16 EMPAT SEKAWAN

Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta,

07. 49. P.M

Seorang lelaki berbadan atletis setinggi 188 cm baru saja keluar dari pesawat menuju ruang tunggu bandara Soetta. Perawakan nya tinggi, dengan dua iris mata yang tertutupi kaca mata hitam, kulit putih nya begitu kontras dengan bibir merah yang penuh.

Bersama gerombolan nya yang memakai seragam yang sama dengannya, keempat pria tersebut berjalan menuju ruang tunggu bandara. Beberapa perhatian tertuju pada keempat pria dewasa tersebut, terutama pada lelaki berkaca mata hitam yang paling kontras. Paling tinggi dengan wajah tampan tanpa ekspresi apapun.

"Gila, gue dari semalam dapat banyak trip. Seminggu ini full." Ujar lelaki berbadan setinggi 184 cm. Kulit nya sawo matang dengan koper hitam yang cukup besar. Co-pilot Dylon namanya.

"Gue sih cuman empat hari terbang. Tapi delay lama banget dua hari berturut-turut. Mana penumpang pada rewel," balas pria yang tinggi nya hampir sama dengan pria berwajah tampan—capt. Sadewa namanya.

"Lo pada enak banget seminggu, empat hari. Gue tiga minggu anjir! Gak ada jeda libur. Kerja lembur banting tulang bagai kuda." Rutuk Capt. Ando. Pria bertubuh sedikit lebih gemuk dari yang lainnya, tapi untung saja badannya menjulang tinggi. 183 cm, cukup lumayan untuk menutupi badan nya yang berisi.

"Kok bisa tiga minggu? Lo kerja apa mau nimbun harta?" Canda Dylon memukul pundak temannya itu.

"Ya kerja lah! Adek gur sih Thalia yang pernah gue ceritain ke lo itu hobi nya nguras dompet gue buat beli album biasnya. Bisa ditendang gue kalo dia minta gak gue kasih." Balas Ando mendengus pelan mengingat adik sepupunya.

"Yang cakep itu? Bukannya lo ya yang nguras uang dia?" kata Sadewa mengerutkan alisnya.

"Si Ando otak nya ketinggalan di kokpit jadi begini. Halusinasi," canda Dylon tertawa lebar bersama Sadewa yang ada di sebrang.

"NGAHAHAHA! Miris banget, makanya ndo. Sebelum keluar kokpit liat dulu, ada gak yang ketinggalan. Kalo gini kan ribet, lo jadi gak punya otak." Timpal Sadewa ikutan membully sahabat nya sendiri.

"Kurang ajar! Dongo banget gue berteman, ganti temen deh!" Ucap Ando mencebikan mulutnya.

Melihat kekesalan teman mereka bukannya membuat dua lelaki berbadan kekar itu menghentikan tawa nya. Malah semakin menguatkan ketawa nya sampai beberapa pengunjung di ruang tunggu bandara ini memperhatikan mereka.

"Heh, udah! Jangan kenceng ketawa nya. Lo malu-maluin banget sih!" Gerutu Ando kesal.

"Apa sih, Ndo. Sensi amat kayak cewek pms." Kata Sadewa terkikik geli.

"Sensi dia karena bingung mau beli otak baru dimana." Seloroh Dylon semakin menjadi-jadi.

"Tau ah! Gue betulan mau ganti temen aja!" Balas Ando.

Alih-alih tersinggung, keduanya justru semakin mengencangkan tawa mereka. Membuat seorang Ando Anthonius Dermawanto kesal memang sebuah kebahagiaan besar buat mereka.

Kesalnya Ando itu bikin suasana hidup dan enak dijadikan bahan bullyan mereka.

"Yan, temen lo tuh. Suruh diem napa, bikin malu aja." Adu Ando pada teman disebelah nya yang sejak tadi diam saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Dia malah bergumam tidak jelas bikin Ando makin kesal.

"Yan, gila sumpah! Gimana bisa gue temenan sama makhluk aneh macem lo bertiga! Dua biang keributan satu arca batu. Betulan ganti temen gue!" Gemas Ando menggelengkan kepalanya kesal.

