10 Coklat dingin

"Aku minta maaf.." Kata Jenderal Ouyang tiba-tiba.

"Untuk?"

"Perlukah aku sebutkan satu persatu."

"Yess.."

"Invite me.."

"Kita sudah sarapan bersama, jalan keluar kota, makan malam, lalu mengantarku pulang. Jika tetanggaku lihat dikira kita.."

"..Kencan?"

"Yah.. kind of."

"Jadi kamu masih mendengar penjelasanku atau tidak?"

"Ayo masuk."

"Nona Lim, tidakkah cara mengundangmu terlalu sadis?"

"Masuk atau tidak?"

"Ajak aku sekali lagi."

"Mr. General, its gonna lovely if you wanna coming inside and take some couple tea with me."

"Sure.. count me in."

"Ingatkan aku untuk menjauhimu."

"You won't."

Akhirnya mobil itupun masuk ke dalam pekarangan dan Ni'er memipin jalan masuk ke dalam rumah, melalui pintu belakang.

"Selamat datang Nona dan.. oh Jendereal Ouyang, we are so pleased have you here." Ucap bibi pengurus rumah.

"Jangan percaya... dia hanya menyindir karena kau memaksa bertamu."

"Benarkah, Bibi?"

"Hm.. Please come in." Bibi sedikit tak enak hati mendengar jawaban nona nya yang lugas, tapi begitulah memang perilakunya.

Keduanya duduk di pantry dapur, sedangkan Bibi menyiapkan camilan organik dan dua cangkir coklat hangat.

"Sepertinya keluargamu memiliki cara pengolahan coklat yang cukup unik."

"Well, i don't know yet."

"Pity.. Kembali ke topik. Sebetulnya aku sudah membawa dua orang yang selalu memekakkan telinga di kediamanmu."

"Kamu bawa mereka kemana? Proses pemeriksaan kan belum selesai."

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/massive-trick_18433599406805005/coklat-dingin_49769512026832040 for visiting.

"Justru karena belum selesai, jadi aku berdalih untuk menjaga mereka supaya tidak kabur dan tetap hidup. Jadi kapan hasil audit akan dibacakan? Apakah aku boleh hadir?"

"Tentu, jika kamu memberikan surat pernyataan minat untuk membeli perusahaanku atau kamu membeli beberapa lembar saham."

"Berapa banyak yang harus kubeli?"

"Setidaknya 5%."

"No problem lalu Kapan hasilnya?"

"Lusa... Dan besok aku akan keluar dari rumah ini, karena aku akan menjaminkannya ke Bank untuk membayar biaya ganti rugi pembatalan perjanjian."

"Menurut mu Bank akan menyetujui permohonanmu?"

"Jika Bank dalam negeri tidak bisa, aku akan mengajukan permohonan ke.."

"Aku akan membelinya."

"Actually, you helped me too much. And i really dislike to owe you more than i could bear."

"Jadi hasil audit itu segalanya bagimu?"

"Yah, seperti medical check up rutin tahunan."

-_-

Seperti yang sudah dijadwalkan, Ni'er mengurus surat jual-beli kediaman Hong dan mendapatkan uang hasil penjualannya untuk digunakan sebagai biaya penyambung hidup ayahnya di RS dan membayar gaji + pesangon bagi pegawai rumah tangganya. Seluruh pakaian mewah milih saudari dan ibu tirinya pun telah dimasukkan dalam daftar pelelangan, begitu juga dengan barang-barang lainnya yang tidak dibutuhkan lagi oleh pemilik baru kediaman tersebut, Jenderal Ouyang. Tentu saja jual-beli ini diketahui oleh Jenderal Henry Zhang, pimpinan Polit Biro. Bahkan sumber dananya juga berasal dari pria itu, hanya saja beliau tidak ingin merusak harga diri keponakannya yang diambang kehancuran.

Esoknya pembacaan hasil audit pun dilaksanakan dalam sidang tertutup yang hanya dihadiri oleh para pemegang saham. Sedangkan rencana Sang Jenderal untuk hadir harus diingkarinya karena ada panggilan tugas mendadak di wilayah pelabuhan. Semua poin yang dibacakan jelas membuat Ni'er menjadi black-out, banyak diantara pemegang saham yang ingin menjual tapi masih sungkan mengingat jasa-jasa mendiang Kakek Lim. Sedangkan pemegang saham yang umunya hanya bernilai kurang dari 5%, mayoritas telah melepas kepemilikannya di bursa efek.

Laporan keuangan dan kepemilikan aset perusahaan sudah dibacakan, termasuk jumlah uang yang tidak bisa dijelaskan alirannya. Maka siang itu, bersama hasil audit dari tim independen, akhirnya Ni'er (bersama kuasa hukumnya) melaporkan Ny. Hong dan Direktur Keuangan Grup Lim ke kepolisian setempat agar dapat ditindaklanjuti.

