1 Chapter 1.

'Bayu POV'

Sebelum melanjutkan cerita ini aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Nama ku Hendra Bayu Wijaya biasa dipanggil Bayu. Aku adalah seorang Direktur diperusahaan ayah tiri ku. Namanya Ega Prayogi. Dia menikah dengan ibu ku setahun setelah ayah kandung ku meninggal akibat kecelakaan. Beliau ini dikenal sebagai pengusaha terkenal. Ia memiliki berbagai macam usaha. Mungkin karena begitu banyaknya usahanya maka salah satunya dia alihkan kepada ku.

Setahun setelah memegang kepemimpinan perusahaan yg dia titipkan kepada ku, akhirnya aku memiliki rumah ku sendiri dan akupun menikahi kekasih ku. Namanya Nisa yg berprofesi sebagai bidan.

Jika berbicara tentang istri ku Nisa, dia dimata ku adalah wanita yg sangat baik dan sholeha. Dia memiliki pribadi yg sempurna. Menikahinya adalah anugerah terbesar dlm hidup ku.

Dari dulu saat masih dlm Fakultas dia salah satu wanita idaman, banyak lelaki yg ingin mengencaninya namun selalu dia tolak. Tapi entah kenapa aku sendiri sudah lupa bagaimana pertemuan kami pertama kali hingga akhirnya sampai pada pernikahan ini, yg jelas bagiku semua ini adalah karunia untuk ku.

Selain wanita berhati sholeha Nisa juga selalu menjadi kebanggaan ku karena keindahan tubuhnya dibalik gamis yg sering ia pakai. Meskipun memakai pakaian yg begitu longgar namun keadaan itu tidak memungkiri lekuk tubuhnya yg bisa membuat setiap lelaki yg memandangnya tegang. Dengan ukuran Bra 35D Nisa memiliki toket yg besar, mulus, dan kencang. Sangat jelas ketika dipandang dari sudut manapun.

Setiap kali kami bercinta aku paling senang menggenjot sambil menikmati toketnya karena area itu adalah area paling sensitif baginya.

...

Malam ini tepat malam Ultah pernikahan kami yg ke tiga. Aku sengaja merayakannya di rumah kami dihadiri oleh seluruh karyawan perusahaan mulai dari bawah sampai kalangan atas.

Tak terkecuali semua pembantu rumah kami ku wajibkan untuk hadir demi merayakan hari bahagia tersebut. Aku pun mengundang beberapa teman ku yg juga seorang direktur sama seperti ku. Yang pertama adalah Yoga, dia yg paling dekat dengan ku dan kami sudah menjalin hubungan kerja selama satu tahun lebih. Dan yg lainnya ada, Brais, Ilyas, Ram, dan Saputra.

Mereka semua adalah teman-teman ku.

Seperti pesta pada umumnya semua temanku yg sudah berkeluarga datang bersama dengan istri masing-masing.

Namun ada salah satu yg datang sendirian yaitu Yoga.

Memang diantara kami semua direktur yg hadir disini Yoga adalah yg termuda. Tahun ini umurnya baru 28 thn lebih tua dua tahun dengan istri ku dan selisih 4 thn dengan ku.

Alasannya tidak menikah karena katanya belum ada yg cocok. Padahal jika dilihat dari penampilan dia tampan, berkulit putih dan memiliki tubuh atletis. Aku sangat yakin banyak kaum hawa yg menginginkan dirinya.

Bagiku tidak masalah.

Namun yg jadi permasalahannya istriku sendiri pun terlihat mengagumi ketampanan Yoga. Namun kekagumannya seketika ia sudahi setelah ku pergoki sedang menatap Yoga. Istri ku cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

Awalnya ku mengira kekaguman istri ku hanya sebatas itu namun ternyata diluar perkiraan ku.

Istriku yg tak biasa memandangi seorang lelaki yg bukan suaminya saat itu malah sangat tertarik melihat Yoga.

Sangat mengherankan.

