1 Bandung dan Pemerkosaan  

Kala itu kota Bandung tengah diguyur hujan dengan derasnya. Hilir mudik bermacam kendaraan terkadang menyamarkan bunyi hujan yang begitu merdu jika tak dibarengi suara klakson. Memekakkan telinga, sangat mengganggu Delmar yang tergila-gila akan hujan.

Delmar adalah sosok CEO muda yang memiliki kuasa penuh atas proyek pembangunan jalan kereta cepat Bandung-Jakarta. Sebagai sosok muda berusia 27 tahun, ia tergolong sukses dengan penghasilannya yang tak terkira.

Kopi di tangannya mulai dingin. Udara sejuk kota Bandung malam ini membuat hidung mancungnya agak meler dan mesti menghidu aroma kafein hangatnya. Ia berusaha untuk tetap bugar meski banyak pekerjaan yang tak bisa ditinggalkannya.

"Siapkan mobil, kita akan pindah ke sudut lain. Aku khawatir para pekerja kita terlalu memaksakan dirinya di waktu hujan begini." Delmar memberi perintah pada asisten pribadinya, Abdi.

Abdi begitu mengagumi sosok Delmar. Meski hidup sebagai seorang yang kaya raya, Delmar selalu berbaik hati pada siapa pun. Ia tak pernah membebani orang-orang di sekitarnya meski sebetulnya uang di sakunya boleh memperbudak siapa pun.

"Siap, Pak!" Abdi segera menyiapkan mobil mewah milik Delmar, BMW tipe terbaru yang hanya diproduksi terbatas tahun ini saja.

Tangan kanannya melambai, memanggil seorang wanita pelayan kafe untuk membawakan tagihannya. Delmar memberikan uang pecahan seratus ribu sebanyak lima lembar.

"Tapi, ini kelebihan, Pak. Bahkan dengan satu lembar saja masih dapat kembalian," ujar sang pelayan sembari bergetar memegang uang yang kebanyakan itu.

"Biar. Ambil saja lebihnya untukmu. Kau punya orangtua kan? Nah, ambil dan berikan pada orangtuamu." Delmar melengos pergi meninggalkan kafe yang mulai sepi dengan pesona senyumnya, seakan meminta izin untuk pulang pada si pelayan.

Sang pelayan berterima kasih berkali-kali. Tak terkira betapa senangnya ia malam hari ini. Tidak ada yang tahu kalau dia akan mendapatkan rezeki secara tiba-tiba. Padahal ini masih tengah bulan dan terlalu jauh jika mengharapkan uang gajian.

"Sudah ganteng, baik hati pulaa!!!" bisiknya dalam hati sembari mengamankan uang pemberian Delmar ke dalam saku bajunya.

Dengan langkahnya yang tegap, Delmar tak lupa pula untuk mengumbar senyuman manisnya pada siapa pun yang ia temui. Tak ada kesan lelaki kaya yang sombong dari wajahnya. Ia memang berbeda dari kebanyakan pebisnis di sekitarnya. Bahkan, teman-temannya sesama konglomerat pun sangat membenci sikap Delmar yang terlalu baik hati. Menurut mereka, Delmar akan bangkrut jika terus-terusan memberi orang-orang bonus.

Akan tetapi, kenyataannya justru berbanding terbalik. Yang Delmar temui hanyalah kesuksesan di atas kesuksesan lain. Setelah sukses menggelar bisnis properti, Delmar juga sukses dalam berinvestasi di bidang perusahaan startup. Lalu, tak sampai di situ saja, Delmar juga berhasil mendirikan sebuah perusahaan rekaman khusus band-band indie di Bandung.

Begitu banyak kesuksesan yang ia raih tanpa mengorbankan moralnya sedikit pun. Hatinya terlalu bersih untuk menjadi seorang CEO di zaman ini. Begitu kata-kata yang terlalu sering didengar Abdi dari rekan-rekan kerja majikannya.

***

Setelah selesai memeriksa semua proyek pembangunan di semua titik kota Bandung, hujan reda bersama sampainya Delmar di gedung rekaman miliknya. Ia berniat untuk memeriksa bagaimana pengelola di sana menjaga bisnisnya agar tetap berjalan sesuai arahannya.

"Tolong panggilkan Farel. Bilang kalau Pak Delmar sedang mencarinya." Kali ini Abdi yang memberi perintah. Dia tidak mau majikannya menunggu terlalu lama.

"Santai saja, Abdi. Kita masih bisa menghabiskan waktu sampai jam dua belas malam. Aku tidak masalah." Delmar menepuk pundak Abdi, menyuruhnya untuk tetap tenang.

