1 Masa Lalu Yang Menyedihkan

Rima masih berbaring di atas kasur, ia tengah fokus menulis bab untuk karya novelnya. Rasanya cukup sulit karena karyanya selalu berbeda dari pasaran, ia lebih suka membuat cerita yang realitas dan sebagian kisah novelnya terinspirasi dari kehidupannya di dunia nyata.

"Akh, lama-lama otakku bisa pecah!" Rima mengacak-acak rambutnya, ia merasa begitu depresi karena sudah terlalu lama tidak membuat karya baru atau menulis bab lanjutan dari karya novelnya yang lain.

"Tuhan, kenapa aku berbeda dari penulis yang lain?" tanya Rima.

Rima tertunduk, ia ingin menangis. Namun, ia tidak ingin sahabatnya mendengar suara tangisnya.

Rima terpaksa tinggal di kediaman sahabatnya karena ia tidak memiliki rumah, rumahnya sudah ia jual untuk membayar beberapa utang mendiang mamanya kepada rentenir.

"Kenapa hidupku selalu, seperti ini? Apa aku tak pantas untuk bahagia?" tanya Rima pada dirinya sendiri.

Hidupnya tidak pernah bahagia, dirinya selalu dikucilkan dan direndahkan oleh orang lain. Tidak ada kebahagiaan untuknya dan mungkin hingga akhir dari hidupnya, ia akan tetap menderita.

Rima terdiam, ia berusaha untuk menahan tangis. Namun sayang, ia tidak bisa karena hatinya tidak sekuat baja. Hatinya, seperti permen kapas dan itulah yang membuatnya sering dimanfaatkan oleh orang lain.

Sementara itu, sahabatnya tengah mengintip dari balik pintu. Sahabatnya merasa iba kepada Rima karena hidup Rima penuh dengan kemalangan.

"Malang sekali nasibmu, Rim ..." batinnya. "Kamu baru berusia 18 tahun, tapi berbagai macam kemalangan sudah menimpamu."

Dia dapat mengerti perasaan Rima karena nasibnya tidak jauh berbeda dengan Rima. Dia adalah anak yatim-piatu, kedua orangtuanya tewas karena kejadian tragis yang menimpa mereka beberapa tahun silam.

"Aku harus menghiburnya, aku adalah sahabatnya dan dia membutuhkan semangat dariku," batinnya.

Dia membuka pintu kamarnya dan melangkah menuju ke arah Rima.

"Rim ..." panggilnya sambil menepuk bahu Rima. Namun, Rima tidak menggubrisnya dan tetap tertunduk.

"Kamu kenapa?" tanyanya dengan penuh kelembutan, supaya Rima luluh kepadanya dan menceritakan hal yang membuatnya sedih.

"Aku pusing karena karya baruku selalu tidak laku, padahal aku sudah bekerja keras untuk membuatnya. Tapi tetap saja ada yang tidak suka," balas Rima.

Rima menatap sahabatnya dengan ekspresi yang mengenaskan, seperti ingin menangis. Namun, ia tahan.

"Kamu tidak boleh, seperti ini. Kamu harus yakin dengan kemampuanmu sendiri, aku yakin kamu pasti bisa menjadi penulis berbakat!" ujar Raya.

Raya berusaha untuk meyakinkan Rima, supaya Rima bisa bangkit dari keterpurukan yang terus menghantuinya. Masa lalu Rima memang kelam, tetapi Rima harus tetap melangkah ke depan.

Rima hanya terdiam, ia mengerti maksud dari ucapan sahabatnya. Sahabatnya mencoba memberikan semangat untuknya, tapi hatinya tidak bisa pulih secepat itu karena hatinya sangat lemah, seperti kapas.

"Aku tidak mungkin bisa mewujudkan cita-citaku menjadi penulis terkenal, aku hanyalah gadis lemah yang tidak pantas untuk bahagia ..." kata Rima.

"Kata siapa kamu tidak pantas untuk bahagia? setiap orang memiliki kebebasan untuk kebahagiaannya dan kamu harus yakin dengan kemampuan kamu sendiri, jangan termakan oleh ucapan negatif dari para haters ..." nasihat sahabatnya.

"Cukup Raya! Aku sudah capek, aku pengin mati saja." Rima beranjak dari kasur dan keluar dari kamarnya.

Sedangkan sahabatnya—Raya—hanya bisa terdiam sambil meratapi Rima dari kejauhan, dia merasa kecewa karena Rima terlalu mudah menyerah.

