8 MARVIONA#6

Saat itu Marvin, Viona, Arfan, Shofia, Reza, dan Bayu sedang makan sambil berbincang-bincang bersama.

" Vin, apa yang terjadi selanjutnya dengan anak-anak Sevit High School? Bukankah tempo hari mereka berkata akan membalas dendam?" tanya Reza kepada Marvin.

Marvin tidak menggubris pertanyaan itu, ia memilih tetap fokus dengan makanannya.

Sementara Marvin tidak tetarik dengan pertanyaan Reza, dua perempuan itu ( Shofia dan Viona) sangat tertarik dengan hal tersebut.

" Emang apa yang telah terjadi Za?" tanya Shofia dan Viona dengan serempak.

Arfan merundukkan kepalanya

" Waktu itu Marvin berkelahi untuk menyelamatkan Arfan, yang telah berduaan dengan salah satu pacar siswa Sevit High School. Padahal Arfan tidak bicara sama sekali dengan perempuan itu. Karna mereka telah memukul Arfan, Marvin langsung memukul petarung terbaik mereka sampai terjengkang." Reza menjelaskan.

" Maaf ya kak!"

" Iya Fan, lagi pula itu bukan kesalahan kamu kok. Dia nya aja yang terlalu posesif." jawab Marvin dengan santai.

" Terus Za selanjutnya apaan?"

" Terus---" Reza berhenti saat mendengar bel berbunyi.

Shofia melihat ke arah Arfan, yang kini sedang menundukkan kepalanya karena menyesal. " Udah Fan! Gausah difikirin. Lagian kalau aku jadi kakak kamu, aku juga bakal ngelakuin kaya begitu."

" Emang lo bisa apaan Fia?" ledek Reza.

" Bisa teriak!"

Marvin, Viona, Arfan dan Rezasontak tertawa terbahak-bahak karna mendengar ucapan Shofia. Shofia langsungcengar-cengir.

***

Begitu pulang dari sekolah, Shofia menunggu jemputannya di depan gerbang. Yang tak lain adalah ibunya sendiri. Tak lama kemudian Meisha datang dan langsung menghampiri Shofia.

" Tumben Mama jemputnya agak lama?" gerutu Shofia.

" Tadi Mama ada urusan bentar, habistu kamu juga minta jemputnya mendadak lagi. Kamu udh bilang pak Joko kalau Mama yang jemput?"

" Udah tadi."

" Kamu minta jemput sama Mama pasti ada sesuatu."

" Ya, ada yang mau Fia bicarain sama mama"

" Yaudah bicaranya sambil kita makan ya"

Shofia menganggukan kepalanya

Sesampainya di restoran, mereka sedang menunggu makanan dan minuman yang mereka pesan. Selagi menunggu Meisha bertanya pada anaknya

" Fia, katanya ada yang mau diomongin?"

" Iya, Fia mau cerita Ma tapi jangan marah ya"

" Ya sayang"

" Janji ya Ma!!" Meisha mengangguk.

" Ma, Fia suka sama Erland. Sebenarnya Fia udah suka sama Erland sejak smp, tapi Fia ga berani bilang ke Mama" Shofia langsung menundukan kepalanya setelah mengucapkan kalimatnya itu.

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/marviona_18233112406949405/marviona-6_49894057236814303 for visiting.

" Maksudnya Marvin?" tanya Meisha tidak percaya..

" Iya."

" Kenapa ga berani?" ucap Meisha yang kini senyumnya mengembang.

" Ga tau, tapi Fia takut Mama marah."

" Mama ga marah sayang, Mama malah seneng, karena putri kecil Mama kini sudah besar." Meisha mengelus rambut anaknya itu

" Bener Ma?" Shofia langsung Mendongak.

" Ya sayang, karena kita nggak ada yang tau kapan kita jatuh cinta dan kepada siapa. Tapi jatuh cinta itu punya konsekuensinya."

" Apa Ma?"

" Kalau Fia jatuh cinta, berarti Fia juga harus siap patah hati dan Fia juga nggak bisa egois untuk memiliki orang yang Fia cintai, karena terkadang cinta itu merelakan."

" Ya Ma, Fia ngerti kok."

" Pinter anak Mama" Meisha mengelus rambut Shofia kembali.

Shofia tersenyum

Makanan yang di tunggu-tungu sejak tadi baru datang.

" Nggak nyangka dulu padahal kamu tuh masih kecil banget sekarang udah besar begini cantik lagi."

" Mama bisa aja deh."

" Yaudah sekarang habiskan makananya, setelah itu Mama mau belanja, mau ikut nggak?"

" Mauu!!"

***

Keesokan harinya, Reza dan Viona sedang berada di kelas, lebih tepatnya hanya berdua dikelas.

" Za, ceritakan lagi dong! Soal perkelaihan Marvin yang waktu itu." Pinta Viona sembari menghapus papapan tulis.

" Boleh aja, tapi ada syaratnya loh!!"

" Apa?"

Tiba-tiba Shofia datang ke kelasnya Marvin.

" Reza, Marvin ada dimana?" tanya Shofia setelah melihat sekelilingnya.

Viona yang sedang menghapus papan tulis menyahut tanpa menengok. " Marvin lagi ngebuang sampah."

" Ouh, makasih ya... Viona." Tanpa dikomando lebih lanjut Shofia langsung menyusul Marvin yang sedang membuang sampah.

" Za, syaratnya apaan?" tanya Viona seraya mendekati Reza.

" Lo harus bayarin makan siang gw, gimana mau nggak?"

" Jangan kan makan siang hari ini, buat besok juga gw bayarin."

