereka sampai dengan selamat setelah perdebatan panjang yang terus berlangsung selama di perjalanan dengan dua pelaku yaitu Nolan dan Rai.

Kenzi, seperti biasa dia melepaskan seatbelt Ochi. Padahal sebenarnya Ochi bisa melakukan nya sendiri namun abangnya itu yang pada dasarnya memang lah lebay selalu menolak dan memaksa.

"Cici, di sekolah jangan makan jajan sembarangan. Kalau ada yang nakal langsung tinju kayak yang abang ajarin ke kamu. Kalau guru nya nyebelin kasih tau abang. Nanti pulang abang jemput dan jangan terlalu banyak gerak." Pesan Rai yang sudah seperti seorang bapak-bapak yang memberi pesan kepada anaknya, yang duduk dibangku kelas satu Sekolah dasar.

"Jangan mau di deketin cowok ya, Ci. Semua cowok itu sama aja, lebih banyak bacot nya." tambah Rai lain dari yang lain.

"Abang juga sama dong." Kata Ochi membuat Rai gelagapan.

"Enggak dong, abang ini berbeda. Mungkin yang depan dan kiri abang bisa masuk ke kategori itu." Jawab Rai.

"Tapi kata abang semua cowok itu sama aja."

Rai semakin gelagapan, sepertinya dia salah bicara.

"Minus abang,"

Ochi mengedikan bahu cuek. Dia meranselkan tas nya yang bermotif galaksi itu di punggung kecilnya. Kemudian merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

"Ya udah, aku sekolah dulu. Abang-abang juga hati-hati. Bye." ujar Ochi beranjak turun dari mobil Kenzi.

Nolan menurunkan kaca mobil Kenzi,

"Ci, belajar yang bagus lo. Jangan mikirin bias mulu."

"Cici sayang, kalau bang Zi gak jemput kasih tau abang ya. Biar abang jemput kamu dan setelah itu kita bakar dia." ujar Rai yang mendapat dengusan kuat Kenzi.

"Sedang menonton kebodohan adik ku," ujar Kenzi kalem, melipat kedua tangannya didepan dada.

"Chat abang bales ya, sayang. Hari ini abang transfer buat bayar semua list belanjaan kamu." tambah Rai lagi.

"Ini betulan apa cuman konten yutup abang doang biar trending?"

"Betulan dong, Ci. Untuk kamu apa sih ya enggak."

Ochi mengangguk semangat, "Oke, sekalian sama skin care aku ya bang. Udah mau habis,"

"Oke sayang." Kata Rai mengedipkan sebelah matanya. Sikapnya barusan itu mampu membuat siswi-siswi di sekitar mereka yang menonton menjerit tertahan dan heboh sendiri.

"Cici, nanti sore abang buatin cupcake mau gak? Udah lama kan gak makan cupcake buatan abang." tawar Yuta menaik turunkan alisnya.

Ochi semakin mengangguk semangat. "Buat yang banyak ya bang. Soalnya banyak mahluk tak kasat mata yang suka rebutan sama aku."

"Nyindir gue nih ceritanya?" kata Nolan yang diabaikan Ochi.

"Oke sayang," ujar Yuta.

"Udah kampanye nya? Masih mau tambah?" tanya Kenzi yang sejak tadi mulutnya sudah gatal untuk menistakan tiga mahkluk di mobilnya.

"Iri yaaa?"

Kenzi mendengus, "Dih." ia beralih pada Ochi dan tersenyum lembut. "Cici belajar yang benar, nanti abang jemput."

Ochi mengangguk paham. "Ya udah, aku ke kelas dulu. Bye abanggg!" katanya melambaikan tangan.

Mereka berempat balas melambaikan tangan pada Ochi sampai adiknya itu benar-benar jauh dan sudah tidak nampak lagi, barulah mereka menurunkan tangan mereka.

Kini tinggal, Kenzi yang tengah menatap tajam kearah bangku belakang.

"Buat babuh gue, tolong ke depan. Jangan lupa ingatan gitu, sadar posisi." kata Kenzi galak seperti ibu tiri.

"Tolong ya, Zi. Jadi abang berakhlak dikit napa." ujar Nolan mencebikan mulutnya.

"Suka-suka gue lah, kan yang abangan gue." balas Kenzi dengan songong.

"Ck, sebenarnya gue lagi berusaha untuk gak ngatain tapi kelakuan nya itu loh. Bikin orang pengen ngatain." decak Rai.

"Udah, gak usah banyak mukadimah hidup lo semua. Buruan pindah ke depan, biar gue ke belakang." tukas Kenzi membuka seat belt nya.

