1 PROLOG

"Ketika aku memilih untuk mencintaimu, aku tidak pernah berfikir jika pada akhirnya takdirku adalah kehilanganmu"

Jakarta, 2014

Pengap, itulah yang di rasakan gadis muda dengan rambut panjang yang di kepang dua, saat berdiri di tengah-tengah bis kopaja yang sedang ia naiki. 

Sudah hampir satu jam, namun bis itu tak kunjung sampai di tempat tujuannya. Membuatnya sedikit kesal. 

Setelah menunggu dengan rasa dongkol, akhirnya bis berhenti juga di depan kampusnya. Setelah membayar, gadis itu pun keluar dari bis yang pengap dan panas itu. Lalu dengan tergesa dia berlari ke dalam kampus. 

*****

Laliaa Denara, salah satu mahasiswi di universitas Bina Bangsa. Gadis kampung yang memilih jauh dengan orangtuanya di desa untuk menempuh pendidikannya. 

"Sa ....." 

Suara seseorang yang memanggil namanya membuat Lisa, berhenti dari jalan cepatnya. Sesaat Lisa celingukan mencari sumber suara itu. 

"Lady, aku kira siapa yang manggil," ucap Lisa lirih saat tahu siapa yang tengah menghampirinya. 

"Lo kemana aja? Gue udah nungguin lo dari tadi!" bentak gadis itu.

"Maa..aaf Dy, tadi bis yang aku tumpangi ....." 

"Halaaahh.... Nggak usah banyak alesan lo. Sekarang mana tugas gue? Bentar lagi dosen gue dateng!" 

Tanpa berlama-lama, Lisa langsung mengangsurkan sebuah buku pada gadis itu.

Setelah buku tugas sudah di tangannya, Gadis galak itu pun berlalu begitu saja. Tapi, sebelum benar-benar pergi. dia dengan sengaja menabrak bahu Lisa.

"Uppppss... Sory, nggak sengaja," ujarnya dengan wajah tak bersalah. 

Tanpa mereka tahu, ada sepasang mata yang sedang memperhatikan kejadian tadi. Sepasang mata yang begitu dingin. 

*****

Hari ini begitu melelahkan bagi Lisa, membuatnya ingin segera pulang ke kosan untuk tidur. 

"Mau nebeng pulang, Sa?" tanya gadis berkacamata tanduk yang duduk di sebelahnya. 

"Nggak usah, Ki. Aku bisa naik bis," balas Lisa dengan tersenyum yang menampakan lesung pipinya. 

Setelah berbincang sebentar dengan Kiki, sahabatnya itu. Lisa pun berjalan keluar dari kampus menuju halte yang terletak di depan kampusnya. Berharap bis yang dia tunggu cepat datang. 

Namun, saat Lisa sedang berjalan. Tiba-tiba seseorang menabraknya dengan keras. Membuat Lisa hampir jatuh terjerembab. Tapi, untung saja ada seseorang yang menangkap tubuhnya. 

Lisa menatap sepasang mata di depannya. Mata paling bersinar yang pernah dilihatnya. Seperti terhipnotis, Lisa pun hanya bergeming. 

"Kamu nggak apa-apa?" Suara orang di depannya membuat Lisa tersadar.

"Ak...ku..baik-baik saja," balas Lisa sembari melepaskan pegangan laki-laki itu tanpa menatapnya. 

"Syukurlah, lain kali kalo jalan hati-hati," ujar laki-laki di depannya. 

Sebenarnya, Lisa ingin menyangkal omongan laki-laki itu sebelum dia sadar, siapa sebenarnya sosok yang ada di depannya. 

****

Alvaro Wijaya , orang paling dibicarakan di kampus karena ketampanannya. Selain tampan, Alvaro juga terkenal sebagai anak seorang konglomerat. 

Banyak gadis di kampus yang tergila-gila padanya. Membuat Alvaro akhirnya menjadi seorang playboy kelas kakap yang suka bergonta-ganti pacar. 

"Terimakasih atas pertolongannya," ucap Lisa yang langsung beranjak pergi dari hadapan Alvaro.

"Gadis yang menarik,"ungkap Alvaro lirih. 

Setelah kejadian itu, entah kenapa membuat Alvaro semakin penasaran pada Lisa, gadis berkepang dua yang wajahnya begitu sendu. Membuatnya ingin sekali merengkuhnya kedalam pelukan. 

****

Berkat koneksinya, akhirnya Alvaro tahu semua hal tentang Lisa. Dari mana asalnya, tempat kosnya bahkan nomer HP-nya. 

Beberapa hari belakangan, Alvaro mencoba menelfon Lisa tapi entah kenapa Lisa begitu dingin padanya. Membuat Alvaro semakin dibuat penasaran. 