Ni'er pun menepati janjinya untuk mengeluarkan Lu An dan Manager Ahn dari Jing. Meskipun gadis itu histeris karena ibunya harus ditahan di penjara kota, ditambah lagi dengan syarat pernikahan paksa yang diajukan Ni'er padanya. Bukan kata terima kasih yang dia dengar, melainkan caci maki, tuduhan, dan ludah yang bersarang di wajah Ni'er.

"Jika aku bisa memilih, mungkin aku bersedia menikah dengan Kak Jerome dan pergi atau Kau mau tetap di Jing sambil membawa aib keluarga yang sudah kalian lakukan pada Grup Lim?"

"Aku tidak mau jatuh miskin..."

"Lebih baik miskin dan bermatabat daripada hidup mewah bergelimang hutang." Mendengar kalimat Ni'er, hampir saja Lu An akan melayangkan tangannya. Namun dihalangi oleh tim keamanan.

"Cukup. Kesabaranku sudah pada batasnya. Pergi atau membusuk di penjara dengan ibumu?"

Hampir Manager Ahn tidak percaya dengan kalimat yang dilontarkan Ni'er, pasalnya gadis yang dihadapannya kini benar-benar telah menjadi wanita hebat. Bahkan mungkin kekejamannya sudah setara dengan pendidikan militer. Memikirkan hal itu, membuat Manager Ahn bertanya-tanya kemana gerangan Jenderal Ouyang.

-_-

Jenderal Ouyang memfokuskan dirinya pada issue sistem integrasi logistik dan mobilisasi di pelabuhan. Pria itu terlihat kusut masai karena sudah dua malam tidak merebahkan tubuhnya dengan benar.

"Apakah sore ini Anda akan kembali Jenderal?"

"Iya. Siapkan mobilku."

Setelah semua dirasa selesai, Jenderal Ouyang mendelegasikan sisanya pada para bawahannya. Seandainya saja aku bukan bermarga Ouyang, batin sang Jenderal. Lalu sekelibat bayangan Ni'er muncul di pelupuk matanya yang sayu karena menahan kantuk. Kemudian dia menyuruh sopir untuk bertolak ke jalan utama menuju kantor pusat Grup Lim. Ditengah perjalanan, Jenderal Ouyang membukan portal berita setempat melalui telepon genggamnya. Sebuah video yang menjadi trending berjudul PHK yang mengundang haru dengan thumbnail sebuah potret fountain yang ada di teras kantor Grup Lim.

Video berdurasi tak lebih dari 5 menit diunggah secara amatir oleh seseorang yang juga berada di dalam hall tersebut. Tampak kerumunan berjumlah 3 ribu orang berkumpul tanpa kursi dan sebuah podium tunggal disana dengan Presdir Lim yang ada disana. Inti dari video yang mengundang setidaknya 5 juta kali ditonton, berisikan permohonan maaf Presdir Lim atas karena harus memutus hubungan kerja dengan sebagian besar pegawainya, pada hampir semua sektor. Lalu, wanita itu memberi tahukan bahwa jika di kemudian hari, Grup Lim dapat kembali stabil seperti sedia kala, para mantan pegawainya diperkenan kembali, jika masih sudi. Terakhir, suara notifikasi ponsel seorang peserta berbunyi menandakan adanya sejumlah dana yg masuk ke dalam rekening mereka, merupakan gaji terakhir dan pesangon sesuai dengan perhitungan masa kerja tiap masing-masing orang. Tambahnya lagi, apabila ada karyawan yang merasa ada kekeliruan dalam jumlah perhitungan pesangonnya, agar dapat menemui Presdir Lim untuk klarifikasi lebih lanjut. Sekali lagi Presdir Lim memohon maaf dan membungkukkan badan kepada seluruh karyawan yang baru saja dia pecat.

Di sisa durasi video, para pegawai yang berkumpul bukan marah, melainkan bertepuk tangan dan menangis haru atas perjuangan Presdir Lim untuk perusahaan. Bahkan di kolom komentar video tersebut, ada pengakuan salah seorang pegawai yang mengatakan," Presdir Lim, kami masih bersedia bekerja di Grup Lim sekalipun gaji kami harus dipotong. Doa terbaik untuk Presdir Lim." Komentar tersebut memgundang pro dan kontra namun banyak diantaranya yang ikut terharu mendengar kejujuran wanita tersebut serta tetap membayarkan hak dari pegawainya meskipun kondisi perusahaan sedang collapse. Lalu, Jenderal Ouyang menelepon seseorang untuk menanyakan posisi Presdir Lim malam itu.

-_-

Next chapter