1 Gadis Kecil Berkuncir Dua

Rumah klasik tepat berada didepan rumahku sudah berpenghuni setelah sekian lama ia berdiri tanpa hadirnya pemilik, terhitung dua tahun lewat sang pemilik rumah memilih untuk tidak menempatinya lagi. Mobil Suzuki Baleno keluaran tahun 2001 berwarna silver itu terparkir mantap dipelataran rumah yang sudah banyak ditumbuhi rumput kanji.

"Bunda ada kucing" terdengar jelas suara perempuan dibalik mobil sang Ayah yang Aku taksir ia seorang perempuang kecil.

"Jangan ditangkap sayang, nanti dicakar." terdengar suara lembut berasal dari arah dalam rumah. Seorang wanita dengan proporsi tubuh tinggi dibalut kulit kuning langsatnya itu tengah menggendong anak bayi laki-laki dengan kain gendong berwarna biru muda. Kakiku secara tidak sadar melangkah menghampiri sang gadis kecil bergaun pink dengan rambut berkuncir dua dihiasi jepit berwarna pink senada terhadap baju yang ia pakai.

Akupun melihatnya yang masih berusaha meraih anak kucing yang berada dibawah mobil sang Ayah. Tanganku yang sedikit lebih panjang pun turut serta membantu si gadis berkuncir dua itu, setelah terasa bulu kucing telah teraih dijariku sontak aku menariknya.

"Awsss…" ringisku, reflek saja aku menggenggam kucing kecil tersebut yang ternyata kuku-kukunya menancap dikulit tanganku. "Ini kucingnya" ucapku lagi seraya memberikan kucing kecil berbulu hitam itu.

"Kak, tangannya" ucapnya seraya menunjuk bekas cakaran kucing yang baru saja kudapatkan. "Bundaaa, tangan kakak ini berdarah." ucapnya dengan keras berupa panggilan kepada sang wanita berwajah mirip dengan gadis kecil yang berada persis dihadapanku ini.

"Ya ampun nak, tuh kan apa bunda bilang tadi." ucapnya panik dan segera memasuki mobil guna mengambil kotak P3K dan sebotol air. "Sini nak, mana tanganmu yang terluka" ucapnya begitu lembut, akupun langsung memberikan tangan kanan mungilku yang terluka. Bukan kategori luka berat sebenarnya tapi untuk anak seumuranku ini cukup sakit dan bisa saja infeksi nantinya jika disepelekan.

"Maafin Chika bunda" cicitnya seraya tertunduk dan masih mengelus lembut anak kucing tadi. Sedangkan aku tersenyum melihat kepolosannya meminta maaf kepada sang Bunda.

"Chika ga salah tante aku yang salah, nekat mengambil kucing itu." ucapku menyesal.

"Sudah tak apa, lain kali hati-hati ya" jawab orang dewasa dihadapanku ini "Hufff, selesai semoga cepat sembuh nak" ucapnya seraya meniup luka kecil yang sudah diberikan obat merah, kemudian sang bunda si gadis berkuncir dua berlalu masuk kedalam rumah masih dengan bayi laki-laki yang tertidur pulas didalam kain gendong yang terdekap dengan penuh kasih sayang itu.

"Nama kakak siapa?" tanya gadis berkuncir dua kepadaku, yang baru saja aku ketahui ia bernama Chika.

"Galaksi, kamu bisa panggil aku Gala" jawabku seraya tersenyum kemudian mengikuti tangannya yang masih aktif mengelus kucing kecil hingga tertidur pulas diatas pangkuannya.

"Kamu akan tinggal disini?" tanyaku seraya mengelus lembut hewan berbulu yang berada dipangkuan sang gadis berkuncir dua.

"Kata Bunda iya, ini nanti jadi rumah kami. Mau kah berteman denganku?" Ucapnya seraya menatap penuh harap kepadaku. Aku pun tertawa melihat betapa polosnya gadis kecil dihadapanku ini, yang ku taksir dua tahun lebih muda dariku.

"Hey, tentu saja dirimu tinggal tepat didepan rumahku kita pasti berteman." jawabku dengan senyuman yang mengeluarkan lensung pipi dikedua sisi pipiku.

Mulai hari ini aku memiliki seorang teman perempuan berkulit putih, berhidung kecil dengan dagu berbelah serta memiliki gigi susu yang sedang goyang. Sosok ia akan senantiasa menemaniku bermain, maupun aku yang akan menemaninya sekedar bermain boneka. Aku senang memiliki teman baru, manis dan cantik.