1 bab 1

Malam dingin dengan salju bertebaran di tanah membentuk hamparan putih, jauh dari keramaian di dalam hutan yang lembab dan dingin berdiri sebuah kastil yang megah, sunyi dan sangat menyeramkan bahkan seekor burung pun tak berani mengeluarkan kicauannya. di kastil tersebut hidup lah berbagai mahluk mitologi yang konon hanya dongeng dari mulut ke mulut tapi nyatanya mereka nyata.

Rubah putih yang sangat cantik

Rubah merah yang pemberani

Duyung yang begitu pengertian dan lemah lembut

Peri kupu-kupu yang selalu menepati janji

Dan si Rusa yang pendiam dan menyukai berbagai tumbuhan dan hewan.

mereka hidup lebih dari ribuan tahun sebelum peradaban, hanya karna dosa yang mereka lakukan mereka tak bisa mati.

Dahulu kala rubah putih dan rubah merah adalah saudara kembar, walau mereka kembar tapi mereka tak memiliki wajah yang sama dan begitu juga sifatnya, rubah putih lebih penurut baik hati dan lemah lembut mungkin itu yang menjadi nilai tambahan membuat nya nampak seperti dewi.

Namun berbeda dari rubah merah yang pemarah keras kepala dan pembangkang walau begitu mereka tetap akur sampai akhirnya seorang utusan kerajaan bertemu dengan mereka.

sikap pemberani rubah merah dan ilmu beladiri yang cukup melebihi makhluk lainnya membuatnya menjadi panglima perang dari kelompok siluman jenis kelamin tak menghalanginya karna dia memiliki kemampuan.

dulu manusia dan para siluman adalah musuh manusia iri terhadap siluman yang bisa hidup seratus lamanya, mereka memiliki kemampuan menyembuhkan diri dalam waktu sekejap jarang terkena penyakit awet muda dan kemampuan mereka melebihi kemampuan manusia dengan itu mereka para manusia membuat perjanjian mengirim utusan mereka untuk perdamaian.

dengan sifat yang ramah dan menyenangkan membuat rubah putih itu tertarik begitu juga utusan kerajaan itu mereka menjalin hubungan tanpa ada yang tau kecuali rubah merah,

"apa kau sudah gila. bagaimana manusia dan siluman bisa bersama? kau harus melupakan nya bagaimana pun caranya. "

"merah aku tak bisa, aku bahagia bersamanya seakan waktu berhenti dan hanya kami berdua"

dengan sekuat tenaga rubah merah mencengkram bahu rubah putih sembari mengguncang nya dengan keras.

"kau boleh mencintai siapa saja tapi jangan manusia itu, manusia itu sangat licik aku banyak mendengar kalau dia memanfaat kan semua perempuan yang di dekatnya untuk kepentingannya sendiri"

"aku jatuh cinta putih"

plak!

"kau gila!"

"aku harus bagaimana, saat bersamanya aku merasa hidup aku sangat bahagia, sangat...

mendengar penjelasan dari rubah putih, rubah merah sangat marah dia menghancurkan apa saja di depannya sampai sebuah kaca mengenai pelipis kanan rubah putih. Dan anehnya darah itu terus mengalir tanpa henti, padahal mahluk seperti mereka akan sembuh dalam waktu lima detik untuk menyembuhkan luka berat ditubuh, tapi kenapa hanya luka kecil itu tak bisa tertutup.

"apa... kau...??

"iya... aku memberikannya pada dia"

bruk....

kedua kaki rubah merah lemas seketika bagaimana dia memberikan mutiara rubah kepada manusia itu.

"apa kau bodoh!! bagaimana jika ayah tau! "

"ayah tidak akan tau jika kau tak memberitahunya. ku mohon merah dia cinta pertamaku. "

dengan bertulut di bawah kaki rubah merah dia bersujud memohon agar rubah merah tak mengatakan kepada siapapun.

"kau bodoh.!!

terdengar dari kejauhan langkah kaki setengah berlari dengan tergesa-gesa memasuki kamr rubah putih.

"apa kau tidak ada sopan santun? "

"maaf panglima tapi ini sangat terdesak, para manusia itu melawan kita meraka membawa pasukan yang cukup banyak dan kita belum siap untuk perang ini" lapor prajurit itu.

"siap kan kuda ku, kerahkan seluruh prajurit terlatih untuk berdiri di barisan terdepan bersamaku."

" tapi panglima kami butuh waktu untuk mempersiapkan pedang kami"

"aku dan yang lain akan mengulur waktu. jadi kalian cepat lah"

"baik panglima" prajurit itu pun pergi. rubah merah melirik rubah putih.

"itu yang kau katakan cinta? dia mengkhianati dirimu, mencuri mutiaramu dan sekarang menghancurkan klanmu selamat untukmu" dengan kesal rubah merah meninggalkan rubah putih yang sedang melamun memikirkan apa yang terjadi sebenarnya.

sejauh memandang lautan manusia sedang berbaris membawa panah pedang kampak atau alat lainnya seperti tombak siap untuk bertarung, disisi kanan terdapat manusia yang menjadi utusan kerajaan yang seorang pengkhianat memimpin pasukannya, disisi lain rubah merah dengan gagah berani memakai baju bajanya dengan rambut yang tak terikat membuatnya tampak cantik, perang tak bisa dihindari pertarungan yang sengit itu menyisahkan sedikit pasukan mereka. samapai dititiknya rubah merah berhadapan langsung dengan pengkhianat itu.

"aku akan mengampuni dirimu jika kau mengembalikan mutiara itu kepada kakakku"

"hahahaha dasar sombong, bagaimana jika kau memberikan mutiara mu maka aku akan mengampunimu, bagaimana? aku tau kau menyukaiku bahkan seluruh dunia tau"

"ya ku akui aku sangat mencintaimu sebelum aku tau kau adalah seorang pengkhianatan.

"

mereka saling menyerang dengan sangat gesit, dan sama sama memiliki luka baik di tangan wajah dan tubuh mereka, namun tak ada yang bisa mengalahkan rubah merah yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. saat pedang nya hendak memenggal kepala si pengkhianat terhalang sebuah pedang yang terbuat dari es siapa lagi kalau bukan rubah putih.

"minggir!! "

"aku tak akan membiarkan mu membunuhnya. kumohon merah demi aku demi persaudaraan kita" ucap rubah putih sambil menangis.

"tak akan ku biarkan pengkhianat hidup"

"aku yang bersalah karna aku cintamu tak terbalas"

"huh... putih apa kau gila aku tak akan berbuat seperti itu karna dia memilihmu, aku ingin membunuhnya karna dia adalah pengkhianat"

ctrangg.... dengan sekali pukul pedang rubah putih mental dari tangannya dan....

jleb...

darah mengalir deras saat pedang itu di cabut baik dari jantungnya dan mulutnya.

prang...

rubah merah mundur beberapa langkah kakinya lemas pedang itu jatuh dari tangannya.

"putih...!!!

dengan sekuat tenaga dia berlari ke rubah putih dengan berlimpah darah dia memangku kepala rubah putih.

"maaf putih... maaf kakak... maaf kakak"

melihat ada kesempatan untuk lari si pengkhianat teesebut mencoba berlari tapi kalah cepat dengan tombak di tangan rubah merah.

jleb. tombak itu menembus jantung nya.

dengan kekuatan yang tersisa rubah merah mengekuarkan mutiaranya dan memberikan kepada rubah putih, dengan cepat darah yang semula tak mau berhenti kini mulai tertutup.

Next chapter