7 Hari Pertama Kerja

SENIN. Hari yang telah Nadira nantikan pun tiba. Hari dimana ia akan resmi menjadi seorang karyawan tetap dalam sebuah perusahaan yang cukup ternama di Jakarta. Memegang jabatan yang kerjanya memang sesuai kemampuannya dan ia menyukai jabatan itu.

Penampilannya hari ini terlihat sebagai sosok riang, tegas, dan cerdas. Sangat sederhana. Gadis itu memakai atasan kemeja putih wanita lengan panjang dengan renda-renda di bagian dada. Bawahannya menenakan rok bahan span berwarna abu muda. Ujung kemajanya ia masukkan agar terlihat rapi. Kali ini ia memakai flat shoes bludru berwaran hitam karena ia tidak suka sepatu-sepatu yang memiliki hak tinggi.

Rambutnya ia gerai setelah ia potong lurus kemarin. Ia jepit bagian kanan ke belakang. Menjadikan ia semakin terlihat gadis ceria dan dewada. Jam tangan kecil berwarna coklat susu melengkapi pergelangan tangan kirinya.

Dan yang terakhir, ia mengenakan jas kantor yang bertuliskan nama perusahaan di bagian dada kirinya. Jas itu pemberian Brahma kemarin. Yang sempat Nadira kecilkan di bagian pinggang ke punggung agar pas saat ia pakai.

Selesai.

Nadira tersenyum di depan cermin kamarnya sembari mengoleskan lipstik matte berwarna blushing nude.

"Diraaa... kamu udah selesai belum? Abangmu udah nungguin di depan tuh." Teriak Meisya di depan kamar Dira.

"Iya Maaa.. bentaaarr.."

Dengan agak tergesa ia keluar kamarnya dan segera berpamitan pada Pradipta dan Meisya serta meminta doa agar hari pertamanya lancar dan mempunyai banyak teman.

*

"Ngapain sih bongkar-bongkar isi tas mulu dari tadi?" Tanya Rendra.

"Bawel ah. Aku tuh nge-cek aja bang ada yang ketinggalan apa enggak. Soalnya belum apa-apa aku udah disuruh susun daftar data sama om Brahma. Takut aja flashdisknya ketinggalan. Ternyata enggak kok."

Rendra mengangguk paham. "Udah siap beneran?"

Dira mengangguk mantap.

Rendra tersenyum. Senyumannya terlihat sangat tulus. "Abang gak nyangka kamu lebih dewasa ketimbang abang yang sekarang masih mahasiswa. Semangat ya buat hari pertama."

"Iya bang.."

"Maaf juga.." ucap Rendra lagi.

Dira menoleh memandang raut wajah Rendra yang terlihat serius.

"Maaf untuk apa bang?" Tanya Dira bingung.

"Maaf buat kesalahan abang yang pernah buat kamu tersinggung sampe marah dan sakit hati. Semua omongan abang sebenernya punya maksud kok. Bukan mengolok-olok kamu, tapi sebagai pesan juga." Jelas Rendra.

"Gapapa Dira maafin. Aku tau kok abang gak sepenuhnya ngolokin. Aku juga tau abang bukan tipe yang suka nasehatin kayak papa, abang itu ceplas-ceplos. Ya jadi.. sekarang abang kurangin ya bicara kayak gitu. Abang boleh kok nasehatin aku secara langsung intinya, itu malah buat aku tenang dan serasa punya kakak yang bener-bener sosok seorang kakak."

Rendra menoleh menatap adiknya dan tersenyum. Lalu tangan kirinya terulur mengusap pelan kepala Dira.

**

"Yaudah sana, semangat. Semoga di hari pertama kerja ini bisa diterima dengan baik ya Ra.." ujar Rendra.

"Iya bang makasih ya.." ucap Dira dengan tersenyum sampai matanya membentuk bulan sabit.

"Kira-kira pulang jam berapa?" Tanya Rendra sebelum tangan kiri Dira hendak membuka pintu mobil.

"Kata Om Brahma sih jam 2 siang. Kalo sabtu jam 11 siang sih bang.. kenapa?"

"Gapapa.. abang pengen jemput aja kalo abang gak sibuk ntar."

Find authorized novels in Webnovel, faster updates, better experience, Please click www.webnovel.com/book/jatuh_18149865506610805/hari-pertama-kerja_48829939344007085 for visiting.

