1 Ex Distribuidor

Aku menatap kembali layar laptopku dari balik jendela pesawat komersil. Beberapa jam lalu aku masih menikmati secangkir kopi dari caffee tengah kota, sesekali menilik hasil potret malam Kota Yogya dari kamera milikku. Sampai sebuah notifikasi pop up terdengar dari laptopku. Itu sebuah pesan email, hanya berisi dua lampiran. Tanpa subjek, ID penggirimnya juga terdengar aneh "El Espiritu."

Salah satu diantaranya adalah lampiran file video. Direkam oleh seseorang, dia berjalan memasuki sebuah rumah tua—aku tidak punya ide dimana tempat itu. Pencahayaannya kurang, hanya satu dua lampu yang menyala remang dan sedikit bantuan cahaya bulan. Sampai sosok ini tiba di depan sebuah pintu ruangan, samar-samar terdengar seruan marah seseorang didalamnya.

Aku berseru tertahan, menutup mulut dengan telapak tangan. Ya Tuhan! itu Adi, kawan lama saat aku masih berprofesi sebagai penjeblos bandar. Dia terduduk lemah diatas kursi, kaki dan tangannya terikat, wajahnya lebam. lalu tiba-tiba video itu kembali gelap.

Aku membuka lampiran berikutnya, itu kode scan. Dan aku kembali terkejut dibuatnya.

"Hola Madre Abogada! Saludos de un Ex Distribuidor!"

Aku paham sekarang. Dia kembali. Untuk membalas sebuah dendam.