"Kamu tidak, seperti yang aku harapkan ..." lirihnya.

Raya beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju ke arah luar, sedangkan Rima berada di dalam kamar mandi karena ia ingin menyendiri tanpa ada satu pun orang yang menemani.

Raya berada di halaman rumahnya, ia tengah menyiram tanaman yang ia rawat bersama mendiang ibunya.

Raya terdiam sejenak sembari meratapi tanaman yang berada di hadapannya, dirinya teringat dengan sosok ibunya yang selalu menjaganya.

Raya sangat merindukan ibunya, bahkan ia selalu bermimpi bertemu ibunya. Namun, mimpinya tidak akan pernah terwujud karena ibunya sudah berada di surga.

"Seandainya tragedi itu tidak terjadi, aku pasti masih bersama kalian ..." lirih Raya sambil menahan tangis, ia tidak ingin membuat keluarganya sedih karena melihat dirinya menangis.

"Maafkan aku, Kak. Karena diriku, kamu harus merenggang nyawa. Aku berjanji akan selalu mendoakanmu hingga akhir hayatku," ucap Raya sambil menatap ke arah langit.

Raya merasa bersalah kepada kakaknya karena ia belum bisa menjadi adik yang baik dan gara-gara dirinya, kakaknya harus kehilangan nyawa.

Tanpa Raya sadari, ada seorang pria sedang berdiri di belakangnya. Pria itu menatap Raya dan menghampirinya secara perlahan.

"Apa kabar Raya Neomanara?" sapa pria itu, Raya menoleh seketika.

"Untuk apa kamu ke sini?" tanya Raya dengan tangan yang bergetar.

"Aku rindu dengan kekasihku, apakah tidak boleh?" tanya balik pria itu sambil tersenyum licik.

"Aku tidak ingin bertemu seorang pembunuh, sepertimu. Jadi, pergilah!" usir Raya sambil berteriak.

Raya menatap pria itu dengan sinis, kemudian ia kembali fokus menyiram tanaman yang diberikan oleh mendiang ibunya. Baginya, tanaman itu sangat penting karena hanya tanaman itulah barang peninggalan ibunya yang tersisa.

"Kamu sedang apa? Apakah aku boleh membantu?" tanya pria itu.

"Tidak perlu. Lebih baik kamu pergi, aku tidak membutuhkan sampah masyarakat, sepertimu!" ketus Raya.

Raya berbicara dengan pria itu tanpa menatap matanya karena ia enggan berurusan dengan pria licik, seperti mantan kekasihnya.

"Tapi aku masih mencintaimu, Ray. Aku ingin hubungan kita, seperti dahulu lagi. Aku tahu aku salah dan aku minta maaf atas semua kesalahan yang telah aku perbuat," ucap pria itu.

Pria itu meraih tangan Raya. Namun, Raya langsung menepisnya.

"Jangan sentuh aku, pembunuh! Pergi kau dari sini!" tegas Raya.

Raya langsung mendorong tubuhnya, kemudian Raya berlari sekuat tenaga dan masuk ke dalam rumahnya.

Pria itu mencoba mengejar Raya. Namun, pintu rumah Raya sudah tertutup rapat, bahkan jendelanya pun tertutup rapat.

"Raya!!" Pria itu berteriak dengan sangat kencang, sedangkan Raya hanya bisa terdiam sambil berdiri di belakang pintu.

Raya merasa bersalah, tapi ia tidak mungkin bersama dengan orang yang telah membunuh kakaknya.

"Maafkan aku, Lang. Aku mencintaimu, tapi aku tidak mungkin memaafkan kesalahanmu. Aku memang munafik!" ucap Raya pada dirinya sendiri.

Raya menghempaskan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya pada meja kecil yang berada di sampingnya.

"Seandainya aku memiliki kekuatan mengulang waktu, aku pasti akan mengulang tragedi yang menyebabkan kehancuran ini."

Raya tertunduk dan tanpa tersadar air mata mengalir membasahi pipinya. Namun, Raya mengabaikannya dan lebih memilih mengingat kenangan indah sewaktu semuanya masih baik-baik saja.

Tidak ada satu pun yang terluka, hanya ada kebahagiaan yang menyinari kehidupannya. Namun, semua itu sirna saat salah satu dari kelompok mereka termakan oleh keegoisan yang mengakibatkan petaka besar bagi mereka.

Next chapter