19 Sesaat

Xuan dan Ni'er sudah resmi kembali ke rumah dinas yang sebelumnya menjadi tempat tinggal Xuan seorang. Namun saat ini bertambah satu sopir (merangkap pengawal) yang akan selalu sedia mengantarkan Ni'er kemanapun. Tentu saja dengan tambahan fasilitas asisten rumah tangga dengan mode kerja yang tidak terlihat, mereka datang saat Xuan dan Ni'er bekerja dan pulang sebelum tengah hari. Belum juga dihitung adanya tambahan perabot rumah tangga yang tidak Ni'er sangka, sebagai hadiah dari Kakek Ouyang untuk mereka.

"Xuan, bisakah kamu cerita bagaimana hubungan di keluarg kalian?"

"Nyonya Ouyang, sebutkan pertanyaanmu dan aku akan jawab."

"Tadi kan sudah."

"More spesific please."

"Terkait Kakek mu, bagaimana menurutmu?"

"Jangan terlena dengan hadiah dan kebaikannya, semua ini hanya kompromi semata."

"Seperti pernikahan kita?"

"Tapi pernikahan kita tidak murni politis bukan?"

"Anggaplah begitu. Lalu untuk apa dia memberikan kita semua perabot mahal ini?"

"Untuk mendukung citra kediaman Ouyang disini... Kakek mengijinkan kita keluar, tapi dia tetap ingin kehilangan muka akibat kekurangan di kediaman ini."

"Kita masih ada waktu untuk membelinya."

"Baginya, tidak. Aku yakin dua hari sebelum kepindahan kita, Kakek sudah menyiapkan ini semua."

"Well, sekarang rumah dinas ini terasa seperti rumah sungguhan."

"Jadi dulu tidak mirip rumah?"

"Iya, mirip benteng atau penjara.." Xuan pun menggeram rendah sebagai balasannya.

"Oh, okay i am sorry..." Potong Ni'er cepat.

Selama beberapa hari mendatang, Ni'er dan Xuan memang tidak melibatkan diri dalam hal romantisme berlebihan. Mereka terlihat akrab dan dekat dalam kategori wajar, Xuan akan selalu meninggalkan ciuman sebelum berangkat kerja, Ni'er pun menjalankan perannya sebagai istri dengan baik.

"Tuan, saya lihat keduanya baik-baik saja. Apakah sudah saatnya kita tanggalkan CCTV di dalam rumah?"

"Apa kau bilang? mereka baik-baik saja? aku butuh mereka lebih dari sekedar baik-baik saja, untuk mendapatkan keturunan dan penerus Keluarga, tindakan mereka mirip diorama keluarga, dan itu membosankan."

"Jadi, Tuan akan melakukan apa?"

"Lakukan apapun agar mereka lebih dekat daripada sekarang. Jangan kembali sebelum memberikan hasil yang memuaskan."

-_-

Sore itu, Xuan harus kembali ke pelabuhan meninjau logistik yang sudah dipersiapkan sejak lama. Mengingat akan ada banyak kapan yang berlabuh sebelum memasuki musim dingin. Umumnya para kapten kapal lebih menyukai perjalanan yang aman, mereka lebih baik berlabuh selama tiga bulan di Jing daripada melanjutkan perjalanan. Atau jika pemilik ekspedisi tersebut cukup pandai, maka mereka akan memiliki cabang port di Jing untuk bongkar muat dan mengubah jenis kapal untuk masing-masing tujuan, sehingga paket/pesanan agar tiba lebih cepat.

Guna memfasilitasi hal tersebut, Xuan telah mencanangkan program dan terobosan tersebut beberapa tahun silam, dan approval pendanaan baru saja turun tahun lalu. Kini Xuan tinggal mengecek ulang persiapan sebelum musim dingin tiba. Ditambah lagi, mengingat progress pekerjaan telah mendekati seratus persen, maka tim audit pun mulai diturunkan sebagai bagian prosedur pelaksanaan. Maka lengkap sudah kesibukan Xuan yang sepertinya tidak akan pulang ke rumah dalam waktu dekat.

Sedangkan dilain tempat, Ni'er berusaha mengontak Jerome Ahn yang sepertinya terlalu tenang di Kanada. Dia khawatir mereka kekurangan uang untuk menghadapi musim dingin, Ni'er juga menghabiskan dua jam di ruang perawatan ayahnya untuk memastikan kebutuhannya tercukupi. Musim dingin tidaklah terlalu buruk, namun bagi customer yang memiliki kebutuhan pada komoditi khusus haruslah menyiapkan hal tersebut jauh-jauh hari. Sekalipun air freight tidak ditutup, mereka paham bahwa biaya pengangkutan moda udara akan menguras kocek mereka hingga dua kali lipat dibanding hari biasa.

Di tempat lain, CEO Gong yang sudah setengah menyerah kini kembali bersemangat, karena detektif yang dia sewa akan kembali ke Jing untuk memberikan laporan secara lengkap padanya, terutama tentang perempuan yang menjadi penyebab retaknya hubungan antara dia dan Presdir Lim. Namun setibanya detektif ke dalam kota, terdapat masalah administrasi yang harus CEO Gong tangani sendiri.