Yuta mengerutkan alisnya "Lah ngapain lo ke belakang?"

"Gantian lah, gue jadi penumpang. Masa gue yang punya mobil gue juga yang jadi supir. Gak banget." tandas Kenzi dengan seenaknya.

"Astaga, Zi. Memang ya, lo itu tukang pencitraan kelas kakap. Didepan orang aja lo sok baik hati, didepan kita sikap lo ngalah-ngalahin iblis." rutuk Yuta yang pindah ke bangku yang di duduki Ochi tadi.

"Iblis aja insikyur sama dia, kalah jahatnya." sambung Nolan.

"Banyak bacot, buruan siapa yang jadi supir?" sembur Kenzi membuka pintu belakang.

Mereka bertiga diam dan saling memandang satu sama lain. Rai meneguk ludah nya, dari aura-aura nya sih dia kayak bakal kena sial.

"Siapa?"

"Bagi babuh baik hati tolong sadar diri."

"Gak sadar diri dia, apa perlu kita gotong ke luar?"

"Atau sebut merk aja dah. Untuk mas Ra-"

"IYA, IYA!" balas Rai ketus.

Kenzi tersenyum puas, "Gitu dong, berbakti sama tuan nya."

***

"HI CICI!"

Ochi baru saja sampai di kelasnya yang sudah ramai dan langsung mendapatkan teriakan nyaring sebagai sambutan kedatangannya.

"Masih hidup Ci?" Pertanyaan itu berasal dari Gading, si ketua kelas yang menjadi musuh bebuyutan Ochi.

Ochi mendengus, "Kagak. Ini arwah gue. Udah tau nanya lagi." katanya ketus.

Dia berjalan ke bangku nya, lalu bingung ketika bangku sebelahnya kosong. Alisnya semakin mengernyit bingung ketika Ochi mendapati Aurora sudah pindah ke bangku lain, bersama Billie-si cewek kalem namun langsung bar-bar setiap kali membahas cogan.

Dia meletakan tasnya dan berjalan menghampiri Aurora. Dengan muka kesal ia bertanya, "Ra, lo kok pindah sih? Masa karna sehari gak datang, lo langsung pindah gitu aja. Gak asik ah, sahabat macam apa lo. Main pindah gitu? Nanti temen gue si-"

Aurora meletakan jari telunjuk nya di mulut Ochi.

"Ssst, Cici sayang ku. Gue bukan sengaja pindah tapi karna disuruh ibu Ajeng tercinta."

"Tapi kan lo bisa nolak kalau gak mau, Ra. Lo nerima gini berarti lo emang berniat pindah dari awal kan?" kata Ochi merengut tidak suka.

Aurora menggeleng kan kepalanya, "Bukan gitu, Ci. Gue emang betulan dipindahkan, sebenarnya gue gak mau pindah ya gimana ya. Susah gitu duduk jauh dari belahan jiwa gue, tapi gimana lagi. Kalo guru udah bertindak jarangkan protes, bilang enggak aja gue kicep."

"Tapi kan, Ra."

"Gue serius, Ci. Kalau lo gak percaya tanya aja nih sama anak-EH GI, VA, AL! Sini nak pungot!" teriak Ochi.

Giandra, Silvana dan Alyandri yang baru saja datang pun menghampiri Aurora dan Ochi. Mereka bertiga sepertinya datang bersamaan pagi ini.

"Apa sih, Ra. Pagi-pagi teriak udah kayak ada nuklir jatuh aja." omel Alya begitu sampai didekat keduanya.

Aurora terkekeh, "Kelebihan gue selain bego dan gila, ya teriak. Maklum lah."

"Bisa aja sih lo, daki nya lumba-lumba!" balas Alya menepuk pelan lengan Aurora.

"Ada gerangan apa wahai rengginang kerupuk?" tanya Silvana duduk diatas meja.

Aurora menepuk jidat nya, hampir kelupaan. "Oh iya, ini nih. Cici gak percaya kalau gue di pindahin duduk sama bu Ajeng. Itu sampai sepet gitu mukanya."

"Eh anjir, baru sadar gue. Ci, udah sehat?" tanya Ilva menoleh ke Ochi yang kini meletakan kepalanya diatas meja.

"Ci, masih pucat banget muka lo. Yakin kuat?" cemas Gigi memeriksa kening Ochi.

Ochi mengangguk lemah, "Jasmani gue sehat, rohani sama jiwa gue doang yang bermasalah."

Perkataannya itu mengundang ketawa pelan empat teman dekatnya. Sakit-sakit begitu pun, Ochi masih bisa bercanda.

"Ci, jangan bilang lo lemas gini karena dengar kabar Aurora pindah bangku?"

