1 Part 1 - Pertemuan

"Zee, mbak pulang duluan, ya. Kamu pulangnya hati-hati," ucap mbak Hana sembari menepuk pundak Nazifa.

"Iya, Mbak." Nazifa tersenyum dengan tangan tetap mengelap meja kafe. "Hati-hati!" seru Nazifa saat melihatnya berlalu.

Jam sudah menunjukan pukul 22.00. Nazifa segera menutup kafe setelah memastikan seluruh ruangan bersih dan rapi.

Hana, wanita yang sudah Nazifa anggap seperti kakaknya sendiri. Ia adalah pemilik kafe di mana Nazifa bekerja. Wanita baik yang menolongnya saat ia kesulitan menemukan pekerjaan di kota ini.

Nazifa Nuwaira. Kebanyakan orang memanggilnya Zifa/Zee. Usianya 19 tahun. Ia termasuk orang yang tidak percaya diri. Penampilannya sederhana, tidak begitu cantik, kulit kuning langsat dengan perawakan standar.

Ia hanyalah gadis kampung yang mencoba merantau setelah tamat sekolah dari SMK. Mencari pekerjaan di kota metropolitan hanya dengan bermodal ijazah SMK, tidaklah semudah yang dibayangkan.

Nazifa sudah bertanya ke sana kemari, tetap saja jawabannya 'tidak ada lowongan'. Ada beberapa tempat yang mau menerimanya bekerja, tapi dengan syarat harus melepas hijab saat bekerja.

Nazifa keberatan. Ia sempat ingin menyerah dan kembali lagi ke kampung halaman.

Namun, di saat keputusasaannya itulah secercah harapan muncul. Hana menerimanya bekerja sebagai pelayan kafe. Meskipun gajinya tidak besar, tapi baginya itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya di kota ini.

Nazifa merantau ke kota ini bersama dengan teman se-angkatan SMK. Namanya Dimas. Bedanya Dimas merantau untuk melanjutkan kuliah, sedangkan Nazifa untuk mencari pekerjaan.

Setiap kali ia mengingat nama Dimas, ada yang terasa sesak di dadanya. Sedih, sakit dan kecewa bercampur menjadi satu. Nazifa sudah cukup lama tak pernah melihatnya lagi.

Mengingat hal itu, Nazifa berharap waktu bisa berputar kembali ke belakang. Saat semuanya masih baik-baik saja. Saat perasaan di antara keduanya hanya sebatas teman baik.

Bermodalkan tekad dan restu dari orang tua, Nazifa memberanikan diri merantau ke kota ini. Orang tuanya pun sempat ragu untuk memberikan izin. Namun, Dimas berhasil meyakinkan mereka.

Dimas berjanji akan selalu menjaga Nazifa. Ia memang dikenal sebagai pria yang baik di kampungnya. Itulah kenapa, orangtua Nazifa percaya dan akhirnya setuju.

Namun, sekarang hubungan Nazifa dan Dimas tak sebaik dulu.

Dimas ... seseorang yang ingin segera bisa ia lupakan sepenuhnya. Namun apa daya? Hati dan pikirannya belum bisa melupakan seutuhnya.

'Dimas ... bagaimana kabarmu sekarang?'

Nazifa memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Berharap rasa sakit di dadanya akan sedikit berkurang.

Mengingat semua hal tentang Dimas, membuat dirinya tak sadar menyeberang jalan tanpa melihat sekeliling dulu.

Motor dengan kecepatan tinggi sedang mendekat ke arahnya. Nazifa terkejut. Karena syok, ia hanya mampu berdiri mematung dengan mulut sedikit terbuka.

Ingin berteriak, tapi tidak ada suara yang mampu keluar. Kedua tangannya refleks menutup mata dan bersiap dengan apa pun yang akan terjadi.

Suara benda jatuh cukup keras, membuat Nazifa kembali membuka matanya perlahan.

"Alhamdulillah, ya Allah ... aku selamat," gumam Nazifa sambil mengusap-usap dada.

Ia melihat ada motor yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Astaghfirullah!" pekik Nazifa. Secepatnya ia menghampiri dan berlari mendekat.

"Mas ... Mas ... bangun, Mas. Mas nggak apa-apa 'kan?" tanya Nazifa khawatir.

"Aaarrgh ...," ringis pria itu seraya mencoba berdiri.

'Alhamdulillah ... ternyata masih hidup,' batin Nazifa.

Nazifa menghela napas lega. "Maaf, Mas ... maaf," ucapnya ketakutan.

"Lagian, loe ini gimana, sih? kalau mau nyebrang itu liat kanan-kiri dulu, dong. Maen nyelonong aja!" tegur pria itu sedikit menahan emosi.

"Iya, Mas. Aku minta maaf. Aku tadi memang ceroboh," sesal Nazifa  dan segera membantunya mendorong motor ke pinggir.

Pria itu menghembuskan napas panjang setelah membuka helmnya. Tampan. Itu yang sempat terlintas sesaat di pikiran Nazifa saat melihat wajah pria tersebut.

Kulit putih, hidung mancung, wajah bersih tanpa jambang sedikit pun. Rambutnya berponi ala-ala oppa korea.

"Ini, Mas. Diminum dulu." Nazifa mengeluarkan botol minum dari dalam tas. Menawarkannya dengan tangan sedikit gemetar.

Pria itu memandang Nazifa dengan tatapan tajam. Nazifa menundukan wajah. Ia takut.