Menjelang tengah malam di penghujung acara sengaja ku mengajak istri ikut ngobrol bersama kami di pojok ruangan. Dia tampak asik seperti wanita pada umumnya dan kami berbincang sambil tertawa kala ada pembicaraan yg mengundang gelak tawa.

"Sayang aku pamit ke toilet sebentar ya." bisik ku pada Nisa. Dia hanya mengangguk.

Kali ini aku ingin lihat sejauh mana dia mengagumi ketampanan Yoga. Ku pantaw mereka dari jarak jauh tapi masih belum ada yg aneh sampai salah satu tamu mendekat ke meja mereka.

Orang itu tak ku kenal. Yang ku tau dia hanya seorang bapak-bapak biasa dengan penampilan seadanya. Umurnya mungkin sedikit lebih muda dari ayah tiri ku dan poster tubuhnya juga terlihat sedikit lebih berotot.

Lantas sekarang apa maksudnya mendekati meja kami? Apa dia kenalan teman-teman ku? Tapi kenapa mereka terlihat acuh?

Atau... Ini ada kaitannya dengan istriku?

Karena penasaran akupun mendekati mereka setelah bapak-bapak itu pergi.

"Sayang. Tadi itu siapa.?

"Oh, tadi itu pak salim. Dia ngucapin selamat buat kita sayang."

"Pak salim mana.?"

"Itu loh sayang. Tukang sayur yang sering lewat depan rumah kita."jawab istriku santai.

Selama ini aku belum pernah melihatnya sesantai ini membicarakan orang apa lagi itu orang asing. Bagiku sendiri mungkin rasa heran ini terlalu berlebihan tapi ini sudah diluar dugaanku. Bagaimana mungkin dia berkata orang itu hanyalah penjual sayur biasa sedangkan aku tidak pernah melihat ada penjual sayuran lewat didepan rumah kami.

Ada apa ini?

Begitu banyak hal yang berubah dari sikap istri ku, yang aku sadari hanya saat bagaimana caranya memandangi Yoga.

Dan sekarang apa lagi?

Untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku menunggu acara malam itu segera berakhir sehingga paginya aku bisa memastikannya sendiri, apakah istriku berbohong atau tidak.

Menjelang pagi aku bangun sekitar jam tujuh, karena sekarang hari libur ku maka aku bisa tidur hingga siang hari namun kejadian tadi malam membuat ku bangun lebih cepat.

Seperti biasa istriku bangun lebih awal, saat terbangun dia sudah tidak di samping ku.

Aku beranjak ke kamar mandi lalu membersihkan wajah agar rasa kantuk ku sepenuhnya menghilang. Suara ibu-ibu tetangga mulai ribut di luar sana entah apa yang mereka ributkan.

Di sela-sela keributan itu aku dapat mengenali salah satu suara yang tidak asing yaitu suara Nisa istri ku, maka dengan secepat mungkin ku selesaikan urusan ku di kamar mandi dan mengintipnya dari sela korden jendela yang tampak langsung ke arah mereka.

Ternyata istri ku benar bahwa orang tadi malam itu hanyalah penjual sayur keliling biasa. Rasanya lega sekali saat mengetahuinya. Tapi ada yang sedikit mengganjal ketika ku perhatikan secara seksama.

Saat sedang memilih sayuran lelaki yang bernama pak salim itu mendekati istri ku dan merekapun berbincang.

Saat mereka sedang berbincang itu terlihat biasa namun yang tidak wajar ketika tangan pak salim mencoba meraih pantat istri ku dengan tangan kirinya karena saat itu istri ku berdiri di sebelah kirinya.

Dengan posisi yang membelakangi ku, aku dengan sangat jelas dapat melihat aksi pak salim. Dia berusaha menyentuh pantat istri ku sementara istri ku tak membiarkan tangan itu menyentuh pantatnya dan berusaha menepis tangan pak salim.