Dira menggaruk tengkuknya gugup, karena rasanya baru saat ini Rendra begitu peduli padanya. "Ah makasih bang.. kabarin aja kalo abang bisa jemput Dira. Kalo gak bisa biar Dira pesen taksi duluan."

"Iya nanti abang kabarin ya.."

"Iya.. yaudah bang Dira kerja dulu ya.." ujar Dira.

"Oke Dira.." Rendra sekali lagi tersenyum sangat tulus. Rasanya ia senang bisa seperti ini dengan adik kandungnya sendiri.

*

Sepasang kaki jenjang milik Nadira kini melangkah memasuki lobby perusahaan. Langsung saja ia bertemu seorang perempuan lebih tua sedikit darinya yang berada di bagian resepsionis.

"Permisi mbak.." sapa Dira.

Perempuan itu berdiri dari duduknya dan tersenyum. "Ya? Selamat pagi.. ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya ramah.

"Ehm.. saya bisa bertemu dengan sekretaris Bapak Brahma?" Tanya Dira gugup.

"Sudah ada janji sebelumnya?"

Nadira menggeleng kecil.

"Kalau belum ada janji yang pasti tidak bisa bertemu mbak.. mohon maaf.." ujar perempuan itu kembali ramah.

"Mohon maaf mbak, saya datang kesini sudah melalui Bapak Brahma dan beliau menyuruh saya untuk menemui sekretarisnya yang bernama mbak Diani. Saya disuruh mengonfirmasi bagian pekerjaan yang mau saya isi." Jelas Dira.

Perempuan resepsionis itu terdiam sejenak dengan melihat penampilan Nadira dari atas sampai bawah lalu dari bawah sampai atas. Kemudian kedua bola matanya agak terlihat kaget. "Oh maaf apa benar anda yang bernama Nadira Aisyah?"

Nadira mengangguk dan merasa lega.

"Ah maaf ya saya tidak tau. Tadi Pak Brahma memberi saya pesan kalau yang memiliki nama itu dan datang kesini disuruh langsung masuk dan menemui Bu Diani."

"Iya tidak apa-apa mbak. Lalu sekarang saya harus ke arah mana ya?" Tanya Dira.

"Mari saya antar. Ruangan bu Diani berada di samping ruangan pak Brahma dekat dengan ruang meeting."

Dira mengangguk saja tanda bahwa ia mengerti.

Memasuki ruangan perusahaan yang cukup besar ini membuat Dira terkagum-kagum sendiri. Karena sudah ada bagian-bagian ruangan yang sempat ia lihat. Dan banyak ia temui karyawan-karyawan yang sedang duduk nyaman di meja mereka masing-masinh yang hanya dibatasi dengan sekat-sekat tipis agar pekerjaan lebih efektif antara para karyawan untum berdiskusi.

"Nah ini ruangan bu Diani, mari saya antar masuk." Ujar resepsionis tadi.

Dira mengangguk dan mengiyakan.

"Permisi bu Diani."

"Masuk." Jawab seorang wanita dari dalam ruangan. "Ada apa Lisa?" Tanya Diani saat resepsionis tadi sudah masuk dan menutup pintu ruangan kembali.

"Ini yang namanya Nadira Aisyah bu.." ujar Lisa sang resepsionis.

"Oh Nadira.. iya iya, silahkan duduk.. bisa kamu tinggal Lisa."

"Baik."

Setelah Lisa meninggalkan ruangan, Nadira semakin gugup saja karena takut menghadapi interview pertamanya.

"Nadira Aisyah, umur 21 tahun. Lulusan D3 jurusan manajemen. Berpengalaman magang di kantor koperasi dan juga pernah membantu di kantor kabupaten kota bagian Data Entry. Betul?"

Nadira mengangguk. "Iya betul."

Diani tersenyum sedikit. "Perkenalkan saya Diani Widyastuti. Umur saya masih 24 tahun dan juga baru memegang jabatan sekretaris disini. Jadi kamu santai saja ya Dira tidak usah tegang. Belum ada setahun saya disini. Mungkin kita bisa menjadi teman dan partner yang baik." Ucap Diani mengulurkan tangan kanannya mengajak Dira bersalaman.

"Baik. Salam kenal umm?"

"Panggil saja kak Diani. Santai saja Dira." Kekeh Diani.

"Emm iya salam kenal kak Diani."