"Tapi, Pak Delmar belum sempat istirahat seharian ini. Bapak juga harus mempertimbangkan kesehatan Bapak." Abdi menyusul majikannya yang terlebih dahulu duduk di sofa tunggu, nyaman dan empuk sekali.

"Aku sudah beristirahat ketika kau menyetir mobil. Aku juga beristirahat beberapa menit ketika kita salat tepat waktu. Tenang saja. waktu tidur empat jam cukup untuk memulihkan kebugaran tubuhku."

Abdi menyerah meyakinkan Delmar. Ia bersikeras bahwa bersikap tenang adalah kewajiban yang harus dipertahankan. Delmar tidak suka memanggil seseorang hingga membuat mereka ketakutan dan panik. Ia ingin semuanya berjalan santai dan hangat. Baginya, waktu memanglah penting. Namun, sebagai seorang manusia pun Delmar tak bisa membunuh rasa kemanusiaannya.

Tidak berselang lama, Farel datang menghadap Delmar. Ia duduk di seberang sofa sang bos setelah mendapat isyarat. Sebagaimana Abdi, Farel juga sangat menghargai Delmar. Meski dia tahu bahwa majikannya seorang yang baik, Farel tetap tidak mau berlagak congkak di hadapan pemilik bisnis ini.

"Bagaimana keadaan studio ini? Ada kendala?" tanya Delmar langsung pada topiknya.

"Aman terkendali, Pak. Kami justru sedang kewalahan mengatur jadwal para perental kamar studio. Sampai-sampai beberapa staf menyarankan untuk membangun satu lantai lagi agar kamarnya mencukupi pesanan per harinya." Farel tampak antusias menyampaikan laporannya. "Ini, Pak. Grafik kenaikan dari awal bisnis ini diluncurkan sampai hari ini," tambahnya sembari memberikan map berwarna merah.

Delmar membacanya dengan saksama. Ia tersenyum menanggapi kerja karyawannya yang sangat apik itu.

"Selain studio ini, kita juga punya delapan gedung lagi yang tersebar di Bandung, Jakarta, Malang, dan Surabaya. Untuk saat ini, kita syukuri dulu apa yang kita dapat. Jangan terburu-buru menambah kamar rekaman. Banyak pengusaha studio band kecil-kecilan di Bandung dan kota-kota lain sebagai tempatnya mencari makan. Dan kita tidak berdiri untuk membunuh usaha mereka. Biarkan saja dulu." Delmar mengembalikan map berisi laporan itu kepada Farel.

Mendengar jawaban Delmar, Farel sangat kagum dengan visi bosnya dalam membangun usaha. Inilah bosnya, dia tidak pernah bersikap serakah meskipun bisnisnya tengah naik daun. Padahal, hanya dengan memerintahkan para pegawainya pun, Delmar mampu membangun berpuluh-puluh gedung lagi jika ia mau.

"Baik, Pak! Akan saya ingat baik-baik nasihat Pak Delmar ini," sahut Farel dengan wajah berseri-seri.

***

Sebelum pulang, Delmar memutuskan untuk mencoba salah satu kamar rekaman gedung ini. Sengaja, Farel memberikan kunci kamar VIP agar Delmar merasa nyaman.

"Abdi, kau bisa main alat musik?" tanya Delmar sembari berjalan beriringan dengan asistennya.

"Saya bisa main gitar saja, Pak." Abdi tersenyum malu, tangannya menggaruk kepala belakang.

"Nah, cocok sekali. Aku bisa bermain piano. Bagaimana kalau kita ngeband dulu sebentar?"

"WAH! Boleh banget, Pak!" sahut Abdi antusias.

Segera Abdi membuka kamar itu dengan kunci yang ia dapat dari Farel. Namun berkali-kali ia gagal. Sebab, ternyata kunci yang didapatkannya bukanlah kamar VIP nomor enam, melainkan VVIP nomor tujuh dengan peralatan musik paling lengkap.

"Biar aku yang buka, Abdi." Delmar mengambil kuncinya dari tangan Abdi.

Abdi tertunduk malu. Padahal majikannya sama sekali tidak marah, ia benar-benar hanya ingin melakukannya sendiri.

Dua entakkan kunci, dan kamar pun terbuka. Betapa kagetnya saat Delmar mendapati seorang gadis tengah terbaring menangis dengan baju koyak di setiap sudutnya. Beberapa bagian tubuhnya bahkan tampak dari baju yang sengaja disobek itu.

"A- ap- apa yang sedang kau lakukan di sini?"

*****

Next chapter