Di kampus pun, Alvaro sering mencari kesempatan untuk memperhatikan Lisa.

"Lagi nyari buku apa?" Alvaro mencoba bertanya pada Lisa saat melihat gadis itu sedang berada di perpustakaan kampus. 

"Mencaru buku untuk keperluan tugas," jawab Lisa tanpa melihat wajah Alvaro. 

Alvaro menjadi semakin gemas padanya, baru pertama kalinya ada gadis yang seakan tidak tertarik padanya. 

*****

Sebenarnya jantung Lisa rasanya ingin mencuat keluar dengan semua perlakuan Alvaro selama beberapa hari ini. 

Bagaimana tidak? Setiap malam, Alvaro pasti akan menelfonnya. Entah dia tahu dari mana nomer HP nya, yang pasti sekarang Lisa merasa seperti ada kupu-kupu yang mengepak di hatinya. 

"Cieeee yang lagi kasmaran ...." Ledekan Kiki membuat pipi Lisa menjadi merah. 

Lisa memang menceritakan pada Kiki tentang perlakuan Alvaro padanya. Membuat Kiki sempat histeris karena tahu siapa Alvaro. 

"Ki, jangan gitu dong. Aku malu," ungkap Lisa. 

"Kenapa malu? Kamu harusnya cerita ini ke orang-orang. Biar si Lady juga dengar. Dia kan mati-matian ngejar Al, tapi di tolak terus," ujar Kiki menggebu-gebu. 

"Enggak ah, biar ini jadi rahasia kita aja. Lagian Alvaro cuma menelfonku dan nganter makanan ke kosan. Nggak lebih." Bantah Lisa. 

"Itu namanya proses pedekate, Lisa. Kamu nggak pernah pacaran jadi masih polos gitu. Nggak bisa bedain mana pedekate, mana yang cuma ngarep temenan." Jelas Kiki seakan dirinya sudah sangat berpengalaman. 

Padahal Lisa tahu, Kiki juga belum pernah yang namanya pacaran. Tapi Lisa hanya diam dan tersenyum geli. 

"Kenapa malah senyum-senyum gitu? Kayaknya kamu udah mulai sinting karena Alvaro!" Kiki berkata dengan nada sebal. 

*****

-Malem ini sibuk nggak? Kalo enggak, aku mau ngajak kamu jalan.-

Membaca SMS dari Alvaro membuat Lisa menjadi gugup. Apalagi dia sudah membalas dengan mengiakan ajakan Alvaro.

Ini adalah kali pertama Lisa pergi dengan lawan jenis selain ayahnya atau keluarganya. Bukan cuma itu, Lisa juga bingung mau pakai baju apa, karena baju yang dia punya terlalu biasa saja. 

Namun Lisa berpikir, bahwa dia harus tetap menjadi diri sendiri dan apa adanya. Jadi Lisa pun memakai setelan baju dan rok sepanjang lutut. 

Rambutnya yang panjang dia ikat kuda, setelah memakai sedikit lipgloss dan parfum. Lisa pun keluar dari kamar kosnya untuk menunggu kedatangan Alvaro, karena dia tidak mau Alvaro menunggunya nanti.  

Saat Lisa ke depan tempat kosnya, ternyata Alvaro sudah menunggunya. Alvaro berdiri disebelah mobil sportnya dengan gaya yang begitu maskulin. 

Melihat Alvaro malam ini, membuat Lisa sadar, dia benar-benar sudah jatuh hati padanya. 

*****

Hal yang pertama Alvaro lakukan adalah mengajak Lisa untuk makan malam disebuah restoran mewah. 

"Kamu kenapa? Kok bengong?" tanya Alvaro setelah melihatwajah Lisa.

"Apa pantas aku masuk ke restoran itu dengan pakaian seperti ini?"

"Kamu cantik, jadi percaya dirilah," balas Alvaro sembari menggandeng tangan Lisa. 

Mereka pun makan malam dengan santai. Setelah makan malam, Alvaro mengajak Lisa nonton ke bioskop dan terakhir, Alvaro mengajak Lisa ke apartemen miliknya. 

****

Di dalam apartemen, Lisa merasa risih. Karena tidak ada orang lain lagi selain mereka berdua. Apalagi sekarang Alvaro sudah duduk merapat di sampingnya. 

"Kamu cantik, Sa," bisik Alvaro di telinga Lisa. Membuat Lisa bergidik geli. 

Lalu tiba-tiba, tangan Alvaro memegang wajah Lisa dan mengarahkan bibirnya pada bibir merah merekah milik Lisa. 

Awalnya Lisa mencoba berontak, tapi entah kenapa tubuhnya menginginkan lain. Hingga membuatnya tanpa sadar melenguh nikmat. 

*****

Next chapter