1 She Is Cleopatra

"Arghhh! Sam aku takut‼!" Teriakan melengking gadis yang sedang diangkat tinggi bahkan sengaja dilempar-lemparkan ke atas itu terus terdengar dengan pria yang malah tertawa lebar mengusilinya.

"Samudera sudah!" Kini mata gadis itu sudah berkaca menahan bulirnya menahan ketakutannya pada ketinggian dengan lengannya yang mencoba memeluk leher pacarnya, Giordano Laksamana Samudera.

Tubuh mungil wanita bernama Cleopatra itu sudah meringkuk dalam pelukan lengan besar milik Giordani Laksamana Samudera.

Hap! "Masa segitu saja takut?" Laksa, lelaki bermata coklat itu tersenyum lembut menurunkan tubuh kecil yang terlingkupi jemarinya. Memang dia senang saat bisa mengerjai gadisnya sendiri saat ini.

"Oleh karena itu, turuti kata-kataku, oke?" ancam Samudera yang kini duduk di samping Cleo.

Tangisan Cleo pecah saat itu juga. Dia memang tadi tidak menurut pada Laksa yang memintanya untuk sarapan terlebih dahulu.

Laksa, dengan garis wajah yang tegas terukir dengan tatapan mata setajam mata rajawali itu mengusap rambut gadisnya dengan pelan. Ya gadis kecil yang resmi menjadi pacarnya satu bulan yang lalu. Itupun penuh perjuangan yang berdarah-darah.

Laksa menarik tubuh kecil milik gadisnya, yang bernama Cleo atau tepatnya Cleopatra Senja sampai terjatuh menimpa tubuhnya yang terbaring di tengah lapangan usai latihan mereka berhenti setengah jam yang lalu.

Deg! Deg! Deg!

Irama jantung milik Laksa terdengar merdu ditelinga Cleo, menikmati bau parfum yang bercampur keringat khas milik Laksa dengan terus terbaring diatas dada yang bidang dan lebar yang bahkan mampu menyelimutinya, memeluknya, dan membuat tangisnya reda bahkan mengantuk di kala senja tiba.

"Aku hanya tak mau kamu sakit," ucap Laksa lembut sembari mengecupi ubun-ubun Cleo, dengan rambut yang berbau shampoo.

Dia bahkan mendengar deru napas yang bersahutan begitu tenang. Di lapangan ini, tak ada yang bermain basket hanya sekedar penghuni kampus yang numpang lewat saja, atau kenalannya yang juga sekedar lewat namun tak lupa menyapanya. Lelah menangis, gadisnya malah tertidur di atas tubuhnya.

"Terima kasih, kamu telah bersedia menjadi gadisku dan ... semoga kamu tetap berada di sampingku, selalu." Mantra yang selalu diucapkannya setulus hati yang meski tak terdengar karena diucapkannya ketika gadisnya sedang tak sadar, janji yang diucapkan dengan tegas dan tak dilebihkan karena perasaannya terkadang tak selamanya sama.

Ototnya terasa pegal masih tertimpa Cleo yang pulas tertidur. Dibaringkannya tubuh gadisnya dengan pelan sekedar dia untuk bangun, menggendong tas miliknya dan milik Cleo dipunggung, sedang kedua lengannya menggendong yang kecil dan terasa ringan baginya.

Herannya, pikirannya tak pernah bisa berpaling dari gadis ini. Tubuh kecilnya yang membuat respon tanpa sadar menarik tubuh Laksa begitu saja, seolah sebuah magnet dan membuatnya ingin selalu memeluk, merengkuh dengan kedua tangan yang bahkan besar dibanding tulang lengan Cleo, pikirannya tak mampu bekerja rasional ketika hatinya mengomentari gadis kecil itu, bahkan jika gadis itu sedang tertawa gembira meski dirinya diliputi kemarahan sirna tergantikan dengan senyuman begitu saja, ketika gadis itu datang dengan berderai air mata dan bermuka sendu hatinya bahkan langsung merasa teriris perih.

Bahkan wajah jutek dan ekspresi dingin yang biasanya disegani oleh wanita di sekitarnya kecuali jika memang sudah mengenalnya malah tak membuat Cleo panik, melainkan terus ada di sampingnya ketika ia kehilangan arah untuk berhenti menjadi kapten basket dan berhenti memainkan bola oranye itu, berhenti mengonsumsi minuman beralkohol dan tak menoleh sedikit pun pada rokok! Gadis itulah yang merubahnya.