" Yesss!!!" Reza mengayunkan lengan kanannya ke belakang, menandakan ia sangat senang. " Lo udah selesai beres-bereskan?"

" Udah, emang kenapa?"

"Gimana kalau gw ceritanya sambil jalan ke taman, kan ada Marvin sama Shofiadisitu. Jadi nggak berduaan kaya begini."

***

Siswa dari SMA Sevit High School yang dipukul oleh Marvin datang ke SMA Starligh High School. Mereka ingin melampiaskan dendamnya kepada Marvin.

" Vin, ada siswa SMA Sevit High School yang sedang mengarah ke lo!!" teriak Reza yang sedang jalan bersama Viona menuju ke arah Marvin dan Shofia.

Namun Marvin yang sedang mendengarkan musik melalui earphone bersama Shofia tidak menggubris peringatan dari Reza. Karena tidak mendengar peringatan dari Reza, Viona segera berlari ke arah Marvin dan Shofia.

Sementara itu gerombolan SMA Sevit High School sudah mendekat dan Marvin baru menyadari kehadiran mereka. Belum sempat mengambil ancang-ancang, siswa yang dipukul oleh Marvin sebelumnya melayangkan pukulan ke arah Marvin. Dalam jarak sedekat itu, siapapun pasti takkan ragu dengan pukulannya.

Namun, Viona yang berlari ke arah mereka, tahu-tahu sudah berada di antara siswa Sevit High School dan Marvin.

Brugh

Pukulan yang sejatinya itu yang ingin diarahkan ke Marvin, jadi mengenai Viona. Viona pun langsung terpelanting. Semua orang terkejut dengan kejadian tersebut.

Marvin segera menangkap tubuh Viona yang hampir terjatuh. Lalu Marvin menaruhnya di kursi.

" Lo tuh punya masalah ama gw!! Kenapa lo pukul dia." hardik Marvin seraya melayangkan pukulannya kepada siswa Sevit High School. Marvin nggak suka melihat kalo perempuan disakiti.

" Udah Vin, udah." Reza menahan-nahan Marvin. Jika saja Reza tidak menahannya, bisa dihajar semua anak dari SMA Sevit High School.

Marvin memutarkan badanya ke arah Viona. " Lo nggak kenapa-napa kan?"

" Engga, cuman sakit doang matanya."

" Mau ke rumah sakit?"

" Nggak usah."

Melihat Marvin begitu peduli dengan Viona membuat Shofia cemburu. Rasa kesalnya itu dilampiaskan pada petarung terbaik SMA Sevit High School.

" Lo ngapain pukul Viona emang dia salah apa? Kalo hal ini di bilangkan kepada kepala sekolah gimana? lo bisa aja sekolah berhenti atau bahkan bisa lebih."

" Secara tiba-tiba saja Viona muncul di hadapannya, jadi nggak sengaja ke pukul. Kalian juga melihatnya kan?" tanyanya kepada teman-temannya. Namun begitu menengok, teman-temannya sudah tidak ada di belakangnya.

" Vin sini, gw mau nganterin Viona pulang kerumahnya." Shofia mengulurkan tangannya tapi Marvin tidak menggubris uluran tangannya. Terpaksa Shofia menarik uluran tangannya kembali.

" Tas Viona Dimana?" tanya Marvin.

" Tas gw masih di kelas."

Shofia dan Marvin sudah beranjak dari tempatnya - mungkin mau mengambil tasnya Viona. Namun petarung terbaik dari SMA Sevit High School memegang pergelangan tangan Marvin.

" Vin!! Gw mau kalau nanti kita tetap berkelahi."

" Terserah lo!!" hardik Marvin seraya melepaskan pegangan tangan

" Daripada lo mikirin berkelahi lagi, meningan lo minta maaf dulu dah sama Viona!!" Reza mengingatkan.

" Iya-iya."

Dengan kikuk dan agak segan, petarung terbaik dari SMA Sevit High School mendekati Viona lalu mengulurkan tangannya ke arah Viona.

Viona memicingkan matanya demi bisa melihat dengan jelas papan nama di dada kiri siswa tersebut. " Benarkah namamu Raka?" Viona bertanya.

" Iya."

" Kalau begitu lakukan dengan benar dan sopan!!" pinta Viona.

" Apa yang seharusnya dilakukan dengan benar dan sopan?" teriak Raka yang pura-pura tidak mengerti.

Mata Viona nyalang menatap tajam ke mata Raka. Sehingga, Raka jadi kikuk sendiri lagi.

Karena merasa bersalah, Raka akhirnya meminta maaf baik-baik. " Maafin Gw ya!"

Reza tertawa terbahak-bahak melihat hal itu.Tapi Shofia tidak suka jadi ia memutuskan pergi meninggalkan Marvin begitusaja. Setelah Raka meminta maaf kepada Viona, Raka juga langsung pergi meninggalkan mereka dan rasa ingin bertarung lagi sama Marvin sudah tidak mau lagi.

# AUTHOR

SEMOGA TAMBAH SUKA YA DENGAN CERITA MARVIONA. TERUS DIBACA YA DAN DITUNGGU KELANJUTANNYA AKU BAKAL USAHAIN BIKIN ALURNYA SEBAGUS MUNGKIN. BIAR KALIAN MAKIN SUKA DENGA CERITAKU:D

JANGAN LUPA UNTUK COMMENT AND VOTE KARNA YANG SELALU DITUNGGU. AJAK TEMAN-TEMANNYA BACA JUGA YAAAA.... MAKASIH BANYAAAKKKK :D

SALAM,

YOLANSYAH04

Next chapter