3 Bab 3 - Awal Mula Perbudakan

                

Saat ku tengah makan, tiba-tiba pintu kamar Eunsoo terketuk dari luar diikuti oleh suara seseorang dari luar, yang kutahu adalah suara Taesoo.

"Eunsoo-ah" Eunsoo menatapku sebentar lalu mengangguk, seolah mengatakan jika aku tidak perlu khawatir, entah kenapa ia peka sekali hanya melihat ekspresiku.

Pintu kamar terbuka memperlihatkan tubuh Taesoo yang sudah lengkap dengan baju casualnya yang tadi ia kenakan, melihatnya lagi membuat perasaanku kembali sakit, aku kembali takut.

Ia melirikku sekilas lalu kembali menatap Eunsoo yang duduk disebelahku.

"Ada apa Hyung?"

"Appa___" katanya menggantung, entah kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak, ada apa ini?

"Korean airlines yang papa tumpangi kecelakaan dan tidak ada satupun penumpang yang selamat" mendengar ucapan Taesoo telingaku berdengung, tanganku kaku, mati rasa.

Otakku tidak bisa berfikir secara rasional lagi.

"Jenazahnya belum ditemukan namun sudah dipastikan kalau semuanya meninggal___bersiaplah kita akan melakukan pemakamannya" apa? Pemakaman? Tidak__tidak mungkin, bagaimana kalau ibu masih hidup?

"Kenapa? Jenazah mereka belum ditemukan kan? Bagaimana kalau ternyata mereka selamat?"

"Tidak ada satupun yang selamat Suzy__tidak ada satupun penumpang bahkan awak pesawat pun tidak ada yang selamat"

"Bagaimana bisa kamu setau itu? Mereka pasti____"

"Pesawatnya terbakar diudara lalu jatuh kedalam laut" aku terdiam, lagi-lagi terdiam mendengar ucapan cepatnya saat menyelaku.

Apa lagi ini? Air mataku kembali turun dengan derasnya, eomma___

                       🔒⛓🔒⛓

Aku berjalan dengan langkah berat bersama ke empat saudaraku yang berjalan dibelakangku, jika orang lain melihat aku seperti seorang putri dengan ke-4 dwarfsnya, seorang putri beruntung yang dikelilingi oleh pria-pria tampan yang menjaganya, hanya saja kenyataannya tidak semanis itu.

Aku hanyalah seorang bawang putih dalam keluarga ini.

Aku berjalan menghampiri tempat dimana ada foto eomma yang sedang tersenyum terpajang disana.

Aku ingin menangis hanya saja air mataku seolah enggan turun sampai aku tidak bisa meneteskan air mataku barang setetes saja. Melihat foto eomma tersenyum rasanya baru kemarin ia tersenyum didepanku semanis itu dan sekarang ia sudah pergi? Meninggalkanku secepat ini? Aku masih tidak percaya ini.

Eomma aku harus bagaimana? Aku harus kemana? Aku tidak memiliki siapapun lagi selain eomma? Appa sudah pergi dan sekarang eomma juga ikut menyusulnya? Bagaimana kau tega meninggalkanku seorang diri? Bagaimana bisa kau meninggalannku dengan ke-3 saudara baruku ini eomma?

Mataku memerah, dadaku sesak, tubuhku rasanya lemah, sampai seseorang menepuk pundakku membuatku mau tak mau menoleh padanya.

Disana aku melihat Eunsoo tersenyum tipis padaku, bukan senyum semanis biasanya karena aku masih bisa melihat kesedihan dari matanya namun melihat senyumnya tadi padaku seolah ia ingin mengatakan jika semua akan baik-baik saja.

Ia duduk bersimpuh didepan tempat penghormatan eomma, melakukan penghormatan terakhirnya untuk eomma sebelum memanjatkan doa yang entah apa isinya lalu ia menggenggam tanganku lembut "kamu masih memiliki aku Suzy" katanya yang mampu membuatku memiliki sedikit harapan untuk melanjutkan hidupku.