"Salam kenal juga. Oke, sebelumnya kamu sudah diberi tau kamu akan mengisi jabatan apa di perusahaan ini?" Tanya Diani yang kali ini sudah memasang wajah serius.

"Sudah. Di bagian Administrasi Umum sebagai seorang Admin yang berhubungan dengan semua divisi."

Diani menjentikkan jarinya. "Yap betul, kamu cukup tau ternyata. Oke, disini saya mau memberi tau dulu bahwa bekerja disini tidak seberat yang kamu pikirkan. Disini sangat santai karena ini perusahaan bisnis. Hanya mengerjakan dan melayani data-data yang masuk juga kerja sama antar perusahaan. Pasti sebelumnya sudah dijelaskan bukan?"

"Iya kak, sudah.."

"Ya sudah. Ini saya kasih pin nama kamu sebagai seorang admin. Kamu bisa langsung bekerja hari ini dan mulai mengenali bagaimana pekerjaanmu sekarang."

"Wah terima kasih kak.."

Diani kembali menunjukkan sikap ramahnya. "Iya sama-sama. Selamat ya.. kamu bisa minta tolong Lisa untuk mengantar ke meja kerjamu. Soalnya saya sedang mengerjakan presentasi."

Dira mengangguk. "Iya. Mari kak.."

"Silahkan Dira.."

Nadira keluar dari ruangan Diani dengan membawa perasaan senang dan menggenggam erat pin nama yang baru saja ia dapatkan. Pin nama yang tertulis nama lengkap Dira disitu. Dan Dira suka.

Langkahnya kembali menuju resepionis dan bertemu dengan perempuan tadi yang bernama Lisa.

"Permisi, bisa antar saya ke meja kerja saya dimana mbak?" Tanya Dira.

"Maaf anda masuk di bagian mana?"

"Di bagian Administrasi Umum sebagai Admin yang berhubungan dengan semua divisi."

Lisa mengangguk paham. "Oh di posisi itu. Ayo ikut saya."

Nadira mengikuti langkah Lisa yang pelan dan tidak tergesa.

"Kamu keponakannya pak Brahma ya?" Tanya Lisa saat mereka berjalan.

"Iya betul."

"Selamat ya bergabung dengan perusahaan kami." Ujar Lisa ramah.

"Terima kasih.."

Dalam hati Lisa sangat senang di terima dengan baik seperti ini. Karena sebelumnya ia berpikir bahwa akan ada yang mengejeknya karena masuk kesini melalui pamannya sendiri. Tapi ternyata tidak seperti pikirannya. Semuanya baik-baik saja.

"Kenalin ya, aku Alicia Ramdhani. Tapi dari dulu selalu akrab di panggil Lisa."

Dira menerima jabatan tangan dari Lisa. "Aku Nadira Aisyah. Di panggil Dira."

"Disini santai saja. Tidak usah formal amat. Semuanya udah seperti keluarga sendiri disini, jadi selamat bergabung dan beradaptasi yaa.."

"Iya. Makasih Lisa."

"Istirahatnya jam 11 siang. Mau istirahat bareng?" Tawar Lisa.

"Emm.. boleh, bawa bekal atau makan di luar?"

"Ada kantin. Nanti bareng aku aja.." jawab Lisa.

"Oke.."

"Nah ini ruangan Administrasi Umum. Ruangannya lebih terbuka karena berhubungan dengan semua divisi. Di dekat jendela sana yang ujung, dua orang laki-laki itu sebagai bagian penerimaan surat yang akan dibagikan. Kalau yang di tengah satu perempuan itu bagian Data Entry, dan yang di sampingnya yang duduk dekat faximile itu sebagai orang yang menerima surat-surat dari luar perusahaan yang akan ditujukan ke kamu. Dan yang di belakang sendiri itu memegang kendali untuk presentasi apapun tentang apa yang akan dibahas dalam hal pertemuan. Dan yang paling pojok belakang sana itu bendahara keuangan bagian admin, makanya meja dia ada sekat paling tinggi." Ujar Lisa panjang lebar.

Dira yang masih kagum hanya bisa mengangguk saja dengan mata berbinar.

"Oh ini yang di dekat pintu masuk disamping tempat kamu berdiri. Ini meja kerjamu. Kamu disini sebagai seorang admin yang mengawasi mereka. Bekerja sama dengan mereka dan kamu harus bisa turun tangan dan diskusi dengan mereka. Kamu disini hanya perlu menerima data email yang masuk dan selalu mengeceknya beberapa saat. Menandatangani surat-surat. Menerima semua data yang dikerjakan mereka yang ada disini. Lalu kamu naikkan langsung ke atasan dan minta persetujuan. Banyak berkas juga surat. Kadang kamu harus membagikannya ke divisi."