Dibaringkannya tubuh yang masih terlelap itu di atas kasur miliknya, terlihat tenang dengan hembusan napas yang teratur yang menggerakkan dadanya naik turun, bahkan meski begitu benar saja dia tak merasa bernafsu melihatnya. Lucu sekali, mungkin ketika terbangun baru akan diantarkannya pulang ke apartmen toh memang gadisnya tinggal sendiri. Kalau bisa dia akan tinggal seatap dengan Cleo saja.

***

Satu tahun sebelumnya,

"Apa? Ah, tidak juga, aku memang sedang menunggu temanku saja," tutur Cleo yang masih memakai kebaya miliknya.

Dia terburu-buru datang ke kampus karena dia berjanji akan bertemu dengan sahabatnya di sini.

Saat dia menunggu, seorang mahasiswa datang dan malah mengajaknya berbincang. Cleo yang tak mau diganggu memilih menolak untuk melanjutkan obrolannya.

"Ayolah! Kau jangan jual mahal, kalau kau mau menjadi pacarku, aku akan membelikanmu barang yang kau inginkan dan kau bisa menjadi model seperti yang kamu impikan," bujuk pria berpenampilan necis dengan barang-barang mahalnya dan menunjukkan uangnya dengan arogan.

Cleo kesal. Dia menggenggam gelasnya erat-erat, takut kalau gelasnya melayang pada pria itu.

Laksa yang merasa terganggu tidurnya karena keributan itu pun terbangun. Dia ingin memarahi pada orang yang membuat keributan. Namun, ujungnya dia hanya menonton dari jauh saja.

Laksa memperhatikan dan memprediksi apa yang akan dilakukan oleh wanita mungil yang mengenakan kebaya seksi itu. Rok yang membelah, menampilkan kaki mulusnya dan bahunya yang telanjang, memang benar-benar menarik perhatian pria hidung belang di sekitarnya.

Byurrr!!!

"Aku bukan wanita murahan yang mau berpacaran karena uang!" pekik Cleo dengan penuh amarah.

"Sialan! Jangan pergi kau!" teriak pria yang wajahnya basah akibat siraman jus dari tangan gadis itu.

Cleo berlari, mencoba menghindari mahasiswa yang kurang ajar itu.

"Poh! Besar juga nyalinya," kekeh Laksa yang tiba-tiba saja berdiri.

Dengan sengaja dia menghadang Cleo, berdiri menjulang di hadapan gadis itu.

Bruk! Cleo yang berlari menabrak tubuh Laksa sampai terjengkang dan bokongnya mendarat mulus di lantai.

"Aw!" Dia mengaduh kesakitan.

Gadis itu panik, dia berusaha bangkit dan akan melanjutkan larinya. "Maaf, saya harus per—gi," ucapnya tergesa-gesa dan tak sabaran.

Grep! Laksa mencekal pergelangan tangan Cleo saat itu juga.

Cleo berbalik, menatap bingung Laksa. "Mas, to—tolong lepasin saya, saya—"

"Tenang saja, dia tak akan menyakitimu."

Baru saja Cleo ingin melepaskan diri, pria asing yang tadi menawarinya untuk menjadi pacarnya itu pun sudah ada di hadapan mereka.

"Akhirnya, aku akan memberimu pelajaran, Bitch!" desis pria itu penuh pandangan marah.

Tangannya siap terulur, ingin menyentuh Cleo. Namun, tangan Laksa menepisnya.

Plak!

"Berani lo mau nyentuh dia?" desis Laksa penuh nada arogan.

"Sa, thanks lo udah bantu pegang dia, gue masih ada urusan sama dia," ujar pria itu yang tentu saja mengenal Laksa. Tangannya ingin meraih tangan Cleo, tapi Laksa menarik Cleo semakin ke belakang tubuhnya.

BUG!

Laksa tiba-tiba saja melayangkan tendangannya pada dada pria itu. Cleo terkejut, dia menutup mulutnya saat melihat pria itu terjatuh.

"Lo nggak seharusnya megang cewek yang lagi dipegang gue."

Cleo yang masih tak paham situasinya pun sudah diseret menjauh oleh Laksa. "E—eh, saya ingin dibawa ke mana, Mas?!" Cleo mulai ketakutan. Membayangkan tendangan kencang dari kaki panjang pria yang menyeretnya itu, dia merinding seketika.

Laksa menyeretnya sampai ke dalam ruangan kelas yang kosong. Cleo benar-benar tak bisa mengimbangi langkah kaki milik Laksa. Terlalu lebar langkah kakinya dan ditambah dia mengenakan sandal heels tinggi.

"Aduh! Mas, pelan-pelan!" pekiknya merasakan kakinya terantuk batu.

Next chapter