                              ⛓🔒⛓🔒

Setelah acara penghormatan selesai, kami akhirnya kembali ke mansion, tidak ada yang membuka suara selama kami ada dimobil seolah semua sedang sibuk dengan fikirannya masing-masing begitupun dengan aku.

Mobil yang kami tumpangi memasuki pekarangan mansion lalu berjalan memutar menuju belakang, ini jalan yang menghubungkan antara mansion utama dengan bangunan dimana Kim Ahjussi tinggal.

Setelah mobil terparkir aku berjalan memasuki pekarangan bangunan kecil yang ada dibelakang mansion, menaiki tangga putih yang menghubungkan dengan balkon bangunan itu mengikuti ke-4 saudaraku yang berjalan didepanku.

Belum ada diantara kami yang mengetuk pintu namun pintu tiba-tiba terbuka dari dalam dan muncullah Kim Ahjussi dari sana.

Ahjussi membungkukkan tubuhnya 90° membiarkan aku serta ketiga saudaraku masuk dan duduk disofa putih yang ada ditengah ruangan.

Ahjussi membawa sebuah map ditangannya.

"Ini adalah surat wasiat yang Tuan buat satu minggu yang lalu" kata Kim Ahjussi yang mampu mengejutkanku, tidak mungkin appa sudah punya firasat kan?

"Cepat bacakan, tidak usah bertele-tele" aku menatap Kim Hyunsoo dengan tatapan terkejut, ia terlihat sangat santai dan tenang tidak terlihat seperti orang yang sedang berduka.

"Pada hari ini Kamis, 22 juni xxxx di Seoul Korea selatan, saya yang bertanda tangan dibawah ini Kim dong hwa______" ahjussi membacakan isi surat wasiat yang sudah ayah buat dengan suara lantang serta tegas.

Kami berempat mendengarkan secara seksama sampai pada poin yang mampu membuatku serta ke tiga saudaraku terkejut.

"Maka dengan ini saya mewasiatkan seluruh harta warisan saya kepada kelima anak saya dengan bagian sebagai berikut"

"Kim Hyunsoo sebesar 20%, Kim Taesoo 20%, Kim Woosoo 20%, Kim Eunsoo 20% serta Park Suzy 20%, serta keberadaan mansion yang beralamatkan di jalan xx no 45 yang saya wariskan kepada kelima anak saya secara adil"

Semua yang ada didalam ruangan ini kecuali Kim Ahjussi sangat terkejut, aku bahkan sampai terdiam tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.

"Bagaimana bisa isi surat wasiatnya seperti itu? Kamu yakin surat wasiat itu tidak dimanipulasi?" Suara Kim Hyunsoo yang dingin terdengar menggelagar didalam ruang tamu yang tidak begitu besar ini, suaranya terdengar penuh menahan amarah.

"Tidak tuan muda, ini atas kemauan tuan besar bahkan____"

B

R

A

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/me-and-4-dwarfs_18752219705853805/bab-3---awal-mula-perbudakan_50373423083341507 for visiting.

K

Aku terjengkit kaget, aku yang sedang berkutat dengan fikiranku sendiri seketika tersadar saat Hyunsoo menggebrak meja.

"Bagaimana bisa dia_____mendapatkan bagian sama besar dengan kami berempat?" Dia menatapku penuh amarah, matanya berkilat merah seolah mengeluarkan kobaran api yang mampu menghanguskanku.

Aku menoleh memperhatikan wajah ke-tiga saudaraku yang lain, keduanya menampilkan ekspresi yang sama dengan Hyunsoo namun tidak semurka saudara pertama sedangkan Eunsoo, ia masih tetap sama seperti biasanya, lembut dan tenang.

"Saya tidak tau tuan muda, ini keinginan tuan besar sendiri" Kim Hyunsoo menggeleng cepat berkali-kali, ia mengusap rambutnya kebelakang memperlihatkan keningnya yang tertutup rambut dengan wajah frustasi membuatku takut menatapnya, apa dia akan marah padaku lagi? Bagaimana ini?

"Dia hanya anak tiri itupun baru kemarin bagaimana bisa kita yang anak kandungnya mendapatkan bagian sama besar dengannya" ahjussi menundukkan tubuhnya penuh hormat.