"Yee, terus lo apaan? Anak setan gitu?" tanya Dylon yang ujung-ujungnya bercanda.

"Kebagusan, kembaran dajjal dah dia." Timpal Sadewa tertawa kencang.

Cowok itu memang sangat malu-maluin, ketawa nya gak pernah ia jaga. Suka-suka nya saja sampai dia lupa kalau dia sekarang masih berseragam. Jika diluar sana orang akan menjaga image nya, maka berbeda jauh dengan Sadewa dan Dylon.

Mereka justru berlomba-lomba mempermalukan diri mereka sendiri. Ralat, maksudnya mempermalukan Ando setiap kali mereka bareng. Mereka berdua mana ada malu nya.

Heran, dulu Ando cari teman dimana sampai dia bisa dapat dua orang modelan Sadewa dan Dylon.

"Gak usah sok jaim deh, Ndo. Lo juga biang onar kan? Diantara kita bertiga siapa yang paling sering bikin keonaran, hah?" Ujar Sadewa.

"Jangan ngadi-ngadi! Mana ada gue bikin keonaran! Lo yang bikin onar malih!" Sanggah Ando galak.

"Dih, emang betul kok gue. Lo kan hobi bikin keonaran, sebulan yang lalu lo spam grup sampe spam call. Apa itu kalo bukan bikin keonaran?" Sahut Sadewa.

"Itu bukan gue yang spam."

"Terus siapa? Hantu lo gitu?"

"Wah, benar-benar ketinggalan otak nih bocah."

"Emang bukan gue, bajigur! Adek gue, Thalia itu yang spam lo. Dia bajak hape gue." Jelas Ando dengan muka kesal nya.

"Alah, bohong!"

"Penipuan ini namanya. Orang pake wa lo kok, gimana caranya dia pake wa lo padahal lo pake kunci aplikasi."

"Ini kalo ada petisi buat gue ganti teman, bakal gue tanda tangani dah. Capek gue berteman sama lo berdua." Rutuk Ando mendengus sekuat mungkin.

"Gue juga capek temenan sama orang kayak lo." Balas Sadewa yang diangguki setuju Dylon.

"Gue juga, dih malesin temenan sama lo, Ndo. Sempak aja masih kredit." Ejek Dylon dengan suara yang terbilang kuat bikin mata Ando melotot.

"Kalo ada samurai udah gue tebas mulut lo, Lon!" Katanya.

Dylon sempat ingin membalas, namun mereka sudah sampai ke kursi tunggu yang sudah diisi oleh beberapa pasangan paruh baya yang menyambut mereka dengan senyum lebar.

"Kalian udah sampai?" tanya Rose—perempuan paru baya berumur setengah abad dengan rambut pendek sebahu. Wajahnya tetap terlihat muda meski sudah termakan umur.

"Belum ma, ini arwah kita. Tubuh kita masih ketinggalan di Hongkong." Balas Ando sensi.

"Becanda, Ndo?" Tanya Sadewa.

"Pidato gue mah!" Balas Ando semakin sensi.

"Duh, pulang-pulang langsung sensian kamu." Kata mamanya.

"Kan capek ma, masa baru pulang gini ngadepin dua bocah yang nguras tenaga." Adu Ando melirik sinis ke dua lelaki yang memasang wajah polos tak berdosa.

"Apa lo liat-liat hah?" Hardik Dylon galak.

Ando udah bersiap membuka mulutnya untuk membalas Dylon dengan kata-kata pedasnya. Tapi tidak jadi saat seruan seseorang yang ia kenali terdengar.

"Loh, bang Ando kok udah pulang? Ngapain pulang sih bang? Terbang aja sana biar dapat duit banyak!"

Ando mengelus dadanya, sabar dia.

Thalia Margaretha Dermawanto adalah adik satu-satunya Ando. Dia adik kandung Ando. Tapi Ando aja yang gak dianggap abang kandung sama Thalia. Kerjaan Thalia itu selain malak abang nya ya bully abangnya.

Kadang Ando dibuat kesal tapi gak bisa apa-apa. Kalo dia ngambek justru abangnya yang bakal ngambek lebih parah.