"Apakah karena dia orangku, maka kalian mempersulitnya?" tanya CEO Gong dengan wajah merah padam di depan meja petugas. Sebelumnya Detektif tersebut telah dimasukkan ke ruang tunggu yang sudah disiapkan pihak bandara, dan disinilah CEO Gong meluapkan emosinya.

"Maaf, pak. Kami hanya melakukan prosedur pengecekan semata, namun beliau hanya ingin agar Anda dipanggil kemari sebagai penjamin. Jika Anda ingin memastikan apakah ada tidaknya kesalahan dalam dokumen, silahkan.."

"Ah.. masa bodoh. Ini kan pekerjaan kalian, kenapa harus aku yang mengecek."

"Jika begitu, mohon ikuti peraturan kami."

"Panggil bosmu, suruh dia kemari. Kalau perlu sekalian saja Jenderal Ouyang yang menemuiku."

"Maaf tapi Jend.."

"Temui atau jangan tahan aku."

Hampir seisi kota sudah mendengar berita burung tentang hubungan CEO Gong yang menyukai istri Jenderal Ouyang, tapi tiada yang menyangka bahwa sebuah perang dunia akan meledak di kedatangan internasional bandara.

"Saya bukanlah orang yang mudah menemui tamu dengan permintaan dadakan, CEO Gong. Jadi segera katakan bantuan apa yang bisa ku berikan?" Tanya Jenderal Ouyang dengan

"Apapun?" tanya CEO Gong dengan nada menantang.

Lalu Jenderal Ouyang memberikan tanda agar seluruh orang meninggalkan ruangan.

"Apakah Anda akan memukuliku, Jenderal Ouyang?"

"Untuk apa? Aku sudah menggenggam semua keinginku. Justru aku ingin bertanya, kenapa kau begitu ingin membuat perkara denganku? Apa salahku padamu?"

"Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"

"Jika ada yang ingin anda sampaikan, silahkan saja."

"Apakah gosip mengenai aku dan istrimu, kurang nyaring terdengar?"

"Jadi, rupanya anda cukup menikmati gosip tersebut ya... Namun, apapun yang terjadi antara Anda dan istri saya hanyalah masa lalu. Bisa kita bahas masalah yang saat ini saja?"

"Aku menginginkan istrimu."

Mendengar hal tersebut, Jenderal Ouyang tertawa sambil menahan perutnya. Tentu saja respon seperti itu bukanlah hal yang diharapkan CEO Gong, namun dia masih mempertahankan ekpresi marahnya karena merasa dipermainkan.

"Kau pikir pernikahan adalah permainan CEO Gong? Kami sudah melalui banyak hal hingga sampai di titik ini. Lalu apakah hanya kerana kehadiranmu kemudian bahtera kami akan karam begitu saja?" cemooh Jenderal Ouyang.

"Apakah anda pernah mendengar mengenai lima keluarga utama di Jing? Itulah kami. Anda boleh jadi lebih kaya diantara kami semua, namun hal tersebut tidak lantas menjadikan Anda sebagai pria yang layak untuk dijadikan suami dan menantu. Saya tidak bisa meminta Anda untuk berhenti mencintai istri saya, saya juga tidak bisa meminta anda untuk menikah dengan wanita yang tidak anda cintai. Namun dunia ini masih luas, pasti masih ada perempuan yang lebih baik dibandingkan istri saya dan siap untuk anda nikahi."

Begitulah bagaimana Jenderal Ouyang mengakhiri perang urat syaraf diantara keduanya. Kemudian dengan penuh wibawa dan segala kesabaran, Jenderal Ouyang pun keluar dari ruangan tersebut.

"Kembali ke pelabuhan." perintah Jenderal Ouyang pada sopirnya.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/massive-trick_18433599406805005/sesaat_50766631097399831 for visiting.

-_-

Malam itu Ni'er pulang lebih awal karena dia ingat bahwa masih banyak kekosongan di kulkas nya. Maka setelah keluar dari gedungnya, Ni'er berencana memanggil taxi untuk mencapai pasar kota, yang jaraknya tak lebih dari tiga kilometer. Namun saat keluar dari lobby, Ni'er dikejutkan dengan mobil RR milik suaminya tersebut.

"Apakah kau ada urusan di dalam?" tanya Ni'er saat melihat Xuan keluar dari kursi pengemudi.

"Apakah aku harus datang kemarin untuk keperluan kantor saja?"

"Ah, tidak.. maksudku barangkali kau.." Ni'er sedikit terhentak karena Xuan tiba-tiba sudah berada di dekatnya dan membuka pintu penumpang di kabin depan.

"Ayo masuk..."

"Thanks."

Kemudian Xuan menginjak pedal gas mobilnya dan melaju sesuai permintaan istrinya.

-_-

Next chapter