2 Chapter 2.

Hari dimana kejadian mencengangkan itu terus terbayang di kepala ku. Semenjak saat itu kepercayaan ku pada Nisa sungguh telah pudar. Tak terhitung waktu yang ku habiskan sekedar memutuskan cara terbaik untuk mengakhiri sandiwara konyol ini. Namun, apa jadinya dengan tanggapan pihak keluarga nantinya. Aib ini pastinya bakal jadi cerita hangat bagi kalangan ibu ibu rumah tangga dan malu bagi keluarga kami.

Salah sedikit saja akan berdampak buruk yang berkepanjangan.

Sejauh ini sikap Nisa pun terlihat biasa seolah tak terjadi apapun. Ia begitu pandai menyembunyikan sesuatu, aku tau itu. Setiap kali melihat sandiwaranya benar benar membuat darah ku mendidih, tapi aku tetap bersikap normal. Tak baik jika kasar pada wanita toh dia juga masih istri ku.

Hari senin. Kami kembali ke rutinitas normal setelah libur bersama beberapa hari. Sebagai seorang bidan istri ku tentunya aktif di rumah sakit seperti halnya pegawai lainnya maka hari itupun kami berangkat bersama menggunakan sedan hitam ku.

Nisa mengenakan seragam serba putih khas pegawai rumah sakit pada umumnya. Dengan ukuran yang sangat pas seragam itu terlihat membuat lekuk tubuhnya sedikit menonjol terutama bagian belahan dadanya. Seolah tonjolan daging kenyal itu ingin menyembul keluar dari tempatnya. Batang ku sempat tegang melihat penampilannya itu.

"Sayang aku boleh minta sesuatu gak.?" tanya ku sambil mengelus lembut paha kanannya. Nisa mengerti maksud ku tapi dengan halus ia menolak. Apakah karena jam kerja sebentar lagi tiba entahlah yang jelas ekspresinya sungguh serius menolak permintaan ku.

"Sebentar doang kok. Please...!" ucap ku terus mengelus pahanya sambil memasang muka memelas.

"Udah jam masuk ini sayang. Nanti aja ya.?" ia memindahkan tangan ku dari pahanya.

"Kan nanti lebih banyak waktu dan gak was-was kayak sekarang. Ini udah jam masuk sayang. Kamu tolong ngerti ya.?" Sebuah kecupan hangat ia daratkan di pipi ku lalu kemudian turun dari mobil.

Sebelum menutup pintu ia kembali berbalik.

"Tunggu aku ya, sayang.?"

"Oky." balas ku seraya tersenyum ke arahnya.

Begitu ia menghilang di balik pintu ku tancap gas menuju kantor. Dengan hati kecewa aku berusaha tetap bersikap biasa meski dalam benak ku timbul pemikiran aneh dan mengingatkan ku kembali pada kejadian beberapa hari yang lalu.

Meratapi.

Tak bisa ku percaya semua itu adalah kenyataan. Istri yang menjadi kebanggaan ku rela melakukan hal sehina itu dan menikung dibelakang ku. Tak habis pikir.

Seperti apa ku mengagungkan sosoknya yang begitu sempurna dimata ku kini semua itu hilang. Penolakan saja jelas menyakinkan pendapat ku selama ini. Dia sudah berubah.

...

"Selamat pagi, pak." sapa seorang satpam begitu aku tiba di depan pintu masuk. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum ramah.

"Hari ini ada meeting penting tolong jangan terima tamu sembarang selain orang yang berkepentingan mendadak." pesan ku.

"Baik, pak." jawabnya mengangguk mengerti. Lalu ku tinggal masuk menuju ruang pertemuan. Di situ semua jajaran staf yang ku pinta untuk hadir sudah siap di kursi mereka masing-masing.

"Maaf saya telat. Apa semuanya udah hadir.? Kalau gitu kita mulai."

Kami pun memulai rapat.

Setelah rapat rampung tepat jam tiga sore. Aku pulang lebih awal karena akan menjemput Nisa ke rumah sakit. Namum saat tiba di sana salah seorang pegawai wanita memberitahu ku bahwa dia sudah pulang satu jam yang lalu.

Akupun bertolak ke rumah. Tak banyak keterangan yang bisa pegawai itu berikan, pengakuannya ia hanya melihat saat hendak pulang ia dijemput oleh mobil civic berwarna hitam.

Jujur aku tak tau kalau Nisa punya kenalan yang memiliki mobil semewah itu. Karena itu aku sedikit menambah kecepatan berharap segera sampai di rumah. Sayangnya setelah tiba tidak ada mobil yang dimaksud si pegawai wanita itu.

Aku masuk usai memarkir mobil di bagasi dan mendapati Nisa tengah mandi.

"Sayang.?"

"Iya sayang." jawabnya dari dalam.

Mendengar suaranya sedikit melegakan.

"Kamu udah pulang aja. Aku kok gak di tungguin.?" tanya ku sambil duduk di pinggiran ranjang melepas pakaian satu persatu.

"Kamu sih kelamaan makanya aku pulang duluan. Tumben pulang sore syg, ada meeting ya.?"

"Iya. Aku lupa ngasi tau kamu. Maaf ya."