"Gak berfaedah hidup gue kalo gitu, Al." kata Ochi, berbohong. Padahal aslinya dia lemas karena Aurora dipindahkan tapi gengsi.

"Biasa, gengsi dia. Gue tau kok yang sebenarnya." Aurora senyum-senyum sendiri membuat empat temannya bergidik ngeri.

"Temen lo?" tanya Ilva.

Mereka menggeleng,

"Bukan, babuh gue mah dia." jawab Alya memasang muka jijik nya.

Aurora mengerucutkan bibirnya,

"Sakit hati nih gue." katanya mengusap dadanya.

"Tolong dong, bagi yang merasa kenal atau merasa temannya. Please bawa dia untuk periksa kejiwaan. Kasihan banget, masih muda udah terganggu gitu jiwanya." Ujar Ochi.

Ketawa jahat pun terdengar begitu kuat memenuhi kelas. Aurora yang menjadi objek tertawaan ikutan ketawa, dia udah terbiasa dan tau kalau itu cuman bercandaan aja.

"Anjir lah, makin lari topik nya." komentar Alya.

"Iya nih, makin lari kayak otak Ochi." Timpal Aurora.

Gigi mengerutkan alisnya, "Emangnya tadi kita bahas apa?"

Didalam suatu persahabatan, bukan hal yang langka kalau salah satu diantara mereka ada yang lemot atau lambat mikir. Di semua persahabatan pasti ada saja satu orang seperti Giandra yang lambat mikir dan berakhir jadi bahan ejekan satu sama lain.

"Haduh, kumat." Alya menepuk keningnya pelan.

"Dah lah, skip, skip." Ujar Aurora.

"Emang kenapa sih?" bingung Gigi yang membuat mereka gemas sendiri.

Aurora menarik dan menghembuskan nafasnya pelan kemudian tersenyum paksa.

"Gini lo, Gi. Tadi Cici gak terima gue dipindahkan jadi gitu, sedih. Nah, lo tau kan kalau gue dipindahkan karena anak baru yang cangtip itu."

"Ohh, Iya, Iya. Siapa itu namanya Jeno ya?" kata Giandra yang tidak hanya telmi melainkan pelupa tingkat tinggi.

"Zein, Gi." Koreksi Ilva. "Kalo Jeno itu biasnya Cici."

"Zein? Anak baru? Duduk sebangku sama gue?" tanya Ochi membulatkan matanya kaget.

Aurora, Gigi, Ilva dan Alya kompak mengangguk semangat.

"Asal lo tau, Ci. Itu anaknya beuh, ganteng nya kurang ajar banget. Lo gak bakal bisa berpaling dari dia deh," ujar Gigi semangat. Gadis itu cepat nangkap hanya untuk hal tertentu, tentang cogan contohnya.

"Mukanya blasteran surga, betulan. Cakep gak ketulungan," kata Ilva senyum-senyum gak jelas.

"Kalau lo gak mau duduk sama dia, dengan senang hati gue mau kok. Sebagai teman yang baik gue mau menerima apa yang lo gak suka." ujar Aurora mauan.

"Ye, mauan lo. Semua cewek juga mau kali kalo disatukan sebangku sama cowok cakep modelan Zein." dengus Ilva menoyor pelan kepala Aurora.

"Ya kan, Manatau." balas Aurora.

Alis Ochi bertaut bingung, ada empat alasan kenapa Ochi diam saja. Pertama, dia tidak tau teman-temannya sedang membahas apa. Kedua, dia tidak kenal lelaki yang bernama Zein. Ketiga, dia penasaran dengan bagaiamana rupa nya Zein yang digadang-gadang sebagai mahkluk blasteran surga.

Dan keempat yang paling penting,

Ochi tidak pernah bisa menolak kalau berhadapan dengan cogan.

Please, dia masih cewek normal.

Selalu heboh setiap melihat sesuatu yang menyegarkan mata.

"Ci, kenapa diam aja?" tanya Aurora yang menyadari bahwa Ochi diam saja sejak tadi.

Ochi menggeleng pelan, "Enggak, gue lagi gak fokus aja." Elaknya.

"Udah kayak iklan aja, Ci. Pake gak fokus segala." Cibir Ilva.

"Dia kan emang korban iklan."

"Bacot ah, kantin yuk. Kangen nasi goreng nya bu gendut gue."

"Gue mah kuy, kuy, kuy, girl."

"Sekali lagi gue lempar ke amazon lo ya, Ra."

"Mau dong, biar camping dekat sungai nil."

"Kebodohan mu itu, Ra. Murni sekali."

"Bodo!"

Next chapter