1 Bab 1

***

Sebelum membaca part ini, sebaiknya membaca part mas Firman dulu biar nyambung ya.

***

Setelah selesai menjalani sebulan di department FB SERVICE (Restoran) sekarang waktunya aku pindah ke department HK.

Agak sedikit sedih karna kesempatan bertemu mas Firman jadi sedikit berkurang.

Tadi sebelum naik kesini aku bertemu dengan mas Firman dan dia bilang aku harus berhati-hati dengan mas Shincan. Tapi aku sendiri sebenarnya belum tau mas Shincan itu yang mana, karna hari pertama dan kedua aku belum pernah bertemu dengan mas Shincan, katanya sih dia lagi ambil cuti juga dan pagi ini pertama kali dia masuk, gara-gara mas Firman jadi sedikit penasaran aku, gimana sih wajah mas Shincan.

Sesampainya di loker HK, aku letakkan tas dan jaketku. Merapikan rambut yang tadi dirapikan mas Firman sekenanya. Aku buka lagi ikatan rambutku, aku sisirin sambil menatap wajahku yang ada di kaca, aku tersenyum mengingat apa yang terjadi denganku dan mas Firman di lift tadi, aku benar-benar tidak menyangka mas Firman bisa seperti itu. Hehehe, aku tutup muka karena aku merasa malu sendiri menatap wajahku yang kemerahan di depan cermin.

"Hayo lo, ngapain senyum-senyum sendiri" seseorang mengagetkanku dan membuyarkanku dari lamunan.

"Maaf, hehehe." Balasku merasa lebih malu lagi karna aksiku ketahuan orang lain.

"Kamu anak dari Restoran yang beberapa hari lalu baru pindah kesini ya?" Tanyanya lagi sambil menyender di pintu masuk loker dengan kedua tangannya dimasukkan di kedua saku celana kanan kirinya.

"Iya mas, aku Nisa. Baru tiga hari ini pindah ke department HK, sebelumnya aku ditempatkan di Restoran" jawabku lebih jelas.

"Iya, aku tau. Gak usah dijelaskan panjang lebar" Cerocos laki-laki itu sambil melepas tas gendongnya tanpa melihat ke arahku.

"Ih, sok banget nich orang mentang-mentang ganteng" gerutuku dalam hati.

"Pagi mas Shincan!" Sapa salah satu si kembar yang baru datang.

Oh iya, ada teman prakerin dari sekolah lain, mereka kembar, sekolah ditempat yang sama dan prakerin disini juga diwaktu yang sama. Bedanya yang satu sekarang sedang ditempatkan di department loundry dan satunya denganku disini. Dan mereka ini kembar yang sangat supel, ramah dan baik banget. Andaikan mereka hari ini bertukar peran dan bertukar tempat kayaknya gak akan ada yang bisa membedakan. Karna dandanan, sikap dan cara mereka bicara mirip banget.

"Pagi Nisa!" Sapanya riang kepadaku juga.

"Pagi Dewi!" Balasku ramah juga sambil masih memaki di dalam hati si mas cowok yang dipanggil Shincan di depanku ini. Bisa-bisanya dia dipanggil dengan ramah gitu cuma anggukin kepala aja, bilang pagi balik kek setidaknya. Dasar arogan, sombong dan gak banget mentang-mentang ganteng. (Iya iya ganteng nisa, gak usah diulang-ulang terus. Hehehe)

"Udah gak usah ramah tamah, ayo buruan kerja!" Ajak mas Shincan sambil berdiri dan beranjak pergi, tetap dengan gaya angkuh dan sombongnya.

"Keren ya mas Shincan, Nisa!" Kata Dewi dengan senyum bak Malaikat bertemu sang Dewa.

"Ish, gak banget. Bukan tipe aku, mukanya boleh ganteng kayak orang cina, tapi kelakuan gak banget Dewi" Balasku tidak sependapat dengan Dewi.

"Yeeee, emang dia keturunan Cina kali Nisa. Bukan kayak lagi" Ledek Dewi atas ketidaktahuanku. Karna Dewi sudah sebulan lebih dulu disini daripada aku, jadi dia sudah lebih banyak tahu daripada aku.

"Iyakah? Owh begitu, ya biarin dah. Gak ada urusannya sama aku juga sih" Sanggahku kepada Dewi.