Dan semakin bahaya untuk keselamatan dompet Ando. Karena kalau bujuk Thalia yang ngambek itu sama aja kayak mempercepat diri kita bangkrut. Dia suka lupa diri dan banyak maunya.

"Thalia, jangan gitu sama abang mu." Nasihat Anton pada putri nya itu.

"Aku cuman kaget pa." Elak Thalia tersenyum manis pada papanya.

Ando mendengus, "Kaget apanya." Gumam dia yang sialnya kedengaran sama Thalia.

"Emang cuman kaget loh bang! Abang kok ngeselin banget sih hari ini?! Tau ah aku ngambek!"

Kan, baru aja Ando kasih tau adiknya udah ngambek. Harusnya kan Ando yang ngambek? Tapi kenapa malah jadi adiknya yang ngambek?

"Ando emang lagi ngeselin nih, Lia. Abang habis disemprot sama dia dari tadi." Adu Dylon mengada-ada.

Mata Ando melotot lebar. "Eh, mana ada! Fitnah ini namanya."

"Serius, Lia. Bang Dylon gak bohong. Abang juga kena damprat sama abang kamu ini. Nasehati dong Lia, biar dia gak ngamuk terus." Kata Dewa ikut-ikutan memanasi Thalia.

"Kampret ya lo berdua! Biar apa sih fitnah- fitnah gue segala?" Sembur Ando semakin galak bikin Thalia menyorot kearah nya.

Mata Thalia menyipit, "Abang pasti ngamuk gak jelas gini karena mantan abang itu kan. Iya kan?"

"Mana ada mantan!"

"Dih, itu pake ngegas segala."

"Emang gak ada, Lia."

"Sudahlah, Ndo. Ngaku aja. Lo gini karena mantan lo itu kan?"

"Lon, sumpah. Gue pengen banget bonyokin muka lo!"

"Oh tidak bisa, anda tidak tau saya ini bersabuk hitam!"

"Gue pake dan, jangan macam-macam lo sama gue!"

"Lo!"

"Apa hah?!"

"Maju sini! Jangan diem aja lo!"

"Ya Tuhan, kelakuan dua abang ku memalukan." Rutuk Thalia mengusap wajah nya.

"Lanjutkan! Tidak ada jalur damai disini!" Kompor Sadewa yang kini duduk di kursi penunggu sambil menatap seru kedua temannya yang masih adu debat.

"Dylon, Ando." Panggil seseorang itu.

"Jangan tahan gue, Yan. Nih anak emang harus gue gampar!"

"Gue gak ada nahan lo."

"Oh sorry, gue kira lo mau nahan gue." Ujar Ando yang bikin mereka kompak tertawa.

Bahkan lelaki dingin tadi pun ikut tersenyum kecil. Pantes aja Ando di bully, udah serius gitu pun masih bisa becanda dia.

"Gak usah ketawa lo, Dylon! Gue masih kesal sama lo!" Sinis Ando sensian.

"Gue cuman menertawakan kebodohan lo. Jangan tahan gue Yan. Nuh anak emang harus gue gampar!" Ujar Dylon menirukan suara Ando yang jatuhnya seperti suara cewek.

"Sialan! Liat aja, gue bakal ganti temen!"

"Kayak ada aja yang mau temenan sama lo."

"Eh udah, kalian ini udah besar tapi masih aja berantem. Kamu lagi, Dylon. Udah tau temen mu capek masih aja kamu jahilin." Tegur Aldan—papanya Dylon.

"Hobi pa, gimana lagi." Balas Dylon yang bikin Ando mendengus dalam hatinya.

"Ada ada aja kamu. Ya udah, kita makan malam dulu. Papa udah lapar." Ujar Aldan yang diangguki setuju mereka.

☆☆☆☆

HELOWWWHHHH!!

AKU BALIKKK LAGIII

JGN LUPA VOTE DAN KOMEN DAN KASIH GIFT KE AKU YAA❣❣🖤

BTW SATU PART LG KALIAN BAKAL KETEMU BANG SAMUDRAAA

TUNGGUIN YAAA

SEE U ON THE NEXT PART BBY🖤🖤❤

Next chapter