Meskipun berkali-kali tangan pak salim di tepis oleh istri ku tapi dia tidak putus asa dan terus melancarkan aksinya. Dan akhirnya usahanya untuk menyentuh belahan pantat istri ku pun tidak berhasil karena pembelinya semakin ramai.

Setelah selesai memilih tinggal giliran bayar. Istri ku menyodorkan uang pada pak salim dan langsung di sambut.

"Terimakasih neng."

"Sama sama pak." jawab istri ku sambil tersenyum.

Melihat senyumannya aku kembali merasa heran, kenapa istriku masih bisa memberikan senyuman pada pak salim padahal orang tua itu mencoba menyentuh belahan pantatnya?

Seharusnya dia marah karena tubuhnya akan disentuh oleh lelaki yang bukan suaminya.

Jantung ku berdetak lebih cepat, entah kenapa aku merasa penasaran ada apa diantara Istriku dan pak salim.

Ku perhatikan gerak gerik mereka berdua, pak salim sambil melayani pembelinya tetap berbincang dengan istri ku. Entahlah apa yg sedang mereka bicarakan yang pasti mereka terlihat sangat akrab dan membuat ku semakin curiga.

Sejak hari itu hingga selama tiga hari aku libur kerja setiap pagi istriku sering mendatangi pak salim untuk membeli sayuran.

Suatu hari saat sedang pulang dari kantor dengan penat yang begitu menggorogoti seluruh badan ku, aku tidak sengaja menabrak gerobak sayuran seorang bapak-bapak dan saat turun dari mobil menghampiri tukang sayur tersebut ternyata dia adalah pak salim. Maka dengan segera ku menolongnya seraya meminta maaf.

Karena kecerobohan ku kaki serta lengan pak salim terluka akibat ketiban gerobak. Aku merasa sangat bersalah melihat darah di lengannya maka ku tawarkan untuk ke rumah sakit namun beliau menolak. Dengan tegas dia berkata.

"Tidak perlu dibawa kerumah sakit, lagi pula ini hanya luka lecet biasa. Saya masih bisa jalan kok."

"Tapi pak, saya merasa bersalah karena sudah membuat sayuran bapak berantakan seperti ini. Jadi izinkan saya menebus kesalahan saya, jika bapak tidak mau dibawa ke rumah sakit setidaknya luka bapak harus diobati. Saya akan antar bapak kerumah saya, kita obati luka bapak disana."

"Lalu bagaimana dengan gerobak saya."

"Bapak tidak perlu khawatir, saya akan menyuruh seseorang untuk mengantarnya kerumah bapak."

"Kalau begitu terima kasih banyak."

"Bapak tidak perlu berterima kasih, ini juga salah satu ucapan maaf saya. Tidak perlu dipikirkan."

Ucap ku.

Aku membawanya kerumah bersama ku dan setibanya kami di sambut langsung oleh istri ku. Tak lupa pula ku kirimkan salah satu bawahan ku di kantor untuk membawakan gerobak pak Salim ke alamat yang sebelumnya sudah ia berikan.

Karena kekhawatiran ku yang begitu berlebihan sehingga aku tidak memperkirakan apa yang akan terjadi jika pak salim ku bawa kerumah kami, dan aku sangat menyesal.

Saat aku selesai mandi dan beranjak ke ruang tamu menemui pak salim ternyata istriku sudah ada disana. Mereka ngobrol seperti biasanya ketika bertemu tapi dengan suara yang lebih pelan.

"Maafin suami saya ya pak, gara gara dia bapak jadi terluka seperti ini. Saya sangat menyesal."

"Tidak usah dipikirkan neng, lukanya kan udah diobatin palingan udah sembuh."

"Loh pak kan baru aja diobatin setidaknya nunggu beberapa hari dulu baru bisa sembuh."

"Tapi pasti udah sembuh kok neng."

"Kok gitu pak."

"Kan neng yang ngobatin."

"Ah, pak salim bisa aja."

"Tapi bener lo neng. Suami neng beruntung banget ya punya istri secantik neng nisa ini."