"Ah kamu Nisa, jangan aja nanti akhirnya benci jadi cinta ya Nisa" Ledek Dewi sambil gandeng tangan aku dan mengajak mengikuti mas Shincan yang sudah duluan jalan.

Iya, ganteng sih emang si mas Shincan ini. Mata sipit, muka kecil putih, badan juga lumayan tinggi. Tapi kalau sikapnya nggak banget sich mendingan sama mas Firman aja. (Begitu kiranya fikiranku kala itu. Hehehe)

***

Sudah hampir seminggu aku di departmen HK dan aku masih sangat menghindari satu lantai dengan mas Shincan, lebih baik aku di lantai satu dengan mas Eko atau dilantai tiga saja sama pak Husen. Setidaknya mereka jauh lebih santai dan baik hati juga berprikemanusiaan. Gak kayak mas Shincan yang cuek banget dan suka banget ngerjain anak prakerin. Dari yang aku dengar sich mas Shincan ini suka banget nyuruh anak prakerin ngerjain pekerjaan kotor, dia cuma kebagian nyetting bed aja. Habis setting bed dia bakalan leha-leha di kursi sambil nonton tv. Ish, amit-amit deh, jangan sampai aku satu lantai sama dia.

"Nisa, kamu hari ini sama mas Shincan di lantai dua ya. Bersihin kamar VIP, soalnya besuk ada tamu booking kamar VIP" perintah pak Husen sebagai kepala HK.

"Nisa sama mas Eko aja deh pak, bisa nggak?" Rajukku merayu pak Husen, baru juga tadi pagi bathin gak mau bareng mas Shincan, masak sekarang malah suruh sama dia sih. Gak banget!!!!!

"Si Shincan tadi minta Nisa, katanya belum pernah satu lantai sama kamu, jadi dia minta. Udah sana ditungguin sama Shincan di ruang VIP. Tenang aja, ruangannya sudah bersih kok, tinggal rapiin sedikit saja." Jelas pak Husen menenangkan.

"Baiklah pak, Nisa ngikut aja!" Jawabku lemah sambil berlalu dan menuju kamar VIP.

***

Aku buka kamar VIP, aku masuk dan memperhatikan kamar tersebut. Baru masuk sudah ada ruang khusus untuk ruangan kecil sebagai tempat terima tamu, masuk kedalam lagi ada bed yang besar sekali dengan meja hias dengan kaca yang lumayan besar, sebesar panjang bed disebelah kanannya dan disebelahnya ada kursi dan meja untuk santai di dalam kamar.

Masuk ke kiri ada ruang kecil tempat untuk menyimpan baju, sepatu, tas dan lain-lain barang milik tamu nanti. Berhadapan dengan bed ada kamar mandi, aku memasuki kamar mandi masih dengan menggunakan sepatu fantovelku dan mengagumi setiap yang ada dikamar mandi VIP tersebut, bath up yang besar cukup untuk 4orang mandi bersama didalamnya, disampingnya ada tempat shower yang tidak kalah mewah dan anggunnya, karna terlalu serius dan terpesona aku sampai tidak sadar ada sosok di pojokan kamar mandi, didepan wastefel membawa canebo sedang memperhatikanku dengan tangan satunya dipinggang.

"Dooor, ngelamun aja, kesambet hantu kamar mandi baru tau rasa kamu" gertak mas Shincan yang langsung mengagetkanku.

Mungkin karena kaget akhirnya aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Gubrak

"Aduh, pantatku!" Erangku kesakitan. Karena aku terjatuh dengan posisi terduduk karena terkejut. Maunya nangis, tapi malu banget sama mas Shincan yang jutek itu.

"Hahaha, hahaha, hahaha, kapook" Ledek mas Shincan dibarengi dengan tertawa puas banget sambil megangin perutnya dan memukul-mukulkan canebo yang dia bawa ke westafel di depannya. Bukannya menolong aku, dia malah ketawa puas banget.

Sebenarnya lantai kamar mandi tidak licin, tapi karna aku yang terkejut dan tiba-tiba menghadap ke belakang mencari sumber suara yang mengagetkanku, makanya aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

"Kampret banget ini orang, bukannya nolongin malah ngetawain. Awas kualat" gerutuku dalam hati sambil menahan sakit dan malu.