Pria itu menerima botol minuman, lalu duduk dan menghabiskannya dalam satu kali tegukan.

'Bagaimana kalau dia menuntutku ke polisi?' batin Nazifa.

Jantungnya berdetak tak karuan. Nazifa takut masalahnya akan berbuntut panjang. Jari-jarinya sedari tadi tak berhenti memilin ujung kemeja.

"Ehm ... apa mau aku antar ke klinik, Mas?" tanya Nazifa ragu.

"Nggak usah," jawab pria itu datar.

Pria itu melipat kaos lengannya sampai siku. Punggung telapak tangannya lecet-lecet dan sedikit berdarah.

Nazifa merasa bersalah. Ia ingat sesuatu! Dengan langkah cepat, Nazifa segera membuka lagi pintu kafe dan melesat masuk. Ia kembali keluar dengan membawa kotak P3K di tangannya.

"Sini, Mas. Biar aku bantu obatin dulu." Nazifa berjongkok di depannya.

Pria itu hanya berdiam diri tak menjawab. Nazifa membersihkan kotoran di luka dengan alkohol dan kapas, kemudian setelah itu baru mengoleskan obat luka.

Nazifa mendongakkan wajahnya untuk melirik wajah pria itu. Tatapan mata keduanya tak sengaja bertemu. Cepat-cepat Nazifa kembali menundukkan wajah. Malu.

"Selesai, Mas." Nazifa langsung merapikan kembali kotak P3K.

"Makasih, ya," ucap pria itu ramah.

Nazifa mengangguk. Ia berdiri lalu berjalan masuk ke dalam kafe dan segera kembali keluar untuk menguncinya.

"Loe kerja di sini?"

"Ah ... i-iya, Mas." Nazifa kaget saat melihat pria itu sudah berdiri tepat di belakangnya. Ia sedikit bergeser ke samping untuk menghindarinya.

Pria itu tersenyum. Ia mundur dan kembali berjalan ke arah motor, lalu menghidupkan mesinnya.

"Mas ... yakin bisa naik motor lagi?" tanya Nazifa memastikan.

"Elaah ... cuma lecet dikit doang, kok. Bisalah." Pria itu menjawab santai sambil tersenyum.

"Barangkali aja masih lemes," gumam Nazifa setengah berbisik.

"Hmm?" Pria itu memajukan telinganya mendekat ke arah Nazifa.

"Nggak kok, Mas ... nggak apa-apa." Nazifa menggeleng cepat.

"Maksudku, Kalau mas nggak kuat naik motor, biar aku bantu panggilin taksi atau ojol."

Pria itu tersenyum lebar. "Nggak usah."

'Duuhh ... manis sekali senyum itu. Eh? Astaghfirullah,' gumam Nazifa dalam hati.

"Lain kali, kalau mau nyebrang itu jangan sambil bengong. Bisa bikin bahaya diri sendiri dan orang lain, tau," pesan pria itu pada Nazifa.

"Iya, Mas. Maaf." Nazifa mengangguk.

Pria itu melajukan motornya perlahan. Meninggalkan Nazifa yang masih berdiri di depan Kafe.

"Alhamdulillah. Ternyata orangnya baik," gumam Nazifa.

Ia sempat terpikir kalau pria tadi akan memarahinya habis-habisan. Ternyata tidak!

Belum jauh motor itu pergi, tiba-tiba pria itu kembali menghentikan motor. Ia menengok ke arah Nazifa sembari membuka kaca helmya.

"Nama loe siapa?" teriak pria itu.

Nazifa sempat termenung beberapa saat sebelum akhirnya ia menjawab.

"Nazifa! Nazifa Nuwaira!" sahut Nazifa setengah berteriak.

"Gue Bara! See you next time Nazi!"  Pria itu mengangkat dua jarinya ke atas dan kembali memacu sepeda motornya.

Setibanya di kost-an, Nazifa langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia termenung sesaat mengingat kejadian tadi saat pria itu memanggil namanya.

"Nazi? Hiisshh ... kayak nggak ada panggilan yang lain aja. Emangnya aku tentara Jerman?" gerutunya kesal.

Nazifa berdiri lalu melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.

🌸🌸🌸

Sesampainya di rumah, Bara melihat kakaknya masih terjaga di depan tv.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam. Darimana aja kamu, Bar? Di tungguin ibu dari tadi."

"Biasalah, Bang. Namanya juga anak muda," jawabnya santai seraya mengambil minum di kulkas.

"Tanganmu kenapa?" Kakaknya melihat perban di tangan Bara.

Bara melirik tangannya sekilas. "Oh ... ini. Nggak apa-apa, Bang. Tadi motor jatuh. Jalannya licin," jawab Bara sedikit berbohong.

"Bukan karena balapan lagi 'kan?" Kakaknya menatap tajam ke arah Bara.

"Yaelah, Bang, Bukan. Lagian, udah lama juga Bara berhenti balapan," sahut Bara.

"Syukurlah kalau gitu. Jangan bikin mama khawatir lagi dengan ulah kamu."

"Iya, tahu. Abang lama-lama mirip emak-emak nih. Bawel." Bara terkekeh pelan.

Kakaknya melotot ke arah Bara seraya melempar bantal dari kursi. Bara terbahak dan berlari ke kamar meninggalkannya.

Bara menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia memandangi perban di tangannya sambil tersenyum.

"Nazifa Nuwaira ... nama yang bagus," gumamnya senyum-senyum sendiri.

★★★

Next chapter