Dira mengangguk lagi karena masih tidak tau harus menanggapi apa.

"Jangan terlalu dipikir berat Dira. Kerjanya mudah kok. Divisi disini hanya ada 4 divisi, karena ini perusahaan inti yang jauh dari pekerjaan pabriknya. Disini bersifat sangat kantor. Di samping divisi mu ada divisi Diklat yang mengurusi semua hal tentang rapat. Dan di lantai dua ada divisi pengendalian dan divisi mutasi. Saya tau kamu sudah paham sebelumnya, tapi saya disuruh menjelaskan lebih dalam lagi oleh pak Brahma. Kalau begitu saya tinggal ya.. selamat bergabung dan mengenalkan diri.. sampai nanti.."

Dira mengangguk lagi. "Makasih Lisa.. sampai nanti juga.."

Dira melangkah maju lalu memasuki area meja kerjanya. Tas jinjingnya ia taruh di atas meja dan berkas dalam mapnya mulai ia buka. File yang ia simpan dalam  flashdisk mulai ia buka dalam komputer yang disediakan.

Beberapa menit berlalu dengan tenang karena Dira sudah sangat menikmati pekerjaannya yang baru saja masuk dari kiriman file dari Brahma.

OB kantor, seorang laki-laki paruh baya meletakkan segelas air putih dan secangkir teh. "Diminum ya mbak."

"Terima kasih pak.."

"Wah pegawai baru ya?"

"Iya pak.." jawab Dira ramah.

"Yasudah selamat bekerja mbak."

Dira hanya mengangguk lagi disertai senyuman riang.

Sudah dua jam lebih ia mengurusi data-data dari semua anggota administrasi umum dan sekarang masih belum usai. Punggungnya terasa agak kaku dan pegal. Ia putuskan untuk bersandar sebentar dan menyesap teh hangat yang baru saja disajikan.

Melihat sekelilingnya Dira agak bosan. Semuanya sangat sibuk di hari senin ini. Dan Dira sedari tadi hanya menerima senyum saja dari para pegawai di ruangannya ini. Belum ada yang ingin berkenalan dengannya. Dira ingin berkenalan, namun ini masih jam kerja dan Dira tidak berani mengganggi aktivitas kerja untuk memperkenalkan diri.

Dira agak melamun sebentar dengan memijat pelan pelipisnya karena terlalu lama memandang layar komputer.

"Permisi mbak, tolong tanda tanganin ini ya.. itu daftar keuangan minggu lalu yang belum di acc sama atasan. Saya bendahara keuangan yang ada di pojok sana. Itu selesai di tanda tangani langsung dinaikkan ke meja atasan biasanya.."

Dira tahu, perempuan itu bermaksud memberi tahu cara kerjanya. Dan Dira menerima berkas itu dengan baik dan tersenyum.

"Pegawai baru ya?" Tanya perempuan itu.

"Iya.. perkenalkan nama saya Nadira Aisyah. Dipanggil Dira. Semoga kita bisa menjadi partner yang baik dalam divisi ini.." ucap Dira ramah sembari mengulurkan tangannya.

Perempuan itu juga tersenyum, menerima uluran tangan Dira. "Nama saya Karina Adzana.. akrab disapa Karin aja. Oke.. salam kenal. Bisa bicara nggak formal kan?"

Dira terkekeh kecil karena Karin juga terkekeh. "Haha iya mbak.. santai saja.."

"Oke. Nanti pas istirahat kita lanjut ya.."

Dira mengangguk. "Iya.."

Dan di saat itu Dira membatin, 'Karina. Hmm.. nama yang bagus. Orangnya ramah lagi. Entah kenapa gue pengen temenan sama dia'. Dan Dira tersenyum lagi pada Karin yang juga tersenyum ke arahnya.

Dira agak bersyukur ada berkas yang harus ia antar ke ruangan Brahma. Setidaknya dia tidak selalu duduk di tempatnya yang kini terasa sangat panas di pantatnya. Gadis itu keluar ruangan dengan masih bersemangat. Langkahnya ia pelankan menuju ruangan Brahma, karena biar tubuhnya rileks juga dibuat berjalan sejenak.

...

Next chapter