"Puas ya mas? Seneng ya lihat orang kesakitan? Dasar jahat" Ucapku sambil berdiri dan membersihkan pantatku yang sebenarnya tidak kotor.

"Habis kamu ngelamun aja, sampai gak sadar ada orang disini" Elak mas Shincan gak mau dibilang jahat.

"Yayaya, terserah sudah. Aku bantu ngapain ini mas? Kayaknya kamarnya sudah bersih" Tanyaku menghindari dia lebih menertawakanku.

"Sudah aku bersihin kemaren sebelum pulang, tadi aku cuma setting aja. Lanjut ke kamar 305 aja, barusan FO bilang sudah check out, kita disuruh check minibar" Ajak mas Shincan.

Tanpa menjawab, aku hanya mengikuti mas Shincan dari belakang sambil menggosok pantatku yang masih sangat sakit.

Keluar dari kamar VIP yang berada tepat di depan jalan masuk hotel, aku melihat mas Firman sedang standby di depan jalan masuk Restoran.

Mas Firman yang menyadari aku berada didepan kamar VIP melambaikan tangan dan tersenyum, aku balas lambaian tangan mas Firman dan balas tersenyum juga.

"Harah, ganjen amat sih jadi cewek. Ayo buruan!" Sela mas Shincan sambil ngambil tangan aku yang lagi asyik melambai kepada mas Firman.

Aku hanya bisa menurut dan berusaha melepaskan tanganku yang dipegang mas Shincan erat banget. Ini mas cowok makannya apa'an sih bisa tega banget sama cewek.

Sampai di depan kamar 305 dilepaskan tanganku, mas Shincan meletakkan master card di tempat kartu kunci dan bunyi "tililit" tanda kunci pintu sudah terbuka. Dia buka pintu dan menyuruhku masuk untuk mengecek isi minibar. Setelah dipastikan semua masih lengkap mas Shincan tekan tombol di walkie talkie dan berucap "305, lengkap".

Setelahnya kita membersihkan kamar 305 supaya siap dijual kembali. Mas Shincan seperti biasa langsung mengambil ancang-ancang membersihkan Bed dan aku diberi aba-aba untuk membersihkan kamar mandi.

Ternyata benar kata anak-anak prakerin yang lain, mas Shincan emang lebih suka setting bed daripada bersihin toilet. Iyalah, siapa juga yang suka basah-basahan dengan pakaian yang rapi begini. Akupun mungkin kalau jadi senior lebih memilih setting bed, dan anak prakerin aja suruh bersihin kamar mandi.

Setelah selesai membersihkan kamar mandi, bed juga sudah rapi, minibar sudah di setting ulang dengan cantik. Kopi, gula, crimer, set cangkir dan sendok sudah tertata cantik di dalam tray diatas minibar, tinggal langkah terakhir vacum karpet dan semprot ruangan dengan pengharum ruangan.

Mas Shincan sudah ke troly membuang sampah ke trash bag dan bersiap ke kamar yang lain. Dia serahkan pengharum ruangan kepadaku dan menyuruh aku yang menyemprotkan pengharum ruangan itu. Aku semprot seluruh ruangan, terakhir kamar mandi dengan jalan mundur. Hampir sampai di pintu tiba-tiba aku menabrak kaki seseorang.

Ternyata dibelakangku ada mas Shincan yang berdiri di tengah pintu memperhatikan kerjaku, jengkelnya tuh dia sudah tau aku arah keluar, bukannya minggir malah diam aja ditengah pintu. Akhirnya aku hampir terjatuh. Dan untung saja dia menangkapku, bukannya membiarkanku jatuh seperti dikamar VIP tadi, bisa-bisa kempes banget ini pantatku kalau disuruh bolak balik jatuh terus. (Hehehe)

Dan anehnya aku berada dipelukan mas Shincan saat ini, menengadah dan berhadapan dengan muka mas Shincan yang melihat ke arah bawah, ke mukaku.

Dengan refleks aku berdiri dan menghadap ke arah pintu masuk.

"Sudah tau orang jalan mundur, kenapa di tengah jalan si mas!" Tanyaku dengan sedikit kesal.

Dia tidak menjawab, dan hanya tersenyum melihatku sambil mengedipkan satu matanya.

"Dasar mesum" Umpatku dalam hati.

Bersambung...

***

Next chapter