1 Tawaran Absurd

"Cinta adalah satu-satunya kekuatan yang mampu mengubah musuh menjadi teman." – Martin Luther King

***

Sebuah mobil sport audi r8 spyder terparkir di sebuah rumah sakit ternama. Seorang pria berpostur tinggi tegap keluar dari mobil mahal itu sambil mengancing jas yang dikenakannya. Wajah tampannya terlihat begitu datar, membuat orang sangsi untuk menyapanya.

Kedatangan pria itu ke rumah sakit bukan untuk berkonsultasi masalah kesehatan. Karena dia sedang tidak sakit. Tubuhnya sehat dan bugar, dia selalu menjaga kesehatan tubuhnya dengan berolahraga dan pola makan yang teratur. Terbukti dengan adanya otot-otot yang kekar tumbuh di badannya yang bak olahragawan itu.

Pria itu datang ke rumah sakit ingin bertemu dengan dokter yang menangani kesehatan mamanya sebulan terakhir. Alasannya bertemu dokter itu juga bukan untuk menanyai kondisi sang mama. Sang Mama sudah menjelaskan detail tentang kondisinya. Kurang baik.

Alasan utama kenapa dia ingin bertemu dokter, yang kata sang mama cantik, baik, dan ramah itu ingin menawarkan sebuah perjanjian. Perjanjian pernikahan kontrak.

Seminggu yang lalu sang mama memberitahu jika kondisinya kurang baik. Harus dilakukan operasi, tetapi sang mama enggan dioperasi. Dia ingin dioperasi jika Kaisar – nama pria itu mau menikahi dokter yang menangan sang mama.

Tentu saja awalnya, Kaisar menolak dengan mentah permintaan konyol sang mama itu karena dia sudah memiliki kekasih yang dicintainya. Namun melihat kondisi mamanya yang akhir-akhir ini semakin menurun membuat Kaisar tak kuasa menolak. Hingga dia dan sang kekasih mencetuskan ide konyol itu. Menikah kontrak. Dia harap dokter itu mau, agar mamanya cepat dioperasi. Cepat sehat.

"Permisi! boleh tanya? Ruangan Dokter Kayla Kamil ada di mana, ya?" tanya Kaisar kepada resepsionis rumah sakit.

"Ruangan Dokter Kayla ada di lantai empat, Mas. Tetapi saat ini Dokter Kayla tidak ada di ruangannya," ujar Perawat itu.

"Memang Dokter Kayla Kamil sedang di mana? Apa dia sedang melakukan operasi?"

"Tidak, Mas." Resepsionis cantik itu menggeleng, "Dokter Kayla sedang tidak melakukan operasi. Beliau sedang makan siang di kantin rumah sakit." Resepsionis yang baru dari kantin rumah sakit melihat Dokter Kayla di sana memberi informasi. "Jika Mas ingin berkonsultasi dengan bisa menunggu sebentar."

Kaisar mengangguk, "Baiklah. Terima kasih untuk infonya, Mbak."

Kaisar langsung belok huluan menuju kantin rumah sakit. Dia tidak mendengarkan saran resepsionis itu untuk menunggu. Karena dia datang bukan untuk berkonsultasi.

Setiba di sana mata Kaisar menyapu setiap sudut kantin, mencari sosok dokter yang sedang dia cari. Hanya butuh waktu lima detik ia menangkap sosok yang dia cari sedang berbincang akrab dengan dua teman sebayanya yang sesama dokter. Meski hanya baru sekali bertemu dengan Dokter muda bernama Kayla Kamil itu tetapi Kaisar masih mengingat dengan jelas wajah perempuan itu.

***

"Dokter Kayla Kamil?"

Kayla sedang menikmati makan siangnya dengan kedua temannya yang sesama dokter di kantin rumah sakit. Ketika seorang pria berwajah tampan tampan dan berpostur tinggi tegap menghampirinya di kantin rumah sakit.

"Iya, ada apa?"

Kayla lantas, mengangkat wajah ketika namanya disebut, memasang senyum manis. Namun seketika senyum di wajahnya lenyap menemukan wajah tampan seorang Kaisar Pramudya. Putra Ibu Miranda, salah satu pasiennya, yang seharusnya melakukan operasi dalam waktu dekati ini. Namun sampai saat ini, Kayla dan pihak rumah sakit belum menerima konfirmasi dari pihak keluarga.