"Biasa aja sih pak. Emang istri pak salim gimana. Pasti lebih cantik dari saya."

"Bapak udah gak punya istri neng."

"Oh maaf pak. Saya tidak bermaksud."

"Gak apa neng."

Ucapnya pelan.

"Oh ya neng, ngomong ngomong rumah neng gede juga ya. Gak capek apa kalau bersih bersihnya." tanyanya sambil menoleh kekanan dan kekiri.

"Yah gitulah pak. Kadang capek juga tapi mau gimana lagi sudah kewajiban saya."

"Kenapa gak nyewa pembantu aja neng kan lumayan ada yang bantuin."

"Maunya sih gitu tapi mau gimana lagi kalau suaminya gak setuju."

Ucap istri ku.

Memang kapan dia bilang pada ku? Meminta izin saja tidak pernah.

"Sayang loh wanita secantik neng nisa ini harus bekerja keras sendirian apa lagi rumah segede ini. Harusnya nyewa jasa pembantu aja neng. Emang suami neng tega liat kecantikan neng luntur akibat kerja terlalu berat. Kalau saja jadi suami neng udah pasti nyewa pembantu dan neng tinggal nyantai aja di kamar."

"Dari tadi bapak terus bilang saya cantik loh, saya gak cantik lo pak biasa aja."

"Neng emang cantik kok. Almarhum istri saya aja gak secantik neng ini. Saya yakin mas Bayu pasti puas banget setiap meminta jatahnya."

Mendengar itu istri ku tersenyum kecil menanggapi perkataan pak Salim. Tidak ku sangka pak tua itu akan sevulgar ini dan istri ku bukannya marah malah tersenyum seolah memberi harapan kepadanya. Sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi aku segera mendekati Mereka sambil berdehem lalu seketika senyum istri ku menghilang menyadari kedatangan ku.

Setelah kejadian hari itu perlahan istri ku menunjukkan perubahan. Ketika pagi hari dia tidak pernah absen untuk membeli sayuran pak Salim namun setiap harinya kebiasaan istri ku yang biasa sekedar memilih sayuran yang dia butuhkan lalu pergi kini berubah. Waktunya lebih banyak mengobrol dengan pak Salim ketimbang memilih sayuran. Hal inilah yang membuat ku sedikit khawatir tapi demi kelangsungan keluarga kami aku berusaha berpikir positif.

Sampai suatu ketika...

Waktu itu aku pulang malam karena kerja lembur dan badan ku terasa lemas sekali. Aku berniat langsung tidur namun Nisa tiba tiba mengajak ku main, karena badan ku sungguh sangat lelah saat itu akupun menolak permintaannya dengan halus. Mungkin saat itu dia sedang horny berat sehingga dia meminta berkali kali. Tapi karena kondisiku tidak memungkinkan aku tetap menolaknya. Akhirnya dengan wajah kecewa Nisa pun menerima alasan ku dan memilih tidur dengan posisi membelakangi ku.

Ketika pagi menyingsing entah karena masih kesal Nisa sengaja tak membangunkan ku. Aku terbangun setelah mendengar panggilan dari kantor. Saat itu ada meeting.

Ku bergegas ke kamar mandi berusaha mengejar waktu namun seketika bayangan semalam terlintas di kepala ku. Bagaimana jika Nisa benar-benar marah pada ku.? Sejumlah pertanyaan menghampiri.

"Tidak mungkin." dengan segera mungkin ku tepis pikiran itu. Akan tetapi, semakin ku tak ingin memikirkannya hatiku terus mendesir. Akhirnya aku menyerah.

Ku bergegas mencari Nisa akan ku selesaikan yang semalam itu.

Di depan ku lihat pak Salim sendirian tengah merapikan pajangan sayurannya. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan seperti seseorang sedang memanggilnya. Ia bergegas menghampiri orang tersebut lalu menghilang di balik dinding.

Aku mengendap keluar mengikutinya tapi pak Salim keburu menghilang. Langkah kakinya terlalu cepat sehingga tak bisa ku susul.

