1 Paksaan Menikah

"Abi ingin kamu menikah."

Bak dijatuhi bom atom, Alma Zhafirah terkejut bukan main dengan pernyataan yang baru saja diluncurkan oleh ayahnya tercinta.

"Maksud Abi?" tanya Alma masih dengan keterkejutan yang sama.

Saat itu, keluarga Alma tengah berkumpul di tengah ruangan. Abi, Ummi, dan Alma sendiri. Mereka tengah menikmati makan malam yang tentram, sebelum kalimat itu dijatuhkan.

"Abi ingin kamu segera menikah. Seperti kakakmu."

Alma terperanjat.

Alma, baru saja menyelesaikan studi S1 Pendidikan Bahasa Indonesia di salah satu Perguruan Tinggi Negeri. Bahkan, tinta ijazahnya masih belum mengering. Ia baru saja wisuda periode Desember lalu. Ketika itu, masih tengah kalang kabut mencari pekerjaan.

Akan tetapi, tak kunjung ia dapatkan.

Dan, bukannya sang abi turut membantunya mencarikan solusi dalam urusan pekerjaannya, tetapi mengusulkan pernikahan?

"Apa maksud Abi, Ummi?"

Ummi hanya diam. Ia menggelengkan kepalanya, pertanda Alma harus mendengarkan petuah sang ayah.

Sang Abi mulai melancarkan alasan rasionalnya, "Nak, kamu sudah mencari pekerjaan dari bulan Desember. Sudah dua bulan kamu mencari pekerjaan. Akan tetapi, apa yang kamu dapatkan?"

Alma mengatupkan bibirnya. Ia memang belum mendapatkan pekerjaan yang tepat. Sudah banyak sekali lamaran pekerjaan yang ia kirimkan, akan tetapi ia masih kesulitan.

Kesulitannya mencari pekerjaan ini juga disinyalir oleh keadaan. Karena sedikit sekali kenalan dan relasi Alma. Hal ini mengakibatkan ruang gerak dan persyaratan masuk kerja kian sulit.

"Sulit bagi anak gadis yang fresh graduates tanpa pengalaman seperti kamu mencari pekerjaan, Nak," tutur sang Abi lembut.

"Tapi, Abi. Alma pasti bisa cari pekerjaan."

"Pekerjaan apa??! Kamu tidak akan bisa merantau, Nak!" seru Abi.

Alma tergagap di dalam duduknya. Situasi makan malam yang khidmat sudah berubah total.

"Abi tidak mau kamu mencari pekerjaan di tengah masa sulit ini. Ada seorang anak yang baik hatinya bertanya pada abi, untuk meminangmu." terang Abi.

Alma menggelengkan kepalanya. Ia belum siap menikah. Ia tak sanggup menikah. Ia tak bisa menikah.

Alma masih memiliki segudang mimpi. Ia ingin hidup dengan begitu bebas. Menjadi selayaknya kupu-kupu tanpa adanya kekangan apa pun. ia ingin bekerja, mengenali lingkungannya, barulah ia menjalin rumah tangga.

Tidak mungkin bagi Alma, yang baru saja lulus dua bulan lalu, menikah begitu saja! Ditambah lagi, ia tidak tahu calon mempelai prianya.

Seperti apa wajahnya, bagaimana perangainya, akankah ia mampu menjadi nahkoda dalam rumah tangganya?

"Abi, Umi, Alma belum bisa menikah untuk sekarang. Alma baru 22 tahun. Masih ingin sendiri."

"Apa alasanmu ingin sendiri itu cukup untuk menolak kebaikan lelaki yang datang melamar?" tanya Abinya.

Tidak. Itu memang tidak cukup. Ia masih terlalu egois.

Akan tetapi, sungguh! Alma tidak bisa menikah secepat ini!

"Abi, Umi, Alma memang ingin menikah. Tapi tidak sekarang."

"Untuk apa menundanya? Mau sekarang, tahun depan, lima tahun yang akan datang, kamu juga akan menikah."

Abinya itu menyatukan kedua tanggannya. "Alma, lihatlah Zulfa, kakakmu. Bagaimana hidupnya yang sekarang? Suami yang sudah mapan dan juga kehidupan rumah tangga yang bahagia."

"Kamu tidak ingin seperti kakakmu?"

Ingin! Alma ingin seperti kakaknya, yang mana kehidupannya sangat amat tentram dan bahagia.