Ini kali keduanya Kayla bertemu dengan Kaisar, setelah kencan buta tidak menyenangkan mereka dua minggu yang lalu.

"Ada apa, ya?" tanya Kayla dengan mimik datar.

"Bisa kita bicara sebentar?"

"Apa yang hendak pria ini bicarakan?" tanya Kayla dalam hati, sebenarnya dia malas berinteraksi dengan pria angkuh seperti Kaisar kalah mengingat kencan buta mereka yang tidak menyenangkan dua minggu yang lalu. Kayla bahkan menyesal pernah bertemu pria itu. Namun Kayla harus melupakan sejenak rasa tidak sukanya pada Kaisar. Mengingat Kaisar adalah putra Ibu Miranda. Pria itu datang menemuinya pasti ingin bertanya perihal kondisi ibunya.

Kayla lantas melirik jam di pergelangan tangannya. Masih tersisa dua puluh menit lagi jam istirahatnya, ia lalu mengangguk. "Bisa, Mas Kaisar. Silakan duduk. Kebetulan saya juga ada yang ingin dibicarakan dengan keluarga Ibu Miranda."

"Tetapi, saya ingin kita berdua saja." Kaisar menyela, melirik kedua teman Kayla.

Kayla dan kedua temannya itu saling menatap sejenak. Lantas Kayla mengangguk, menginterupsi kedua temannya yang bernama Karina dan Olivia itu untuk pergi meninggalnya bersama Kaisar. Mereka butuh privasi.

Karina dan Olivia mengehembus napas kasar. Padahal mereka belum ingin meninggalkan kantin, makanan mereka masih banyak, jam makan siang juga masih panjang. Mereka masih banyak waktu untuk bersantai. Dengan berat hati kedua perempuan itu beranjak.

"Baiklah. Kalau begitu kita cabut dulu, Kay," ujar Karina, menepuk pundak Kayla.

Kayla mengangguk, memasang wajah sesal. Dia tahu kedua temannya itu masih ingin di berada kantin. Bersantai sejenak selagi ada waktu luang.

Kaisar lantas menarik kursi di hadapan Kayla ketika dua teman teman Kayla itu pergi. Meninggalkan mereka berdua saja di meja tempat Kayla dan kedua temannya makan. Pria itu duduk dengan kaki menyilang dengan tatapan angkuh seperti yang Kayla temui dua minggu yang lalu.

"Mau pesan minum dulu, Mas?" tanya Kayla basa-basi sebagai bentuk formalitas antara Dokter dan wali pasien. Meski ia masih dongkol dengan Kaisar, mengingat sikap arogan dua minggu lalu, Kayla masih bersikap sopan.

Kaisar menggeleng, "Tidak perlu. Kita langsung bicara ke intinya saja."

Kayla mengangguk, "Baiklah. Siapa dulu yang ingin bicara? Mas Kaisar dulu atau saya dulu?"

"Silakan Dokter dulu, lady first." Kaisar mengulur tangan ke depan, mempersilakan Kayla bicara lebih dulu.

"Baiklah." Kayla membenarkan posisi duduknya sedikit tegap. "Minggu lalu, saya sudah memberitahu agar Ibu Miranda harus segera dioperasi secepatnya. Tetapi kenapa sampai saat ini, kami – pihak rumah sakit belum mendapat konfirmasi dari keluarga beliau sampai saat ini. Kami sangat berharap Ibu Miranda keluarga segera melakukan operasi dalam waktu dekat, jika tidak—"

"Mama saya tidak ingin dioperasi." Kaisar menyela ucapan Kayla sebelum perempuan itu menyelesaikan kalimatnya.

"Loh, kenapa beliau tidak ingin dioperasi? Jika Ibu Miranda tidak segera dioperasi, beliau bisa terkena gagal jantung." Kayla bertanya dengan dahi berkerut. Sebagai seorang dokter, Kayla sangat khawatir dengan pasiennya.

Kaisar menghembus napas panjang, "Mama saya tidak ingin dioperasi jika saya tidak menikahi Anda."

"Apa?" Mata Kayla membola sempurna mendengar ucap Kaisar. Ibu Miranda ingin dioperasi jika dia menikah dengan pria arogan ini?