Posisi saat itu tepat berada di samping pekarangan rumah kami dan membuat ku yakin bahwa orang yang memanggil pak Salim itu adalah Istri ku. Aku terkejut melihat pintu belakang terbuka lebar dan juga dua buah sendal yang tidak ku kenal.

'Deg!'

Jantung ku berdetak kencang seperti habis lari jauh. Segala bentuk pikiran datang menggorogoti benak ku. Aku memutar arah menuju pintu depan dengan sedikit berlari namun sebelum ku lihat apa yang terjadi sayup ku dengar perbincangan kecil mereka.

"Bapak gak keberatan kan kalo saya minta tolong.?" Suara istri ku sedikit tertahan. Mereka sedang berhadapan di samping meja makan.

Saat itu Nisa masih mengenakan baju tidurnya lengkap dengan celana panjang dan jilbab birunya.

Sedangkan pak Salim memakai baju kemeja bermotif kotak kotak dan celana panjang berwarna hitam.

"Minta tolong apa, neng.?" tanya.

"Kran di kamar mandi saya mati. Bapak bisakan bantuin saya benerin.?" pinta istri ku dengan wajah memelas. Namun pak Salim malah tersenyum.

"Bisa kok, neng. Tapi..." pak Salim tak melanjutkan ucapannya.

"Tapi apa, pak.?"

"Tapi harus ada bayarannya dong.?"

"Masalah bayaran gampang. Yang penting kelarin aja dulu, pasti saya bayar deh."

"Tapi saya gak butuh bayaran uang. Saya maunya yang lain." tangan pak Salim mencolek lengan kiri istri ku.

"Ih. Bapak genit deh. Ayok buruan kerjain aja dulu. Saya bayar kok.?"

"Awas ya.?" kecam pak Salim. Ia berjalan menuju kamar mandi di pojok dapur yang sudah istri ku tunjuk. Mereka tak menyadari keberadaan ku yang bersembunyi di balik dinding. Dengan sekedar menengadahkan kepala dapat ku lihat jelas pergerakan mereka.

Pak Salim mulai bekerja, ternyata Nisa betul kalau kran tersebut sedang mampet. Pak tua itu tampak fokus memperbaikinya sementara ia berdiri di mulut pintu sambil memperhatikannya.

Selama setengah jam lebih tidak ada keanehan yang ku lihat, namun setelah istri ku beranjak dari pintu menuju meja dapur pak Salim langsung menghampirinya dan langsung memeluknya dari belakang.

Sontak saja Nisa terkejut lalu segera melepas rangkulan tangan pak Salim dari pinggangnya lalu berbalik. Mereka saling berhadapan.

"Saya udah bantuin, neng. Sekarang saya minta bayarannya." ucapnya.

Istri ku menoleh ke arah kamar kami lalu kembali menatap pak Salim. Pikirnya mungkin aku masih tidur karena pintu tertutup rapat.

Memang biasanya ketika aku keluar kamar jarang sekali pintu ku tutup kembali dan Nisa mungkin juga menyadari itu sehingga ketika melihat pintu masih tertutup ia mungkin berpikir aku masih tidur dan yakin tak masalah jika mengiakan permintaan pak Salim saat itu juga.

"Tapi jangan lama ya, pak. Suami ku bentar lagi bangun loh.?"

"Gak bakal lama kok. Palingan sepuluh menit aja. Ayok buruan punya bapak udah tegang dari tadi."

Pak Salim menarik tangan istri ku menyentuh tonjolan keras di depan celananya.

"Sebentar aja ya.?" istri ku lalu berjongkok sambil membantu pak Salim membuka resleting celananya dan ketika itu batang penis pak Salim mengacung tepat didepan wajah istri ku.

"Gede banget. Pak." gumam istri ku.

"Ayo cepet, neng." perintah pak Salim lagi. Kemudian istri ku mulai menjilati batang di depannya itu. Lidahnya mengitari seluruh bagian penis pak Salim layaknya seseorang bocah yang sedang menjilati ice cream. Sementara kepala pak Salim mendongak ke atas menahan nikmat.