" Iya gak papa, syg."

"Oh ya. Tadi kamu pulang sama siapa.?" tanya ku pura-pura, mengujinya sebatas mana ia bisa berkata jujur.

Dengan begitu santainya ia menjawab

"Aku naik Taxi, syg."

Apa?

Dia berbohong.

Ada apa lagi ini. Ia berbohong kalau di jemput oleh seseorang dan malah mengaku pulang menggunakan Taxi.

Apa istri ku sudah terjerumur sejauh ini? Mengapa? Apa karena aku masih kurang di matanya? Berbagai pertanyaan jelas memenuhi kepala ku.

"Tenang." ku elus dada pelan menahan emosi meski rasanya sudah di ubun-ubun seperti gunung merapi yang segera meletus.

Setelah terasa sedikit tenang aku segera meraih ponsel lalu menghubungi salah satu teman dekat ku Ali. Dia adalah teman akrab ku yang bekerja sebagai tukang elektronik melalui modalnya sendiri. Tak segan aku terus membantunya jika mulai kesusahan dengan masalah finansial jadi karena itu ia tak segan juga membantu ku setiap ada keperluan yang berkaitan dengan hal seperti itu.

...

"Aku butuh bantuan mu, Li." kata ku setelah keluar dari kamar agar Nisa tidak sampai mendengar perkataan ku.

"Oke. Apa yang bisa ku bantu.?"

"Tolong carikan aku kamera CCTV yang bagus."

"Loh. Bukannya rumah kalian udah ada CCTV-nya.? Terus yang mana lagi mau dikasi.?"

"Pokoknya ada. Kamu siapin aja barangnya, besok aku tunggu di rumah."

"Kamu ya, kalau udah ada maunya serba tergesa kayak gini. Mau kamu apain si.?"

"Udah siapin aja. Aku butuh banget."

"Oke. Besok barangnya aku antar. Eh, tapi besok kamu gak ngantor kan.? Kalo gak ada orang nya nanti aku dibilang mau maling lagi."

"Gak. Tenang aja. Kalau bisa jam delapan udah disini ya.?"

"Siap pak bos.!!" ucapnya lalu di ikuti suara telpon ditutup. Lalu aku kembali ke kamar dan istri ku sudah selesai mandi. Ia duduk sambil mengeringkan rambut didepan cermin.

"Kamu udah selesai mandi.?" ucap ku menghampiri lalu memeluknya dari belakang. Aroma lembut memenuhi hidung ku seketika itu.

"Kamu harum banget. Aku jadi pengen..." tak habis ku menyelesaikan perkataan ku aroma harum di tubuh Nisa membuat ku terhipnotis lalu menciumi leher jenjangnya tanpa sadar. Tidak ada respon di awal ciuman ku tapi ketika ku gunakan lidah ku untuk menikmati kelembutan lehernya hingga akhirnya ia mulai terangsang.

Pelan tapi pasti bergilir dari area lehernya kini dua tonjolan daging kenyal yang terbungkus handuk menjadi sasaran utama ku. Dengan sekali tarik lilitan handuk tersebut terlepas dari tubuh Nisa menampilkan pemandangan yang membuat ku semakin bergairah.

Aku memutar posisi duduknya menghadap ke arah ku lalu berjongkok seraya membuka lebar selangkangannya.

"Ayo cepet, maaas." racuhnya.

Sambil mengelus lebut jebutnya lidah ku pun tak kalah bermain main memanjakan klitorisnya. Rasa asin yang menggiurkan tak bisa membuat ku berhenti melumat dan menghisap layaknya menikmati ice cream. Tidak... Bahkan ini lebih nikmat dari itu.

Tangan kanan Nisa terjulur menjambak rambut ku menekan-nekan kepala ku agar terus menempel di kemaluannya sementara tangan kirinya sebagai tumpuan untuk menopang tubuhnya yang sedikit condong ke belakang. Posisi itu sebenarnya membebaninya tapi ia tak peduli. Karena terlihat menyiksa akupun mengangkatnya ke atas ranjang.

"Kita lanjut ke tahap selanjutnya." ucap ku. Nisa hanya tersenyum. Namun sebelum itu ku seloborkan semua pakaian yang menempel di badan ku lalu menyusul Nisa ke atas ranjang.

"Tubuh mu membuat ku panas, sayang." kecupan hangat ku daratkan di lehernya lalu berhenti di bibir ranumnya mencium lebih dalam. Nisa membalas ciuman ku dan kamipun saling berpagutan. Tidak sampai disitu. Kedua gunung kembarnya juga menjadi sasaran dari kenakalan kedua tangan ku. Secara bergantian sambil berpagutan mesra ku remas dadanya.

"Ah.. " desah Nisa saat jari tengan ku beralih mengelus liang kewanitaannya.

"Kenapa, sayang.?" tanya ku.

"Eenaakkh." ucapnya sambil memejamkan mata menghayati sensasi nikmat yang melanda tubuhnya. Aku pun semakin panas. Dengan semangat 45 ku buka lebar selangkangannya dan memposisikan diri ku dengan benar siap memulai pertempuran.

"Tunggu, sayang.!" tiba-tiba Nisa menahan ku.

'Bayu POV End'[]