"Maaf tuan muda, untuk itu saya tidak tau, saya hanya menyampaikan surat wasiat yang sudah tuan besar buat" Hyunsoo berdecak keras, lalu matanya menatap kedua saudara lainnya setelah itu mereka undur diri.

Taesoo menggandeng tanganku kasar namun wajahnya tersenyum "ayo Suzy kita pulang, kamu pasti lelah" suara lembut yang dibuat-buat, menjijikkan.

Aku menatap Eunsoo dan juga ahjussi dengan tatapan nanar, aku takut dengan apa yang akan mereka lakukan padaku, aku merasa aku tidak akan bisa selamat lagi kali ini.

Aku berjalan setengah diseret oleh Taesoo lalu di susul oleh Woosoo yang ikut menggandengku setengah menyeret sedangan Hyunsoo jalan terlebih dahulu didepan, aku tidak melihat Eunsoo mungkin dia ada dibelakangku? Entahlah aku tidak diperbolehkan menoleh.

Mereka membanting tubuhku lumayan keras memasuki mobil yang terparkir lalu mobil itu berjalan mengitari pekarangan menuju mansion kami, selama perjalanan tidak ada yang membuka suara sedangkan aku hanya menunduk menyembunyikan wajahku yang ketakutan.

Tanganku diapit oleh Taehyung serta Woosoo dan saat kami sudah sampai di depan Mansion kami, kedua saudaraku menyeretku masuk kedalam rumah dengan kasar, aku bisa mendengar suara Eunsoo yang berteriak memanggil namaku meminta dua orang ini melepaskanku namun tidak mereka hiarukan.

Aku hanya bisa mengaduh saat tanganku diseret dengan begitu kerasnya memasuki rumah.

Baru saja kami memasuki pintu Hyunsoo memberikan perintah yang mampu membuat duniaku runtuh, menyerukan perintah keji dengan suara kejinya yang ku beci.

"Telanjangi dia lalu bawa dia keruang bawah tanah" mataku seketika membulat saat kedua saudaraku menyentuh bajuku, dengan sekuat tenaga aku berusaha melindungi bajuku namun dengan mudahnya mereka memporak-porandakannya dengan beberapa kali tarik menyisahkan dua pasang underwear yang melindungi asetku, aku berharap mereka masih membiarkan dua kain ini bersarang ditubuhku.

Namun harapanku sirna saat Taesoo juga menarik bra serta celana dalamku dengan kasar membuat tubuhku kini polos tak berbusana.

Lalu dengan kasarnya Taesoo menarikku dengan kuat, dengan tubuh tanpa busana ia membawaku menuruni anak tangga dengan tubuh yang ia seret, samar-samar aku mendengar suara Eunsoo yang lagi-lagi menyerukan namaku dengan suara penuh keputusasaan, aku tidak tau apa yang mereka lakukan pada Eunsoo hingga kini aku tidak bisa mendengar suara pria itu lagi.

Taesoo membawaku pada salah satu ruang yang ada dipojok, ruang dengan besi teralis yang menjulang tinggi, ruangan yang lebih pantas disebut sebagai penjara.

Taesoo memasangkan kembali choker serta borgol yang kemarin ia kenakan padaku.

"Mulai sekarang ini adalah tempat tinggalmu" katanya sembari memilin putingku sekilas membuatku mendesah karena terkejut.

Ia menyeringai lalu meninggalkanku didalam ruangan ini sendirian, mengunci pintu sel lalu meninggalkanku didalam ruangan neraka ini seorang diri.

Ku tatap tanganku yang diborgol, menatap tubuhku yang tak berbusana, lalu melihat choker hitam yang melingkar dileherku membuatku merasa seperti aku seorang tawanan, seorang hewan peliharaan yang dikurung pemiliknya agar tidak berbuat onar, seperti hewan peliharaan yang dibuang pemiliknya dan diambil kembali saat butuh dipuaskan.

Aku merasa diriku lebih buruk dari seorang pelacur.

Dipergunakan oleh kedua saudara tirinya, bahkan dijadikan penikmat nafsu yang hidup dengan ketidaklayakan.

Next chapter