"Ah.. Ah.. Aaah... Aahhh.. " desah pak Salim keenakan.

Bisa ku bayangkan nikmat yang pak Salim rasakan, jilatan istri ku begitu bergairah. Air liurnya telah melumuri seluruh batang penis tersebut. Batang keras nan tegak berdiri itupun semakin berkilau setelah di penuhi liurnya.

Melihat pemandangan itu tak bisa ku pungkiri itu sangat menggairahkan, batang ku pun ikut berdiri meronta ingin keluar dari tempatnya berada.

Merasa puas menjilati batang penis pak Salim kini Nisa beralih mengulum kedua bijinya secara bergantian. Ia hisap kuat hingga masuk kedalam mulutnya sementara kedua tangannya bertumpu di paha pak Salim sambil mengelus lumbut memberi rangsangan.

"Aaahhhh... " pak salim semakin meracuh nikmat.

"Enak banget, neng."

"Batang bapak gede banget. Tegang lagi."

"Maklum, neng. Udah lama gak ada yang nyentuh jadinya gini deh. Ayo neng jilatin terus." pinta pak Salim tak tahan menahan nafsunya.

Istri ku kemudian melanjutkan aksinya. Mereka tak lagi menghiraukan seolah di rumah itu hanya mereka berdua. Nisa mulai lagi mempermainkan penis pak Salim, kali ini ia memasukkan batang tegang tersebut kedalam mulutnya sedikit demi sedikit. Setelah masuk sepenuhnya istri ku mulai memaju mundurkan kepalanya sehingga penis tersebut keluar masuk.

Suara seruputan isapan dan kuluman istri ku terdengar keras semakin menambah sensasi nikmat tak tertahankan di rasakan pak Salim. Kedua tangannya terjulur menggapai tengkuk istri ku menekannya agar semakin membenamkan penisnya hingga menggapai rongga mulut istri ku.

Semakin lama gerakan maju mundur kepala istri ku semakin cepat, ku lihat dia begitu bersemangat melakukannya.

Beberapa menit kemudian dengan gerakan yang semakin cepat pak Salim mulai menunjukkan tanda klimaks. Erangannya semakin kuat meski dengan suara tertahan. Ia bergerak menyambut gerakan maju mundur istri ku berusaha mencapai puncaknya segera mungkin. Lalu ia pun sampai.

Pak Salim menembakkan pejuhnya di dalam mulut istri ku dan Nisa pun tanpa komentar menerima semua itu bahkan yang tidak pernah ku duga ia bahkan rela menelan semua pejuh tersebut hingga tidak tersisa.

"Enak banget, neng. Kamu jago banget nyepongin kayak gini." ucap pak Salim sambil merapikan kembali celananya. Nisa berdiri mengambil tisu di meja makan lalu mengelap bersih sisa pejuh di sela-sela bibirnya.

"Gimana, pak. Udah puas kan.?"

"Puas banget, neng. Udah lama banget saya pengen ngerasain di sepong kayak gitu dan akhirnya kesampean juga. Mas Bayu beruntung banget ya dapet istri secantik neng Nisa ini."

"Udah deh, pak. Lebih baik bapak keluar cepetan nanti suami ku bangun." tanggap istri ku mendorong pak Salim agar segera keluar lalu setelah pak Salim pergi ia kembali menutup pintu.

...

Sedikit membingungkan bagi ku. Awal ku lihat kedekatannya dengan pak Salim disanalah perasaan tak karuan itu muncul. Cemburu, kecewa, dan sakit hati karena telah dikhianati tentu saja memukul batin. Namun, entah kenapa saat melihat semua itu berlangsung terjadi di depan mata ku, kaki ku seolah tak mau mengikuti kehendak ku dan hanya bisa diam tak bergeming. Seperti aku juga menikmati apa yang sedang mereka lakukan.[]

Next chapter