Kaisar mengangguk, membenarkan jika apa yang Kayla tidak salah mendengar.

Kayla terpaku beberapa detik. Ibu Miranda memang terang-terangan ingin menjadikan ia menantunya setiap kali perempuan itu melakukan pemeriksa rawat jalan dengannya. Hingga perempuan paru baya itu mengatur kencannya dan Kaisar dua pekan yang lalu.

Kayla tidak menyangka jika obsesi Ibu Miranda akan dirinya sangat besar hingga membuat ancaman seperti itu. Padahal nyawanya berada di ujung tanduk.

"Iya, mama saya mau dioperasi jika kita menikah," ujar Kaisar membuyar keterpakuan Kayla.

"Kita menikah? Yang benar saja?" Seketika tawa Kayla meledak, "Mengingat sejarah pertemuan kita dua minggu yang lalu, kita sama sekali tidak cocok. Bagaimana kita bisa menikah?"

Kaisar mendengus kesal, "Saya juga tidak mau menikah dengan Anda. Tetapi Mama saya tidak mau dioperasi jika saya tidak menikahi Dokter. Sebab itu saya menemui Anda," papar Kaisar.

Melihat mimik serius wajah Kaisar, tawa Kayla meredah. Sepertinya Kaisar tidak sedang bergurau, "So? Apa yang bisa saya bantu?"

"Bukan sebuah bantuan, tetapi sebuah tawaran tepatnya," ujar Kaisar dengan suara tenang, menatap Kayla lekat tepat ke manik mata perempuan sebaya dengannya itu.

"Tawaran?" tanya Kayla dengan kening bertaut. Apa yang hendak pria ini tawarkan dengannya?

Kaisar mengangguk.

"Apa yang hendak Anda tawarkan?"

Kaisar mencondongkan tubuhnya untuk mendekat pada Kayla, lalu berbisik, "Saya mau menawarkan pernikahan kontrak dengan Dokter."

"Heh? Nikah kontrak?" pekik Kayal, mata indahnya membola.

"Hush! Pelankan suaramu." Kaisar meletakan jari telunjuknya di bibir.

"Kamu mau kita nikah kontrak?" tanya Kayla dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan.

Kaisar mengangguk, "Hanya enam bulan. Bagaimana?"

Seketika tawa Kayla pecah lagi mendapat tawaran dari pria tampan di hadapannya itu. "Hei, ini adalah tawaran paling konyol yang pernah saya dengar. Anda pikir kita sedang memerankan tokoh dalam sebuah novel atau drama."

"Kamu pikir aku mau?" Kaisar mendengus sebal mengetahui perempuan di hadapannya itu mengolok tawarannya. Jika bukan karena kasihnya kepada sang mama mana mau dia menawarkan hal konyol seperti ini. Lagian mamanya juga aneh, memaksa sekali ingin dia menikah dengan Kayla. Padahal tidak ada yang spesial dari perempuan di hadapannya itu? Soal Cantik? Kecantikan Kayla masih standar biasa. Soal penampilan Kayla sangat sederhana, masih kalah jauh dengan kekasihnya yang modis dan trandi.

"Kenapa harus nikah kontrak? Kenapa Anda tidak menawarkan untuk menjadi pacar pura-pura saja. Kita bisa bilang akan menikah pasca operasi. Setelah Ibu Miranda sembuh kita akan menyudahinya. Itu lebih terdengar masuk akal," ujar Kayla sambil melipat tangan di dada. Dia tidak menyangka akan mendapat tawaran absurd seperti ini dari salah satu anak pasien juga teman karib mamanya itu.

Kaisar menggeleng lemah, "Itu juga yang aku pikirkan. Tetapi mama saya inginnya kita menikah sebelum dioperasi. Dia takut jika operasinya gagal, dia tidak sempat melihat saya menikah."

"Loh, kenapa kamu tidak menikahi kekasih kamu saja?" tanya Kayla dengan dahi mengernyit. Kenapa harus menikahi dirinya.

"Sayangnya mama saya ingin, saya menikah dengan Anda. Beliau tidak setuju jika saya menikahi kekasih saya. Jika dia setuju saya menikahi kekasih saya, mana mau saya menawarkan ide konyol ini," dengus Kaisar, "Jadi bagaimana? Hanya enam bulan, setelah itu kita bercerai."

Next chapter