Kakaknya, dulu juga menikah, dengan lelaki pilihan Abi. Lelaki yang mendadak meminang dan mendadak pula menikah. Seperti apa yang dilakukan Abi kepadanya.

Namun…

"Abi, Alma belum siap menikah. Bagaimana kalau Alma bercerai karena ketidaksiapan Alma?"

"Tidak. Abi yakin, kamu bisa menciptakan keluarga yang harmonis dengan Lazuardi."

"Umi… Tolong bantu Alma jelaskan ke Abi kalau Alma belum siap,"

Umi memegangi tangan Alma, lalu menggeleng. Umi tidak bisa berbuat banyak ketika Abi berkehendak. Sebagai kepala rumah tangga, Abi memiliki pandangan tersendiri yang baik untuk anaknya.

Meski pun, pilihan Abi memanglah selalu yang terbaik untuk Alma dan Zulfa.

"Abi ingin, kamu menikah dengan Lazuardi sebelum ramadhan datang."

Mata Alma membeliak sempurna. Ia mulai menghitung. Sekarang, bulan Maret. Dan, ramadhan akan datang di bulan April.

APA?! IA AKAN BERUBAH STATUS MENJADI ISTRI SESEORANG HANYA DALAM JANGKA WAKTU SEBULAN?

*

Pasca perdebatan yang sengit itu, Alma banyak menghabiskan diri di kamarnya.

Alma masih marah kepada abi, umi, kakaknya, atau bahkan si Lazuardi yang datang semena mena melamarnya.

Padahal, Alma sama sekali tidak tahu siapa pemilik nama Lazuardi itu. Baru kali ini ia mendengar nama itu.

Kakaknya, Zulfa, ternyata mendengar kabar itu. Ia buru−buru datang kepada Alma, berniat membujuk Alma.

"Alma, kamu tahu bukan, kalau Allah menciptakan seseorang berpasang−pasangan?"

Alma mengerucutkan bibirnya. Ia tahu, jelas tertera dalam al Qur'an bahwasanya Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dengan berpasang pasangan.

"Tetapi, bagaimana kalau dia bukan pasanganku? Bagaimana kalau nantinya aku cerai dengan Mas Lazuardi?"

"ALMA! Kamu tidak boleh bicara sembarangan! Kamu tidak boleh mendahului takdir Allah dengan berprasangka!"

Alma semakin kesal.

Kakaknya ini tidak mengerti. Ia selalu berpasrah diri. Selalu mengalir laksana air.

Alma tidak bisa.

Ia sulit diatur. Ia selalu berjalan bersimpangan dengan keinginan Abi dan Umi.

Dahulu saja, Abi dan Umi mati−matian memintanya mendaftar di kampus islam, tetapi ia memilih kampus negeri yang ternama. Dan dengan sengaja, tidak mendaftar di sana.

Alasannya? Sederhana. Hanya karena, ia kesulitan membaca huruf arab gundul.

Ia sering memberontak kepada Abi dan Umi. Meski pun terkadang, hanya pergolakan dalam hatinya.

"Alma, kamu harus mengerti. Kalau Abi dan Umi memang mau yang terbaik."

Zulfa menangkupkan tangannya ke tangan adik tersayangnya, Alma. Dipandanginya lekat wajah Alma yang berparas cantik nan putih.

"Abi tidak ingin kamu menyia−nyiakan waktumu dengan pacaran. Meski pun Abi, Umi, dan Kakak tahu, kamu belum memilikinya. Mereka ingin menjagamu."

Zulfa menambahkan, "Abi tidak ingin dirimu terlalu lama sendiri. Ia ingin menitipkan seseorang kepadamu. Dan Abi merasa, kalau Mas Lazuardilah pilihan terbaik untukmu."

Setelah mengucapkan itu, Alma tidak bisa berkata apa pun lagi. Pondasi agama Islam yang melekat kuat dalam nafas keluarga mereka, membuat Alma tidak mampu mengutarakan gejolak dalam dadanya.

Pada saat itulah, sebuah ketukan halus mendarat di pintu kamanya.

Tok, tok, tok.

"Nak Alma, Mas Lazuardi datang."

Detak jantung Alma bergetar. Seluruh jiwanya mendadak menderu gemetar. Antara takut, benci, tetapi juga penasaran.

"Ayo, keluar, Mas Lazuardi datang ke rumah. Ia pasti ingin membicarakan pernikahan kalian."

*

Next chapter